Golden Bride

Golden Bride
Rencana Tasya



"Jadi gimana rencana lo nanti, Sya." Tanya Monic ingin tahu. 


"Gue akan menampilkan video make out mereka, pada saat pertunangan kami nanti." Jawab Tasya santai.


"Yakin lo?" Tanya Monic lagi.


"100 persen yakin gue," sahut Tasya tegas.


"Tapi, Sya. Bukannya kalau mempermalukan mereka seperti itu, sama aja mempermalukan diri lo dan keluarga besar." Ujar Tiara menasehati. "Gua takut lo kena pasal tindak pidana, sengaja mempertontonkan video make out mereka pada saat pertunangan lo nanti."


"Tenang aja, videonya gak sampe konten dewasa kok, paling hanya video mereka ciuman dan grepe-grepe doank." Jawabnya. "Gitu aja, mereka pasti malu nya minta ampun. Apalagi, keluarga mereka berdua kan, bukan dari kalangan biasa."


"Ada wartawan, saat lo tunangan nanti, Sya." tanya Monic.


"Tentu aja ada, lo kayak kagak tau Daddy aja, gila hormat dan kedudukkan" jawabnya sarkas


"Gak boleh ngomong seperti itu, gitu-gitu Daddy lo Juga, Sya." Nasehat Tiara.


Hufft, Tasya menghela napas. "Bukan mau ngejelekkan Daddy gue sendiri, tapi sebagai anak dijodohkan buat memperlancar bisnisnya, itu benar-benar menyakitkan," menerawang dengan melamun. "Sebagai anak, gue merasa dilahirkan hanya untuk dijual aja."


"Jangan bilang begitu, gue yakin mereka pasti sayang banget pada lo," nasehat Tiara lembut, menepuk-nepuk punggung tangan Tasya. "Nurut gue hanya cara mereka aja salah dalam menunjukkan kasih sayang mereka pada lo, Sya."


"Mungkin bagi mereka, Roy pria yang terbaik buat ngedampingi lo, sehingga mereka tak perlu khawatir lagi masa depan lo gimana. Secara Roy juga yang akan menggantikan tumpuk kepemimpinan dalam perusahaan keluarganya nanti." Ujar Monic mencoba berpikir positif.


"Gue kira Roy udah berubah, untuk tak playboy lagi, bermain wanita sesuka hati." Menghela napas sedih. "Ternyata dugaan gue salah, kalau tau begini. Lebih baik gak usah menerima perjodohan ini dan gak mengenalnya sama sekali."


"Gak usah menyesali apa yang terjadi, Sya." Seru Monic duduk mendekatinya. "Ada 2 resiko kalau kita jatuh cinta, akhirnya yang bahagia atau penderitaan karena terluka dan air mata." Menatap Tasya yang sedih. "Bahagia dan menderita itu pilihan, tergantung diri kita yang lebih memilih jalan yang mana."


"Seharusnya gue menolak dengan tegas, ketika Daddy memperkenalkan diri kami dulu, seharusnya gue lebih mendengarkan Bang Bram yang bersikeras mengatakan kalau Roy bukan pria terbaik untuk gue, tapi gue tetap ngeyel ingin mencoba mengenalnya, yang akhirnya menjadi begini." Gumamnya bersikeras lirih penuh penyesalan.


"Tak baik mengungkit dan menyesali apa yang terjadi, jadikan ini sebagai pelajaran untuk lo. Biar nanti, jangan mudah menyerahkan hati pada pria manapun, sebelum pria itu membuktikan dirinya sendiri kalau dia layak untuk mendapatkan hati dan kepercayaan lo." Nasehat Tiara.


"Sabar yah sobatku yang cantik," Monic memeluk Tasya, memberikan dukungan dan energi positif padanya. "Lo yang gue kenal, sosok yang kuat, yang gak mudah dijatuhkan. Apalagi hanya soal cinta, gue yakin, lepas satu, seribu yang ngantri." Sambungnya tersenyum bercanda.


"Tentu aja, gue ngedip sedikit, banyak pria udah ngantri di belakang gue," candanya sombong.


"Ish, sombongnya keluar." Cibir Tiara.


"Kami lebih senang ngelihat mata lo tertawa bahagia, daripada penuh air mata, Sya." Gumam Monic tersenyum hangat.


"Harus donk, bisa-bisa Bella jingkrak-jingkrak bahagia banget ngelihat gue menderita," ujarnya geram.


"Terus kita balik ke topik sebelumnya, katakan pada kami rencana lo nanti."


"Gini yah, gue emang sengaja mengadakan pertunangan dengan sederhana, hanya keluarga besar, relasi kedua orang tua kami, teman-teman kita pas kita SMA yang merupakan saingan Bella didunia modeling, lalu beberapa wartawan tentunya," paparnya dengan terseyum licik.


"Itu sama aja bukan sederhana, dodol. Kalau relasi orang tua kalian diundang, termasuk wartawan juga," gerutu Monic. "Ternyata rencana lo gak main-main, Sya." Menatap Tasya sinis. "Top markotop, the best lah." sambungnya dengan menyindir.


"Dikit doak, yang hadir. Gak sampai seratus, itu aja, pilah-pilah. Yang terdekat dengan keluarga besar kami juga." Bantah Tasya, tak menggrubis sindiran Monic. "Lalu wartawannya, dari infotaiment gosip. Walaupun Bella model yang gak terkenal, suka main ftv sesekali, gue yakin setelah pertunangan nanti, dia pasti mendapat banyak job," sambungnya menghina dan tersenyum miring, penuh tipu muslihat.


Tiara dan Monic, hanya menggeleng ngeri, melihat Tasya yang balas dendamnya tak tanggung-tanggung, habis total.


"Bukannya banyak job yang didapatnya, malah akan ngebuat hidupnya hancur," gumam Tiara. "Apa lo gak terlalu sadis dengannya, Sya. Gue kasihan dengan nasib peruasahan keluarga lo dan Roy, Saham keluarga kalian pasti anjlok turun drastis." Sambungnya hati-hati, ingin menyadarkan Tasya.


"Lo ngebela mereka, Ra." Tuduh Tasya menatapnya tajam.


"Bukan gitu, Sya," elak Tiara lembut. "Gue juga gak suka dengan sikapnya, dan sering ribut juga. Gue hanya memikirkan nasib lo nanti, jadi bahan gunjingan baik dari keluarga besar maupun orang-orang yang membenci lo. Yang paling parah, sikap Daddy lo yang akan bertindak kejam, yang gue gak bisa memikirkan apa yang akan dilakukannya, apabila anaknya mempermalukannya begitu." Menatap Tasya yang berpikir.


"Omongan Tiara ada benarnya juga, Sya. Ngundang wartawan itu terlalu riskan, takutnya berdampak gak baik untuk perusahan keluarga lo. Walaupun lo dari pihak yang dirugikan, gak semua orang yang hadir akan memahami rasa sakit lo, dan berpikir kalau lo hanya korban. Mungkin ada juga sebagian orang yang berpikir, ini salah satu jalan, menghancurkan lo sendiri ataupun keluarga lo." Ujar Monic menasehati dengan hati-hati dan membuka pikiran Tasya.


Melihat Tasya hanya termenung dan berpikir, Tiara melanjutkan. "Sya, gue tau, selama ini lo berharap keluarga lo memperhatikan dan menunjukkan kasih sayang mereka. Udah banyak cara yang telah dilakukan untuk mendapatkan perhatian mereka, tapi gagal. Dengan pertunangan ini, gue lihat Daddy dan Mommy lo, sedikit banyak mulai memperhatikan lo. Takutnya setelah lo mempermalukan mereka diacara pertunangan nanti, akan semakin membuat hubungan kalian jauh dan mereka malah membenci tindakkan lo itu." Menggenggam tangan Tasya. "Gak baik terlalu membenci orang, Sya. Hati lo akan tercemar, lama-lama akan membusuk."


"Apa gue salah, memberi pelajaran buat mereka," tandasnya keras kepala. "Apalagi terhadap Bella, dia terlalu ikut campur dalam kehidupan gue, selalu ingin memiliki apa yang gue miliki."


"Memberi pelajaran sah-sah aja sih, asal jangan terlalu berlebihan gitu," ujar Tiara. "Yang berlebih-lebihan itu gak baik."


"Gue ada ide," seru Monic bersemangat


"Apa?" tanya Tiara dan Tasya ingin tahu.


"Lo undang juga seluruh keluarga Bella saat pertunangan nanti, wartawan gak usah diundang. Untuk teman SMA, gak usah ngundang banyak orang, cukup satu aja, yang berpotensi mengalahkan dia dalam dunia modeling." Saran Monic