
..."Rasanya manis, seperti dirimu."...
***
"Senyuman kamu terlalu manis untuk di lihat orang lain." bisik Naufal dingin
Aisha meringis sembari menggigit bibir bawahnya kuat "Maaf." tak berani menatap mata Naufal
"Nggak usah, gu- aku udah maafin kok," kata Naufal tersenyum sembari mengacak puncak kepala Aisha
"Serius?" tanya Aisha berbinar
"Iya sayang," kata Naufal dengan tersenyum manis
"Iyi siying, iyi siying." ledek Fauzan yang entah kapan ada di sana
"Dulunya aja ngomong nggak suka nggak suka, bucin akut tuh kan sekarang," kata Fauzan kembali meledek Naufal
"Sejak kapan Lo di sana?" tanya Naufal pada Fauzan yang berdiri dengan kedua tangan bersedekap dada dan bersandar pada tembok
Dengan santainya Fauzan berkata "Sejak Lo bilang sinyimin mi tirlili minis intik di lihit iring liin," lebih tepatnya itu bernada ejekan buat Naufal
Aisha yang berdiri di samping cowok itu hanya tertawa kecil mendengar ledekan Fauzan. Naufal mendengus kesal
"Lo itu lama lama bucin akut juga ya," kata Fauzan
"Bodo amat," Naufal mengedikkan bahunya acuh
"Dari pada Lo berdua mesra-mesraan depan gue yang statusnya jomblo mana di rumah sakit lagi, mending pergi kerjain tugas masing-masing gih," titah Fauzan
"Iya-iya bawel amat Lo sekarang," kata Naufal. Fauzan memutar mata jengah
"Fauzan!" panggil seseorang membuat Naufal dan Aisha memutar badan melihat orang tersebut
Fauzan yang di panggil menatap lurus ke arah pemanggilnya, "Oh, hai An." sapa Fauzan tersenyum
"Kok pada ngumpul di sini?" tanya Anna heran
"Lagi nungguin seseorang yang bisa nemenin gue lihat dua insan berduaan," balas Fauzan membuat Anna membulatkan bibirnya membentuk huruf o
"Udah ada?" tanya Anna lagi
"Udah, noh orangnya di depan gue," kata Fauzan membuat Anna celingak celinguk mencari orang yang dimaksud namun saat menyadari tak ada siapapun kecuali Aisha dan dirinya
"G-gue?" tanya Anna dengan santainya Fauzan mengangguk. Anna melongo tak percaya begitupun dengan Aisha dan Naufal
"Iya siapa lagi kalau bukan Lo, nggak mungkin kan Aisha bisa-bisa gue di bunuh sama pawangnya," ujar Fauzan membuat Anna dan Aisha terkekeh namun tidak dengan Naufal yang menatap tajam Kakaknya
Merasa situasi sudah tidak aman karena Naufal mulai menunjukkan amarahnya, Fauzan memutuskan untuk pergi saja
"An, pergi aja yuk liat tuh pawangnya udah ngamuk," bisik Fauzan namun masih terdengar oleh Naufal yang membuat cowok itu semakin menajamkan pandangannya
Ketiga orang itu terkikik geli melihat raut wajah Naufal, Fauzan dan Anna pun segera pergi dari sana menyisakan Naufal dan Aisha yang masih tertawa kecil
"Eh mau kemana?" tahan Naufal ketika melihat Aisha yang hendak pergi
"Kerja lah," jawab Aisha seadanya
"Yaudah ayo bareng," kata Naufal. Aisha mengangguk keduanya pun melenggang dari sana menuju ruangan masing masing
***
Aisha yang baru selesai memeriksa pasien terakhir dan juga jam sift nya sudah selesai, Aisha berniat untuk pulang namun sebelum itu ia ingin pergi ke rumah makan karena merasa lapar ia tapi sebelum itu Aisha harus ke ruangan Naufal dulu untuk mengajaknya pulang
"Hai Kak Revan," sapa Aisha saat melihat Revan melewatinya
"Eh Aisha, hai." sapa Revan balik "Mau kemana?"
"Mau ke ruangannya kak Naufal," kata Aisha memamerkan senyumannya
"Ohh, yaudah kalau gitu gue duluan ya ada urusan dikit," kata Revan pamit
"Iya kak," kata Aisha lalu Revan pun pergi begitupun dengan Aisha yang ikut berlalu ke ruangan Naufal
Namun saat ia masuk ke sana Aisha terkejut dengan keberadaan seorang perempuan yang asing bagi Aisha dan posisi mereka berdua cukup dekat hal itu membuat Aisha ingin menangis
Naufal yang menyadari keberadaan Aisha langsung menoleh padanya, "Sha-" belum sempat Naufal menyelesaikan kalimatnya Aisha sudah lebih dulu keluar sambil menangis
Naufal yang melihat itupun hendak berlari mengejar istrinya, terjadi salah paham di antara mereka "Na, gue kejar Aisha dulu," kata Naufal
"Sana gih, jelasin dulu pasti dia salah paham tuh!" kata Deana Naufal mengangguk lalu pergi
Deana Hawariana sepupu perempuan Naufal yang baru saja pulang dari London, saat pernikahannya Deana memang tidak datang karena sedang di rawat di rumah sakit dan baru bisa datang sekarang
"Sha!" panggil Naufal di saat berlari mengejar Aisha
"Sha! Tungguin!" teriak Naufal sepanjang koridor
Karena langkah kaki Aisha yang kecil hal itu membuat Naufal dengan mudah mengejar Aisha, "Sha!" panggil Naufal sembari menahan tangan Aisha
"Apa?" tanya Aisha dingin
"Dengerin dulu, yang tadi itu salah paham biar aku jelasin," kata Naufal
"Apa yang mau di jelasin, buktinya udah jelas tadi," kata Aisha dengan ketus
"Dia itu bukan orang lain," kata Naufal
"Terus siapa? Pacar?!" ketus Aisha
"Bukan-"
"Eh, kak Naufal?" celetuk seorang gadis
"Queen?" tebak Naufal
"Iya, senang bisa ketemu kakak di sini," kata Queen dengan mata berbinar
"Kamu ngapain di sini?" tanya Naufal
"Aku ada tugas di sini," kata Queen "Kakak dokter di sini ya?" tanyanya
Aisha yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya malah semakin kesal, bisa-bisanya Naufal mencuekkannya dan malah sibuk dengan gadis yang sama sekali tak Aisha kenal
Ia pun menghentakkan kakinya lalu pergi hal itu membuat Naufal yang tadi sibuk berbicara dengan Queen hendak kembali mengejar
"Queen, maaf ya gue harus pergi dulu," kata Naufal lalu pergi membuat Queen menghela napas sendu
Naufal kehilangan jejak Aisha ia tak mendapati Aisha di mobil membuat Naufal dengan segera mencari Aisha apalagi hari sudah sore sebentar lagi malam akan menghampiri
Naufal mengacak rambutnya frustasi ia tak menemukan Aisha di mana-mana, bahkan ponselnya pun dimatikan berkali kali Naufal menelpon gadisnya berharap di angkat
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Mohon coba beberapa saat lagi
Naufal semakin di buat frustasi pasalnya hari sudah malam, dan ia belum menemukan Aisha dimanapun
Tiba-tiba ia teringat sesuatu Aisha itu cinta anak-anak mungkin saja ia sedang di rumah Bundanya dan bermain bersama Faras Faris terlebih besok keponakannya akan pulang
Naufal melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 20.06 WIB dengan segera ia tancap gas ke rumah Layla
***
"Dek Faras!" pekik Aisha saat masuk ke rumah Bundanya
"Mbak Aisha!" sahut anak laki laki tersebut dengan antusias
"Falas kangen sama Mbak Aish," ujar Faras sendu
"Cup.cup.cup jangan nangis dong kan Mbak udah main kesini, liat Mbak bawa kue mau nggak?" tanya Aisha
"Mau!!" jawab Faras dengan semangat
"Faris mana?" tanya Aisha
"Ada di atas mbak, dia kan kutu buku kata Ami Azki," ujar Faras membuat Aisha terkekeh mendengar penuturan Faras
"Yaudah yuk kita ke atas sekalian ketemu sama Faris," kata Aisha "Oh iya Oma sama Ami kemana?" tanya Aisha pada Faras
"Oma sama Ami ada di dapur mbak lagi masak," balas Faras
"Okey bentar ya," Faras mengangguk dan Aisha pergi ke dapur
"Bunda," sapa Aisha
"Wahh, ada Aisha di sini," kata Layla
"Hehe iya Bun, aku kangen Bunda sama dua bocah," kata Aisha terkekeh "Kak Azka mau kesini besok ya Bun?" tanya Aisha
"He'em, katanya sih begitu," ucap Layla. Aisha hanya manggut-manggut
"Yaudah Bun, aku mau ke atas dulu ketemu Faris," kata Aisha di sambut anggukan oleh Layla
Aisha bergegas ke atas saat di atas ia mendapati Faris yang tengah membaca buku, anak yang satu ini memang rajin sekali sepertinya turunan dari Bapaknya beda sekali dengan Faras yang ceria dan selalu ingin bermain persis seperti Azki ketika masih kecil
"Wah rajinnya Faris," kata Aisha dari belakang membuat Faris terkejut dan menatap tajam Aisha
"Mbak Aisha biasain masuk ke kamar itu ketuk pintu dulu," nasehat Faris. Aisha terkekeh, dewasa sekali Faris
"Iya iya maaf deh, lagian kan Mbak cuma mau kasih supries doang," kata Aisha tersenyum
"Aku juga kangen sama Mbak," kata Faris tersenyum lalu menghambur ke pelukan Aisha
"Mbak Aisha!" teriak Faras sambil masuk ke kamarnya yang luas tepatnya kamar untuk tamu
Kamar yang terdiri dari empat kasur plus lemari dan perpustakaan kecilnya, sangat luas untuk di tempati Faras dan Faris berdua sedangkan Azki tidur di kamarnya sendiri keluarga Aisha punya kamar masing-masing namun semenjak ada yang nikah kamar itu jadi kosong
Faris mendengus kesal membuat Aisha kembali terkekeh, "Mbak ayo main," ajak Faras antusias
"Ayo, Faris juga ikut ya," kata Aisha
"Nggak ah mbak, Faris nggak mau," tolak Faris
"Yah kok gitu, mbak cuma sebentar Lo di sini kalian juga bentar lagi mau pulang, sekali aja," bujuk Aisha pada Faris
Faris menghela napas "Iya deh, ayo." kata Faris akhirnya. Mereka bertiga pun sibuk bermain
Tak terasa hari sudah malam Aisha mengambil ponselnya yang sedang di charger karena tadi mati saat di rumah sakit ia pun segera menghidupkannya
Alangkah terkejutnya Aisha saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Naufal, matanya membulat dengan sempurna
Bagaimana bisa ia melupakan Naufal, pasti suaminya itu sedang sibuk mencarinya saat ini Aisha jadi merasa bersalah. Tapi tidak, kan Naufal yang mulai duluan
Tiba-tiba terdengar suara berat yang begitu familiar di pikirannya, Aisha bergegas turun dari kamarnya lagi lagi ia terkejut karena Naufal ada di sini
"Loh Naufal, kamu mau jemput Aisha ya?" tanya Layla saat melihat Naufal ada di rumahnya
"Tadinya sih gitu Mah, tapi kayaknya Aishanya pengen nginap di sini," jawab Naufal tersenyum
"Ohh gitu, nggak papa malah Bunda senang kalian mau nginep di rumah, yaudah kalau kamu cari Aisha ke kamarnya aja gih, tadi dia ada di kamarnya," kata Layla membuat Naufal mengangguk dan wanita itu kemudian berlalu dari sana
Naufal yang baru saja hendak naik ke atas tetapi ia melihat Aisha tengah tersenyum di tangga, hendak marah namun diurungkan ia pun menarik tangan Aisha kembali naik, lebih baik ia masuk dulu ke kamar Aisha
Sesampainya di kamar Naufal melepaskan tangannya, dan duduk di sofa tanpa memperdulikan Aisha yang menatapnya heran
Apa ini? Naufal marah padanya? Seharusnya kan yang marah disini itu Aisha? Kenapa malah Naufal?
"Kak Naufal," panggil Aisha
"Hm," sahut Naufal dingin membuat Aisha meringis dengan sifat Naufal
"Kak Naufal marah?" tanya Aisha, tangannya memilin ujung bajunya
"Menurut kamu?" tanya Naufal santai namun bernada dingin dan cuek, tatapannya teralih lada ponsel di tangannya
Aisha menghampiri Naufal yang duduk di sofa dengan mata berkaca kaca, "Maaf." ucap Aisha menatap Naufal
Naufal bungkam. "Ihh kak Naufal nyebelin, kenapa yang marah itu jadinya kakak? Kan harusnya aku yang marah gara-gara kakak yang ketemu sama dua cewek itu, udah gitu mana deket-deket banget lagi senyum-senyuman mana manis banget di depan istrinya pula gak peka kalau istrinya itu cemburu, emang ya punya suami yang nggak peka itu jadi derita batin, lagian aku mau nanya ngapain kakak ketemu sama tu cewek?! Jangan-jangan kakak mau– hmp."
Detik itu juga Aisha membelalakkan matanya dan saat itu juga degup jantung Aisha terasa semakin cepat