
Somone POV
Drtt… Drtt.. Suara ponsel berdering nyaring, yang membuat seorang pria mengalihkan matanya dari berkas-berkas dihadapannya, lalu melihat siapa yang menghubunginya
“Ya… Apa? … kamu suruh anak buahmu untuk ikuti dia dan awasi dengar benar, jangan sampai lengah… kabari posisinya di mana… kutunggu kabar selanjutnya.” Perintahnya tajam. Lalu membereskan berkas-berkas kerjanya dan melihat dilayar ponselnya ada pesan masuk. Membaca dan tersenyum sinis dan geram. Kemudian Ia berjalan meninggalkan kantornya.
"Lo di mana... tunggu di parkiran aja... 10 menit lagi sampai," ujarnya pada asistennya dari seberang telepon lalu berjalan menuju mobilnya berada.
*****
Suara musik yang hingar bingar, langsung membuat telingahnya sakit, saat ia mulai menjajakan kakinya ke dalam Exoxs night Club. Berjalan melewati orang-orang yang di lantai dansa sibuk berjoget ria dan berciuman tanpa tahu malu, malah ia melihat ada yang sibuk make out. Ck, kayak gak ada tempat aja, pikirnya geram.
Bau alkohol dan rokok semakin menyengat memasuki indra penciumannya ketika ia masuk semakin dalam. Saat akan menaiki tangga menuju lantai atas, ia melihat Bella sedang berbicara dengan seorang pelayan. Gerak gerik mereka mencurigakan, apa lagi yang direncanakan oleh wanita ular itu.
Sejak Tasya memberitahukan akan menemani Roy di Exoxs night Club ini, ia merasakan firasat yang tak enak, maka nya ia menyusul Tasya. Tidak tahu apa yang terjadi nanti, ia harus lebih berhati-hati, karena tahu, yang didatanginya sekarang tempat yang rawan dengan kejahatan. Mencoba membaca gerak bibir Bella saat berbicara dengan pelayan itu, tapi sia-sia saja, sulit memahami apa yang mereka bicarakan. Menghela napas kasar lalu mulai menaiki tangga, menuju tempat Tasya berada.
“Sya.” Tegur Tiara, setelah menemukan Tasya dan duduk disampingnya.
“Kok lo kemari,” jawab Tasya heran. “Aish, lo kagak percaya amat ama gue,” desisnya geram sambil berbisik, yang hanya bisa didengar oleh Tiara.
“Pengen aja,” jawabnya asal dan mengangkat bahu.
“Tumben lo, ada angin apa bisa ada d sini.” Sindir Roy. “Jangan bilang, lo mau jadi bodyguardnya Tasya,” candanya sarkas.
“Bisa dibilang begitu,” sahutnya cuek dan tersenyum datar.
“Pulang aja lo, ada gue yang bisa jagain Tasya.” Seru Roy dengan memerintah.
Tiara mengangkat bahu tak peduli. “Tempat ini bukan tempat tongkrongan Tasya, jadi wajar dong kalau ada yang menjaganya, daripada Bang Bram yang ngelakuinya.”
“Lo..” ucapan Roy yang geram dan terputus.
“Roy, who is she?” Sela pria bule, berwajah tampan dan bermata biru, menatap Tiara degan berbinar senang. “Apakah dia teman tunangan lo?”
“Roy,” ucap Tasya sambil memegang tangan Roy, memintahnya untuk tidak ribut.
“Ya dia sahabat gue.” Ujar Tasya memperkenalkan Tiara . “Namanya Taira.”
“Nice name.” Puji Jay. “Hai.” Sapa Jay dan mengulurkan tanganya untuk berkenalan. “Jaynox Wislaph.”
“Tiara.” Ucapnya singkat, menyambut uluran tangan Jay.
“Nama yang cantik, secantik orangnya,” gombal Jay.
“Makasih,” sahutnya sopan. Dasar playboy, ternyata mereka berdua sama aja, pikirnya sinis.
“Kenapa lo gak ngomong, tunangan lo punya teman cantik gini.” Tuduh Jay geram.
“Gak penting,” jawabnya cuek, yang mendapat pukulan pada lengan Roy oleh Tasya. “Aduh, sakit Yang,” seru Roy manja.
“Ck,” decak Tiara sinis.
“Masalah buat lo,” tantang Roy menatap Tiara tajam. Yang tak digrubis oleh Tiara, semakin membuatnya kesal.
“Lo mau pesan apa, Ra.” Sela Tasya cepat, agar Roy dan Tiara tak ribut.
“Gak usah,” sahutnya, sambil menatap ke sana-kemari dengan waspada.
“Lo cari apaan sih, kayak gak tenang gitu?” bisik Tiara heran
“Gue tadi lihat si pista-pista itu di bawah,” sahutnya berbisik, mengundang rasa penasaran dari Roy dan Jay.
“Iya, lagian kita duduk di pojokan, jauh dari suara berisis music di lantai bawah,” seru Jay.
“Urusan wanita,” jawabnya ramah dan tersenyum pada Jay.
“Oh,” Jay mengangguk kepala mengerti.
“Serius lo,” bisik Tasya ingin tahu. Yang dibalas dengan anggukan kepala, dan membawa gerakan bibir Tiara yang mengatakan ‘tunggu aja’. Tasya langsung paham, maksud Tiara, pasti si Bella bukan hanya kebetulan ada di sini. Bisa gak sehari aja pas lagi jalan bareng Roy, si ****** itu gak muncul dan merusak harinya, pikirnya kesal.
‘Lo kerja di mana, Ra?” Tanya Jay penasaran.
“Gue satu kantor dengan Tasya, beda devisi aja,”
“Berarti lo salah satu arsitek di kantor Tasya dong.” Tebak Jay.
“Bukan,” sahutnya cepat dan tersenyum. “Gue dibidang keuangan.”
“Manager yah,” seru Jay
“Bukan, Cuma staf biasa,” bantahnya sopan
“Ma…” ucapan Jay terputus ketika datang seorang wanita yang menyela omonganya
“Wah, wah. Kebetulah sekali kita bisa ketemu kemari yah, Sya.” Sapa Bella manis dan pura-pura baik. Dan duduk di samping teman Roy sambil membawa minumannya.
Tiara menatap Tasya memberi pesan melalui matanya. “Apa gue bilang.”
Tasya mengangguk kepala dan tak menggrubis Bella, ia menatap Jay. “Lo lama berkunjung ke Indonesia.”
“Gak juga, minggu depan udah balik ke Kanada,” menatap Tasya penuh minat. Seakan tahu, diantara dia dan wanita yang beru datang tadi, mempunyai hubngan tidak baik. Dia tak tahu, siapa wanita ini, tapi dilihat dari wanita itu menatap intens Roy, pasti ada sesuatu yang mencurigakan di antara mereka. Menghela napas pelan, ia gak habis pikir, kalau sampai itu terjadi. Dirinya bisa menilai, kalau Tasya itu, wanita baik-baik beda dari wanita-wanita yang pernah pacaran dengan Roy sebelumnya. Dan wanita ini, dari luar bodynya bisa membuat pria tergoda, tapi hatinya berbisik, wanita ini penuh kepura-puraan dan berbahaya. “Sorry, gue gak bisa menghadiri pertunangan kalian.” Sambungnya menyesal.
“Gak pa-pa.” jawabnya ramah.
“Kenalan dong. Gue Bella, lo siapanya mereka.” Sela Bella cuek.
“Gue,” ujar Jay menunjuk dirinya sendri.
“Iya lah, yang baru gue lihat kan cuma lo di sini,” sindirnya sinis.
“Oh, gue Jay, temannya Roy.” Seru Jay datar
“Pantes, gue gak pernah lihat. Karena gue tahu siapa aja temanan dengan mereka.” Jawabnya datar, sambil menyesap minumannya.
“Lo kenal ama dia, Sya.” Tanya Jay penasaran.
“Iya,” menatap Bella datar. “Ngapain lo kemari, cari mangsa sana.”
“Suka-suka gue dong, lo gak perlu ngajari gue apa yang harus dilakukan,” gerutunya datar, tak menggrubis tatapan tak suka Tasya.
“Dari sekian banyak tempat di sini, kenapa lo nyangkut ke kita.” Menatap Bella sinis. “Gak ada yang ngundang lo kemari.” Tasya dan Bella saling menatap tajam, tak mau mengalah. Sampai suara Jay yang memutuskan kontakan mata antara mereka.
“Mereka temanan, Roy?” Tanya Jay penasaran.
“Ish, amit-amit.” Seru Tasya sarkas.
“Ck, gak level yah,” seru Bella serempak dan datar.
“Mereka berdua gak akan bisa berteman, kayak kucing dan anjing.” Jawab Roy cuek, memperhatikan mereka berdua yang masih saling tatapan
“Lo kayaknya tau banget.” Menatap Roy dengan penuh selidik.