
"Kamu tau, wanita baik-baik. Tidak akan mengajarkan sesat pada pria yang dicintainya," Tutur Levent lirih. "Apa yang kamu dapat setelah berhasil menyikirkan Caira? Apa otakmu tak bisa berpikir, kalau mertuamu tak akan hanya diam saja, melihat putrinya meninggal dengan tak wajar." Berdiri dan menghadap Alv. "Maafkanku, Alv. Telah gagal mendidik anakku, kumenyesal." Sambungnya sedih dan kalah.
"Kuingin mereka dihukum, bawa kasus ini ke Dewan agung tertinggi. Biar raja yang memutuskan." Ujarnya datar, menatap Demir dan Hevva tajam. "Nyawa harus dibayar dengan nyawa." Sambungnya mengancam, menatap Hevva dingin.
Alv berjalan mendekati Hevva, lalu duduk jongkok dihadapannya, menatapnya sinis. "Wanita culas ini telah membunuh cucuku yang berada dalam rahim putriku, nyawa cucuku harus dibalas dengan nyawa anakmu tercinta."
"Jangan!" Teriaknya cepat. "Kumohon, jangan lakukan apapun pada putriku, dia tak salah apa-apa. Aku yang berdosa, hukum aku saja," sambungnya memohon.
"Alv, wanita ini punya anak." Ujar Levent heran. "Anak siapa, jangan bilang anaknya Demir," desisnya marah.
"Benar." Berdiri menatap menantunya dingin. "Hebat sekali bukan anakmu itu, wanita ini sudah pergi jauh, tapi masih dikejar dan hidup bahagia dibelakang putriku."
Plak, tiba-tiba Levent mendekat dan menampar anaknya marah. Marah pada diri sendiri karena telah kecolongan dan pengawasan terhadap Demir longgar.
"Wanita ini terlalu menganggap remehmu, Levent. Sehingga dia berhasil menikah dengan Demir." Mendekati Levent. "Bukannya kamu telah memerintahnya untuk tidak berhubungan lagi dengan Demir, tapi mana buktinya." Sambungnya marah
"Maafkanku, Alv." Serunya menyesal.
"Aku ingin kamu urus anaknya dan semua keluarga wanita ini. Kalau dibiarkan, suatu saat nanti mereka pasti menuntut balas pada kita karena telah meleyapkan putrinya." Menepuk pundak Levent keras. "Apa kamu tak berani menyakiti cucumu dari wanita ini." Cibirnya sinis.
"Aku tak sudi, cucuku lahir dari wanita pendosa seperti dia. Kalau dia sudah besar, pasti dia malu mempunyai Umminya seorang pembunuh." Desisnya tak terima.
"Bagus, kuserahkan urusan keluarganya padamu, kalau sampai masih ada yang tersisa. Jangan salahkanku, kalau aku yang turun tangan sendiri." Ancam Alv dingin. Lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, bersama beberapa pengawalnya.
"Abi, jangan!" Seru Demir berteriak.
"Ck, lihat dirimu. Urusan anak dari wanita yang dicintainya, kamu baru mau buka suara, ternyata, anak wanita itu, telah menjadi anak kesayangan rupanya." Decaknya sinis.
"Abi, aku yang salah. Kumohon jangan libatkan anakku, dia tak tau apa-apa," ujar Demir memohon dengan lirih.
"Sekarang Abi mau tanya, apa kamu menolong istrimu yang saat itu sedang mengandung? Apa kamu menyelamatkan mereka berdua? Badan saja yang besar, tapi pengecut, takut ditinggal wanita culas itu, sehingga hanya bisa diam dan hanya melihat istrimu merenggang nyawa." Bentak Abinya marah, menatap Anaknya dingin. "Nyawa di bayar dengan nyawa." Menatap Hevva yang memucat ketakutan.
"Abi, kumohon. Dia cucumu juga," pintanya senduh dan memohon.
"Anak yang lahir dari wanita pembunuh seperti dia, tak akan pernah diterima oleh keluarga besar kita." Mengangkat bahu tak peduli. "Dia bukan cucuku, jadi yang berhubungan darah dengan wanita ini harus dilenyapkan."
"Abi!" Bentaknya marah, mencoba melepaskan ikatan pada tangannya.
"Jangan!" Tolak Hevva berteriak.
"Maafkan aku," sesal Hevva lirih.
"Jangan minta maaf padaku. Aku bukan Tuhan." Menatap sinis pada Hevva. "Minta ampunan pada Allah, bertobatlah sebelum ajal menjemput kalian." Nasehatnya sambil menatap Hevva dan Demir. "Walaupun kamu anakku, Hukuman harus ditegakkan. Kuharus ikhlas, apapun hukuman yang akan diberikan Raja Sulaiman padamu." Menatap anaknya sedih.
"Abi, maaf.." Gumamnya lirih dan menyesal.
"Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada alm, istrimu yang selama hidupnya selalu kamu dzolimi. Bertobatlah, sehinggal Allah menolongmu dari 2 siksaan. Siksaan akherat dan yang akan kamu hadapi nanti." Gumamnya lembut, ingin memeluk anaknya. Tapi egonya melarangnya, hatinya masih sesak dan terluka atas apa yang telah dilakukan anaknya. "Cinta yang selalu kamu agung-agungkan, telah menjerumus hidupmu dalam neraka, Nak. Sekarang nikmati neraka yang kamu buat sendiri ini. Tak akan ada yang bisa menolongmu, selain Allah." Memanggil beberapa pengawalnya.
"Ya, Tuan." Seru salah satu pengawalnya.
"Cari tahu keberadaan semua keluarga Wanita ini," menunjuk Hevva datar. "Bawa mereka kemari. Dia harus dikasih tau, telah memilih lawan yang salah." Menatap Hevva dingin, dan berjalan mendekatinya. "Kedua cucuku melihatmu membunuh Umminya, nanti giliranmu, melihat anakmu dan keluargamu yang lain di bunuh. Impas bukan," sambungnya kejam.
"Kumohon, jangan!" Teriaknya menangis.
"Terlambat, sebelum membunuh menantu kesayangaku. Harusnya kamu berpikir ribuan kali, imbas yang kamu tinggalkan buat keluargamu." Menggeleng kepala mengejek. "Hidupmu terlalu pongah dan sombong, lebih baik wanita sepertimu ini tidak ada di dunia ini, daripada hanya membuat hidup orang lain menderita." Berjalan keluar, lalu berbicara pada kedua pengawalnya. "Bawa mereka berdua, tempatkan terpisah dipenjara bawah tanah."
"Baik, Tuan."
Levent menoleh ke pengawal terpecayanya. "Kamu ikut denganku, menghadap Raja Sulaiman. Beliau harus tahu masalah ini." Gumamnya tegas, lalu berlalu meninggalkan anaknya dan Hevva bersama para pengawalnya. Ia mengambil napas dan menghela napas lelah. Semoga keponakannya, Raja Sulaiman mau meringankan hukuman anaknya. Semoga bukan hukuman mati yang didapat anaknya nanti, sejahat-jahatnya Demir, dirinya masih tetap sedih dan tak mau anaknya meninggal dengan cara dipenggal ataupun dihukum gantung. Lebih baik Demir diberi hukuman apapun, ia rela, dari pada hukuman mati.
******
Sebuah pusaran cahaya yang menarik Tiara ke dalamnya, ia berteriak, tubuhnya bergetar dan memejamkan matanya. Kepalanya pusing, setelah dirasanya tubuhnya tak bergetar lagi, lalu ia membuka mata. Menatap sebuah ruangan yang dipisahkan oleh sebuah kaca, yang dipenuhi beberapa pengawal dan juga pria yang diketahuinya sebagai Abinya Demir. Disana juga ada Hevva dan Demir, beserta beberapa orang yang tak diketahui Tiara bersama seorang anak kecil.
"Siapa mereka?" tanyanya penasaran pada diri sendiri.
"Hevva, kamu lihat mereka bukan," ujar Levent datar.
"Jangan kumohon," isaknya lirih, melihat keluarganya dari balik kaca. Ada rasa penyesalan dihatinya, telah berani menghidaukan ancaman mertuanya. Harusnya dia sadar, kalau ancamannya tidak main-main. Mertuanya terkenal berhati dingin terhadap musuhnya tapi sangat mencintai keluarganya. Dan bisa dipastikan kalau anaknya itu tidak termasuk dalam keluarganya.
"Terlambat!" desisnya dingin. "Sekarang saksikan bagaimana keluarga yang kamu cintai merenggang nyawa didepan matamu. Rasakan betapa sakitnya, tersiksa dan tak bisa berbuat apa-apa, selain melihat." Berdiri dihadapan Hevva dengan sinis. "Apa yang dirasakan kedua cucuku, akan dirasakan olehmu juga."
"Abi, ini semua salahku. Kumohon, jangan menambah dosa dengan melakukan pembunuhan ini." Gumam Demir menatap Abinya penuh harap.
"Tau apa kamu dengan dosa, yang kamu lakukan selama ini apa bukan dosa. Tak usah mengajari Abimu, kalau kamu sendiri hidup dalam bergelimang dosa," ujarnya sinis. Lalu berjalan mendekati pengawalnya. "Lakukan," sambungnya memerintah dengan datar.
"Baik," pengawal itu membungkuk hormat lalu pergi ke ruangan sebelah.