Golden Bride

Golden Bride
Bangunnya Tiara



"Tapi kamu bilang tadi..." Ujarnya ragu dan cemas.


"Memang setiap takdir mendapatkan cinta sejati tidak akan mudah." Menghela napas kasar. "Semua tergantung kamu dan pasanganmu yang menjalaninya. Apakah kalian akan dengan ikhlas menerima takdir kalian bersama atau kalian menolaknya." Bermain-main air dengan tangannya sambil menerawang. "Semuanya akan happy ending kalau kalian bisa satu hati, satu tujuan, kejujuran, dan saling percaya."


"Rasanya gak mungkin." Ujarnya minder, seolah kalah sebelum berperang. "Impossible."


"Bukan gak mungkin tapi belum, karena gak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Jika Yang Maha Kuasa sudah berkehendak." Memandang jauh ke depan dengan menerawang. "Sekarang semuanya masih abu-abu, karena itu kamu belum bisa menerima keberadaan kalung ini." Menoleh ke arah Tiara lalu menggenggam tangannya. "Saranku, coba lah menerima dengan ikhlas pasanganmu, yang telah dipilih oleh kalung ini. Karena itulah pasangan sejatimu, jodoh yang sudah ditakdirkan untukmu sebelum dunia ini tercipta. Belajarlah untuk mempercayainya dan mencintainya, bahagia atau sedih itu adalah pilihan yang akan kamu pilih sendiri. Semua yang terjadi di masa depan, tergantung dengan caramu dan pasanganmu menghadapi permasalahan yang akan datang."


"Tiara.." Seru seorang memanggilnya dari jauh. Menoleh kanan dan kiri, mencari suara yang dikenalnya, memanggilnya.


"Sepertinya udah pagi, waktunya kamu bangun." Ujar Afra tersenyum.


"Apa kita bisa bertemu kembali." Tanya Tiara berharap.


"Tidak tahu, kalau kamu sudah bisa menerima dengan ikhlas takdir kalung ini dan menjalaninya dengan tegar. Mungkin kita akan dipertemukan kembali lagi." Menepuk-nepuk tangan Tiara dengan lembut dan tersenyum hangat. "Saranku, percaya apa yang kata hatimu bilang, jangan mudah percaya dengan apa yang dilihat sebelum mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Sekali lagi kutegaskan ikuti kata hatimu, walaupun kata hatimu bertentangan dengan logikamu."


"Apa maksudmu?" Tanya bingung.


Afra tersenyum. "Turuti saja apa yang kukatakan, ada saatnya kamu akan memahaminya."


"Tiara.. Bangun Tiara." Seru seorang wanita dengan cemas memanggilnya.


"Pergilah, mungkin lain kali kita bisa ngobrol lagi." menggenggam tangan Tiara dan memeluknya hangat. "Senang bisa bertemu dan ngobrol denganmu. Walaupun yang terjadi ini, sungguh sangat tidak masuk akal. Tapi kuharap ini bukan akhir dari pertemuan kita."


"Aku juga." Membalas pelukan Afra dengan hangat.


******


"Ra, bangun Ra." Seru Tasya sambil menggoyang-goyang bahunya dengan cemas.


"Hemmm..." Gumam Tiara serak.


"Bangun, Ra." Seru Jasmin menepuk-nepuk pipihnya lembut.


Tiara mengerjap matanya, menatap ke sekelilingnya dan memejam matanya sambil mengerang lirih. "Ekhm..."


"Ra, lo baik-baik aja kan?" Tanya Tasya sangat cemas sambil menepuk pipinya sedikit keras.


"Akwww." Seru Tiara kesakitan. "Pagi-pagi udah Kdrt aja lo, Sya." Tegur Tiara kesal.


"Lo nya yang pagi-pagi udah ngebuat kami spot jantung, tau gak" ucap Tasya kesal dan membantu Tiara menyandarkan tubuhnya dikasur. "Lo baik-baik aja kan." Sambungnya memastikan dengan wajah kuatir. Tiara menganggukan kepala, yang dibalas oleh teman-temannya dengan memeluknya.


"Syukurlah." Seru Jasmin lega


"Alhamdulillah," Tasya menghembus napas lega. "Lo kenapa, Ra. Kami panggil-panggil gak bangun." Tanya Tasya ingin tahu. "Kirain lo pingsan."


"Iya, kami kira dipanggil lo gak bangun, udah wasalam." Canda Jasmin penasaran, yang langsung dipelotot oleh Tasya. "Hehehe, canda doank, Sya."


"Berapa lama lo membangunkan gue tadi, tapi masih tetap tertidur." Tanya ingin tahu.


"10 menitan lah."  melihat jam di dinding. "Kami cemas banget, Ra. Gak biasanya lo kalau dibangunkan lama sekali seperti tadi. Kami tadi mau membawa lo ke rumah sakit kalau sampai lo gak bangun-bangun."


"Gue juga heran, gue.." Ragu untuk ngomong dan menatap mereka yang penasaran.


"Iya, Ra. Mandilah dulu, kami tunggu di dapur ya." Sarannya lembut.


"Oke." Bangkit dari kasur dan menuju ke kamar mandi.


 


******


"Nah sekarang bisa lo jelaskan kenapa lo tidur sangat pulas seperti orang pingsan tadi." tanya Jasmin memulai omongan dengan rasa ingin tahu.


Tiara mengangguk dan menatap Tiara. "Jam berapa kita janjian dengan Gilang, Sya?"


"8.20. Tenang aja, masih banyak waktu kok, tadi juga udah gue WA Gilang, kalau kita kemungkinan datang terlambat." Jawab Tasya santai. "Ngomong lah, Ra."


"Apa kalian percaya takdir?" Mulainya dengan ragu.


"Tentu aja, Ra." Jawab mereka bersamaan.


"Sebelum kita lahir juga, takdir kita udah ada, kita tinggal menjalaninya. Semua yang terjadi dihidup kita ini, memang sudah tertulis ditakdir hidup kita. Tergantung dengan kita masing-masing bagaimana harus mendefinisikan takdir itu sendiri." Jawab Jasmin bijak.


"Benar kata Jasmin, setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing. Tinggal kita sebagai manusia yang harus bagaimana bersikap dalam menghadapi takdir itu, baik itu yang buruk maupun yang bagus." Ujar Tiara bersikap dewasa. "Kita ambil contohnya dari gue aja, gue dipermainkan oleh cowok disaat mau ke jenjang pernikahan. Itu termasuk sudah takdir yang harus gue jalani, tinggal gue harus bersikap gimana dalam menghadapinya, mengatasinya dan mengambil hikmah atas kejadian ini."


"Jadi apa hubungannya takdir dengan kejadian lo tadi." tanya Jasmin bingung.


"Kalau gue bilang, kalung itu menakdirkan gue untuk memilikinya, apa kalian percaya?" Ucapnya dengan penuh teka-teki.


"Gue percaya, karena kalau bukan  takdir lo, lo gak akan menemukan kalung itu." Jawab Tasya yakin.


"Menurut kalian, apakah sebuah kalung bisa menuntun kita dengan pasangan hidup kita." Ujar Tiara penuh teka-teki.


"Maksud lo, jodoh kita." Jawab mereka serempak.


"Iya."


"Gue gak percaya dengan apa yang lo bilang. " Jawab Tasya. "Apa hubungannya dengan kalung ini."


"Kalau gue tergantung dengan kejadian sesudahnya. Ngomong-ngomong, apa lo akan mengembalikan kalung itu atau gak." Ujar Jasmin netral.


"Sebenarnya ada apa, lo ngomongnya kayak orang ngelindur." gumam Tasya heran


"Sebenarnya gini.." Ujarnya terputus, mengambil napas dan mulai bercerita dari awal dia memasuki alam mimpi sampai ia mendengar temannya memanggilnya.


"Beneran gitu kejadiaanya, Ra." Tanya Tasya aneh dan ragu untuk percaya.


"Rasanya sulit untuk dinalar oleh akal sehat untuk di jaman modern sekarang," ucap Jasmin sulit percaya. "Tapi melihat lo yang susah dibanguni, membuat hati gue untuk percaya dengan apa yang lo katakan."


"Gue juga sebenarnya sulit percaya, tapi gue takut kalau melawan takdir seperti Afra katakan. Hidup gue akan menggenaskan." Tasya menambil napas dalam, lalu menghembusnya. "Sebenarnya kita juga jangan terlalu percaya dengan mimpi Tiara. Bisa saja itu hanya mimpi Tiara."


"Jangan nething dulu, Ra. Gak ada yang bisa pasti meramal masa depan kita gimana." Saran lembut. "Kita lihat dulu gimana respon pria yang memiliki kalung ini, apakah ia menerima atau menolak keberadaan lo."


"Ayo, kita temui Gilang, minta pendapat padanya, 4 kepala berpikir lebih baik daripada berpikir sendirian." Ajak Tasya dengan semangat.