Dear Imamku

Dear Imamku
Keluarga Besar



Setibanya di rumah Aisha segera membereskan beberapa pakaiannya agar bisa menginap di rumah Layla, ia butuh Layla saat ini


Tak lupa juga membawa perlengkapan bayi, lantas Aisha segera mengambil Debia yang sempat ia titipkan di tetangga sebelah


Aisha segera pergi dengan Debia ke rumah Bundanya, sebelum Aisha ke sama ia harus terlihat ceria terlebih dahulu tak boleh terlihat menangis ia tak boleh membuat khawatir orang -orang saat ini


Akhirnya ia sampai di rumah Layla, rumah besar dan luas itu sebentar lagi akan di penuhi keluarga besarnya


"Bundaa," panggil Aisha saat tiba di rumah Layla


"Aduhh ada cucu Oma yang cantik ini," kata Layla meraih Debia melupakan Aisha yang memanggilnya tadi


"Ihh Bunda, kan aku yang manggil Bunda, aku yang kangen Bunda kenapa Bunda malah sama Debia? Bunda lupa sama anak sendiri?" kesal Aisha sudah mencak mencak sendiri di tempatnya


Layla terkekeh, "Ya nggak mungkinlah Bunda lupain anak sendiri, sini-sini bunda pengen peluk anak Bunda," kata Layla ia bergerak memeluk Aisha yang juga balas memeluknya dengan erat


"Yaudah yuk masuk, Naufal mana? Kenapa nggak bareng dia?" tanya Layla


"Dia lagi di RS, Bun." jawab Aisha bersikap seolah ia dan Naufal sangat baik-baik saja


"Ohh, yaudah ayo di dalam udah banyak orang," kata Layla


Aisha mengangguk kemudian melangkah masuk, pupil matanya melebar kala melihat Zilia dan Farah


"Aaa sepupu kesayangan aku!!" teriak Aisha heboh saat melihat keduanya ada di sini


Ia memeluk Zilia dan Farah dengan erat, bahkan sampai menangis, "Ish cengeng banget sih Sha." kata Farah sambil terkekeh


"Ih kalian kenapa sih? Aku kangen nggak boleh emang?!" tajuk Aisha


"Ya boleh dong Aisha sayang, sini pelukan lagi," kata Zilia


"Mana om David sama tante Eva?" tanya Aisha pada Farah, mereka adalah kedua orang tua Farah


"Masih di London, katanya nanti siang baru terbang ke sini, kita sengaja ambil cepat biar bisa main sama anak-anak," kata Farah


"Ohh berarti om Arga sama tante Wira juga nanti kesininya?" tanya Aisha kini pada Zilia, gadis itu mengangguk membenarkan ucapan Aisha


"Eh, sejak kapan Aisha hamil lagi?" tanya Farah membuat Zilia memukul lengan Farah


"Ish apaan sih Lo main pukul-pukul aja," kata Farah


"Lo lupa? Aisha adopsi anak," kata Zilia menatap Farah heran


"Oh iya gue lupa." kata Farah menyengir, Aisha tertawa melihat kelakuan Farah sudah lama rasanya ia tak bertemu keduanya


"Yumna nggak ikut sama kalian?" tanya Aisha membuat keduanya menggeleng


"Dia nanti bareng kak Hasan," kata Zilia


"Zil, kita anter ke kamar yuk, kasihan nih bumil," kata Farah terkekeh


Zilia mengangguk kemudian membantu Aisha ke kamarnya, dan jangan lupakan kopernya


"Sha, kamu bawa koper segala, mau pindahan?" tanya Zilia heran


"Iya dong!" kata Aisha antusias


"Hah yang bener Sha? Mau pindah kemana lagi?" tanya Zilia


"Ya enggaklah, aku cuma mau nginep doang," kata Aisha lagi membuat keduanya kompak mengucapkan 'oh'


"Eh, iya tadi aku udah ketemu Tante Jihan sama anaknya," kata Farah


"Hah serius? Ada Tante Jihan?" tanya Aisha


Terakhir kali Aisha bertemu Jihan adalah saat perempuan itu melahirkan, setelah itu ia tidak pernah bertemu lagi


"Yaudah aku mau nyari Debia sama Bunda dulu," kata Aisha kemudian meninggalkan merkea berdua


"Bunda," panggil Aisha yang kini sudah berdiri di dapur


"Iya kenapa Sha?" tanya Layla


"Mana Debia?" tanya Aisha ketika menyadari Debia tidak ada pada Bundanya


"Ohh, barusan di ambil sama Azmi," jawab Layla


Astaga kakaknya yang atau itu benar-benar menempel pada Debia, tapi Aisha malah senang sebenarnya


Ia bergegas mencari keberadaan Azmi yang ternyata berada di ruang keluarga, "Hai Kak," sapa Aisha ketika tiba di sana


"Eh Sha, kakak bikin kamu khawatir nyariin Debia ya?" tanya Azmi


"Enggak kak." jawab Aisha kemudian ia menghampiri kakaknya itu yang tengah bermain bersama Debia


"Bentar lagi keponakan kakak nambah dua nih," kata Azmi terkekeh hal itu ikut membuat Aisha tertawa pelan


"Azmii!!" panggil seseorang, baru saja Azmi akan bangkit tapi ternyata yang memanggilnya sudah ada di sini


"Eh Tante Jihan?" tanya Aisha saat melihat Jihan ada di sini


"Ya ampun ini Aisha kan? Wah udah mau jadi ibu aja nih, lama nggak ketemu tau-tau udah mau punya anak," ujar Jihan sambil tertawa


"Iya siap tan," kata Aisha mengacungi jempol kemudian ia mengambil alih Evlan lalu membawanya mendekat pada Debia dan Azmi


"Loh tante Jihan mau kemana?" tanya Azmi saat melihat Evlan ada pada Aisha


"Mau beli bahan buat masak." jawab Aisha seadanya


"Kak," panggil Aisha lagi


"Apa?" sahut Azmi, selalu begitu


"Kakak benar," ucap Aisha membuat Azmi bingung


"Benar apa ya? Perasaan dari tadi kakak nggak ngomong apa-apa deh," Azmi merasa heran dengan Aisha


"Apanya yang benar?" tanya Azmi lagi


"Kakak benar, Kak Naufal udah berubah." ucap Aisha lagi


"Dia berbohong." sambungnya lagi


Azmi menghela napas, "kakak udah curiga sama dia, dari dulu." ucap Azmi


"Kakak maafin Aish ya," ucap Aisha dengan air mata yang mengalir


"Udah nggak usah minta maaf, kamu nggak salah Sha, yang salah dia." kata Azmi menenangkan


Debia dan Evlan, kedua bayi itu hanya kebingungan melihat Aisha menangis, hari itu Aisha benar-benar menceritakan apa yang terjadi hari ini pada Azmi


Jika Azma tempatnya bermanja maka Azmi adalah tempatnya curhat dan menceritakan semua yang ia alami


"Kak, tolong jangan kasih tahu Bunda, atau siapaupun itu," pinta Aisha


"Kenapa? Bunda berhak tahu Sha," kata Azmi namun Aisha menggeleng


"Kalau Bunda tahu dia bakal khawatir dan Bunda pasti nyuruh aku pisah dari kak Naufal, aku nggak mau nantinya-" Aisha menggantung kalimatnya


"Lahir tanpa Ayah." sambungnya membuat Azmi mengehela napas panjang


"Iya kakak janji nggak akan cerita." kata Azmi lagi membuat Aisha tenang


***


Malam ini seluruh keluarga Aisha sudah ada di sini, tepatnya di belakang rumah di taman yang luas mereka berkumpul di sana


Sudah lama Aisha tidak merasakan kumpulnya keluarga, terakhir ia berkumpul seperti ini adalah enam tahun yang lalu saat sebelum berangkat ke London untuk menempuh pendidikannya


"Eh, Bunda juga ngundang Mamah?" tanya Aisha pada Layla saat melihat Rifa datang bersama Reza dan juga Gita


Tunggu? Gita? Astaga anak itu sudab pulang rupanya.


Aisha segera menghampiri mereka, lalu menyambutnya. Gita memeluk kakak iparnya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya


"Gita nanti kakak nggak bisa napas kalau kamu meluknya erat banget," kata Aisha terkekeh hal itu membuat Gita melepaskan pelukannya


"Maaf kak," kata Gita sembari menyengir tanpa dosa


"Yaudah ke dalam gih," kata Aisha membuat Gita mengangguk


Acara BBQ di mulai semuanya berbagi tugas ada yang bertugas memasak, menyiapkan makanan, menjaga anak-anak sampai yang duduk-duduk saja pun ada


Seperti Aisha sekarang, ia duduk di atas tikar yang sengaja di gelar di halaman belakang rumah, ia menatap langit cuacanya cerah, tidak mendung jadi tidak akan hujan


"Kak Azma," panggil Aisha saat melihat Azma baru pulang


"Loh, kamu bukannya bareng Naufal?" tanya Azma terkejut saat melihat Aisha ada di sini


"Hah?" beo Aisha


"Tadi bukannya Naufal bawa kamu pulang dari rumah sakit ya?" tanya Azma


Aisha terdiam, seketika ingatan tentang buku biru itu kembali menghampirinya, ia sudah tahu itu siapa


"Ohh, iya tadinya tapi aku duluan pulang mas Naufalnya pergi dulu ada urusan sama perusahanannya katanya," jelas Aisha, hatinya sedang di uji lagi kali ini


"Nah itu mas Naufal datang," kata Aisha saat melihat Naufal tiba di sini


Aisha tersenyum melihat Naufal yang tersenyum padanya


"Yausah kakak mau ganti baju dulu," kata Azma membuat Aisha mengangguk


Aisha menatap Naufal dengan mata memanas, sebisa mungkin ia tak boleh menangis di hadapan Naufal


"Kamu baru sampai mas?" tanya Aisha membuat Naufal mengangguk


"Yaudah yuk gabung sama yang lain," kata Aisha ia menarik tangan Naufal untuk bergabung bersama yang lain


Acara BBQ nya berlangsung seluruh keluarganya ada di sana, dalam hati Aisha ingin sekali menangis setiap melihat Naufal tersenyum padanya 


Namun sebisa mungkin ia membalas senyuman itu seperti biasanya dan sekuat mungkin menahan air matanya agar tak jatuh, kasihan acara hari ini bisa rusak hanya karena dirinya


Hari ini menjadi hari terburuk Aisha dan malam itu menjadi malam yang penuh sesak untuk Aisha