
Tiara mendengar ada orang bertengkar, ia berjalan mencari suara itu. Melihat ke sekelilingnya, merasa bingung di mana sebenarnya dirinya berada. Rasanya tempat ini tak asing dalam ingatannya.
Ia menghampiri 3 orang yang sedang bertengkar, dua orang wanita dan seorang pria. Wajah mereka tak terlihat jelas, seperti ada kabut yang menghalangi untuk melihat wajah mereka dengan jelas. Terus berjalan mendekati, teriakan dan bentakan terus bergulir tanpa henti. Suara seorang wanita yang menangis, dan terlihat berlutut di depan seroang pria. Dirinya merasa geram, melihat pria itu menghempas wanita itu dengan kakinya, dan wanita itu terjengkang ke belakang. Kepala terbentuk lantai, semakin menangis mendapat perlakuan begitu.
Ia tak paham dengan bahasa apa yang mereka gunakan, dari sikap pria dan wanita satunya, yang terus memojokkan wanita itu. Berjalan mendekati wanita yang terjatuh itu, ingin menolong tapi tak bisa. Seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalanginya. Tangannya seperti menangkap angin. ketika akan menolong wanita itu untuk berdiri.
Tangisan wanita itu begitu menyayati hatinya, mereka saling tarik menarik suatu benda yang belum terlihat oleh matanya. Mencoba mendekati lagi, tapi dinding tak kasat mata itu menghalangi langkahnya.
“Ada apa ini, apakah gue sedang bermimpi,” gumamnya dalam hati. “Awk..”serunya tercengang, saat membuktikan omongannya, ia mencubit lengannya dengan kuat, terus dilakukannya, walaupun lengannya tak merasa sakit atas cubitannya. Ia menggeleng tak percaya. Sehingga mellihat benda yang ditarik wanita itu terlepas dari pasangannya itu, terkejut, ia mengenali apa yang dipegang wanita itu.
“Kalung?!” Serunya hampir berteriak, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Sebuah kalung yang pernah diambilnya. Mendekati kalung itu, bermaksud mengambilnya, tapi keluarlah cahaya biru yang menyilaukan mata, sehingga membuatnya menutup matanya.
Bentakkan, teriakan dan tangisan, masih tetap terdengar. Sungguh pilu mendengar wanita itu menangis, ia lalu membuka matanya, lalu kakinya bergerak sendiri ingin menolong, tapi lagi-lagi dinding tak kasat mata menghalangi. Tiba-tiba keluar lagi sebuah cahaya yang menyilaukan mata yang dilihatnya tadi. Menutup mata lalu membukanya lagi. setelah itu seakan keajaiban terjadi. Ia bisa dipahami apa yang mereka terjadi.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku,” tangisnya lirih. " Aku ini masih istrimu.”
“Dengar, sudah berkali-kali kukatakan, kumencintai wanita lain. Pernikahan kita ini terpaksa.” Bentak pria itu
“Apapun itu, kamu masih suamiku, tolong hargaiku. Putuskan kekasihmu itu. Kalau kelurga kita tau, akan mencoreng nama besar kita.” Ujarnya lirih.
“Kutak peduli, Hevva yang seharusnya mendapat posisi istriku, bukan kamu,” bentaknya sarkas.
“Abimu, gak akan tinggal diam, jika dia tau kamu masih berhubungan dengan wanita itu.” Menatap kekasih suaminya itu dengan sedih karena mendapat cinta dari suaminya.
“Tuan,” panggil seorang pelayan pada suaminya.
******
Saat ini Tiara berpidah tempat dan kejadian, melihat wanita yang belum tahu namanya dan Havva, kekasih suami wanita itu sedang bertengkar. Sebagai wanita dirinya merasa kesal atas kesombongan wanita itu.
“Ada apa kamu kemari?”Tanya wanita itu pada Hevva.
Havva berjalan mendekati wanita itu. “Caira,” panggilnya dingin. “Ternyata kecantikanmu gak bisa mendapatkan cinta kekasihku, sungguh malang nasibmu, hmm,” ejeknya sambil memegang wajah wanita yang bernama Caira dengan menghina. “Kenapa, kamu akan meminta Baba untuk menyikirkanku,”sindirnya tajam.
“Saida!”panggilnya setengah berteriak pada pelayan pribadinya.
“Ya, Nyonya,” sahut seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Antar wanita ini keluar,” perintahnya mengejek.
Caira menhempas tangan Hevva, lalu tubuhnya didorong kebelakang. “Akhw..”
“Nyonya!” seru pelayan wanita itu, secepatnya membantu Nyonya majikannya.
*******
Tasya melongo heran, karena ia berpindah tempat lagi. Seakan Caira , sedang menunjukkan sesuatu padanya. Sekarang posisinya sedang berada disuatu ruang tamu yang luas, tempat yang pernah dilihatnya didalam mimpinya. Melihat Caira sedang menatap kosong kalung ditangannya.
Tanpa disadarinya ia mendekati Caira, meletakan tangannya diatas tangan Caira. Dalam benaknya tiba-tiba muncul flashback, seperti proyektor yang memperlihatkan kenangan dirinya dan suaminya sebelum menikah.
Ternyata, kedua keluarga mereka dari keturunan bangsawan. Abi mertuanya masih keturunan keluarga kerajaan. Pada masa itu, perjodohan sudah biasa terjadi pada keluarga bangsawan maupun kerajaan, untuk memperkuat kedudukan. Keluarga besar Caira, keluarga bangsawan lama, yang masih sangat berpengaruh, mempunyai hubungan yang luas dengan negara luar. Sedangkan kakek Demir, adik dari raja terdahulu dan posisi penasehat kerajaan jatuh ditangan Baba mertuanya, sehingga kedua orang tua mereka menjodohkan anak-anaknya untuk memperkuat posisi mereka dikerajaan.
Caira dan Demir, sejak dalam kandungan sudah dijodohkan, Caira gadis yang sangat canti, berpengetahuan luas, dan berhati baik. Banyak pria ingin melamarnya tapi ditolak Babanya karena sudah ada yang punya. Ia pertama kali bertemu Demir, lansung jatuh cinta. Tapi sayangnya cintanya hanya sepihak, karena Demir sudah mempunyai kekasih secara diam-diam. Kekasih Demir, hanya wanita dari golongan biasa dan gadis miskin.
Orang tua Demir tak menyukai pilihan anaknya, karena wanita itu selalu berpakaian tak pantas, bicaranya kasar dan mata duitan. Memang Sebelum menikahi Caira, Ia diancam akan membunuh kekasihnya apabila menolak menikahi Caira. Maka dengan terpaksa ia menikah, walaupun tanpa cinta, dan selalu menyakiti hati istrinya.
Dalam pikirannya ia kembali masuk ke dalam kenangan Caira yang lain, tentang kalung itu. Rupanya kalung itu diberikan oleh Abi mertuanya, karena batu pernata itu langkah, beliau membuatnya menjadi sebuah liontin yang dihapit oleh sepasang burung phoenix. Dengan harapan, Caira benar-benar pasangan abadi anaknya, yang akan selalu tetap kuat dalam menghadapi sikap keras, egois, kasar dan selalu menemani anaknya dalam menghadapi masalah apapun yang akan dihadapinya. Ia memberikan kalung itu pada menantu kesayangannya, sebagai hadiah pernikahan anaknya. Maka nya, kalung itu selalu dipakainya untuk menghargai pemberian mertuanya.
Ciara tak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan, orang itu berjalan dengan perlahan mendekatinya, yang saat itu sedang melamun dan menggenggam kalung itu. Orang itu menyeringai licik, menoleh kanan- kiri, memastikan Caira sendirian dan tak ada orang lain disekitarnya. Dalam sorot mata orang itu, terlihat amarah yang sangat besar dan dendam.
Caira masih sibuk dengan pikiran dan hati yang berkecamuk. Dalam hati menangis, mengingat pernikahannya yang belum segenap setahun yang diambang kehancuran. Ia bingung mau mengadu pada siapa, pada orang tuanya, mereka malah akan menyalahinya, yang tak becus mengambil hati suaminya. Mengadu pada Abi mertuanya, malah akan membuat Havva terbunuh dan suaminya akan semakin membencinya. Ia menghela napas panjang, air matanya menetes.
Tiba-tiba, ada yang menarik kalung itu dari genggamannya, memebuatny terkejut. Ia langsung berdiri, menghapus air matanya dan menatap orang yang mengambil kalung itu tajam.
"Kembalikan kalungku!" Bentaknya marah, berlari mau mengambil kalung itu, tapi orang itu berkelit, seolah mempermainkannya.
***********
Halo, sobat...Sorry br update sekarang😁
Tlg vote nya yah...yah..yah😍🤗🤗🙏🙏
kalian bs beri kritik n saran yang membangun, kalau ada kt2 yang rancung, adegan yg tak sesuai, maupun typo berterbangan🤗
Makasih yah yg masih setia membaca cerita ini🙏🙏🙏😇