Dear Imamku

Dear Imamku
Pernikahan



بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


-


-


-


-


-


💜


Kalau saya bisa seperti orang lain, maka orang lain juga harus bisa seperti saya


●_●


     “Sriwahyuni, sudah ada yang lamar,lo,” ceplos Dani dengan santainya.


     “Ehh, ember bocor! Belum juga pasti sudah pakai acara sebar! “ kesal Sriwahyuni sambil menjitat kepala Dani.


     Semua yang ada di sana, cuma  bisa tertawa. Soal pernikahan Sriwahyuni, aku sudah tahu sejak lama, berita apa sih, yang tidak aku ketahui mengenai teman kelasku?


     “Bagaimana? “ tanyaku ke Sri Ramadhani, tentang kapan dia menyusul untuk menikah.


     “Kalau saya menikah nanti ya, yang massolo¹ lima puluh ribu dilarang jabat tangan sama keluarga pengantin, yang seratus ribu ke bawah di larang makan daging dan tidak duduk di kursi, yang seratus lima puluh ribu ke bawa dapat daging tapi kaki ayam di tambah kerupuk tapi tidak bisa duduk di kursi, dua ratus ribu dapat daging ayam sama kerupuk belum bisa duduk di kursi, tiga ratus ribu ke bawah dapat semua lauk² tapi tidak bisa duduk di kursi. Empat ratus ribu ke bawah bisa duduk di kursi dapat semua lauk tapi sebentar saja duduk. Empat ratus lima puluh ribu bisa duduk lama lama makan sepuasnya, dan lima ratus juta bisa gantikan mempelai prianya duduk di dekatku,” ucap Dani dengan santainya.


     “MasyaaAllah, kau mau nikah atau mempromosikan diri? “ ketus Sri wahyuni. Mereka berdua adalah sepupu, jadi tidak salah kalau wajah dan namanya hampir sama.


     Aku dan beberapa temanku kembali tertawa mendengarnya. Kalau kalian bertanya tentang kak Farzan, dia sedang kumpul bersama dengan teman pesantrennya, kebetulan Abdul mengundang beberapa temannya, jadi ceritanya dia sedang reunian.


     “Nanti saya lamar,” ucap Abdi kemudian. Syukurlah kalau dia memiliki niat untuk menikahi Sri Ramadhani, bukan Marwa lagi, bukannya kenapa, hanya saja usia Marwa masih tiga tahun sedangkan dia seusia denganku.


     “Jangan! Bapakku nakhoda, dia pasti minta kapal untuk panai-nya, “ucap Dani sambil tertawa kecil. Dani memang seperti ini selalu menganggap bercanda perkataan orang lain. Prinsip dia itu seperti ini, Kalau saya bisa seperti orang lain, maka orang lain juga harus bisa seperti saya.


     “Sepuluh pun akan saya bawakan untuk kamu. Tapi besarnya kira-kira 10 cm. “


     “Anjayy! Kau! “ Dani menjitak kepala Fauzi. Itu pasti sakit. Dani memiliki satu jurus Jitak yang amat sakit.


     Masih ada satu yang belum kuceritakan, Fauzi yang sedang duduk di sambilku, sambil menaruh tangannya di belakang kursiku, aku tidak mempermasalakan itu, karena tangannya tidak langsung menyetuhku hanya saja dia sesekali menyenderkan kepalanya di bahuku.


     “Bisa jaga jarak tidak! “ bisikku ke Fauzi. Aku masih baik kepadanya, aku tidak sampai membocorkan aibnya di depan teman-temanku.


     Bukannya mendengar Fauzi malah menjadi-jadi. “Adibah, lihat aku. “


     Aku menatap Fauzi tidak suka. Kenapa lagi dia? Semoga saja dia tidak membuat keributan kembali.


     Tidak lama itu, kak Farzan datang di dekatku. Dia pasti sudah mau pulang sekarang, buat apa besok hari libur. Tapi setidaknya aku bersyukur, dia membuatku menjauh dari Fauzi. “Kenapa? “ tanyaku.


     “Umi tadi menelepon, katanya mau ketemu sama kamu.”


     “Yasudah. Tunggu sebentar,” kataku ke kak Farzan. Tanpa sengaja pandangan aku dan Fauzi saling bertemu, aku segera menghindari kontak mata langsung dari dia. “Mau pulang duluan ya, mertua lagi kagen,” ucapku sambil tertawa kecil. Sebenarnya perkataanku tadi, agar Fauzi sadar kalau statusku sekarang sudah menikah.


      Kulihat ada beberapa dari temanku juga itu tertawa. “Katakan ke mertuamu, temanku rindu keponakan,” ucap Abdi dengan suara lantangnya. Nurpika segera mencubit pinggang Abdi, agar dia mengecilkan volume suaranya. Menyebalkan! “Maaf, “ sambungannya. Dengan menampilkan giginya yang rata.


     “Ya sudah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kapan kapan reunian ya, “ ucapku, sebelum akhirnya pergi meninggalkan gedung itu.


     Kak Farzan terus memegang tanganku, sampai akhir kita sampai di dalam mobil. “masuk, “ ucapnya.


     “Siap! “


     “Aku sibuk Adibah. Sangat banyak yang harus aku kerjakan setelah sampai nanti.”


     “Kak Farzan sebentar saja kak Farzan. “


     “Jangan seperti anak-anak Adibah! “ kesal kak Farzan. Seharusnya aku yang kesal karena permintaanku tidak di turuti, kenapa harus dia?


     “Aku sudah dewasa kak. Usiaku sudah delapan belas tahu, itu sudah dewasa. “


     “Tapi tidak dengan sifatmu! Kalau memang kamu sudah dewasa, kamu pasti tadi sudah sadar untuk menjauh dari Fauzi bukan malah duduk di sampingnya. “


    Aku diam seribu bahasa. Kak Farzan membentakku hanya karena ingin memakan es krim? Dan Fauzi? Bukankah dari awal aku berubah menjauh dari dia? Jangan nangis, jangan nangis! Padanganku menatap ke arah jendela mobil yang sedang tertutup. Aku takut kalau tiba-tiba air mataku mengalir! Aku benci kak Farzan!


    Semenjak kak Farzan membentakku, aku tidak pernah lagi berbicara, hingga kita sampai di rumah. Aku kira saat masuk kamar nanti kak Farzan akan berbicara denganku, dan meminta maaf kemudi berkata kalau dia tidak akan mengurangi perilaku itu kembali ternyata salah, dia hanya masuk dan mengambil laptopnya kemudian ke ruangan kerjanya. Ada apa lagi?


      Saya tidak tahu akhir dari cerita ini, entah itu menyatukan kembali ataukah  memisahkan lagi. Yang saya tahu cerita ini begitu sangat sulit. Aku baru saja bisa merasakan kebahagiaan karena cinta, tapi hari ini? Ahh semoga saja semuanya membaik.


●_●


     Tanganku meraba kasur, mencoba memastikan sesuatu, dan ternyata kosong tidak ada orang di sambingku. Aku segera bangkit dari tidurku dan kembali memastikan. “Kak Farzan?” panggilku.


      Tidak ada jawaban. Jangan bilang kak Farzan masih di ruangannya, sekarang kan sudah pukul tiga, ah siapa tahu kan? Aku harus mengecek sebelum berkesimpulan. Tapi ternyata benar, tidak ada orang, bahkan di kamarku pun juga tidak ada. Aku berusaha mencari di sekeliling apartemen kita tidak ada.


     Kuraih ponselku yang ada di tas, mencoba menghubungi kak Farzan. Percuma! Ponselnya ada di sini! Dia tidak membawa ponselnya!


   Kemana dia? Padahal sekarang masih sangat pagi untuknya kalau harus kerja, ralat sekarang kan lagi libur, mana mungkin dia kerja. Terus dia ke mana?


     Aku berdiam diri di kamar, sambil memainkan bibirku, kebiasaanku kembali lagi,  bukankah orang sangat sulit melupakan kebiasaannya? Dan aku pun seperti itu.


     Beberapa menit berlangsung, lantunan ayat suci kembali menyadarkan aku untuk segera menunaikan salat subuh.  Kepalaku masih di penuhi penyataan-pertanyaan mengenai keberadaan ka Farzan. Apa ke rumah umi? Nanti kucoba menghubungi umi.


      Tapi bagaimana kalau dia tidak di sana? Kalau kak Farzan pergi itu, dia tidak pernah lupa dengan ponselnya! Apa jangan-jangan kak Farzan di culik? Nauzubillah! Kak Farzan itu tinggi, terus badannya besar, pasti dia bisa melawan penculik! Bagaimana kalau dia di bius? Kalau begitu pasti aku juga ikut di bius! Atau jangan-jangan dia membutuhkan organ tubuh seorang dokter? Ya Allah selamatkan suamiku.


●_●


     Uang passolo ini sama "menakutkannya" dengan uang panai. Sama-sama mengeluarkan uang. Hanya bedanya, kalau uang panai yang berkorban adalah pria sebagai pelamar, sedangkan uang passolo' yang berkorban adalah para tamu undangan.


●_●


-


-


-


-


-


💜


     "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. QS. Al-Mujadilah:1"


●_●


Yeahhh, update lagiiii. Semoga kalian suka.


Jangan lupa vote, komentar, dan follow💜.