Dear Imamku

Dear Imamku
Guratan Sedih



Aisha menemukan Naufal di balkon kamar sedang menyesap teh hangatnya sambil menatap senja


"Mas, kamu lagi ngapain di sana?" tanya Aisha heran


"Nggak ada, hanya menatap langit." jawab Naufal


"Oh ya si kembar sama Debia mana?" tanya Naufal pada Aisha


"Mereka udah tidur barusan, mungkin capek habis main kali." kata Aisha ia berjalan menghampiri Naufal dan duduk di sebelahmya


"Mas," panggil Aisha


"Kenapa?" tanya Naufal


"Aku mau nanya sesuatu." ucap Aisha


"Apa?"


"Kamu masih suka Azizah?" pertanyaan Aisha refleks membuat Naufal yang sedang menyeruput tehnya seketika tersedak


"Maksud kamu apa Sha?" tanya Naufal heran


"Kamu masih suka Azizah?" kali ini suara Aisha terdengar lebih serius


"Nggak." jawab Naufal lugas


"Bohong." batin Aisha


"Kalau aku masih suka sama dia, buat apa aku pertahanin pernikahan kita?" tanya Naufal kali ini Aisha yang di buat bungkam


"Mas, aku nggak tau sebenarnya kamu mencintai siapa?" tanya Aisha lagi


"Aku hanya mencintai kamu Aisha." ucap Naufal, tapi kali ini suara Naufal terdengar berbeda ketimbang sebelumnya


"Kamu nggak bisa bohongin aku mas." batin Aisha lagi


Ia tak mau memperumit hal ini, lantas Aisha bangkit dan hendak pergi namun Naufal segera menahannya


"Mau kemana?" tanya Naufal


"Mau masuk," jawab Aisha seadanya


"Disini dulu, temanin mas liat senaj." ucap Naufal namun Aisha menggeleng


"Senja itu bagusnya di tinggalkan, bukan begitu?" tanya Aisha membuat Naufal terdiam


"Udah ah, ayo mas kita masuk udah mau maghrib nggak baik masih di luar jam segini apalagi sambil melamun ntar kesurupan," kata Aisha


Naufal mengiyakan saja ajakan Aisha untuk masuk, terlebih udaranya semakin dingin


"Mas, makan yuk aku udah masakin udang peper tadi," kata Aisha membuat mata Naufal berbinar


"Ayo." ucap Naufal kemudian menarik tangan Aisha menuju meja makan


Aisha mengambilkan nasi utnuk Naufal dan juga jangan lupakan udang peper sebagai lauk kesukaan suaminya itu


"Makasih Sha." ucap Naufal menerima piringnya


Malam itu meja makan yang hanya di tempati dua orang itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya


Hanya ada dentingan sendok dan piring saling beradu


Aisha yang duduk di seberang Naufal hanya menatap suaminya itu diam-diam


Aisha tahu Naufal berbohong soal perasaannya pada Azizah, mau sampai kapan dia memendam perasaannya itu


Aisha muak dengan semua topeng Naufal, ia ingin segera membongkar kebohongan Naufal dan melepaskan topeng palsu itu


Aisha hanya diam, ia tahu Naufal sedih atas undangan tiba-tiba dari Azizah kemarin


Tak ada lagi Naufal yang bawel, ceria ataupun excited jika bersama si kembar dan Debia


Yang ada hanya raut wajah sedih dan juga penyesalan, itu yang bisa Aisha baca dari wajah Naufal saat ini


Ia menghela napas panjang, sebelum akhirnya memutuskan menyudahi makannya, bodo amat dengan Naufal yang berfikir ya aneh-aneh


***


Jika dulu Azmi akan datang setiap hari, kini kakak ya itu semakin jarang datang ia sibuk dengan pesanan di butiknya yang melonjak tajam


Jadilah ia tidak bisa setiap hari menemui Aisha, perempuan itu tengah memandikan si kembar dan juga Debia dan Naufal tetap menjalankan kewajibannya sebagai dokter di medical Qurtuby


Ia meletakkan mereka bertiga di dalam kereta dorong, kemudian menyuapi keduanya


tak ada yang istimewa pagi itu juga sore harinya, Aisha mengajak Naufal jalan-jalan ke taman bersama anak-anaknya


Tapi sepanjang jalan Naufal terlihat tidak bersemangat meski Naufal menanggapi setiap pertanyaan juga selalu tersenyum seperti biasa, Aisha tahu ini bukan Naufal


"Mas, kamu bisa nggak sih lupain Azizah?" tanya Aisha di dalam hatinya


"Mas, kamu seriusan udah lupain Azizah?" tanya Aisha sekali lagi


"Aisha, kenapa kamu nanya itu terus?" tanya Naufal kesal. Ia kesal karena Aisha selalu menyuguhkan pertanyaan itu terus


"Karena kamu susah di kasih tau." jawab Aisha kesal


"Aku tahu kamu sedih karena Azizah akan menikah!"


Naufal menatap mata Aisha dalam-dalam, Jiak Aisha terus seperti ini emosinya tidak akan bisa terkontrol


"Kalau kamu mau tahu jawabannya, maka jawabannya tidak! Aku nggak pernah suka sama Azizah lagi juga nggak pernah sedih atas pernikahanya!" ucap Naufal kesal kemudian pergi meninggalkan Aisha yang masih terdiam dengan perkataan Naufal barusan


Aisha menghela napas panjang, "Aku tahu kamu sedih, sekalipun kamu berbohong sama aku raut wajah kamu nggak pernah bisa berbohong mas,"


"Di sana hanya ada guratan sedih dan penyesalan seorang Naufal," gumam Aisha


Jiak Naufal merasakan sedih, maka Aisha jauh lebih sedih hatinya sakit saat tahu jika suaminya sendiri sedang memikirkan perempuan lain


Aisha benci Naufal, sangat-sangat benci ia ingin meninggalkan suaminya itu tapi anak-anak masih butuh Naufal, sebagai sosok Ayah


Aisha benci dirinya yang di sakiti berkali-kali tapi masih bisamenerima dengan lapang dada, Ia benci dirinya sendiri sangat benci


Di sisi lain Naufal pergi dari rumah menuju rooftop, tempat di mana ia dulu sering menyendiri saat sedang sedih


Naufal bediam di pembatas rooftop, pertengkarannya dengan Aisha tadi membuat rumit masalah yang ada


Naufal tak tahu harus menyikapinya bagaimana, ia terlampau pusing dengan masalah-masalahnya


Jalanan di bawah sana terlihat ramia kendaraan yang berlalu lalang tanda bahwa orang-orang telah selesai bekerja dari pekerjaan mereka


Hari menjelang malam dan Naufal masih betah berada di sana, ia ingin melupakan bebannya sejenak dan merasa damai dengan suasananya


"Kak Naufal," panggil seseorang membuat Naufal menoleh


"Azizah?"


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Naufal lagi


"Nggak penting kakak tahu aku dari mana, aku cuma mau bilang satu hal," ucap Azizah


"Apa?"


"Maaf."


"Untuk?"


"Semua hal." ucap Azizah


"Aku tahu kamu pasti mengerti kejadian hari itu,"


"Tapi maaf, tolong lupakan aku dan berbahagialah dengan Aisha, dia sahabat aku jadi aku titip Aisha sama kak Naufal." ucap Azizah dengan tersenyum


"Aku akan segera menikah, jadi lupakan aku lupakan kenangan yang pernah tercipta juga lupakan masa lalu yang pernah ada,"


"Pesan aku, tolong jangan membuat Aisha menangis,"


"Zah," panggil Naufal kala sosok Azizah di depannya perlahan menghilang


Naufal berteriak memenggil-manggil nama Azizah namun sayangnya perempuan itu memang sudah tidak ada di hadapannya


Naufal terbangun dengan napas memburu, ia tertidur di rooftop sejak semalam dan sekarang cahaya matahari menerpa wajahnya


Naufal merogoh ponselnya yang menunjukkan pukul 10 pagi, astaga selama itukah dia tertidur bahkan Naufal meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim


Ia mengusap wajahnya gusar. Puluhan panggilan tak terjawab dari Aisha sejak semalam. Mimpi dan Azizah. Semuanya terasa memenuhi pikirannya


"Ya Rabb ampuni hambamu." ucap Naufal kemudian ia bergegas pulang ke rumah, pasti Aisha khawatir karena dirinya tak pulang sejak semalam


"Maaf," gumam Naufal pelan