
"Menangislah," ujar Tiara, mengelus pungungnya dengan lembut. "Apabila dengan menangis, akan membuat lo lega, maka menangislah." Tetap memeluknya erat. "Menagis bukan berarti lemah, menangislah sepuas lo, setelah itu simpan air mata lo yang berharga itu, rugi menangis seseorang yang gak pantas kita tangisi."
"Hiks... Hikss... Gue pikir, kalau selamat ini bisa tetap kuat untuk pura-pura semuanya baik-baik saja," ujarnya lirik. "Ternyata sakitnya membuat gue seakan lumpuh."
"Gue mengerti perasaan lo, walaupun belum mengalaminya," melepaskan pelukannya lalu manepuk-nepuk menenangkan pundak Tasya. "Telan aja rasa itu walaupun pahit, tapi seiring waktu, rasa itu akan berbuah manis apabila lo mau bersabar." sambungnya menasehati. "Ada orang bilang, cinta lah pasanganmu seadanya, jangan melebihi cinta kepada Yang Menciptakan kita. Karena pasangan kita mungkin suatu hari akan mengecewakan dan meninggalkan kita dalam keterpurukan, akan tetapi Sang Pencipta takkan pernah meninggalkan kita malah akan menemani dalam menghadapi keterpurukan hidup kita."
"Sakit, Ra," Tasya terisak lirih, hatinya sakit.
"Gue tau,"
"Gue harus gimana," masih terisak pilu.
"Ikhlas, Sya." Menatap Tasya dengan sayang. "Ini belum seberapa, jika lo mau membalas perbuatan mereka. Rasa sakit itu akan berkali lipat lebih sakit, jika lo belum ikhlas."
"Gak semudah itu, Ra." Bantahnya serak
"Gue tau, Sya. Ikhlas itu terasa mudah dimulut tapi menjalaninya begitu sulit. Ketika kita belajar ikhlas, ada aja yang menghalangi, yang membuat rasa sakit itu muncul," ujarnya melamun. "Tapi seiring waktu, dengan ikhlas rasa sakit itu perlahan akan hilang, kuncinya sabar."
"Apa itu yang lo rasakan terhadap Alvin," menatap Tiara menyelidik.
"Iya," menghela napas berat.
"Hasilnya," menatapnya ingin tahu, walaupun ia tahu jawabannya.
"Rasa sakit itu belum sepenuhnya hilang, ketika melihat mereka, tapi tak sesakit dulu,"
"Gimana rasanya."
"Ya, seperti digigit semut, hanya nyut-nyut doang, sudah itu sudah" Sahutnya bercanda
"Gigit semut juga sakit, Ra," tersenyum sebal pada Tiara.
"Gue nikmati aja rasa sakit itu, berteman dengan rasa itu. Perlahan tapi pasti rasa itu akan hilang," jawabnya yakin dan tersenyum.
"Apa gue bisa melewati ini," ujarnya sangsi, tak percaya diri.
"Pasti bisa," sahut Tiara tegas. "Karena lo kuat dan berprinsip tegas. Lo bukan wanita yang akan hancur jika ditinggali pria."
"Entahlah."
"Mana saudara gua yang bilang, pria yang tukang selingkuh, buang aja ke gunung fuji sana. Yang selalu bersikap masa bodoh, ketika kekasihnya direbut, dan bisa dengan mudah mendapat penggantinya, jika putus." Menggenggam tangan Tiara. "Jangan lemah, lo harus kuat. ini belum seberapa cobaan yang lo hadapi, semuanya akan semakin berat ketika keluarga lo ikut campur."
Tasya merenung dan memikirkan omongan Tiara. Menyadari, kalau omongan Tiara itu benar. Sekarang sakitnya belum seberapa, nanti kalau yang direncananya berhasil, maka sudah pasti orang tuanya tak terima dan akan menyalahinya. Bagi mereka kehormatan itu no 1, daripada kebahagian anak-anak mereka.
"Lo benar," jawabnya
"Tenang aja, lo gak akan sendiri menghadapinya." Janji Tiara.. "Udah gak usah nangis lagi, sayang benget air mata lo terbuang percuma hanya gara-gara pria *****sek itu." Sambungnya kesal.
Diingatkan lagi tunangannya, membuatnya kembali menangis terseduh-seduh. "Hiks..Hiks."
"Ya elah ini anak, malah tambah nangis." gumam Tiara geram. "Cengeng banget lo malam ini, lagi PMS yah. Auw.." sambungnya jahil dan kesakitan karena tangannya dipukul Tasya.
"Sembarangan," gerutuya geram
"Lah, terus apa," ujarnya bingung. "Udah deh, pria seperti itu, gak pantas lo tangisi, rugi tau. Lo gak tau kan, lo sekarang nangis bombay
gara-gara si bajingan itu. Mungkin saja, yang ditangisi sedang tertawa bahagia bersama selingkuhannya." Sambungnya kesal, ia tahu omongannya itu, akan membuat Tasya terluka lagi, tapi ia harus membuka hatinya untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.
Tasya melotot tak suka akan sindiran Tiara. "Ra,"
"Kenapa gk suka," menatap Tasya datar.
"Kalau gue gak suka, mau lo apa," tantangnya.
"Mau ambil air," sahutnya cuek
"Buat apa lo," tanyanya heran
"Buat semburkan lo, biar cepat sadar," sahutnya jahil.
"***l lo, emang gue kesurupan," gerutunya kesal, walaupun tahu Tiara hanya bercanda.
"***l lo," makinya lagi, sembari memukul tangan Tiara geram. Ia tertawa melihatnya Tiara meringis "Hahaha."
"Language," ingat Tiara tegas
"Ish, senang banget mukul gue, hehe," mengelus bekas pukulan Tasya.
"Habis lo ngeselin tahu ga, Ra."
"Biarin, ngomongin tunangan lo bikin gue esmosi jiwa tau," gerutunya sambil memberengut.
"Sama dong kalau gitu."
"Apa?"
"Gue esmosi juga kalau lo terlalu peduli pada Alvin," ujarnya sengit, menatap Tiara seakan bermusuhan.
Mereka bertatapan, tak mau mengalah. Menguji siapa yang duluan kalah, mereka sama-sama keras kepala. Perang tatapan ini, membuat mereka tertawa.
"Haha, dasar keras kepala, gak mau ngalah," gerutu Tasya sewot
"Haha, lo juga sama, diantara kita kepalanya yang paling keras yah lo kan," candanya.
"Sembarangan," bantah Tasya tak terima, belum menyadari kalau ia dijahili oleh Tiara.
"Ini gue buktiin yah," menatap Tasya yang heran, lalu menjetik kening Tasya, yang membuatnya berseru kesakitan.
"Ya', sakit tau," makinya kesal, sambil mengusap-ngusap keningnya.
"Benar kan kepala lo keras dari gue," ucapnya asal.
"Lucu yah, hahaha," sindir Tasya tertawa terpaksa.
"Ck," decak sebal.
"Lo tadi, keren loh, Ra." Puji Tasya.
"Ekh," gumamnya bingung.
"Lo ngajak ribut, Bella."
"Biasa aja, yang keren tuh, kalau bisa jambaki rambut dia," seru Tasya cuek
"Kenapa gak lo lakuin," tanya Tasya
"Lakuin itu tanpa alasan, dan bukan dia yang memulai," menggeleng kepala. "Bisa gundul rambut gue, dibotakin oleh Ayah, kalau cari gara-gara duluan," menyentuh rambutnya, seakan takut rambutnya gundul.
"Walaupun gak lo jambakin, gue senang bisa buat Bella dan Roy blingsatan gak karuan," serunya bahagia. "Mereka berusaha bersikap santai dan seakan tak kenal baik, tapi gue yakin, sejak lo adu mulut dengan Bella, dan selalu menyindirnya. Membuat mereka berhati-hati, melihat raut wajah Roy yang pucat, karena takut perselingkuhan mereka terbongkar, begitu menyenangkan. Walaupun rasa sakit itu tetap menyiksa hati gue." menatap Tiara sedih.
"Udah deh, gak usah mewek lagi. Gak lucu dong, besok pagi mata lo kayak mata panda, cantiknya nanti hilang lagi." canda Tiara sendari menghiburnya.
"Ck," decaknya lalu tersenyum. "Tapi benaran lo, Ra. Gue perhatikan, Bella takut samo lo. Dia gak pernah menang kalau ngomong sama lo."
"Tiara dilawan," pujinya bangga, sambil menepuk-nepuk dada.
"Ck, gitu aja sombong," gerutu Tasya menyindirnya.
"Harus dong, siapa lagi yang mau memuji diri kita, selain diri kita sendiri, hehehe," sahutnya cengengesan.
"Bawaan lo tenang, nyantai. Tapi sekali ada yang ngigit, langsung menerkam," ujar Tasya
"Itu muji atau menghina ye," gerutunya. "Akh, lo juga sama," sambungnya tak terima.
"Lain lah," bantahnya cepat, yang mendapat dengusan dari Tiara, membuatnya cengar cengir.
"Udah deh, gue mau tidur, ngantuk. Ngomongin si umprit itu, gak akan selesai-selesai." menguap panjang lalu membaringkan badannya. "Udah deh, tidur aja. Besok kita masih harus kerja, jadi urusan si umprit itu lupakan dulu."
"Iya, iya. " menggeleng kepala, mendengar panggilan Tiara pada Roh.