
Kepalaku hampir pecah hari ini. Entah kenapa Adibah terlalu manja, kekanak-kanakan dan lebih parahnya dia kadang menangis saat aku tidak menuruti satu permintaannya, bayangkan saja betapa ribetnya hari-hariku saat ini.
Ya katakan saja kalau ini termasuk risiko menjadi calon aymud, ayah mudah maksudnya. Setelah tes, ternyata Adibah positif hamil, sungguh ini termasuk kabar yang sangat membahagiakan, apalagi semenjak kehamilan Adibah, banyak rekan dokterku yang datang mengunjungi Adibah bahkan tidak jarang sampai ada yang sudah memberi hadiah pakaian, ini mungkin sudah di-perbolehkan, apalagi usia kandungnya sudah menginjak tujuh bulan, hanya saja ngidamnya masih ada.
Seperti sekarang, dia lagi ngidam mangga, ini memang bukan masalah besar, tapi saat ini aku sedang ada tugas di Makassar. Aku bisa saja pulang ke Parepare, tapi sebentar lagi akan ada operasi yang harus aku lakukan, sedangkan Adibah dari tadi meneleponku sambil terisak, mengatakan kalau 'Aku jahat' dan sebagainya. Kalian mungkin tahu betapa tidak berdayanya aku sekarang.
"Tunggu dua jam lagi ya sayang, " ucapku menenangkan dirinya kembali. Dan kembali, Adibah tetap menangis histeris. Aku mendengar suara umi dan Aqilah yang ikut menenangkan Adibah, tapi tetap kepada pendiriannya, Adibah tetap terus memaksaku untuk pulang. "Aku janji bakalan langsung pulang Adibah. "
"Dibah tahu kak Farzan selingkuh! Dibah paham, itulah kenapa kak Farzan gak mau pulang karena gak mau kalau selingkuhanya marahkan? " ucap Adibah di seberang sana. Terdengar juga beberapa kali umi meminta Adibah diam. "Dibah tahu kok selama ini Kak Farzan bagaimana!"
Aku mengacak rambut frustrasi. "Demi Allah Adibah, aku gak selingkuh tapi saat ini sedang ada yang sekarat. "
"Ohh. Kamu baru mau pulang kalau aku sekarat gitu? " Ya Allah, kapan aku bilang seperti itu? Farzan tetaplah bersabar, ini hanya ujian sebentar yakinlah.
"Enggak gitu Adibah. Aku gak pernah bilang begitu. "
"Tapi ke situ arah ucapan Kak Farzan! "
"Aku berani sumpah. Adibah. Ta-" Seorang dokter memanggilku dari belakang. "Ada apa? " tanyaku, dengan ponsel yang sudah kujauhkan.
"Operasi akan segera di lakukan dokter. Bersiaplah untuk penanganan selanjutnya," kata dokter Riska, sekaligus rekanku sekarang.
"Ya sudah. Aku ganti pakaian dulu." kalau sudah mengenai tugas, apalagi menyangkut soal nyawa, aku akan lakukan apa pun untuk itu, walau manusia yang aku cintai sekarang membutuhkan aku.
"Oke, saya tunggu di ruangan ya dokter." Dokter Riska berlalu pergi meninggalkan aku seorang diri di ruangan ini.
Aku kembali menatap ponselku, telepon Adibah masih terhubung. Entah aku harus bagaimana sekarang. "Adibah, maaf aku harus ke ruangan ICU. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " salamku kemudian menutup telepon sepihak. Kalau aku menunggu jawaban dari Adibah bisa-bisa aku tidak tega dengannya lagi.
Di perjalanan. Padanganku terus menatap ke depan, seakan-akan akulah manusia yang paling serius akan pekerjaanku tapi sayang, pemikiranku tetap kepada Adibah. Bagaimana bisa aku menangani pasien kalau kepalaku di penuhi banyak pikiran. Bismillah jaga terus istriku ya Allah.
"Assalamualaikum dokter Farzan." Tiba-tiba dokter Riska ada di sampingku, sejak kapan?
Aku tersenyum ramah. "Kenapa? "
"Bagaimana keadaan istri Dokter Farzan? Katanya sudah tujuh bulan ya? " Aku tahu ini pertanyaan basa basi darinya, dan akhir dari itu ada perkataan utama yang hendak dia sampaikan.
"Alhamdulillah iya. Saya berharap Allah melancarkan segalanya tentang Adibah nanti hingga saya bisa melihat anak saya. Semoga saya juga bisa melihat dia sukses. " Pemikiran yang sangat jauh, aku tahu.
"Aamiin Dokter Farzan. Tapi ngomong-ngomong, hem maaf sebelumnya. Saya mendengar Adibah menelepon dan meminta Dokter Farzan pulang, kan? Kalau mau dokter Farzan bisa pulang untuk bisa bertemu dengan istrinya. Biar aku yang menangani pasien nanti, kebetulan aku sudah ahli dalam bedah," ucap dokter Riska ramah. Dia memang seperti ini, semenjak kehilangan putra pertamanya bahkan sebelum dia bisa melihat rupah anaknya, dia mengalami keguguran.
"Terima Kasih sebelumnya Dokter Riska. Tapi sebentar lagi operasi akan segera di lakukan, sama saja kalau saya pulang duluan, akan lama pulang juga. " Aku tidak lagi menatap wajahnya.
Teringat saat mendengar pertama kali kabar kehamilan Adibah. Aku bahkan tidak sadar mengeluarkan air mata waktu itu, sakin bahagianya aku. Kurang lebih tiga tahun menikah akhirnya Allah memberi aku dan istriku, Adibah amanah untuk kehadiran seorang bayi, insyaaAllah.
Memang benar, kabar terbahagia setelah pernikahan adalah kehamilan, apa yang lebih menyenangkan? Apalagi saat sudah melihat langsung wajah bayi. Ah ya Allah, rasanya aku sudah tidak sabar untuk menggendong anakku nantinya. Sekali lagi, semoga semuanya berjalan lancar, aamiin.
"Ada apa Dokter Farzan? Kenapa senyum-senyum? " Astagfirullah. Aku kembali melakukan kegilaan seperti ini! Mungkin aku sangat bahagia, bukan mungkin lagi tapi sudah jelas bahagia.
"Ah tidak. Saya hanya memikirkan keadaan Adibah. Dia terlalu obsesi terhadap saya, dia pikir saya berselingkuh di sini. Saya tahu ini hormon kehamilan dari dia, tapi terkadang saya juga greget sendiri saat menanyakan seperti itu terus setiap kali menghubungi saya," keluhku.
Riska tersenyum. "Namanya juga bumil, Dokter. Pemikiran tidak jarang seperti ini, " kekehnya. "Terus. Bagaimana keadaan istrinya? " Maksudnya istriku.
"Alhamdulillah. Seminggu yang lalu keadaannya baik, tapi gak tahu kalau minggu ini, saya harap sih selalu dalam lindungan Allah, soalnya umi dan Aqilah ada di sana. Kebetulan dokter Mahesa lagi tugas di luar negeri, daripada Aqilah sendiri ya saya suruh ke apartemen saja. " Dokter Riska mengangguk-angguk saja mendengarku. Tidak lama itu ponselnya berdering. Dia menjauh beberapa langkah dariku untuk menerima teleponnya setelah memberiku kode.
Entah, mungkin sekitar lima menit dia berbicara, dokter Riska kembali dengan rauk wajah yang cukup menegangkan. Ada apa? "Dokter Farzan, Adibah telepon tadi ke aku. "
"Dia bilang apa? "
"Perutnya sakit dan di apartemen Dokter gak ada siapa-siapa selain dia. "
Deg!
"Maksudnya? Umi dan Aqilah tidak ada? " tanyaku ingin memastikan jawaban.
"Iya. Ibu dokter ke arisan dan Aqilah lagi kuliah," jawabnya.
Padahal tadi, saat Adibah meneleponku mereka masih ada. Kepalaku terasa gatal dan entah harus apa. Pekiran tentang keadaan Adibah kembali memenuhi kepalaku. "Jadi bagaimana keadaan dia sekarang? "
"Ya Allah, Dokter Farzan sempat-sempatnya bertanya. Lebih baik Dokter langsung pulang keburu keadaannya semakin parah." Bersamaan dengan ucapan dokter Riska, aku berlari menjauh, bahkan belum sempat berbicara sepatah kata pun.
Pemikiranku mendadak hilang. Aku bahkan tidak sadar Parepare dan Makassar tidak begitu dekat, bahkan pergi sekarang pun aku tidak akan langsung sampai dalam hitungan menit dan tak sampai sejam.
Dan lagi. Mungkin sifar tergesa dari Adibah berpindah kepadaku, sehingga aku lupa untuk membawa ponselku. Biarlah aku harus segera sampai. Ya Allah semoga istriku baik-baik saja, aamiin.
●_●
Masih ada extra part dua-nya ya ^ ^ tapi mungkin postnya agak lama karena sekarang lagi kerja.
Syukron Jazakumullah khayran katsir 💜💜