Dear Imamku

Dear Imamku
Ancaman 2



Kesibukan seorang Aisha pagi-pagi begini adalah mengurus bayi besarnya yang masih tidur


Usai sholat subuh tadi Naufal kembali tidur membuat Aisha mendengus malas karena membangunkan Naufal itu amatlah sulit


"Kak Naufal bangun ihh," kata Aisha sembari menoel tangan Naufal 


"Eungghh," lenguh Naufal saat tidurnya terganggu


Baru saja Aisha akan tersenyum karena berhasil membangunkan Naufal namun kembali cemberut karena suaminya itu malah kembali tidur


"Kak, bangun gak?" kesal Aisha


"Udahlah mending aku turun." kata Aisha sebal


Naufal segera menahan tangan Aisha agar tak pergi, "Iya aku bangun, jangan ngambek." kata Naufal yang sudah membuka matanya dengan sempurna


"Nah gitu kek dari tadi, biar aku nggak susah-susah bangunin bayi gede!" celoteh Aisha


"Iya sayang," kata Naufal lalu ia bangkit dari kasur dan berjalan gontai ke kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya


Aisha segera menyiapkan baju Naufal dan perlengkapan yang akan di bawa suaminya itu pergi bekerja


Setelah itu Aisha segera turun ke bawah dan menyiapkan sarapan pagi, ia sengaja mengerjakan pekerjaan rumah awal-awal karena hari ini Aisha akan pergi ke butiknya Azmi


Lima belas menit kemudian Naufal sudah rapi dengan jas putihnya, ia segera duduk di meja makan


"Kak, hari ini ada jadwal operasi ya?" tanya Aisha membuat Naufal mengangguk


"Iya, hari ini ada jadwal operasi, padat." kata Naufal


"Berarti kak Naufal bakal sibuk banget ya?" tanya perempuan itu lagi


"Iya dek," kata Naufal


"Ihh kok dek sih?" tanya Aisha


"Kan kamu manggil kakak, yaudah berarti kakak manggil kamu dek." jelas Naufal


"Terserah Kakak ajalah."


"Eh iya aku mau ke butiknya kak Azmi boleh?" tanya Aisha pada Naufal


"Sendiri?"


"Iya, habisnya mau sama siapa lagi?"


"Boleh, tapi aku antar," kata Naufal


"Nggak usah, nanti Kakak telat ke rumah sakit apalagi kak Naufal ada jadwal operasi kan," kata Aisha


"Pengertian banget sih," Naufal bertingkah layaknya orang yang terharu


"Ish, apaan sih? Kak Naufal alay deh," Aisha mengambilkan lauk untuk Naufal lalu memberikannya pada Naufal


"Terimakasih."


"Oiya kalau mau pergi jangan capek-capek ya, aku nggak mau kamu kenapa-napa,"


"Iya suamiku yang tampan,"


"Tumben kamu muji?" Naufal menatap Aisha dengan menaik turunkan alisnya


Aisha mendengus malas, "Jangan geer deh kak,"


Naufal telah selesai sarapan ia sedang membantu Aisha membereskan makanan piring kotor


"Yasudah aku mau berangkat dulu, kamu hati-hati kalau mau pergi ke butik," pesan Naufal


Aisha mengangguk, "Iya Mas," lalu ia menyalimi tangan Naufal


Sebentar barusan Aisha menyebutnya apa?


"Barusan kamu ngomong apa?" tanya Naufal, Aisha mengerutkan dahinya


"Mas." jawabnya singkat


"Tumben banget? Habis kepentok apa? Sampai-sampai panggilan aku berubah jadi Mas?" Naufal terkekeh, Aisha tersipu malu


"Kan kamu bakal jadi seorang Ayah, nggak mungkin kan aku manggil Mas, kakak." jelas Aisha


"Ntar yang ada aku malah di sebut adeknya Mas lagi." kata Aisha membuat Naufal tertawa


"Ada-ada aja kelakuan kamu Sha," Naufal mengacak hijab Aisha


"Mas ihh, kebiasaan kamu ngacak hijab aku." sebal Aisha cemberut


Lagi-lagi Naufal tertawa, "Maaf deh, tapi aku suka kayak gitu."


"Yauda aku berangkat dulu ya," Naufal mengecup dahi Aisha


"Hati-hati ya Mas," Naufal mengangguk lalu laki-laki yang akan menjadi ayah itu segera pergi


Aisha kembali ke dalam setelah memastikan suaminya itu berangkat kerja


Padahal Naufal sudah melarang keras Aisha agar tidak mengerjakan pekerjaan Rumah, lebih baik mempekerjakan art


Namun bukan Aisha namanya jika tidak keras kepala, ia teap keukeuh ingin mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dengan alasan ia bosan jika tidak melakukan apa-apa


Jika sudah begitu Naufa bisa apa selain menuruti saja kemauan istrinya itu


Saat Aisha tengah sibuk membereskan ruang tamu, tiba-tiba bel rumah berbunyi membuat dahi Aisha mengkerut


"Siapa yang datang pagi-pagi gini ya?" gumam Aisha pada dirinya sendiri


Aisha meletakkan kemoncengnya, lalu beringsut menuju pintu utama, ia segera membuat pintunya


"Siapa?" tanya Aisha saat pintu terbuka


Namuun ia tak menemukan siapa-siapa, hal itu malah membuat Aisha kesal masih sempat saja ada yang mau menjailinya


Aisha memutuskan untuk kembali ke dalam namun dahinya kembali mengkerut saat menemukan sebuah kotak paket di depan pintu


"Siapa yang ngirim paket? Apa salah kirim?" gumam Aisha bingung "Tapi nggak mungkin soalnya udah di depan rumah."


Aisha meraih paket itu dan membawanya masuk lalu dengan rasa penasaran ia membuka kotak tersebut


"Astaghfirullah!" pekik Aisha sembari melempar kotak itu menjauh darinya


Ia terkejut dengan isinya bahkan Aisha sampai menutup mata karena takut, ia juga mual


Bagaimana tidak isinya adalah seekor kelinci yang sudah di bunuh lalu di kepala kelinci itu di tempelkan fotonya


Jujur Aisha mual saat melihat kelinci mati itu bersimbah darah, ia ketakutan saat ini


Dengan tangan yang gemetaran ia meraih ponselnya dan menekan satu nomor


Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab panggilan ini, silahkan coba beberapa saat lagi


"Mas," lirih Aisha dengan air mata tertahan


Tiba-tiba sebuah batu menghempas jendela rumahnya hingga pecah, "Astaghfirullah!!" Aisha kembali memekik


Dengan mengumpulkan keberanian Aisha mendekati jendelanya yang pecah lalu ia mengambil kertas yang membungkus batu itu


Jauhi Naufal! Tinggalkan Naufal! Kalau kamu ingin selamat!


Aisha ketakutan ia kembali menghubungi Naufal namun hasilnya tetap nihil, Nadal tetap tidak mengangkatnya begitupun dengan keluarganya yang lain


Tak putus asa, Aisha kembali menelpon seseorang lebih tepatnya Azmi


Namun harapannya pupus saat ponsel Azmi tidak aktif, begitupun dengan Azma keduanya tidak bisa di hubungi


Satu-satunya orang yang dapat Aisha telpon saat ini adalah Nazeef. Ya Nazeef dia harus menghubungi Nazeef


***


"Naufal, satu jam lagi kita ada jadwal operasi." kata dokter Lee


"Baik dok," sahut Naufal


"Yasudah kalau begitu saya duluan."


Setelah dokter Lee mengundurkan diri dari sana, Naufal segera kembali ke ruangannya


Laki-laki itu duduk di kursinya sambil mengatur napas, hampir saja ia menghilangkan nyawa seseorang tadi jika ia tidak kembali fokus


"Kenapa jadi kepikiran Aisha ya?" tanya Naufal pada dirinya


Hatinya tak karuan entah karena dia memang merindukan istrinya itu sampai-sampai ia jadi kepikiran terus


Naufal meraih ponselnya yang terletak di atas meja, ada puluhan notif panggilan tak terjawab dari Aisha


Terkejut? Tentu. Mengapa istrinya miss call sebanyak itu, Naufal tak tenang ia segera menelpon balik


Telponnya tersambung namun bukan suara Aisha melainkan suara laki-laki, "Lo siapa?" tanya Naufal dingin


***


"Jangan takut ya, ada gue oke." kata Nazeef berusaha menenangkan Aisha


Gadis itu tampak ketakutan terlebih saat tiba-tiba jendelanya rumahnya pecah dan mendapati sebuah kertas yang kembali menyuruhnya untuk meninggalkan Naufal


Di tambah lagi tulisan di kaca kamar mandi yang di tulis dengan warna merah, alias darah


Tinggalkan Naufal, atau Lo dan bayi Lo nggak akan selamat.


Hal itu malah membuat ketakutan Aisha menjadi-jadi, Nazeef saat itu sedang mengerjakan beberapa berkas namun saat melihat panggilan dengan nama Aisha masuk ia segera mengangkatnya dan Aisha hanya mengatakan 'Kesini dan takut'


Jadilah Nazeef segera datang ke rumah Aisha, begitu sampai ia juga terkejut dengan bangkai kelinci yang penuh darah itu


"Udah ya, bentar lagi suami Lo bakal pulang." kata Nazeef lagi


Aisha hanya memeluk bantal sofa dengan erat, ia beruntung Nazeef bisa menemaninya saat ini


Tiba tiba pintu rumahnya terbuka dengan cukup keras, memperlihatkan Naufal dengan wajah yang menahan amarah