
Sebelumnya...
Siang itu menjadi hal terburuk yang pernah Aisha alami, ia benci kehidupannya yang sekarang juga Naufal
Air mata tak henti-hentinya mengalir, sejak tadi ia hanya mengendarai mobil tanpa tahu arah
"Gue menjadi manusia paling bego untuk hidup gue sendiri,"
"Gue capek. Gue pikir semua bisa berubah seiring waktu, nyatanya gue salah."
Aisha menatap jalanan yang tak terlalu ramai kendaraan, ia memutuskan pergi ke suatu tempat
Bukit.
Ia senang mengunjungi tempat itu, hanya saja sudah lama ia tak pernah kemari
Bukit ini indah jika malam hari, dan ia rindu suasana itu. Hatinya kembali berdenyut nyeri ketika kejadian itu kembali memutar
"NAUFALL BODOH!!!" teriak Aisha
"BRENGSEK!!! COWOK TERBRENGSEK!!"
Ia mengeluarkan semua kata-kata yang pantas untuk Naufal, ia membenci Naufal. Sangat.
Hari itu, Aisha sendirian ia benar-benar menghabiskan waktunya di bukit itu hingga malam. Menyendiri bersama isakan tangis. Tak ada orang yang pernah ke sini, bukan tak ada hanya saja jarang ada orang yang mau ke sini
Ia tak peduli keluarganya akan mencarinya, ia tak peduli pada ayah bundanya juga pada kedua kakaknya atau ingat pada anak-anaknya. Hanya ketenangan yang Aisha mau saat ini. Ia terlalu emosi untuk berfikir. Amarah dan dendam membuat Aisha menjadi sosok yang mengerikan jika di ajak berbicara
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Aisha masih berada di sini, di bukit ini menatap bintang dan langit. Azmi benar, sekeras apapun usaha kita kalau yang di perjuangin belum berdamai dengan masa lalunya, itu akan terasa sulit bahkan bisa saja menjadi rumit
"Kak Azmi, kakak benar. Aku yang bodoh nggak mau dengerin kata-kata kak Azmi,"
Kini ia kembali terisak. Jalanan di bawah sana semakin ramai, kendaraan berlalu lalang memadati setiap sudut jalanan
Ia menghela napas panjang kemudian bangkit, ia harus pulang atau keluarganya akan mencemaskannya
Dengan rasa sakit hatinya ia segera pulang, ia sudah terlalu lama berada di luar tanpa memberitahu siapapun bahkan dengan sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang bisa mencari maupun melacak keberadaannya
Lagi-lagi tanpa di minta kristal bening itu kembali jatuh. Ia menangis lagi. Aisha tak tahu kapan ia akan berhenti menangisi hidupnya, cinta dan juga suaminya
Saat itu entah dimana pikirannya tanpa sadar Aisha melewati jalur lawan arah. Sebuah mobil sedan melaju kencang menuju ke arahnya ditambah truk dan mobil lainnya yang sedang melaju, dan Aisha yang kehilangan fokusnya tidak bisa berbuat apa-apa. Tabrakan beruntun itu terjadi. Mobil Aisha terguling-guling di jalanan hingga terhempas beberapa meter dari tempat kejadian. Mobilnya sudah hancur-sehancurnya entahlah bagaimana dengan kondisi Aisha sekarang yang wajahnya sudah di penuhi darah.
Serpihan kaca-kaca mobil dan juga body mobil berserakan di jalanan, begitupun mobil yang lainnya
Aisha menatap celah di antara body mobil yang sudah penyok. Tanpa bisa mengatakan apapun. Matanya sudah terpejam duluan
Api menyambar mobil itu dengan cepat. Kobaran apinya semakin membesar. Melahap seluruh body mobil tanpa tersisa
Orang-orang yang melihat kejadian itu berlarian panik menuju tkp berharap ada korban yang selamat, mereka bahu membahu membantu korban kecelakaan yang selamat dan sepertinya ada korban yang tak selamat
***
Pukul 1 dini hari Azma baru saja selesai dengan pekerjaannya, ia baru saja selesai bekerja
Ia sibuk menyelesaikan rekam medis pasiennya untuk di serahkan kepada perawat yang akan bertugas nantinya
Ponsel Azma berdering panjang, ia segera mengangkatnya sambil mengerjakan tugasnya
"Halo," sapa Azma, ia tak sempat melihat siapa yang menelponnya
"Apa benar dengan saudara Azma?" tanya penelpon dari seberang
Azma menghentikan kegiatannya, ia terdiam kemudian segera menjawab
"Iya betul. Kenapa pak? Dan bapak siapa?" tanya Azma
"Ohh, saya sedang berada di lokasi kecelakaan dimana salah satu anggota keluarga anda terlibat kecelakaan beruntun, saya bisa mengetahuinya karena sempat menemukan sebuah buku kecil milik korban yang menunjukkan bahwa anda adalah keluarganya," jelas Bapak tersebut
"Kecelakaan? Bapak jangan coba-coba menipu saya, pak." ucap Azma ia tak akan terkecoh dengan tipuan orang lain
"Saya serius, jika perlu akan saya kirimkan foto di tempat perkara."
Sambungan itu terputus kemudian masuk sebuah pesan yang berisi foto, foto kecelakaan beruntun dan mobil memang jelas milik Aisha dan juga nama daerah kecelakaan itu terjadi
"Aisha,"
Ia bergegas meninggalkan rumah sakit. Mengebut di tengah malam. Tempat kejadian kecelakaan jauh dari posisi Azma saat ini
Dalam hati ia mencemaskan kondisi Aisha, ia berharap itu bukan Aisha. Atau semoga keajaiban menghampirinya
"Aisha, kakak harap kamu baik-baik saja jangan bikin kakak cemas, Sha."
Azma terus merapalkan doa-doa untuk kebaikan Aisha. Hatinya terus mengatakan bahwa Aisha akan baik-baik saja
"Halo?" terdengar suara Naufal dari seberang. Frustasi.
"Lo dimana?" tanya Azma, dalam hati ia merutuki Naufal jika benar-benar tidak bersama Aisha
"Lagi nyari Aisha."
Dalam hati Azma memaki-maki Naufal, ia bahkan meneriaki Naufal bodoh
"Bego."
"Lo kenapa hah?" suara Naufal terdengar heran karena umpatannya
"Aisha kecelakaan bodoh!!" Azma tak bisa menahan dirinya lagi
Naufal sungguh bodoh di matanya, ia berjanji akan memukul Naufal hingga babak belur jika sampai Aisha kenapa-napa. Tak akan di maafkan apapun alasannya
Kecepatan mobil itu terus meningkat. Azma mengendarainya dengan kebut-kebutan menuju tkp
"Aisha lo harus baik-baik saja."
***
"Aisha kecelakaan bodoh!" teriak Azka parau
Seketika jantung Naufal mendadak berhenti, ia terdiam dan berusaha mencerna perkataan Azma barusan
"Aisha kecelakaan?" tanyanya pada dirinya sendiri
Azma mengiriminya pesan tempat kecelakaan itu. Sama halnya dengan Azma. Cowok itu mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata
Kebetulan posisinya saat ini berada tak jauh dari sana. Ia bergegas ke sana
Setibanya di sana Naufal buru-buru turun dari mobil dengan hati tak tenang. Pikirannya tak bisa bekerja sama. Hatinya gelisah.
"Aisha harus baik-baik aja." kata Naufal
Tapi siapa yang akan berfikir baik-baik saja jika melihat kecelakaan beruntun di mana semua mobil rusak parah dan mobil yang terhempas jauh itu sangat-sangat rusak parah dan parahnya lagi Naufal mengenali mobil itu. Itu milik...
"Aisha!"
Ia berlari menghampiri mobil itu. Naufal menangisi kejadian ini. Ini semua salahnya. Aisha pergi karenanya dan kecelakaan juga karenanya.
"Aisha Lo baik-baik aja kan?!" teriak Naufal, ia berusah mencari Aisha di antara body mobil yang hangus terbakar itu
"Bapak keluarga korban?" tanya seseorang yang datang menghampirinya
"Iya, saya suaminya." kata Naufal terisak
"Saya menemukan ini di mobil korban." bapak itu menyerahkan buku yang ia temukan pada Naufal
"Saya juga menemukan ini di dekat mobil korban, apakah ini milik istri bapak?" tanya Bapak tersebut
Naufal menerima cincin itu, ia menatap lamat-lamat cincin itu
"Ini milik istri saya pak." ucap Naufal parau
"Apakah istri saya selamat pak?" tanya Naufal penuh harap
Ia berharap Aisha masih baik-baik saja. Ia menolak kenyataan tentang fakta kecelakaan beruntun yang menimpa Aisha
"Saya kurang tahu pak. Saya sebagai saksi hanya melihat mobil ini terbalik dan terhempas lalu terbakar." ujar Bapak tersebut sebagai saksi mata
"Menurut kemungkinan saya, bisa saja tidak selamat karena kejadiannya terlalu cepat." jelas bapak tersebut
"Saya ikut berduka pak." Bapak tersebut menepuk pundak Naufal memberi ketabahan
Naufal terduduk di aspal itu, tengah malam yang seharusnya sunyi menjadi malam yang penuh tragedi setelah kecelakaan besar itu
Naufal menatap buku di tangannya , ia menitikkan air mata untuk yang ke sekian kalinya
"NAUFAL BODOH! GUE BODOH!!! AAAAA!!!" Naufal berteriak seperti orang kesetanan
"AISHA MAAFIN GUE!! HAAAA!!"
Ia terus berteriak parau, suaranya serak. Hatinya sakit. Semua ini salahnya. Seharusnya ia yang kecelakaan bukan istrinya
Suara Naufal semakin melemah, beriringan dengan suara ambulans yang terus menerus bersahutan untuk mengangkut korban menuju rumah sakit
Naufal kembali menatap cincin pernikahannya dan juga buku itu
"Aisha, maafin mas." suara parau