Golden Bride

Golden Bride
Pergi Menemui Tasya



“Gak ada, gue hanya sebagai penonton. Anggap aja, lagi nonton opera, dinikmati aja.” Sahutnya tenang.


“lo ngomong gini semakin buat gue curiga, Sya.” Menatap Tasya curiga.


“Lo curigaan terus ama gue, kagak percaya amat,” gertunya kesal.


“Bukan gitu, Sya. Gue takut lo kenapa-napa nantinya, sekarang tunangan lo di mana?.”


“Tuh masih di parkiran, sedang diajak ngobrol seseorang, gue gak kenal siapa pria itu.” Membalikkan ponselnya kearah Roy, untuk dilihat oleh Tiara.


“Lo mau gue temani.” 


“Gak usah, lo kan gak bisa keluar kalau udah jam begini.” Tolak Tasya, ia tahu pasti Ayahnya Tiara pasti tidak mengijinkan anaknya keluar.


“Kan gue bisa minta diantar oleh Alfa.”


“Terus apa alasan lo kelua?” tanyanya ingin tahu.


“Iya, yah,”  sahutnya bingung. 


“Udah dulu, Ra. Tuh mereka udah mendekat,” ucap Tasya, melihat Roy dan temannya berjalan mendekatinya.


“Oke deh, lo hati-hati yah. Nanti gue hubungi kalau udah pasti ke sana.”


“Gak usah, Ra.” Tolak tegas


“Tenang aja lo,” memberikan senyuman lalu mematikan teleponnya. Tanpa mendengar omongan dari Tasya lagi, menutup laktopnya, mengganti pakaiannya.


Ia bingung akan memberi alasana apa pada Papanya, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk hidup jujur, walaupun kejujuran yang berakhir pahit.  Berpikir beberapa saat, sebelum ia menemukan alasan yang tepat, tanpa harus berbohong. 


******


"Mau ke mana, Nak," tanya Ayahnya sedang duduk santai sendari menonton, ketika melihat Tiara sudah berpakai rapi, mau pergi pada jam 10 begini.


Ia memang sengaja menemui Ayahnya yang sedang nonton. "Mau ke tempat Tasya, Yah."


"Emang Tasya kenapa?"


"Hmm, itu..." jawabnya ragu, lalu duduk di samping Ayahnya. "Gini, Yah. Hm, ada sedikit masalah dengan Tasya, jadi Tiara ingin membantunya." sambungnya bingung mau ngomong apa.


"Alasannya?" menatap anaknya ingin tahu


"Tasya ada masalah, Yah. Ia butuh bantuan, maka nya Tiara memutuskan bertemu dengannya malam-malam gini," ujarnya ragu dan menghela napas ketika melihat tatapan Ayahnya yang curigaan padanya. "Kuingin cerita tapi udah janji pada Tasya untuk gak cerita masalahnya, Kumohon Ayah mau mengerti. Masalah ini bisa membuatnya malu kalau belum diselesaikannya sendiri dulu." Sambungnya jujur sembari menatap Ayahnya memohon pengertiannya.


Ayahnya menatap matanya lama, mencari kebojongan didalamnya. Tersenyum ketika melihat kejujuran dimata Tiara. "Baiklah, tapi biar Alfa yang ngantar."


"Alfa baru pulang, dia pasti capek, Yah."


"Diantar Alfa atau gak sama sekali." Putus Ayahnya tegas.


"Baiklah." sahutnya pasrah.


"Panggil adikmu sana, kalau dia menolam. Bilang Ayah yang suruh."


"Iya," lalu berdiri menuju kamar adiknya, Alfa. Biarlah adiknya nanti ngomel-ngomel daripada tak dibolehkan keluar. Syukurlah, Ayahnya tak banyak tanya, dan mau mengerti dirinya.


******


“Gila lo Mbak, nyuruh gue ngantar lo kemari,” decaknya marah. “Kalau Ayah tau, habis kita berdua, Mba.” Sambung Alfa, adiknya. Ia baru sampai di rumah, harus keluar lagi, hanya untuk mengantar Mba nya ke Exoxs night Club.


“Maaf, ngelibatkan lo. Kan udah denger sendiri, Ayah gak akan ngijinin gue pergi, kalau gak lo yang ngantar, Fa.” Sahutnya sambil mengambil ponselnya.


“Ngapain kemari, ini bukan tempat lo, Mba.”


“Kayak lo sering aja kemari,” menatap adiknya dengan menyelidiki. “Jangan bilang, ini tempat tongkrongan lo.” 


“Yakin?” tanyanya penuh curiga dan menatap adiknya intens.


“Kagak percaya amat sih lo, Mba.” Menatap ke arah lain, merasa risih ditatap oleh Mba nya tajam. “Gue pernah beberapa kali kemari.” Sambungnya pasrah, percuma menyangkal terus, sebelum mendapat jawaban yang diinginkan oleh Mba nya, ia pasti dicercah terus. 


“Berapa kali?” tanyanya dingin.


“Hanya beberapa kali doang.”


“Berapa kali, Rangga Alfarisi.” Ujarnya datar dan penuh penekanan


“5 kali,” jawabnya pasrah.


“Ngapain lo salama di dalam, mabuk-mabukkan dan cari mangsa,” ujarnya sarkas dan menuduh.


“Gak lah,” sarganya cepat. “Gue masih ingat dosa, Mba.”


“Terus?”


“Bisa gak kita skip aja, Mba,” mohonnya penuh harap. Yang dijawab dengan tatapan datar dan tajam oleh Mba nya. “Gue cuma nemani teman doang,” sambungnya pelan, menatap Mba Tiara yang terlihat tak percaya padanya. “Sumpah, Mba. Cuma duduk-duduk doank. Mba tau kan Alan, teman gue. Dia yang sering kemari, dan mabuk. Gue hanya menjaganya agar gak dimanfaati oleh cewek-cewek yang di dalam, dan mengantarnya pulang.” 


“Awas lo, bohongi Mba. Siap-siap aja jadi samsak hidup gue nanti,” ancamnya dingin


“Iya,” sahut Alfa ngeri dan menelan ludahnya.


“Mba gak akan ikut campur dengan urusan lo, tapi kalau kelakuan lo diluar ngebuat orang tua kita kecewa dan malu. Mba akan tinggal diam, ingat-ingat omongan Mba ini.” Menatap Alfa tajam.  “Cari cewek yang benar, jangan cari cewek yang suka ngeclub. Cewek seperti itu kebanyakkan gak benar.”


“Iya, tau. Tapi kalau cinta gak,” ucap Alfa terputus karena tatapan dingin Mba Tiara.


“Apa, lanjutkan,” perintahnya datar.


“Gak, Mba.” Jawabnya pelan dan menunduk. Walaupun ia sudah dewasa, kalau berhadapan dengan Mba nya yang marah, ia akan seperti kecil dulu, selalu manuruti perintahnya.


“Cinta boleh, tapi logika harus dipakai. Jangan gara-gara cinta, kita dibudaki oleh cinta itu sendiri. Kuliah dulu yang benar, cari kerja, setelah dapat, Mba yakin, wanita manapun bisa lo dapat, tapi harus cari yang benar, jangan tau nya cuman shopping doang.” Ujarnya menasehati Alfa dan menyindirnya, pasalnya sewaktu awal-awal kuliah, Alfa punya pacar yang hobi shopping dan menguras uang saku kuliah adiknya itu, selalu meminta beli inilah, beli itulah. Sehingga ia harus bersikap tegas, mengganti Ayahnya, karena kalau Ayah mereka sudah bertindak, bisa dipastikan Alfa tak akan sebebas ini.


“Iya,” gumamnya pasrah dan menatap ke luar jendela.


“Sya, posisi lo di mana…  Gak usah cerewet deh…, ngomong aja posisi lo sekarang… Oke.” Kata Tiara melalui sambungan teleponnya, menghubungi Tasya yang berada di dalam Exoxs night Club. “Lo pulang aja, Fa. Mba nanti pulang bareng Tasya.” Suruhnya sambil memasukan ponsel ke tasnya.


“Gak, biar gue temani Mba ke dalam,” tolaknya tegas.


“Gue bisa sendiri, Fa.”


“Gak, gue takut Mba kenapa-kenapa nantinya,” ujarnya bersikeras.


“Lo ngeragui kemampuan gue menjaga diri, Alfa.” Sindirnya sarkas.


“Bukan gitu, Mba.”


“Gue bilang, pulang, yah lo harus pulang.” Perintahnya tajam. “Gue bisa jaga diri.”


“Oke,” sahutnya menyerah. “Mba nginap di tampat Mba Tasya.”


“kurang tau,” ujarnya ragu.


“Gue tunggu aja Mba di sini,”


“Gak perlu, lo pulang aja.” Tolaknya tegas. “Kayaknya lo capek, maaf yah udah minta dianteri, padahal lo baru pulang.” Menghelus kepala adiknya dengan sayang.


“Gue gak tenang, ngebiarrlkan Mba sendiri.”


“Tenang aja, Mba gak pa-apa kok,” tersenyum lembut. “Pulang gih sana, Mba masuk dulu yah,” menepuk pipi adiknya lembuh, lalu membuka pintunya