
Kak Farzan tahu, apa impianku? Sangat sederhana, aku hanya ingin suatu saat anakku memanggilmu ayah
●●●●●_●
Setelah memakan makanannya, Adibah tertidur pulas di pangkuan Farzan. Dia terlalu kenyang setelah beberapa hari tidak pernah merasa sedapnya masakan Aqilah.
Farzan menyandarkan badannya di bantalnya, sesekali mengelus-elus jilbab istrinya. Dia masih bingung, bagaimana bisa wanita itu kembali lagi setelah pergi beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang dia datang membawa berita yang cukup mengejutkan, Zahra hamil dan itu anak dari Farzan. Ah bodoh!! Batin Farzan.
Dia menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong. Di saat dia benar-benar melupakan masa lalunya, disaat itu juga masa lalu itu datang kembali. Bahkan umi dan abinya sampai syok mendengar berita yang dibawa Zahra tersebut.
Sebenarnya kedua orang tua Farzan hendak untuk nenemui Adibah hanya saja mereka tidak jadi karena harus ke rumah Aqilah dulu untuk melihat keadaan Aqilah. Aqilah hampir saja keguguran karena terlalu stres. Tidak Aqilah tadi bilang dia tidak boleh egois, tapi sekarang dia malah membahayakan anaknya sendiri.
Dan Zahra, kenapa dia bisa hamil saat itu? Hubungan mereka saja tidak sampai sebulan dan mereka langsung cerai. Farzan lupa apakah dia pernah melakukan hal itu ke Zahra atau tidak, dia sudah melupakan hal yang berurusan dengan wanita itu.
Kenapa di saat dia sudah mencintai seseorang di hidupnya selalu saja ada masalah yang akan datang.
Farzan tipe orang yang sulit untuk memulai hubungan lebih jauh dengan seseorang. Lihat saja, dia baru bisa mencintai seseorang setelah hampir sepuluh tahun.
"Kak Farzan tahu, apa impianku? Sangat sederhana, aku hanya ingin suatu saat anakku memanggilmu ayah," Ucap Adibah dengan mata masih tertutup. Semacam mengigau.
Farzan tersenyum lebar hingga matanya sedikit menyipit. "Aku janji Dibah," ucapnya yang masih mengelus jilbab Adibah.
Rasanya Farzan ingin mencubit hidup Adibah gemas. Sebenarnya dia tidak nyaman seperti ini, lelaki mana yang tahan berada di posisi seperti Farzan sekarang, hingga Farzan mengambil jalan yang menurutnya sangat nekat, dia mencium jidad Adibah.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
... Dua puluh detik. Akhirnya Farzan menjauhkan bibirnya dari jidat Adibah.
Tiba-tiba dia teringat dengan perkataan Adibah tadi. Dia ingin punya anak? Buka jilbab di depanku saja tidak pernah, bagaimana bisa punya. Batinnya sambil terkekeh kecil.
Pantulan sinar mentari bersinar dari luar jendela kamar Farzan, menandakan bahwa dia sebentar lagi akan pergi untuk membagikan cahayanya ke orang lain.
Lantunan suara azan magrib kini kembali bersuara. Farzan berusaha membangunkan Adibah dari tidurnya, sebenarnya dia tidak tega untuk membangunkan gadis itu tapi sekarang panggil Allah lebih penting dari segalanya sekarang.
"Adibah. "
Tidak ada jawaban.
"Dibah. "
Tetap tidak ada jawaban.
"SAYANG! "
Adibah membelalakkan matanya."Kak Farzan panggil Dibah sayang? " ucap Adibah kegirangan.
Farzan tersenyum kemudian mengangguk. "Kamu tidak tidur ya? Gak ada mimik wajah baru bangun. "
Wanita itu menggeleng. "Dibah tidur kok. Tapi tadi Dibah sempat bangun waktu..." Adibah menggantung kalimat kemudian bangkit dari tidurnya dan pergi meninggalkan Farzan. "Kak Farzan mencium jidad Dibah!" lanjutnya setelah berbalik ke arah Farzan sambil mengerlingkan matanya.
Dengan cepat dia melangkah keluar dari kamar itu sebelum mendapatkan balasan dari Farzan.
Lagi-lagi Farzan kembali tersenyum karena gadis ini. "Dasar gadis itu. " Ada apa ini, kenapa Farzan tetap memanggil Adibah dengan sebutan gadis padahal mereka berdua sudah menikah.
Apa yang lebih bahagia dari dua orang yang saling mencintai? Apa yang lebih bahagia disaat mendapatkan apa yang diinginkan?
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berpikir. -QS. Ar-Ruum 21
Bukannya Allah tak tahu remuknya hati
Bukannya Allah tak peduli pedihnya di uji.
Tapi, Allah tahu kita mampu hadapi.
●●●●●_●
Ya Allah, maafkan aku yang tidak pernah mensyukuri atas takdir yang Engkau berikan, aku terlalu berharap dengan dia yang bahkan tidak mengharapkan aku. Aku tahu, ini jalan cerita yang Engkau berikan untukku. Akan ku terima itu, dengan segala hal yang ada kedepannya.
Dan kak Farzan? Dia sedang merapikan sajadahnya di depanku. Kalian tahu, ini pertama kalinya kita salat bersama. Ini kebahagiaan yang sangat nyata yang pernah aku alami secara langsung.
Kak Farzan menatapku sambil tersenyum simpul. Semoga aku selalu melihat hal ini setiap hari. "Kita mulai salatnya ya? " tanyanya yang kubalas anggukan.
Kami berdua memulai untuk shalat. Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, aku seperti mimpi saat ini. Salat berdua dengan kak Farzan seakan mimpi. Aku selalu mengikuti gerakan kak Farzan hingga rakaat terakhir. Kita berdua mengucapkan kalimat tasbih kepada Allah dan kemudian memanjakan doa.
Setelah itu, kak Farzan berbalik, kuraih tangan kanan kak Farzan kemudian mencium punggung tangannya. Tidak lama itu kak Farzan mendekatkan bibirnya ke kepadaku, dia menciumnya lembut kemudian membisikkan sesuatu di sana.
Dia menatapku sambil tersenyum, kemudian mengusap bekas air mata yang masih tersisa di wajahku. " Jangan pernah menangi lagi, kamu tega mmembuatku dikutuk ribuan malaikat hanya karena membuatmu menangis?" ucapnya kemudian mengecup jidatku singkat.
"Kak Farzan, jika suatu saat nanti, ada masalah diantara kita, Dibah harap tidak ada kata pisah yang keluar dari mulut kak Farzan maupun mulu Dibah langsung. Dibah gak kuat jauh-jauh dari kak Farzan. Kak Farzan tahu apa yang unik dari senja? " tanyaku.
Dia diam mungkin memikirkan jawaban untuk pertanyaanku tadi. "Mungkin karena memiliki warna yang indah. "
Aku menggeleng. "Bukan itu. Yang unik dari senja itu, di selalu ada di waktu yang sama walau terkadang tidak semua orang mengharapkan cahaya kecilnya, dia selalu memperlihatkan kecantikan dari cahayanya walau yang melihatnya cuma sedikit. Dan Dibah ingin kak Farzan seperti senja, yang pergi untuk membagi kebahagiaan dengan orang lain dan tak lupa kembali lagi. "
"In shaa Allah, Adibah," ucapnya sambil tersenyum tipis. "
"Kak Farzan tahu, ujian nasional seminggu lagi, doakan Dibah agar bisa ujian lulus dengan nilai yang memuaskan," ucapku sambil memeluk tubuh kak Farzan.
"Adibah, saya lapar. Pelukannya nanti saja ya, kita masak saja dulu. "
Aku melepas pelukanku dari kak Farzan. "Dibah yang masakin kak Farzan, biar kerasa kak Farzan terbiasa dengan masakan Dibah. Kalau hari ini gak enak, kak Farzan bisa koreksi biar Dibah belajar lebih baik lagi. "
Senyum di bibir kak Farzan semakin melebar. Dia menarik pipikku, gemas. "Ini baru istriku." Ya Allah kuharap pipiku tidak memerah saat ini. Dia memanggilku istri? Ah, aku tidak bisa menggambarkan kebahagiaanku sekarang.
"Yaudah kak Farzan mandi dulu terus Dibah siapin baju untuk kak Farzan pakai terus Dibah masak deh. Biar kayak suami istri beneran." Aku tersenyum.
"Apa? Suami istri beneran? Kita kan sudah sah Dibah? " tanyanya. Aku menutup mulutku rapat-rapat. Salah bicara lagi ini. Di tersenyum kembali. "Yaudah aku mandi dulu yah," ucapnya sambil mengecup keningku. "Ana uhibbuka fillah, Adibah. " Dia bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan aku disana.
Terima kasih ya Allah, telah memperlihatkan aku kebahagiaan sesungguhnya, aku tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini, betapa berharganya momen bersama kak Farzan, betapa berartinya dia di hidupku saat ini.
Aku membereskan segala perlengkapan salat kemudian memilih baju yang akan dipakai kak Farzan, setelah menemukan baju yang menurutku bagus, kuletakkan diatas ranjang.
Dan sekarang aku harus memasak untuk kak Farzan. Ya Allah, beri aku keajaiban saat ini biar bisa memasak langsung. Sekarang saatnya meminta bantuan ke tante google untuk memasak, aku memilih ayam goreng, kebetulan cara dan alatnya terbilang tidak sulit.
Kuletakkan telepon itu di depanku untuk melihat video tutorial memasak sampai masakanku jadi, yah Allah, kenapa harus gosong? Saat memasak tadi, tangaku harus kena percikan minyak, tapi tidak parah sih cuma merah saja, perih sih tapi tidak terlalu perih.
Aku menaruh ayam itu di piring kemudian menyajikan untuk kak Farzan. Dia melihatku dengan senyuman yang mungkin tidak pernah pudar itu.
"Maaf ayam gorengnya gosong, " kataku sambil cemberut.
"Ini enak, Adibah, sumpah. " celetuknya ringan sambil mencubit pipiku.
Aku tersenyum. Apa aku bisa menyimpulkan sekarang kalau kak Farzan tipe lelaki yang romantis?
"Makasih kak. "
"Kamu tidak makan? " tanyanya.
Aku mengambil piring kemudian mengambil makanan untukku. Tunggu, apa ini yang dikatakan enak? Rasanya tidak enak sumpah, tapi kenapa kak Farzan suka? Apa benar dia pencinta masakan tidak enak? Mungkin.
Hingga makanan kami habis. Aku membereskan semua yang ada di meja makan itu dan keluar bersama kak Farzan, tadi dia sempat mengajakku keluar untuk melihat keadaan di sekitar apartemen ini.
"Kita mau kemana kak? " tanyaku saat sudah ada di ruang tamu.
"Ke alun-alun kota Parepare dan melihat betapa kokohnya patung Habibie Ainun yang ada disana. " Kak Farzan memegang tanganku. "Ayo," ajaknya yang kubalas anggukan.
"Kak Farzan, buat apa kita ke alun-alun? "
"Bahagiakan istri tidak dosa kan? " tanyanya.
Aku menggeleng. "Tapi kalau sudah sampai beli nasi goreng yah?"
Kak Farzan mengangguk kemudian melangkah keluar apartemen. Kalian tahu, ini pertama kalinya aku keluar berdua dengan kak Farzan, dan pertama kalinya kak Farzan memegang tanganku. Satu kata yang menggambarkan perasaanku sekarang, yaitu 'BAHAGIA, bahkan sangat BAHAGIA.'
Ketika kita sudah sampai di dalam mobil. Kak Farzan selalu saja diam. Aku tahu apa yang dipikirkan dia, mungkin Zahra. Andai aku bisa memilih, aku ingin jadi seperti Zahra dan tak akan pernah melepaskan kak Farzan seperti yang dilakukan Zahra.
Seperti yang dilakukan kak Farzan, aku selalu diam bedanya aku selalu berzikir, melakukan hal yang diajarkan ayah. Untuk ayah, aku ingin mengucapkan satu hal yang mungkin aku tidak pernah mengatakan langsung ke ayah, 'Aku mencintai ayah, aku berterima kasih ke Allah karena telah membuatku terlahir di keluarga seperti ayah, terima kasih Ayah. '
Kalau boleh jujur, aku tidak suka dengan keadaan seperti ini. Semuanya seakan kembali seperti dulu, kembali canggung, tidak formal seperti dulu lagi. Aku menatap kak Farzan yang fokus menyetir, mimik wajahnya sangat datar.
Aku berdeham untuk mencairkan suasana seperti ini. Aku tidak sangupppppp!
"Ada apa? "
"Kak Farzan yang kenapa? "
"Aku baik-baik saja," ucapnya sambil menatapku sekilas.
"Kak Farzan tahu. Kak Farzan adalah seorang pembohong yang sangat baik. Buktinya kak Farzan sangat pandai dalam berbohong bahwa kak Farzan baik-baik saja."
Kak Farzan menatapku. "Maksudnya? " ucapnya kemudian fokus ke depan lagi.
"Kak Farzan punya masalah lagi kan? " tanyaku to the point. Dia menggeleng. "Terus kenapa kak Farzan diam terus? "
"Aku tidak suka banyak bicara saat lagi menyetir, masih banyak waktu lagi kok untuk kita kalau udah sampai di alun-alun kan. "
Aku diam. Mungkin aku sudah soudson sama kak Farzan sekarang. Bukannya di setiap hubungan itu harus ada kepercayaan? Kenapa tidak kulakukan? Kamu pasti bisa Adibah.
Tiba-tiba dalam keheningan, aku mengingat dia sang cinta pertamaku. Entah bagaimana aku saat bertemu dengannya, aku tidak bisa menarik kesimpulan kalau hal itu belum terjadi langsung denganku.
"Adibah, " panggil kak Farzan.
"Kenapa?"
"Kamu tahu, apa yang indah dari kehidupan ini? Kita bisa memimpikan untuk dijodohkan dengan dia yang kita cintai secara diam-diam tanpa diketahui dia. Dan apa yang paling mengejutkan dari kehidupan? Yaitu saat kita bermimpi bersama dia yang kita cintai, justru Allah menyatukan kita dengan sosok yang lain. Memang terkadang kita memimpikan sosok yang baik untuk dijadikan imam tapi Allah mengirimkan sosok yang sangat baik untuk kita. Ingatlah, Allah tidak akan mengambil suatu hal apa pun darimu tanpa niat untuk menggantikannya dengan suatu yang jauh lebih baik," ucapnya sambil sesekali menatapku.
Aku diam. Apa dia bisa membaca pemikiraku tadi? Apa ikatan batin kita sangka kuat? Bagaimana bisa, kita baru kenal beberapa hari ini. Atau dia cuma menyinggungku saja? Ah, aku tidak tahu ada apa ini!
Setelah sampai, kak Farzan memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan yang menunjang tinggi. Aku keluar dari mobil itu setelah kak Farzan membukakan pintu untukku. Tatapan kami saling bertemu, seakan ada lagu romantis yang terputar tiba-tiba.
"Kenapa? " Sumpah aku risi ditatap seperti itu.
Dia menarik tanganku agar aku cepat keluar dari mobil itu, dan tidak menjawab pertanyaan dariku tadi. Menyebalkan, apalagi senyumnya itu, ya Allah, meremehkan sekali dia!
Setelah sampai di depan patung BJ. Habibie dan Ainun. Kami berdua duduk di samping pancuran air yang ada disana. Hening menyelimuti kami. Ini yang aku rindui dari kak Farzan, dia keseringan canggung.
Kutatap sekitar yang begitu ramai, ditambah dengan boneka doraemon yang berlalu lalang di depan Habibie dan Ainun meladeni satu persatu penggemarnya yang meminta foto.
Semuanya sangatlah berbeda sewaktu aku ke sini bareng ayah. Biasanya beliau selalu menghiburku, membicarakan tentang sejarah kisah cinta dua patung yang berdiri kokoh di belakanku ini. Aku bermimpi memilih lelaki minimal seperti Habibie, dan maksimal seperti Rasulullah, walau kutahu tidak ada lelaki seperti Rasulullah. Tapi memang betul sifat seseorang berbeda-beda.
"Coba ceritakan apa yang kamu lakukan di sini sewaktu bersama ayahmu? " tanyanya sambil menatatapku.
"Menceritakan kisah Habibie dan Ainun, membelikan nasi goreng. " Sebenarnya kalau membelikan nasi goreng, ayah tidak pernah membelikan itu, entah aku sudah lupa kenapa.
"Apa yang paling romantis dari kisah mereka berdua? " tanya kak Farzan, mulai berjalan di dalam lapangan. Dan paling romantisnya dia menggenggam tanganku.
"Semua kisah mereka, dari awal hingga sekarang. Bapak Habibie masih sangat mencintai ibu Ainun walau ibu Ainun sudah tidak ada di dunia. Dan bapak Habibie pernah bilang seperti ini, Walaupun raga telah terpisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap akan tersimpan secara abadi di relung hati" kataku sambil tersenyum sampul.
"Padahal awalnya Habibe tidak pernah memiliki perasaan sedikit pun untuk Ainun." Ucapnya yang kubalas senyuman.
Tiba-tiba mataku menangkap semacam mobil yang di roda, yang bertuliskan 'Parepare peduli.' Saat bersama ayah, aku tidak pernah naik itu, soalnya ayah tidak bisa karena penyakitnya.

"Kamu kenapa? " tanya kak Farzan saat langkahku terhenti.
"Mau naik itu. " Aku menunjuk ke arah mobil itu.
Kak Farzan mengikuti arah telunjukku terhenti. "Kamu sanggup mengayun mobil itu mengelilingi lapangan ini? " tanya kak Farzan seakan tidak yakin dengan badanku.
"Ih! Kak Farzan, berat badan Adibah itu empat puluh sembilang! " ucapku.
"Wah, berat juga," katanya. Dia menarik tanganku mendadak. Kemudian berjalan menuju mobil itu. "Mas, satu kali keliling berapa?"
"dua puluh lima ribu, dek. "
"Yaudah, sekali putar dulu yah bang. Ini istri saya aneh sekali, di kasih mobil beneran malah mau mobil seperti ini, " ucapnya terkekeh.
"Yah, dek. Wanita itu memang seperti ini, maunya di manja. Dia terlalu ke kanak-kanakan kalau sedang bersama orang yang di sayangi. Istri saya juga seperti itu kalau sama saya, kan dia sayangnya sama saya."
Tolong, kalau sekarang sedang ada sesi tanya jawab. Saya mau mengajukan pertanyaan, sekarang kenapa malah mereka curhat? Kapan kita naik ke mobil? Kapan keliling lapangan? Kapan berdua lagi sama kak Farzan, eddd!
Kutatap mereka berdua secara bergantian. Apa kaum lelaki memang jarang peka?
"Kak Farzan, dari tadi mobil ini lihat ke arah Adibah terus, mungkin dia bilang Adibah kapan naiknya. " singgungku.
Kak Farzan terkekeh sambil menggenggam tanganku menuju mobil yang ada di depanku. Menyebalkan!
●●●●●_●
"Kamu tahu, apa yang indah dari kehidupan ini? Kita bisa memimpikan untuk dijodohkan dengan dia yang kita cintai secara diam-diam tanpa diketahui dia. Dan apa yang paling mengejutkan dari kehidupan? Yaitu saat kita bermimpi bersama dia yang kita cintai, justru Allah menyatukan kita dengan sosok yang lain. Memang terkadang kita memimpikan sosok yang baik untuk dijadikan imam tapi Allah mengirimkan sosok yang sangat baik untuk kita. Ingatlah, Allah tidak akan mengambil suatu hal apa pun darimu tanpa niat untuk menggantikannya dengan suatu yang jauh lebih baik"