
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
"Aku sedang melihat wajah ayah dari anak-anakku."
●_●
Alhamdulillah, mataku kembali bisa berfungsi setelah melakukan operasi yang cukup menegangkan, ini pertama kali aku dapat melihat semenjak tragedi itu dan orang pertama yang aku lihat adalah, Farzan, lelaki yang selalu setia bersamaku kecuali waktu kerjanya datang, dia akan meninggalkanku dengan diganti oleh Aqilah atau umi.
Ketika kau meyakini bahwa setelah kesengsaraan adalah sebuah kebahagiaan, setiap masalah dan ujian selalu ada hikmahnya dan setelah air mata yang mengalir adalah senyuman, maka sesungguhnya kau telah melaksanakan ibadah yang amat agung yaitu berprasangka baik pada Allah.
Lihatlah sekarang, Allah kembalikan apa yang terbaik untukku, seorang pria dengan lesung pipi di pipi kirinya, pria yang dengan sabarnya menghadapi sikap kekanak-kanakan yang aku miliki, dan pria yang sempurna setelah ayah yang aku miliki, nyaris sempurna seperti ayah.
Aku juga bersyukur kepada Allah telah mengembalikan penglihatan aku untuk melihat keindahan itu kembali, aku tidak tahu harus bagaimana agar bisa melihat mengucapkan rasa terima kasihku untuk-Mu.
“Sudah makan buburnya? “ tanya Farzan dengan senyuman khasnya. Dan sekali lagi aku sangat berterima kasih kepada-Mu ya Allah.
“Belum. Belum nambah maksudnya,” ucapku sambil terkekeh.
Farzan kemudian menarik hidungku, hingga terasa perih. Aku melihat hidupku yang sudah berubah warna menjadi kemerah-merahan. “Ih, kak Farzan! Sakit! “ kesalku. Tapi lihat, dia malah tertawa, menyebalkan!
“Ya sudah, kalau sakit. Mau aku sembuhkan? “ tawarnya yang tidak kuhiraukan. Tapi tunggu! Kak Farzan mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium hidungku. Ya Allah, kak Farzan mesummm!!!
Aku mencubit pinggang Farzan agar dia menjauhkan wajahnya dariku. “Kak Farzan, ada umi! “ Sendari tadi umi memang ada di sana, dan kak Farzan dengan tidak malunya menciumku di depan umi.
Dia tertawa renyah kemudian menatap umi yang ada di belakangnya. Ya Allah, sumpah aku malu! Andai saja aku bisa lari, aku akan pergi menjauh dari mereka. Kak Farzan tidak tahu situasi, pakai acara cium-cium segala!
“Umi jangan ceritakan kejadian ini ya, “ ucap kak Farzan sambil tertawa. Dia menertawakan aku!
“Kak Farzan, jahat ih! “ kesalku.
Wallahi, aku sangat malu. Dari tadi umi menatap kami sambil tersenyum penuh pertanyaan.
“Besok kita akan pulang ya,” ucap Farzan, seakan mengerti kemauanku. Syukurlah dia seperti ini.
Aku mengangguk. “Tapi kak Farzan, besok beliin aku boneka beruang ya. Entar Adibah lakukan kewajiban seorang istri deh, memasak dan lainnya. ” Aku mengerlipkan mata, agar Farzan menyetujui permintaanku.
“Boleh.” Farzan mendekatkan kepalanya.“Tapi aku juga akan melakukan kewajiban aku sebagai seorang suami, “ kayanya sambil berbisik.
Aku segera mendorong tubuh Farzan. Astagfirullah kenapa pemikiranku sampai ke sana? Ya Allah, hapuskan pikiran aneh ini Adibah!
Umi yang tadi sibuk memainkan ponselnya, kini menatap spontan ke arah kami. Sedangkan kak Farzan malah senyum tidak berdosa, andai menggigit kak Farzan tidak dosa, akan aku lakukan itu!
Astaga umi, kenapa harus menanyakan hal ini? “Urusan suami istri umi,” ucap umi, kemudian tertawa kembali. Apa hobbinya kali ini tertawa seperti orang gila? Nauzubillah, saya tarik kembali perkataan aku ya Allah.
Setiap orang bisa berubah saat Allah membalikkan hatinya tak ada yang tak mungkin hanya saja proses perubahan seseorang berbeda-beda, ada yang perlu waktu lama ada pula cuma perlu waktu sebentar tergantung bagaimana ia mendapatkan hidayah tersebut. Dan Allah telah menyadarkan aku dari hal bodoh yang telah aku lakukan, dahulu aku mengira apa yang aku lakukan itu hal baik, ternyata malah sebaliknya.
Dear imamku, terima kasih karena kamu masih dengan sabarnya menghadapi sikap aku selama ini.
Kembali teringat dengan perkataan Buya Yahya Zainul Ma'Arif, Tanda cinta yang tidak bisa dipungkiri adalah rasa tidak rela jika yang dicintainya melakukan dosa. Dan aku telah merasa itu, saat bersama dengan Farzan.
Biarkan kita kehilangan sesuatu karena Allah, jangan sampai kehilangan Allah karena sesuatu. -Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.
“Masih laparkan? Ayo makan kembali, “ pintah Farzan sambil mengarahkan sendok ke mulutku.
Tatapanku tidak pernah lepas dari wajah kak Farzan, demi Allah, rasanya aku melihat kebahagiaan diwajah sana. In shaa Allah, kau akan menjadi ayah dari anak-anak kita. Aku masih punya pertanyaan di diriku sendiri, dari dulu aku sangat ingin memiliki anak tapi membuka jilbab di depannya saja, saat seperti itu diriku sangat malu, tapi saat di pegang Fauzi aku malah biasa-biasa saja, aku sadar aku wanita yang tidak pantas untuk Farzan, tapi aku berusaha agar bisa menjadi wanita yang pantas untuknya.
“Kenapa melihatku seperti itu? “ tanya kak Farzan dengan wajah polosnya.
“Aku sedang melihat wajah ayah dari anak-anakku, “ kataku. Mungkin saat ini aku telah kehilangan kesadaran. Hingga kesadaranku kembali, aku segera menutup mulutku rapat-rapat, kenapa aku harus bicara seperti itu?
Lihat, Farzan malah menertawakan aku. “Sudah pintar menggombal? “
“Apasih kak Farzan! Dibah udah kenyang! “ kesalku.
"Kamu kalau marah, cantiknya hilang. " aku tahu dia sengaja bicara seperti itu, agar aku tersenyum. Merasa tidak mendapatkan respons dariku, dia menaruh piring itu di meja. "Kamu tahu fakta Fisika yang ini. Seseorang tidak bernafas saat tersenyum," ucapnya, spontan aku mencontoh apa yang Farzan katakan, dan akhirnya aku sadar, kalau dia berhasil membuatku tersenyum.
"Terima kasih karena mengerti dengan apa yang hatiku inginkan tanpa harus aku beritahu, mengerti cara membuat marahku hilang. Dan kak Farzan juga bisa memaklumi sifat kekanak-kanakan aku selama ini. Sekali lagi terima kasih banyak untuk semua kebahagiaan ini kak Farzan." Entah kenapa tiba-tiba aku memiliki keberanian sebesar ini untuk menyatakan hal ini kepada Farzan.
Farzan memelukku. Untuk saat ini, umi sudah keluar karena sedang menerima telepon dari seseorang. "Tapi aku tidak mau berterima kasih kepadamu, tapi aku akan berterima kasih kepada Allah, karena telah mengirimkan seorang wanita seperti dirimu. Dan aku tidak tahu setelah denganmu, hidupku terasa sangat berarti. "
Demi Allah, aku sangat bahagia sekarang karena aku kembali bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Kalau boleh aku mau setiap hari selalu seperti ini, agar aku selalu mensyukuri hidupku.
"Kak Farzan. Aku masih lapar, " ucapku di sela-sela pelukan kita.
"Padahal udah enak-enaknya pelukan sama istri, " ucapnya, aku cuma tertawa mendengar perkataannya. Apa sekarang dia yang bersifat anak-anak sekarang?
"Tapi setelah pulang dari rumah sakit, kamu harus melakukan kewajiban kamu sebagai istri. " Aku kembali mencubit pinggang Farzan, kenapa dia berbicara seperti ini lagi? Dia terlihat meringis sambil mengusap pinggganya yang kucubit tadi. "Padahal aku cuma minta dipijik-pijik saja karena beberapa hari ini aku selalu tidur dengan posisi duduk. Apa yang salah? " Astagfirullah, aku baru sadar, kewajiban seorang istri bukan hanya hal itu, tapi masih banyak lagi. Kenapa pemikiranku selalu cepat mengarah ke sana?
Aku cuma tersenyum, merasa bersalah? Pasti. Mungkin Farzan akan berpikir hal aneh kepadaku! Menyebalkan!
●_●
Biarkan kita kehilangan sesuatu karena Allah, jangan sampai kehilangan Allah karena sesuatu. -Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.
💜
Harapanku chapter kali ini sangat menarik. Aamiin.
●_●
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.