
“Gimana keadaan Tiara, Nak Wyatt?” Tanya Ayah Dimas cepat dengan wajah pucat dan cemas.
“Masih di dalam, Yah.” menatap kedua calon mertuanya dengan menyesal. "Maaf kubelum bisa menjaga Tiara dengan benar, Yah."
"Jangan menyalahkan atas apa yang terjadi pada Tiara, ini bukan salahmu. Ini semua cobaan yang harus kita hadapi dengan ikhlas dan sabar, Ayah yakin setiap cobaan pasti ada hikmahnya." Ucap Ayah Dimas bijaksana, menatap Wyatt yang merasa bersalah atas kecelakaan menimpah Tiara
“Tiara gak apa-apa kan, Nak?” Tanya Bunda Etty terisak penuh harap dan cemas.
“Kita doa kan saja yah, Bund.” Gumamnya berusaha tenang.
Drrtt…Drrtt… Suara ponsel Wyatt berbunyi, ia melihat siapa yang menghubuginya. “Permisi, Ayah, Bunda. Kuangkat telepon dulu,” izinnya sopan lalu menatap Leo untuk mengikutinya.
“Silakan, Nak, jangan khawatir, nanti Ayah hubungi kalau dokternya sudah keluar.” jawab Ayah Dimas, yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya, lalu memeluk istrinya. Melihat calon menantunya yang berjalan menjauh bersama asistennnya. “Jangan nangis yah Bund. Kita doa kan, Anak kita tidak mengalami luka yang serius, kita harus kuat,” menghelus pundak istrinya untuk menguatkan. “Kalian juga, doa kan Mba yah, kita harus berpikir positif, semuanya akan baik-baik saja.” Pintanya tegar, melihat kedua anaknya saling peluk dan saling menguatkan.
******
Wyatt POV
“Ya, Daddy,” seru Wyatt.
“Daddy mendengar, Tiara kecelakaan, bagaimana keadaannya?” Tanya daddy Wyatt cemas.
“Lagi..” ucapan Wyatt terputus.
“Nak, gimana keadaan calon menantu Mommy,” sela Mommy cepat dan cemas.
“Sayang, Daddy masih ngobrol dengan Wyatt, jangan nyerobot aja deh.” Gerutu Daddy pada Mommynya.
“Tapi Mommy kan cemas, Dad.” Sahut Mommny terisak.
“Sudah, kok. Malah nangis sih,” bujuk Daddy lembut
Wyatt hanya menggeleng kepala, mendengar perdebatan kedua orang tuanya. “Tiara masih di dalam UGD, blum tahu pasti kedaannya gimana. Tapi semoga aja tidak ada luka dan pendarahan yang patal.”
“Sudah tau siapa pelakunya?” Tanya Daddynya tajam.
“Masih diselidiki, Dad.”
“Kamu juga terlalu santai, jadi begini kan jadinya,” gerutu Daddy geram.
“Dad, kita sudah memata-matai mereka, dan tak ada pergerakkan. Ternyata mereka mencari waktu diriku lengah terhadap Tiara.” Ujarnya marah. “Dad dimana sekarang?” sambungnya mengalihkan omongan. Semakin diingatkan kajadian kelalaiannya, semakin membuatnya marah.
“Kami sedang menuju ke rumah sakit Tiara, tapi macetnya minta ampun.” Gerutu Daddy kesal, sadar kalau anaknya sengaja mengalihkan omongan, dan mengikuti keinginan Wyatt.
“Yang lain gimana, Dad?”
“Adik-adikmu, Dad suruh istirahat dulu di apartment, kasihan keponakan-keponakamu masih terlihat capek, jadi Daddy dan Mommy aja duluan yang menengok keadaan Tiara, yang lain baru nyusul nanti.”
“Oke, Dad. Hubungi aja kalau udah di bawah, nanti Leo akan menjemput.”
“Baiklah.” Ujar Daddy tenang. “Perketat penjagaan di sekitar ruangan Tiara, insting Daddy ini belum selesai,” bisiknya tajam sebelum memutuskan teleponnya.
“Iya,” ia tahu Daddynya tak mau Mommynya mendengar pembicaraan mereka yang akan membuatnya tambah cemas. Lalu mematikan teleponnya, dan menatap Leo. “Perketat sekitar ruagan Tiara dan untuk area rumah sakit juga tapi, lakukan dengan tak ketara. Selesaikan semua administrasi Tiara dan cari ruangannya yang terbaik untuknya.” Sambungnya memerintah.
“Baik,” jawabnya, lalu meninggalkan Wyatt.
******
Wyatt berjalan mendekati keluarga Tiara, sedih melihat calon mertuanya menangis terus.
"Ayah, gimana keadaan Tiara sekarang?" Tanyanya hati-hati dan berdiri disamping calon mertuanya.
"Ayah, Bunda jangan khawatir, akan kuusahakan terbaik untuk kesembuhan Tiara," ucapnya serius dan tulus.
"Makasih Nak," tersenyum tulus pada calon mantunya. "Tadi waktu Ayah mau mengurus administrasi Tiara, mereka bilang sudah dibayar. Apakah kamu sudah yang melunasi semua biaya operasi dan perawatan Tiara, Nak?."
"Iya, Yah," jawabnya. "Maaf kalau Ayah merasa keberatan, kumerasa Tiara sudah menjadi tanggung jawabku. Jadi tanpa ngomong dulu sama Ayah, melunasi semua biaya perawatannya."
Ayah Dimas menghela napas. "Awalnya Ayah merasa keberatan, tapi karena sudah dibayar, Ayah akan ganti semuanya yah, Nak."
"Gak usah, Yah. Kuikhlas melakukannya," sahutnya cepat.
"Nak, sekarang Tiara masih menjadi tanggung jawab Ayah. Jadi biarlah Ayah yang melakukan tugas Ayah sebelum dia menikah denganmu nanti." Ujar Ayah Dimas tegas.
Wyatt mengambil napas pelan. "Boleh kungomong berdua sama Ayah?" Pintanya serius.
"Mau ngomong apa, Nak?" Tanya ingin tahu lalu menatap istrinya.
"Perihal Tiara," sahutnya. "Bunda ikut juga yah."
"Tiara gimana, Nak." Ujar Bunda Etty berat.
"Bunda jangan khawatir, gak jauh kok kita ngomongnya," menatap kedua calon adik iparnya. "Gak apa-apakan Kakak ajak Ayah dan Bunda bicara sebentar."
Kedua calon adik iparnya saling menatap, melihat pada kedua orang tuanya, lalu mengangguk kepala. "Iya, Kak." Jawab mereka berdua.
"Kalian jangan khawatir, nanti ada Kak Leo yang akan menemani kalian." Melihat Asistennya yang sedang berjalan mendekati mereka. "Gimana, Leo."
"Beres, Wyatt." Sahutnya tegas.
"Kamu temani kedua adikku sebentar, Leo." Ujarnya memerintah. "Ngomong-ngomong Kakak belum melihat Mba kalian Fezia, kemana dia?" sambungnya bingung.
"Fezia masih kerja Nak. Dia belum bisa kemari karena ada beberapa pasien kecelakaan di tempat kerjanya, jadi menyelesaikannya dulu." Jelas Ayah Dimas. Anak keduanya seorang dokter umum yang sedang melaksanakan intership yang ditempatkan di UGD, sehingga belum bisa menemani mereka menjaga Tiara. "Mau bicara dimana, Nak?"
Mengangguk kepala. "Di sana aja, Yah." Menunjuk ke ujung koridor, sehingga masih bisa mengawasi dan melihat apabila operasi Tiara selesai.
"Baiklah," menatap istrinya. "Ayo, Bund." Yang mengangguk kepala dan mengikuti calon mantunya.
******
Tasya POV
"Apa?" tanyanya syok ketika adiknya Tiara Fezia mengabarinya kalau Sahabatnya itu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dioperasi. "Lo gak sedang bercanda kan, Dek?" sambungnya bertanya lagi, memastikan apa yang didengarnya itu benar.
"Iya, mba. Gak mungkin hal begini dijadikan bercandaan." Gerutu Fezia.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Air matanya mengalir tanpa disadari, hati sedih dan sakit mendengar kenyataan yang menimpah sahabatnya Tiara.
"Gak terlalu tau detailnya, Mba. Tapi yang gue denger, Mba didorong orang sampai ditabrak oleh mobil yang akan melintas." Jelas Fezia sedih.
"Lo tau siapa yang mendorong Tiara?" tanya sedih dan ingin tahu.
"Gak tau, nanti Mba coba tanya Kak Wyatt, dia yang mengabari keadaan Mba Tiara pada kita semua."
"Lo di mana sekarang, Dek?"
"Gue masih tertahan di rumah sakit, Mba. Ada beberapa korban kecelakaan yang membutuhkan pertolongan segera, jadi gue harus mendahului mereka dulu, nanti kalau kerjaan selesai, baru menyusul." Jelasnya menghela napas lelah dan cemas. "Mba pulang gak?"
"Iya, ini sedang cari tiket." Ujarnya cepat. "Nanti kabari lagi yah perkembangan keadaan Mba lo, Zia. Mba akan mencari penerbangan tercepat, semoga aja masih ada." Sambungnya penuh harap.
"Baiklah, Mba." Sahut Fezia sebelum memutuskan panggilannya.
Tasya menatap hampa teleponnya, hatinya sakit mengetahui keadaan Tiara, air matanya terus menetes ketika mengingat sahabatnya itu. Ia harus pulang malam ni juga, semoga saja masih ada penerbangan malam ini, doanya dalam hati dengan punuh berharap