Golden Bride

Golden Bride
Gak Percaya



"Huwaaa!!!... Tasya! Jasmin!" Seru Tiara berteriak. Memanggil temannya, dengan wajah memucat dan terkejut. "Tasya! Jasmin! Buruan kemari."


"Lo kenapa, Ra?" Tanya Tasya panik. Meliahat Tiarabyang berjalan mondar mandir di depan kamar mereka. Lalu ia menarik Tiara duduk di sofa.


"Kenapa, Sya?" Tanya Jasmin terburu-buru mendekati Tiara, dengan handuk di rambutnya. Ia tadi lagi mandi, mendengar teriakan Tiara, langsung cepat menyelesaikan mandinya.


"Gak tahu, gue aja heran." Jawab Tasya bingung. Ia tadi lagi memanaskan makanan untuk mereka, setelah mengikuti Roy tanpa hasil, sehingga ia dan Tiara memutuskan untuk pulang dan melanjutkan besok pagi, karena malamnya mereka sudah pulang dan seninnya akan beraktivitas seperti biasa.


"Ini," tunjuk Tiara dengan wajah takut. "Ini punya siapa?" Menunjukan kalung berlian yang ditangannya dengan suara bergetar. Sebuah kalung yang terlihat sangat mahal, yang mana terdapat berlian yang dikelilingi sepasang burung phoenix, seakan berbentuk love.


"Dapat dari mana? Seingat gue lo gak punya kalung seperti ini." Tanya Jasmin heran. "Lo nyolong yah." Sambungnya melucu, mencairkan suasana.


"Jas.." Seru Tasya memperingatkan. "Yang pasti bukan punya kita bertiga, Ra. Coba lo ingat lagi, kejadian apa aja yang telah terjadi hari ini." Menangkan Tiara yang tegang. "Gue yakin lo dapat kalung ini selama kita mengikuti Roy dan Bella tadi. Coba diingat-ingat lagi kejadian selama kita di national galeri sampai kita tiba di apart. Jangan ada yang terlewat satupun." Pinta Tasya, menatap Tiara yang masih kebingungan seperti orang linglung.


"Ini berlian sangat mahal, Ra. Gue gak tau berlian apa ini, nanti kita cari tau." Ucap Jasmin melihat kalung yang terletak di mejanya. "Tapi kenapa berkelap-kelip yah, seperti sedang bersinar, walaupun tidak terlalu terang tapi kalau lampu kita matikan pasti akan terlihat. Atau apa mata gue yang sedang bermasalah," sambungnya bingung, mengucek-ngucek kedua matanya.


"Lo benar, Jas." Ujar Tasya setuju, lalu melihat kalung itu dengan seksama, berdiri menuju saklar lampu dan mematikannya.


Ceklek...ruangan tiba-tiba gelap, hanya ada sinar yang muncul dari dalam kalung tersebut. Mereka terbelalak takjub dan tak percaya dengan apa yang dilihat, yang terjadi sekarang.


"Masya allah.." Puji Tiara kagum.


"Ini nyata kan, akww." Seru Jasmin linglung dan mencubit tangannya sendiri untuk menyadarkannya.


"Oh My God! This is really really amazing, I can't believe this. " Puji Tasya kagum dan terlihat sulit dipercaya"Coba cubit gue deh, Jas." Menatap Jasmin dengan yakin. "Akww.. mantap." mengelus bekas tangan yang telah dicubit Jasmin. Lalu berdiri lagi, menghidupkan lampu.


"Kan lo sendiri yang minta dicubit, Sya." Protes Jasmin ketus.


"Apalagi saat lampu dimatikan tadi, kita bisa lihat bayangan sepasang phoenix itu berputar seakan terlihat sedang menari." Tasya masih sibuk memperhatikan kalung itu, tanpa menggrubis Jasmin.


"Lo benar, Sya." Jasmin mengangguk setuju.


"Seakan kita sedang nontong layar tancap."


"Iya, nonton layar tancep yang horor dan menegangkan. Kalau kagak percaya coba lihat dikedua mata sepasang phoenixnya, berwarna merah darah, kayak hidup gitu, ngeri banget gue ngelihatnya," menatap kedua temannya sambil bergidik takut, menjadi suasana mereka terasa mencekam, horor gitu. "Udah lo ingat dapat kalung ini dari mana, Ra. Gue yakin kalau kalung ini benar-benar mahal dan langkah." sambungnya mengalihkan omongan


Tiara menggeleng, menatap mereka dengan putus asa dan takut. Karena bisa saja ia dituduh mencuri dan dimasukan ke dalam penjara.


"Coba lo inget-inget lagi, Ra. Kalau yang punya kalung melapor ke polisi, panjang urusannya. Gue yakin yang punya sudah pasti punya harta gak habis 10 turunan." Ucap Tasya lembut dan mengingatkan akan konsekuensi ke depannya.


Wajah sahabatnya itu memucat, mereka berdua kasihan melihat Tiara. Dan tak bisa membantu, karena dirinya yang menemukan kalung ini. Hanya ia yang bisa membantu dirinya sendiri.


"Gue inget sekarang." Serunya baru sadar.


"Dimana?" Tanya Tasya dan Jasmin serempak dan penasaran.


"Di parkiran basement." Jawabnya yakin.


"Kok bisa?" Tanya Jasmin penasaran.


"Tadi kan gue ngikuti Roy, menoleh ke sana kemari mencari mereka, gue gak sadar kalau di depan gue ada orang. Yah gue nabrak yang punya kalung itu, menyebabkan tas gue jatuh." jelasnya sambil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. "Gue yakin, clutch gue tanpa sengaja menyenggol kalung ini dan membuatnya terjatuh. Dan pemiliknya kagak sadar kalau kalungnya terjatuh."


"Apa wanita yang lo tabrak? Akww.." Tanya Jasmin memastikan sambil mengelus kepalanya yang dipukul oleh Tasya.


"Tentu wanita, bodoh. Masa pria. Lo ini nanya yang masuk akal sedikit." Gerutu Tasya geram.


"Hehehe, mungkin aja pria, Sya. Kan gue kagak tahu." Jawabnya sambil cengar cengir pura-pura polos.


"Wanita dan pria" Ucap Tiara. "Tapi yang prianya seram banget, badan gue merinding ditatapnya." Terbayang akan tatapan cowok tadi.


"Cakep kagak?" Tanya Jasmin lagi dengan jahil.


"Haha, jangan tanya, ini cowok termasuk tipe kalian bertiga." Tertawa geli akan sikap Jasmin yang ingin tahu.


"Bagus tuh, bisa lo gebet, Ra." sarannya seenaknya.


"Aduh, Jas, Jas. Cakep boleh tapi matanya nyeram banget. Rasanya gue mau pingsan di depannya karena ditatap dingin dan tajam oleh pria itu, gara-gara nabrak wanita yang bersamanya." Menggeleng kepala. "Gawat, bisa dibunuh gue nanti gara-gara menghilangkan kalung ceweknya. Huwaaa..." Sambungya histeris dan menangis bombay.


"Udah, udah Ra. Gak usah lebay gitu deh." Memeluk Tiara untuk menenangkan. "Sekarang yang kita pikirkan gimana caranya kita mengembalikan kalung ini sebelum dia melaporkan lo."


"Benar juga, kata Tasya, Ra." Jasmin mengangguk setuju dan sependapat dengan Tasya.


"Sebentar yah, gue mau hubungi Gilang dulu." Ucapnya berlalu ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


"Tenang, Ra. Positive thinking aja, kita berdoa semoga besok kalung lo udah kembali ke pemiliknya tanpa ada adegan yang berbuntut panjang." Ujar Jasmin lembut sambil menepuk-nepuk tangan Tiara menenangkan.


Tak lama kemudian, Tasya mendekati mereka dan duduk disamping Tiara. "Tadi gue udah ngehubungi Gilang, besok kita ditunggu di Ilsuo cafe yang berada tepat bersebrangan dengan Hamilton Scotts Reignwood Apartment. Dia mau lihat dulu kalungnya, baru bisa menyelidiki. Kalau kalungnya langkah, lebih mudah dia mencari pemilik kalung tersebut." Jelasnya sambil melihat kalung itu yang masih tetap bersinar. "Aneh dengan kalung ini, tetap bersinar. Gak padam-padam."


"Lampu kale pakai acara padam-padam segala." Canda Jasmin tertawa. "Sekarang kita tidur, biar otak kita bisa fresh menghadapi hari esok." Sarannya. Tiara dan Tasya mengangguk setuju. Tiara mengambil kalung itu dan menyimpannya, lalu berjalan menuju kamarnya.