
“Gak usah, Ra. Lagian gue gak lama kok, senang lihat lo udah sehat,” ucapnya tulus.
“Makasih, Vin,” jawab Tiara tulus. “Tumben lo jam segini udah pulang kerja,” sambungnya heran, setahunya jam pulang kerja Alvin jam 5 kurang. Ini baru jam 4 lewat, datang mengunjunginya, kan bisa datang habis dari kerja.
“Tadi habis nemani cewek gue ke rumah Bella, jadi ijin setengah hari, hehe.” Jawabnya cengengessan.
“Jangan terlalu sering ijin yang tak penting, Vin,” ucapnya menatap Sarah tajam. “Maaf bukannya menggurui, lo kerja sama orang, baru juga diangkat jadi manager. Jangan menyalahi wewengan atau koropsi waktu. Terlalu sering ijin, bisa memepengaruhi integeritas kerja lo di sana,” sambungnya menasehati dengan santai, tanpa memperdulikan tatap marah dari Sarah.
“Gue..” ucapan Alvi terpotong.
“Apa hak lo ngomong kayak gitu sama Alvin,” sela Sarah tajam. “Lo bukan siapa-siapa yah, jadi jangan sok menasehati segala lagi.” Sambungnya marah.
“Lo kan baru jadi manager, gak boleh terlalu santai dan seenaknya. Hati-hati dalam bertindak, Vin. Segala gerak-gerik lo pasti dipantau. Apalagi kalau ada rekan kerja yang iri, bisa dijadikannya ini kesempatan untuk menjatuhi lo,” saran Tiara bersahabat.
“Iya, gue..” ucap Alvin terpotong lagi.
“Gak usah ikut campur hidup orang lain, urus aja hidup lo!” seru Sarah marah.
“Vin, lo tahan punya cewek kayak dia,” ujarnya mengejek, tanpa menggrubis omongan Sarah.
“Bukannya lo gak suka yah, dengan cewek yang dominat dan suka memerintah seenaknya.” Menatap Alvin tajam.
Alvin ditatap tajam oleh Tiara, menjadi malu. Memang benar apa yang dikatakan oleh temannya itu, ia suka cewek manja tapi tak suka cewek yang suka memerintahnya seenaknya, seakan dirinya itu seorang bawahan, omongan Tiara itu, entah kenapa membuka pikirannya.
“Diam lo!” bentak Sarah marah dan tersinggung.
“Songong banget cewek lo, Vin,” cibirnya datar.
“Lo yang diam, dari tadi nyela aja omongan orang, gak sopan banget,” menatap dingin Sarah.
“Sopan dikit sama orang yang lebih tua dari lo, jangan luarnya aja yang bagus tapi dalamnya gak punya etika.”
“Apa lo bilang!” bentaknya berdiri dan menunjuk Tiara marah.
“Selow aja kale, gak usah nunjuk-nunjuk segala,” cibirnya cuek. “Lo kok tahan banget sama cewek pencitraan gini, Vin. Milih cewek cantik dan seksi itu sah-sah aja, tapi attitude juga harus baik donk, seimbang lah luar dan dalamnya, biar gak timpang sebelah, biar gak makan hati nantinya.” Menatap Alvin datar, yang dari tadi diam. “Alvin yang gue kenal gak kayak gini loh, begitu mudah tunduk sama ceweknya, jangan dibiasakan. Nanti lo tergabung dengan ikatan STI, suami takut istri.”
“Kita pulang! lama-lama di sini, bikin emosi,” perintah Sarah marah.
“Lo aja yang pulang, gue mau nasehati teman satu ini, biar otaknya kembali benar,” usir Tiara tegas.
“Ck, lo munafik benar yah.” Decak Sarah sinis.
“Apa?” Tanya Tiara polos.
“Ngomong aja lo cemburuh dan iri, Alvin lebih milih gue daripada gue.” Sindirnya menatap Tiara mengejek.
“Haha,” Tiara tertawa. “Lo waras kan,” tersenyum mengejek, ketika melihat wajah Sarah yang semakin merah mendengar omongannya. “Ngapain iri dan cemburu sama lo, udah lihat kan cowok gue, lebih segalanya dari Alvin,” menatap minta maaf dari matanya pada Alvin. “Suruh cewek lo itu pulang, masih ada yang harus gue bicarakan pada lo,” sambungnya tegas, menatapnya tajam. Ia akui pernah cinta pada temannya ini, sekarang rasa itu telah hilang, berganti sedih melihat cowowk di depannya ini, begitu tunduk dengan omongan ceweknya.
“Beb,” Rengek Sarah manja, memegang lengannya.
“Gak!” tolaknya tegas menatap Tiara marah.
“Masuk mobil sana atau gak usah ketemu gue lagi,” ancamnya tajam.
Sarah mendelik kagek, ingin protes tapi melihat tatapan tajam Alvin, dengan terpaksa ia mengalah. “Lo!” menunjuk Tiara dingin, menoleh ke cowoknya yang masih menatapnya tajam. Dengan menghentak kakinya marah, meninggalkan mereka berdua.
“Gue minta maaf dengan sikapnya,” ucapnya malu.
“Gak usah minta maaf mewakilinya, cewek lo udah dewasa, tau gimana cara bersikap.” Ucapnya datar. “Lo mau minum apa, gue ambili.” Tawarnya lagi.
“Gak usah, Ra. Gue gak lama kok, takut Saras bikin ulah lagi.” Tolaknya lagi.
“To the point aja yah, Vin. Lo serius dengan Saras?” menatap ingin tahu padanya.
Alvin mengangguk kepala. “Iya,”
“Tahan dengan sikapnya yang suka memerintah gitu, seakan dia sangat meremehkan lo,” menatap mata Alvin, inign mengajuk hatinya. “Dikasih apa lo sama dia, sampai nurut gitu,” sambungnya menyelidik tajam, melihat Alvin salah tingkah dan malu, seakan Tiara bisa membaca pikirannya.
“Pantes, udah dikasih enak sama dia, jadi gak bisa lepas.” Menatapnya mengejek.
“Gak kok,” sahutnya cepat.
“Ck, gak usah muna deh lo, sedikit banyak gue tau. Sepak terjang cewek lo itu, ngaku aja deh, gak usah bohong. Wajar sih kalau lo sampai klepek-klepek keenakan nerima servis darinya,” sindirnya datar. “Cuma sekarang coba dipikirkan, apa yang lo lakukan itu, gak akan berimbas pada adik cewek lo,” ia pernah beberapa kali bertemu dengan keluarga Alvin bersama dengan teman-teman kuliah lainnya. Dan lumayan dekat dengan Yuanita, adik perempuannya.
Alvin terteguk dan malu, mendengar omongan Tiara yang mengguruinya, tak memperdulikan perasaan dirinya yang tersinggung apa tidak. Ingin menjawab saat dia lagi mode cerewet begini, percuma saja, pasti tetap salah dan kalah.
“Gak usah malu lah, dijaman sekarang, apalagi hidup dikelilingi kaum jetset, bukan hal yang tabu lagi, free sex sebelum nikah.” Ucapnya santai. “Cuma kalau itu lo lakuin, ada sedikit kecewa sih, cowok yang gue anggap baik-baik dan selalu tau batasan dalam berhubungan, gak akan melakukknya, ternyata bisa khilaf juga dengan cewek seksi itu. kayaknya gua aja yang menganggap tinggi diri lo,” sambungnya sedih.
“Maaf kalau gue gak sebaik yang lo pikirkan,” ucapnya menyesal. Ia tak tersinggung dengan omongan Tiara, sudah biasa, tak heran lagi. Selama mereka berteman, keterusan dan omongan yang nyelekit sudah biasa dihadapinya saat ngobrol dengannya.
“Maaf kalau omongan gue buat lo tersinggung, tapi sebagai teman, hanya mengingatkan saat lo kelewatan.” Ucapnya hati-hati. “Bucin sih boleh aja, tapi kalau bucin pada cewek yang belum tentu jadi istri, sampai banyak menghabiskan waktu dengannya dan mengabaikan Mama dan adik lo di rumah, bukannya itu kelewatan, Vin.” Menatap Alvin tajam. “Jangan lupa, surga lo sampai mati di bawah kaki Mama lo, bukan Sarah. Jangan sampai lebih memilih dia yang baru hadir beberapa bulan, daripada keluarga sendiri. Tahu sendiri kan, orang tua lo untuk mendapatkan lo itu butuh waktu lama, jadi gue harap jangan menyakiti mereka.” Sambungnya menashati lembut. Habisnya Yuanita pernah curhat padanya, perihal Kakaknya itu, yang jarang ada di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu bareng ceweknya.
“Iya,” mengangguk pasrah, seakan baru menyadari kalau dirinya memang salah.
👋Hai.. Met Malam Readers👋
🤗Senang bisa update lagi malam gini😁
😇Tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉
komen👉saran yah😉
😇Makasih bagi yang maih setia baca cerita ini🙇
🤗See you on next 👉chapter🤗