
●_●
"Terkadang janji hanya kalimat penenang saja."
Selamat membaca ^_^
Seharian ini, aku mengunci diri di dalam kamar bernuansa abu-abu itu. Sambil sesekali menatap layar ponselku yang sekarang seakan tidak berarti lagi. Keadaan apartemen ini terlihat sangat sunyi, hanya bunyi jam dinding yang setia dengan alunan ritmenya, dan pintu kamar ini sesekali berbunyi.
Rasanya hari ini begitu membosankan, ketika dia yang pernah menjadi penyemangat hidupku kini harus berakhir. Memang benar, saat seseorang kecewa, sangat sulit untuk menyembuhkan rasa kecewanya.
Dear kak Farzan.
Aku tak pernah tahu kebahagiaan sesungguhnya, sampai ketika aku mendapatkan cintamu. Dan aku tak pernah tahu derita sebenarnya, sampai aku kini kehilangan itu. Terima kasih telah mengenalkanku pada kedua rasa yang tidak akan pernah kulupakan.
Dear kak Farzan.
Andai saja aku bisa membaca pikiranmu, mungkin saat ini aku tahu harus lanjut mencintaimu, atau berhenti mencintaimu.
Aku cape berandai-andai bahwa kau sangat mencintaiku, aku cape selalu berdoa agar rasa cinta akan selalu menghiasi hubungan kita, aku cape dengan semua khayalan ini!
Biarlah, waktu akan menjelaskan semuanya, waktu akan menyelesaikan masalah ini. Allah mempunyai rencana yang indah untuk kita kedepannya. Allah tidak akan menguji seorang hamba di atas batas kemampuannya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kembali berbunyi, dia kembali mengetuk pintu kamarku. Aku masih kecewa dengan masalah itu. Kalau menikah dengan seorang duda aku masih bisa menerimanya tapi kalau dia sudah memiliki anak, mungkin aku belum bisa menerima hal itu, di tambah lagi dia tinggal disana selama sepuluh bulan, ini bukan hal biasa.
Entah, pemikiran-ku seakan kembali kemasan lalunya, bisa jadi dia sudah rujuk dengan mantan istrinya dengan alasan anak itu dan bersenang-senang selama sepuluh bulan. Kenyataan ini terasa sangat lucu. Kalau mengingat hal itu rasanya aku ingin menangis, siapa pun, bisakah kamu membuatku hilang untuk sementara waktu? Aku lelah dengan semua drama ini! Kalau boleh jujur aku benci dengan keadaan seperti ini! Ingin meninggalkan tapi terlanjur mencintai.
"Adibah. Aku tahu kamu marah, tapi setidaknya makan dulu. Kalau kamu mau aku pergi, oke akan aku lakukan itu. Adibah... Adibah... Adibah. Ku mohon bukan pintunya, aku tidak akan pernah mengulangi hal itu kembali," ucapnya di balik pintu itu.
Aku tidak pernah membalas apa yang dia ucapkan. Sumpah aku tidak tahan berada di posisi seperti ini.
"Terkadang janji hanya kalimat penenang saja," gumamku.
"Adibah, aku bersumpah kalau dalam hitungan ke sepuluh kamu belum buka pintu ini, aku akan mendobrak pintu ini," acamnya dibalik pintu itu, "Satu! Dua! Tiga!... Delapan! Sembilang! Sepuluh." Tidak ada lagi suara yang terdengar, dia tadi bilang dia akan mendobrak pintu tapi ahh, sudahlah aku malas dengan semua ini.
Aku kembali diam, tubuhku rasanya mendadak kaku, keringat dingin mulai bersimbah di punggungku. Kupejamkan mata, tanpa sadar setetes air mata mengalir di wajahku, kenapa aku menjadi sangat cengeng! Sumpah aku benci dan sangat benci dalam keadaan seperti ini! Kesimpulan yang bisa kuucapkan saat ini mungkin, dia cuma akting saja!
Brakkk!!
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, menampilkan sosok Farzan disana. Aku menatap wajahnya penuh hibah. Entah bagaimana caranya menggambarkan mimik wajahku saat ini, rasanya aku telah kehilangan semangat hidupku kembali, ralat semangat hidupku sudah hilang beberapa bulan yang lalu.
Farzan menghampiri aku yang sedang menyenderkan badanku di kasur. Dia menatapku dengan tatapan kasihan, sumpah aku sangat benci ditatap seperti Itu!
Kupalingkan wajahku, saat dia sudah ada di dekatku. Kumohon air mata jangan menampakkan dirimu lagi! Kumohon jangan, kali ini saja!
"Adibah, kamu tahu. Aku merindukan seseorang yang menyebalkan, aku rindu cara bicaranya yang terkadang tanpa jeda, hingga aku tak mengerti apa saja yang dia bicarakan tapi aku sangat suka saat dia berbicara seperti itu," ucapnya. Entah bagaimana mimik wajahnya, aku tidak pernah menatapnya lagi. "aku rindu sifat cerobohnya, aku rindu saat dia meminta aku untuk memeluknya, menutup matanya dengan tangaku.
Menciumnya saat sudah tidur, memperbaiki susunan boneka beruang, aku juga merindukan sifat tergesa-gesanya walau itu tidak baik dalam agama, merindukan masakannya setiap hari-"
"Masakanku tidak enak! " kesalku. Dia pernah bilang masakan aku terenak kedua setelah umi, tapi setelah kucoba masakan umi, ternyata tidak enak, dan aku juga sadar diri kalau masakanku lebih parah dari masakan umi.
"Siapa bilang masakan kamu tidak enak? " tanyanya. Aku tidak menatap wajahnya langsung. Tapi tunggu, dia memegang tangaku, kenapa rasanya aku sangat nyaman dipegang seperti ini? Arghhh!
Aku diam. Aku harus marah, jangan cepat luluh Adibah, ingat itu!
"Aku suka masakan yang seperti itu, kamu tidak ingat kalau setiap masakan yang kamu buat selalu aku habiskan? Bagaimana bisa aku habiskan kalau itu tidak enak, malahan aku mau tambah terus kalau makan masakan kamu, apalagi sambal terasi. Kok tiba-tiba ngiler yah? " Dia tertawa, kalau boleh jujur, aku juga mau tertawa, tapi egoku berkehendak lain aku tidak mau! "Kamu mau kan buat kan aku sambal terasi? " tanyanya.
Aku bangkit dari dudukku dan melepaskan tanganya yang sedang memegangku. Aku harus memasak untuk dia. Kalau kalian bilang aku sudah tidak marah lagi, kalian salah, ini perintah suami, bukan perintah kak Farzan, ingat itu.
"Mau ke mana? " tanyanya setelah aku sudah hampir mendekati pintu.
"Rumah Zahra! "
"Buat apa ke sana? "
"Buat mencincang-cincang tubuh dia!" kesalku, sambil menatapnya dengan pandangan tidak suka. "Kenapa? Kamu marah? " tanyaku dengan nada yang mungkin menakutkan, tapi tunggu, kenapa dia senyum? Ahh menyebalkan.
"Kamu cantik kalau lagi cemburu." Apa? Dia menggodaku lagi? Arghhhh!
"Aku tidak cemburu! Buat apa? "
Farzan kembali tertawa dengan suara yang sangat tinggi, menyebalkan! "Pipimu merah, itu tandanya kalau sekarang kamu cemburu."
"Pak Smit kalau bicara setiap hari juga pipinya merah, jadi dia juga cemburu? " Smit adalah bule asal Amerika yang sudah menetap di Parepare beberapa tahun yang lalu, bahkan dia sudah paham dengan bahasa kita.
"Itu memang dari sananya, wajahnya merah Adibah. "
"Mungkin aku juga dari sananya."
"Tidak. Kemarin kemarin wajahmu tidak memerah."
Aku tidak lagi menghiraukan Farzan, kembali kulanjutkan langkah menuju dapur, apalagi kalau tidak untuk memasak dan membuat sambal terasi buat dia. Selama sepuluh bulan ini, aku sudah belajar banyak hal dengan Aqilah, termasuk tentang memasak, kalau boleh yah, dia pantasnya jadi guru masak, masakannya enak semua, pantas Farzan pintar masak juga.
"Mau masak? "
Astagfirullah, apa dia manusia? Datang tanpa diduga andai saja dia bukan suamiku, mungkin sudah kucincang cincang badannya itu! Aku mengelus-elus dadaku yang bunyinya sudah tidak beraturan lagi, sambil beristigfar dalam hati. 'Astagfirullah'.
"Mau masak? " dia mengulangi pertanyaannya kembali.
"Mau aku bantu? " tawarnya.
"Tidak usah, " ucapku dengan nada lembut.
"Tapi aku mau bantu kamu."
"Tidak usah. Kamu duduk saja di sana, " tunjukku ke arah mejah makan, "Nanti kalau aku butuh bantuan baru panggil kamu."
"Ahh, tidak. Itu namanya aku datang pas butuh saja. "
Astagfirullah. Andai saja dia bukan suamiku mungkin dari tadi dia sudah tergeletak tak berdaya! Tapi sayang dia suamiku, jadi semuanya haru kuurungkan. Adibah, kamu harus sabar saat ini!
Dari tadi aku berusaha untuk menghormati dia, jadi ya Allah kuharap dia tidak membuatku berdosa kali ini.
Sesampainya di dapur, aku menyiapkan segalahnya, dan Farzan yang duduk di meja makan sambil terus menatapku.
"Sebulan ini, aku cuti," ucapnya tiba-tiba, "Biar kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak di bulan ini. Biar aku lebih sering menatap wajah istriku. Kamu tahu tidak, kamu pernah mengigau seperti ini, Kak Farzan tahu, apa impianku? Sangat sederhana, aku hanya ingin suatu saat anakku memanggilmu ayah. Kalau itu, aku sangat setuju itu juga impianku dari dulu."
"Kak Farzan cerewet banget sih! " kesalku. Sumpah aku maluuuuuhh! Apa benar aku pernah bilang seperti itu? Mungkin, kata Ayah aku sering mengigau saat tidur, memalukan! "Aku mau konsentrasi masak ini! Bagaimana kalau aku masaknya hangus karena kak Farzan terlalu cerewet? Kak Farzan mau makan itu? "
"Kalau kamu ada di dekatku, in shaa Allah semuanya akan berubah menjadi enak." Lihatlah, dia menggodaku kembali.
"Jadi selama sepuluh bulan saat kamu pergi apa makanan yang kamu makan saat itu masih enak? " tanyaku.
Hening, mungkin dia tidak enak dengan perkataanku tadi, ah biarlah! Memangnya dia memikirman aku saat dia pergi juga waktu itu? Tidak kan! Kembali kulanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Tiba-tiba di belakanku dia berkata,"Saat itu, semuanya terasa aneh, saat aku ingin membuktikan kalau anak itu bukan anakku, tapi takdir berkehendak lain, ternyata anak itu adalah anakku dan aku tidak tahu harus apa saat itu. Apa harus pulang menemui kamu untuk memberikan kabar bahwa anak Zahra ternyata anakku juga atau tinggal menetap disana untuk memenuhi tanggung jawabku. " Aku menatap wajah Farzan. "Dan akhirnya aku memilih untuk pergi jauh-jauh diantara kalian. Ah, aku tidak tahu bagaimana keputusan bodoh itu datang! "
Ternyata selama ini Farzan tidak tinggal bersama Zahra? Jadi selama ini dia juga sama prustasinya denganku!
Aku mendekati kak Farzan yang dari tadi sedang berdiri, kemudian memeluknya. "Kenapa tidak bilang dari dulu? Huh! Kenapa menyembunyikan hal ini! Apa kamu kira aku masih anak-anak? Huh!," ucapku, sambil mengeratkan pelukanku dengan Farzan. "Kamu kira sepuluh bulan tanpa kabar tidak menyakitkan? Kamu kira aku tidak capek ke sana ke sini mencari informasi tentang kamu, bahkan mas Esa dan Aqilah juga tidak tahu keberadaan kamu. "
"Abi, Umi, Aqilah dan Eza, sebenarnya tahu keberadaan aku. Aku yang suruh dia untuk tidak memberitahu-kan kamu. "
"Kenapa? Agar kamu bisa gila di sana? Huh? Kamu benar-benar egois! Kamu ke sana dan berharap semua masalahmu akan hilang, tapi nyatanya tidakkan? Apa semuanya membaik? Apa ada jawaban selama kak Farzan pergi? " Aku melepaskan pelukanku darinya, kemudian memegang pipinya menggunakan kedua tanganku. "Menjauh bukanlah sebuah jawaban. Jangan pernah memutuskan untuk pergi disaat kamu memiliki masalah, semuanya akan sia-sia dan percuma, kamu tidak akan menemukan jawaban selama kepergian kamu," bisikku.
Kak Farzan mencium keningku. "Maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan pergi kalau bukan kamu sendiri yang menyuruhku untuk pergi," gumam kak Farzan, "Percayalah, semuanya akan membaik, In Shaa Allah, rencana-Nya jauh lebih indah. Aku mempunyai satu pertanyaan, di saat kamu memiliki banyak kesempatan untuk pergi, kenapa kamu tidak pergi saat itu? ."
"Aku cuma belajar menjadi sosok yang dewasa, yang selalu sabar dalam keadaan apa pun walaupun sebenarnya aku tak mampu."
"Kamu mampu, kamu sangat mampu. " Kak Farzan kembali memeluk tubuhku, sumpah aku sangat merindukan pelukan ini. "Semoga kau adalah orang yang dipilih oleh Allah yang akan melengkapi dan menyempurnakan agamaku serta menjadi wanita baik di antara yang terbaik"
"Aamiin. Tapi kak Farzan, kapan selesainya pelukan ini? Aku mau masak soalnya," ucapku sambil menjauhkan badanku sedikit dari kak Farzan.
"Udah tahu masak? " tanya kak Farzan. Aku menatap manik matanya dalam-dalam sambil menganggukkan pertanyaannya tadi. "Belajar dari siapa? "
"Aqilah. Masakannya sangat enak. Kata Aqilah, kamu belajar masaknya sama dia katanya."
Farzan mengangguk. "Iya aku belajar sama dia. Sewaktu SMA dulu, dia ambil jurusan Boga katanya, sebenarnya cita-citanya itu chef tapi sekarang s2 nya kedokteran. "
"Bagus dong. Kan mau seperti kamu, pinter menyembuhkan pasiennya, terus banyak deh."
"Bahas tentang masakan, kapan resepsi pernikahan kita di adakan? " ucapnya setelah aku menjauh beberapa meter darinya, "Adibah kamu tahu kapan? "
Aku tersenyum menanggapi perkataannya. "Aku kira kamu tidak ingat tentang ini lagi."
"Aku selalu mengingatnya dan tidak akan pernah melupakannya," ucapnya. "Kapan kamu mau resepsinya di adakan? "
"Bulan depan? " tawarku.
"Minggu depan bagaimana? "
"Terlalu cepat kalau itu. "
"Tapi keputusanku sudah bulat, jadi resepsinya, minggu depan. " Lah, buat apa menunggu pendapatku kalau akhirnya pendapatnya yang diambil? Akhir-akhir ini aku harus banyak istigfar kalau bersama dia, apalagi sebulan nanti dia akan cuti. "Tapi kalau minggu depan, foto pre-wedding bagaimana? Atau kita tunda bulan depan saja? Bagaimana?"
Aku tersenyum jahil. Mungkin ini saatnya untuk mempermainkan Farzan, sekali-kali mungkin tidak masalahkan. "Tapi aku maunya kalau minggu depan! jangan bicara dua kali-lah," ucapku, pura-pura marah dengannya.
"Yaudah tidak apa-apa. Pre-wedding langsung besok ya." Hah? Aku harus apa sekarang? Besok aku mau ke-pakaman ayah bareng Fauzi! Senjata makan tuan namanya ini.
"Jangan besok. Aku mau daftar kuliah besok," dalihku. Kalau Farzan tahu, besok aku dan Fauzi ke pemakaman ayah dan berdua saja, entah bagaimana marahnya Farzan nanti.
Kak Farzan mendekatiku. "Aku antar ke fakultas kamu, setelah daftar kita baru fotonya. "
Pikiranku rasanya berputar. Bagaimana sekarang? "Hemm, tidak usah. Bagaimana kalau kak Farzan tunggu aku di sini saja, setelah daftar baru deh, foto pernikahannya," tawarku, semoga diterima segera.
●●●●●_●
Dear kak Farzan.
Aku tak pernah tahu kebahagiaan sesungguhnya, sampai ketika aku mendapatkan cintamu. Dan aku tak pernah tahu derita sebenarnya, sampai aku kini kehilangan itu. Terima kasih telah mengenalkanku pada kedua rasa yang tidak akan pernah kulupakan.
Dear kak Farzan.
Andai saja aku bisa membaca pikiranmu, mungkin saat ini aku tahu harus lanjut mencintaimu, atau berhenti mencintaimu.
Aku cape berandai-andai bahwa kau sangat mencintaiku, aku cape selalu berdoa agar rasa cinta akan selalu menghiasi hubungan kita, aku cape dengan semua khayalan ini!
●_●