Golden Bride

Golden Bride
Siapa Pria Itu?



Hosh…Hosh…


Suara deru napas seseorang yang kelelahan dan takut, seakan dikejar sesuatu yang membuatnya ketakutan, sesekali menoleh ke belakang. Pria itu tak menduga kalau perintah dari bossnya ini, harus berurusan dengan sesosok tak kasat mata yang mengejarnya, seakan ingin membunuhnya.


“Akh!!” teriak pria itu ketakutan, berhenti melihat sosok menakutkan di depannya, yang menyeringai tajam. “Pergi! Pergi! Jangan ganggu saya!” usirnya histeris dengan tangan mengusir. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya seakan tak bertulang, ingin lari, seakan ada yang menahannya.


“Mati!” ancam sosok menakutkan itu, tidak bersuara tapi bisa dilihat dari ekspresi membunuh dari mata dan wajahnya yang mengerikan dan mendekati pria itu, dengan tersenyum manis. 


Pria itu tercengang ketakutan dan bergetar, terus mundur, senyuman sesosok wanita di depannya itu, begitu mengerikan. “Pergi! Jangan mendekat!!”  melihat di belakangnya pagar pembatas. Pikirannya panik dan ketakutan, sehingga tak menyadari ke mana kakinya melangkah, asal pergi jauh dari makhluk itu. “Pergi! Pergi!” sesekali melihat kebelakangnya


“Kenapa takut, bukannya tadi begitu berani membunuh,” tersenyum sinis, tidak menggerakkan mulutnya,tapi suara makluk itu seperti bergema di sekitarnya. “Harusnya berani membunuh, berarti harus siap untuk dibunuh,” menatap dingin dan berjalan mendekat perlahan. Seakan sengaja bermain-main dan menikmati ketakutan pria itu.


“Tidak! Ampun, saya tobat!” serunya histeris dan cepat, memegang pembatas dinding di belakangnya, dengan tubuh bergetar dan wajah memohon belas kasihan sambil menangis.


Sosok itu menggeleng, berjalan mendekat dengan perlahan lalu memberikan senyum sinis, mengejek, tak menghindaukan seruan memohon dari pria yang berdiri ketakutan di hadapannya. 


“Tidak!” teriaknya shok, ketika makhluk di depannya ini, mendekati wajahnya tepat di hadapannya dengan wajah hancur. Membuat pria itu mundur ke belakang dan jatuh. “Akh!!” pikiran pria itu kosong, seakan tahu malaikat maut akan menjemputnya.


Gedebuk….


Tak jauh dari sana, ada beberapa pengawal yang memang diperintahkan mencari orang yang memasukkan racun ke dalam minuman istri bossnya, mereka mendengar suara orang jatuh.


“Ada bunyi di sana, ayo kita periksa,” ajak salah satu pengawal pada yang lain.


“Suaranya dari gedung belakang, cepat sebelum orang itu melarikan diri,” timpal suara yang lain tegas.


“Oke,” disetujui oleh ke 3 temannya yang lain.


******


“Ini di mana?” Tanya Tiara heran, menatap sekelilingnya. Seingatnya tadi dirinya masih di atas kasurnya, disuruh suaminya tidur. Karena melihat keluarga dan orang-orang yang disayanginya sangat mencemaskannya dan ketakutan akan kondisinya, padahal ia hanya shok saja, belum sempat meminum juice yang ada racunnya, hatinya merasa bersalah membuat mereka ketakutan begitu. 


Ia celingak-celinguk bingung, berada dimana. Karena berdiri di tengah-tengah hutan yang menjulang tinggi, berkabut putih, gelap dan terkesan menakutkan. Tiba-tiba tubuhnya mengigil tanpa sebab, seakan ada yang menatapnya.


Wush… Suara angin begitu cepat melewatinya, membuatnya berbalik dan mengamati dengan seksama. Dalam hati bertanya-tanya apa yang melewatinya tadi.


Wush... Lagi-lagi seperti angin yang melewatinya, membuat bulu kuduknya meremang dan berdiri. Timbul perasaan takut dihatinya, tapi ia berusaha untuk membuang rasa itu dan memberanikan diri. Entah kenapa hatinya berbicara, yang melewatinya itu, bukan manusia. Hatinya berkecamuk, antara takut, kesal dipermainkan dan bingung bagaimana harus keluar dari sini.


Wush


Lagi-lagi dirinya terasa dipermainkan, ia menggeram kesal dan selalu berdoa dalam hatinya. “Siapa itu, keluar!” ujarnya tegas, menekan rasa takutnya, karena dirinya merasa tidak punya salah, kenapa harus takut.


Tiba-tiba dari depan perlahan muncul sesosok wanita cantik, aura bangsawannya terpancar dari penampilannya yang sederhana. Tiara shok, ia tahu siapa wanita dihadapannya ini. Melihat wanita tersenyum padanya, dalam benaknya mendengar suara.


"Ikuti saya." Sosok itu meninggalkan Tiara yang terkejut melihatnya.


Sejenak ia terteguk saat mendengar suara dikepalanya, melihat wanita itu yang dikenalnya sebagai Afra, menyuruhnya untuk mengikutinya. Dengan ragu dan bingung ia berjalan mengikuti Afra, melewati sebuah pintu bercahaya yang menyilaukan matanya. 


Merasa heran kenapa, Afra bisa datang menemuinya, sudah lama sejak pertemuan mereka terakhir. Seperti yang sudah pernah dialaminya, ia melihat kejadian masa lalu dari residual energi kehidupan seseorang, yang belum diketahuinya punya siapa. Melihat celingak-celinguk mencari keberadaan Afra, yang tadi menyuruhnya ikut tapi sekarang malah menghilang.


Dari jauh ia mendengar suara kuda mendekat, berngenyit heran menatap sekelilingnya. Menyadari kalau sekarang berada di tempat yang tidak pernah dilihatnya. Seperti tempat tinggal Caira, wanita yang pernah kehidupannya dilihatnya dalam mimpinya.


Tiara melihat beberapa kuda beserta penunggangnya sedang mengejar dua ekor kuda beserta penunggangnya, ia terkejut dan histeris, pasalnya mereka itu ingin menabraknya. ia belum sadar kalau dirinya hanya sebuah bayangan.


"Stop!!" teriaknya, menyuruh penunggangnya berhenti, yang tak lama lagi menabraknya. "Berhenti!!," sambungnya panik, sambil menggerakkan kedua tangannya untuk menyuruh kusir itu berhenti. Tapi dua pria itu tetap tak mendengarnya. "Tidak! Akh!!" menutup mata penuh rasa ketakutan dan hatinya berdebar kencang dengan kedua lengannya.


Tak jauh darinya ia melihat dua orang pria, satu berpenampilan biasa dan satunya terlihat seperti saudagar kaya raya dari pakaian yang dikenakannya. Mereka sedang bertarung, melawan enam pembunuh bayaran yang mengelilinginya.


Tiara hanya bisa melihat tanpa bisa menolong dua pria itu. Ia bisa melihat kalau keenam pembunuh bayaran itu mempunyai aura untuk membunuh, mereka menyeringai kejam dan mengejek pada kedua pria yang terus bertahan untuk melawan kelompok mereka.


"Menyerahlah," ungkap salah satu pembunuh dengan mengejek.


"Siapa kalian?!" seru pria bangsawan itu penasaran. "Siapa yang menyuruh kalian?!" menatap sekelompok pembunuh bayaran dengan dingin dan waspada.


"Tak perlu tahu, siapa yang menyewa kami," jawab salah satu dari mereka sini. "Mau mati juga banyak omong, hahaha."


Kedua pria itu merasa geram, menatap tajam, dan ingin membuat pria itu diam untuk selamanya. Salah satu dari mereka berbisik pada temannya. "Aku akan mengalihkan mereka, kamu pergilah,"


"Tidak!" bisiknya menolak.


"Diantara kita berdua akan mati sia-sia kalau melawan mereka, kasihan istrimu. Mungkin sekarang dia dalam keadaan bahaya juga," bisik temannya lagi, sambil menatap waspada, mengantipasi kalau ada yang menyerang.


"Kita hadapi sama-sama," tolaknya tegas sambil berbisik.


"Jangan bodoh, mereka bisa kuatasi, doakan saja temanmu ini selamat," ujarnya tersenyum yakin dan menenangkan.


"Tidak!" tolaknya lagi dengan tegas.


"Sudah mau mati, kalian masih asik ngomong," ejek pria brewokan dengan tubuh besar. "Serang!" perintahnya tajam.


Setelah mendengar seruan pria itu, Tiara melihat mereka semua menyerang kedua pria tersebut dan bisa ditebak kalau dia itu pemimpinnya.


💫💫💫💫


🙋‍♀️Hai ...hai teman2 readers semuanya. apa


kabar, semoga sehat2 aja yah😇


🙆‍♀️Senang bisa kembali muncul dicerita ini,


maaf beberapa bulan ini hiatus, karna


beberapa hal yang tidak bisa diceritakan, jadi


harus fokus ke sana dulu, dan menghilang


tidak update2. Insya allah, ke depan gw udah


mulai update lagi🙇‍♀️


🙇‍♀️Mohon dukungannya yah. jangan lupa


tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉


komen👉saran yah😉


🙆‍♀️Makasih bagi readers yang masih mau


berkenan baca cerita ini🙇‍♀️