
Usia kandungan Aisha sudah memasuki bulan ke tiga, semakin hari Aisha semakin manja pada Naufal
Bagi Naufal itu tak masalah yang penting Aisha bahagia juga dengan calon anaknya
Aisha yang tengah menikmati waktu sore di apartemen sendirian, Naufal belum pulang dari rumah sakit
Ia mengatakan akan ada satu operasi lagi yang harus ia jalankan nantinya. Aisha hanya termenung di depan jendela
Aisha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Rumah, sepi. Tidak ada pembantu maupun keluarganya di sini
"Bikin kue bolu enak kali ya." gumam Aisha senyuman tercetak jelas di bibirnya
Ia lalu berjalan ke dapur dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bolu, "Rasa pandan atau coklat?"
"Coklat aja deh."
Aisha mulai membuat adonan kuenya sesekali ia melihat ponselnya kalau-kalau ada panggilan masuk dari Naufal
Selama hampir satu jam lebih Aisha berkutat di dapur dengan alat-alat masak dan adonan kue bolu nya
"Yes, tinggal di masukin ke oven. Beres deh."
Aisha memasukkan adonan yang sudah di tuangkan ke dalam loyang, ia kemudian membereskan kembali dapur itu agar bersih seperti semula
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dengan segera Aisha menjawab panggilan suara dari Naufal
"Assalamualaikum kak."
"Waalaikumsalam Sha,"
"Gimana tadi jadwal operasinya? Lancar?"
"Alhamdulillah lancar, ya meski tadi ada sedikit kendala dari pihak keluarganya."
Terdengar helaan napas berat dari Naufal, sepertinya suami dari Aisha itu benar-benar lelah setelah melakukan jadwal operasi
"Kasihan banget sih, yaudah sini pulang aku udah bikinin yang kue bolu spesial buat kaka Naufal,"
"Ululu baiknya, dibikinin bolu."
Aisha ikut terkekeh kala Naufal memujinya seperti itu, "Udah buruan aja pulang nggak usah banyak muji."
"Iya, iya ini lagi di jalan kok. Mau nitip apa? Biar sekalian."
"Bawa diri kak Naufal sampai rumah dengan selamat aja udah cukup kok." kata Aisha
"Serius? Mau makanan nggak? Mumpung lagi di luar." kata Naufal
"Emm apa ya?"
"Martabak aja deh, aku lagi pengen banget martabak."
"Martabak coklat kacang." Aisha menyahut lagi
"Tumben? Biasanya nggak suka kacang."
"Nggak tau bawaan bayi kali." Aisha terkekeh dengan jawabannya sendiri
"Yaudah ntar aku beliin, ini aku lagi nyetir mobil."
"Hati-hati ya kak."
"Iya my wife."
"Assalamualaikum jangan?"
"Ihh kak Naufal nyontek dari film dilan." Aisha tertawa
"Ahaha, yaudah ya aku tutup biar fokus nyetir. Assalamualaikum."
"Iya, waalaikumsalam."
Aisha kembali meletakkan ponselnya di atas meja kemudian menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai
***
Usai sholat Maghrib Naufal baru tiba di Rumah, ia terpaksa balik lagi ke Rumah sakit saat berkas pentingnya tertinggal
"Assalamualaikum." Naufal masuk ke Rumah
"Waalaikumsalam!" sahut Aisha yang datang sambil terburu-buru
"Sini, aku bawain." Naufal menyerahkan tasnya yang berisi barang penting untuk di simpan oleh Aisha
Naufal menghempaskan dirinya di atas sofa hari ini benar-benar lelah, kejadian tadi siang membuat pikirannya stres dan tenaganya serasa di kuras habis
Flashback on
"Kak, saya suka sama kakak." ungkap Queen pada Naufal
Naufal memijit pelipisnya lelah, "Saya sudah beristri Queen!"
"Nggak papa kak, jadi yang kedua aja saya mau kok," Queen tersenyum
"Tapi saya nggak mau!" tegas Naufal, ia heran pada gadis di hadapannya ini
"Tapi saya mau!"
"Jika tidak ada keperluan lain silahkan keluar dari ruangan saya." ucap Naufal dengan raut wajah datar
"Saya mau jawaban kak!"
"Saya kan sudah menjawab, kamu hanya sebatas dokter baru buat saya. Dan saya tidak pernah menyukai kamu!"
"Lalu kenapa kakak selalu baik pada saya?! Bukankah itu artinya kakak menyukai saya?!"
Naufal menghela napas panjang "Kamu salah mengartikan kebaikan saya Queen."
"Sudahlah, silahkan keluar dari ruangan ini, saya masih banyak kerjaan."
"Kenapa kakak menolak saya? apa saya kurang cantik?! Kurang baik?!"
"Queen!"
"Sadarlah! Saya sudah punya istri dan sebentar lagi akan punya anak!"
Naufal meninggikan suaranya pada Queen, karena dirasa kalau gadis itu tak kunjung mengerti
Padahal dia baik pada Queen itu karena gadis itu masih baru berada di lingkungan rumah sakit ini
"Silahkan keluar. Pintu keluarnya ada di sebelah sana jika kamu tidak tahu."
Tanpa sepatah kata apapun lagi Queen keluar dari ruangan itu
Flashback off
"Kak, mau mandi sekarang?" tanya Aisha yang baru saja kembali dari kamar
"Iya,"
"Yaudah aku siapin air hangat dulu ya,"
"Nggak usah, biar aku aja kasihan kamu capek." ujar Naufal sambil tersenyum
Naufal bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Aisha dan berjongkok, ia mengecup perut yang sudah mulai sedikitĀ membuncit itu
"Yaudah sana mandi, terus cicipin bolu buatan Aish." kata Aisha
Naufal mengangguk lalu pergi dari sana. Aisha memotong bolu yang sempat ia buat tadi kemudian meletakkannya di atas meja
Sepuluh menit kemudian Naufal sudah selesai membersihkan dirinya, ia turun ke bawah menghampiri Aisha yang tengah tertawa menonton tv
Kemudian ikut duduk di sebelahnya, "Nonton apa nih? Ketawa ketawa sendiri."
"Eh kak, ini cobain deh." Aisha memotong kue yang ada di piring lalu menyuapinya pada Naufal
"Enak nggak?" tanya Aisha saat bolu itu sudah masuk ke mulut Naufal
"Enak. Lebih enak dari yang kemarin," kata Naufal memuji Aisha
"Masaaa?" Aisha memicingkan matanya
"Iya beneran dua rius." Naufal mengacak rambut Aisha
"Ihh suka banget ngacak-ngacak rambut." Aisha merajuk
"Oh iya martabaknya mana?" tanya Aisha yang baru ingat dengan makanan itu
"Astaghfirullah! Lupa tadi buru-buru pulang jadinya kelupaan." jelas Naufal
"Yaudah nggak papa,"
"Kita beli sekarang aja gimana?"
"Nggak usah Kak Naufal baru pulang pasti capek banget," kata Aisha sambil memakan kue bolu
"Kalau buat kamu nggak ada yang capek kok," Aisha mendelik pelan pada Naufal
"Gombal!"
"Ehhh bukan gombal seriusan ini, apapun buat kamu kok," kata Naufal "Calon ibu dari anak-anak ku nanti."
"Geli dengernya tahu!" Aisha bergidik saat melihat cara Naufal bicara yang terkesan alay
Naufal terkekeh, "Yaudah beli sekarang aja yuk."
"Nggak usah."
"Ntar ngiler loh," Naufal tertawa pelan
"Ihh nggak kok!" elak Aisha "Sebel!"
Naufal tertawa lalu bangkit dan keluar dari sana membuat Aisha heran namun kembali memfokuskan dirinya pada siaran kartun di depannya
Entah kenapa Aisha jadi pecinta kartun sekarang, "Kak Naufal habis dari mana?" tanya Aisha saat melihat Naufal sudah kembali lagi ke rumah
"Ihh kak Naufal boongin aku ya?!!" tanya Aisha yang menyadari bahwa dirinya tengah di bohongi saat melihat Naufal menenteng plastik
"Habis dari mobil, ngambil martabak."
Naufal tertawa, cepat sekali Aisha peka dengan lingkungan sekitarnya
"Mana mungkin aku lupa beliin kamu, pecinta coklat." ujar Naufal membuat Aisha nyengir
Aisha langsung menyerbu plastik itu dan membukanya, martabak coklat kacang. Kesukaannya.
Naufal ikut mengambil sepotong martabak kemudian memakannya, "Kakak suka martabak?" tanya Aisha
"Nggak terlalu,"
"Loh kenapa?"
"Terlalu manis."
"Oh iya aku lupa, kakak kan dokter yang sangat menjaga kesehatannya." kata Aisha terdengar seperti meledek
"Bukan karena itu."
"Terus karena apa dong?"
"Karena takut berpaling ke martabak karena dia lebih manis dari kamu." kata Naufal santai
"Aih! sejak kapan suami ku yang tampan ini pandai menggombal?" tanya Aisha dengan terkekeh
"Tau nggak martabak rasa apa yang bikin aku ketagihan?" tanya Naufal
"Emm, rasa keju mungkin?" tebak Aisha
"Bukan." ralat Naufal
"Oh salah ya? terus apa? pandan? stroberi?"
"Martabak coklat kamu."
"Aih gaje nya!" sebal Aisha yang sudah capek-capek berfikir taunya cuma sekedar gombalan
Lebih baik ia memakan martabaknya sebelum dingin, daripada moodnya jadi buruk
"Bagi kamu kan coklat itu lebih berharga dari aku."
Aisha yang sedang sibuk memakan martabak itu mengerinyitkan dahinya, rupanya Naufal tengah cemburu dengan coklat. Ah yang benar saja?
"Cemburu ni yee!!"
"Sama martabak coklat lagi!" ledek Aisha dan jangan lupakan tawa menyebalkan itu bagi Naufal
"Siapa juga yang cemburu."
Aisha tahu Naufal sedang cemburu, tapi yang membuagnya tak habis pikir adalah cemburu dengan martabak apa wajar?
Ingin sekali ia tertawa, tapi takut di marahi. "Makasih ya kak, martabaknya. Sayang kak Naufal banyak-banyak ." Aisha mengecup pipi Naufal
Naufal mematung di tempatnya, ritme jantungnya terasa lebih cepat dari sebelumnya, kenapa sekarang jadi dia yang baper dengan Aisha
Aisha tertawa karena berhasil membuat pemuda itu terdiam. Naufal yang sadar saat ini tengah di jahili menatap garang Aisha
Bisa-bisanya ia terjebak oleh Aisha. Baru saja Aisha akan kabur namun tangannya segera di tarik oleh Naufal hingga kembali terduduk di atas paha Naufal
"Udah mulai nakal ya sekarang?" tanya Naufal menatap Aisha
"Apaan sih, cuma cium doang. Nggak lagi deh janji." kata Aisha dengan kedua jari yang diangkatnya
"Kamu nggak tau seberapa besar pengaruhnya hm?" tanya Naufal lagi kali ini terdengar lebih berbisik
Rintik hujan malam mulai berjatuhan membuat suasana tenang, menghiasi rumah besar itu
"Tau." jawab Aisha
"Kalau tahu kenapa begitu hm?" tanya Naufal
Aisha meneguk ludahnya sendiri, "Ihh udah ah, aku mau makan martabaknya." kata Aisha melepaskan dirinya dari Naufal
Namun nihil Naufal malah semakin mempererat cekalannya dan malah memeluk Aisha lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher perempuan itu
"Ihh geli Kak," kata Aisha menggeliat
"Diam sebentar aja. Biarin kayak gini dulu aku lagi pengen kayak gini." lirih Naufal dengan mata terpejam sedangkan Aisha hanya terdiam dan membiarkan posisi mereka yang seperti ini