Dear Imamku

Dear Imamku
Ana Uhibbuka



بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


-


-


-


-


-


💜


"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.."


●_●


Sekitar pukul 03:20 aku terbangun dari tidurku. Aku mendongak untuk melihat wajah kak Farzan, posisi kami saat ini sangat dekat. Aku yang meminta posisi seperti ini, entah kenapa aku sangat kedinginan semalam, dan alhamdulillah sekarang keadaanku sudah agak membaik.


Kak Farzan masih tidur dengan nyenyak, pelukannya tidak berubah sama sekali. Aku kemarin mendengar kak Farzan sedang menelpon dengan seseorang kalau hari ini dia mengambil cuti untuk dua hari, jadi hari ini tidak terlalu padat. Aku sangat nyaman berada di posisi seperti ini. Tanganku mulai bergerak untuk merapikan rambut kak Farzan yang terlihat sedikit berantakan, ada pergerakan sedikit dari kak Farzan, tapi kembali melanjutkan tidurnya lagi. Pemalas.


Tapi entah kenapa, kak Farzan begitu tampan saat sedang tertidur, seperti sekarang, walau lesung pipinya tidak terlihat. Ada kerutan sedikit di wajahnya, tapi itu tidak sampai mengurangi ketampanan yang ada pada dirinya.


Entah kenapa, hari ini aku begitu menikmati keindahan Allah yang ada di dekatku sekarang. Aku tidak tahu berapa orang yang akan merasa iri karena aku memiliki lelaki seperti dia.


Aku kembali teringat salat seperti tiga malam. Aku berusaha untuk melepaskan tangan kak Farzan yang melingkar di pinggangku dengan sangat perlahan agar dia tidak sampai mengganggu tidurnya. Tapi tidak, dia malah mempererat pelukannya kembali.


Apa dia sudah bangun?


"Kak Farzan sudah bangun? " tanyaku yang tidak mendapatkan jawaban. Aku masih tidak yakin kalau dia sedang tidur sekarang. "Kak Farzan, Dibah mau salat tahajud," pintahku.


"Lima menit lagi." Aku mengerti apa maksudnya, kalau dia mau aku menunggu lima menit lagi.


Oke, sebagai istri aku harus membuat suami senang dulu.


Tapi sekali lagi, kalau boleh jujur aku sangat suka berada di posisi sekarang. Pelukannya terasa sangat hangat walau di ruangan ini di lengkapi dengan pendingin. Aku suka berlama-lama dengannya. Maaf ya Allah, mungkin hari ini aku meninggalkan salat sunnah dulu, bukankah membahagiakan suami juga adalah poin penting? Jadi untuk sekarang aku absen dulu salat tahajud, tapi aku janji akan kembali salat tahajud besok.


Sesaat kemudian, aku merasakan tangan kak Farzan mengendur. Aku membuka mata untuk memastikan, dan benar dia sudah bangun dan menatapku. Aku tersenyum untuk mencairkan suasana saat ini.


"Kenapa menatapku seperti itu? " Lahh, ngegas dia!


Sebagai seorang wanita yang baik dan menghargai suami, kamu harus bisa sabar dengan mood suamimu yang terkadang berubah-ubah kapan pun, seperti cewek PMS Adibah.


Aku menggeleng sambil tersenyum. "Kak Farzan suka marah-marah gak jelak, ayah saja gak pernah marah ke Adibah," ucapku, sambil menenggelamkan wajahku di dada bidang kak Farzan.


Kepalaku rasanya di elus-elus, dan benar saja kak Farzanlah pelakunya. "Aku tidak marah, aku cuma bertanya Adibah. Bedakan mana marah dan yang bukan," dalihnya.


Aku kembali mendongak. "Tapi nada bicara kak Farzan kayak bapak-bapak yang lagi marah." Dan balasan apa yang kudapat? Kak Farzan menarik hidungku, sumpah rasanya peri tapi aku suka saat dia melakukan kebiasaannya seperti itu.


"Sakit! " kesalku. Tahulah bagaimana wanita, dia bilang sakit padahal menginginkan hal itu kembali dilakukan, yah contohnya seperti aku sekarang.


Dan kali ini, dia yang duluan memelukku. "Maaf, aku juga tidak setua itu Adibah. " Sumpah aku hampir saja tertawa mendengar perkataannya tadi, lah kalau bukan bapak-bapak apa? Ibu-ibu? Allahu akbar, dasar suamiku. "Aku dapat info, kalau pendaftaran untuk kuliah sudah terbuka ya? " Akhirnya kak Farzan mengganti topik pembicaraan.


"Jihan juga bilang seperti itu," jawabku.


"Jadi? "


"Jadi kenapa? Kak Farzan mau kuliah? "


"Bukan aku tapi kamu."


"Aku gak mau kuliah, " ucapku enteng. Memang benar aku sudah tidak memiliki niat untuk kuliah saat ini, aku mau fokus dengan mengurus rumah tanggaku sekarang. Mungkin saat ini aku menentang pendapatku dulu.


"Kamu harus kuliah! " tegas kak Farzan.


"Tidak kak. Aku dan... " Aku menjeda perkataanku. Semoga kak Farzan mengerti dengan apa yang ingin aku lakukan. "Aku dan Fauzi pernah janji akan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi bersama, aku takut kalau sampai ada kesalah pahaman terhadap aku dan dia kak. "


Kak Farzan diam. Ini yang aku hindari tapi sekarang malah terjadi, menyebalkan!


"Jawab jujur. Apa kamu memiliki perasaan kepada dia? " Aku hampir saja tertawa mendengar pertanyaan dari kak Farzan barusan.


"Dulu aku sangat mencintai dia, bahkan sangat mencintainya. Kak Farzan pernah dengan ucapan imam syafii yang bunyinya seperti ini, Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.


Dan betul, semua itu terjadi kepadaku. Dan entah kenapa, kamu datang di hidupku dan membuatku lebih mencintai sang Pencipta ketimbang dirimu sendiri membuatku menyadari diri untuk selalu berjalan ke jalan yang benar, " jelasku.


Aku tidak tahu, bagaimana respons kak Farzan, karena saat ini aku sedang larut dalam pelukan kak Farzan.


"Sekarang bagaimana perasaanmu? " orang ini sedang memancingku tidak sih?


"Perasaanku ke Fauzi sekarang tidak ada, " ucapku,sambil kembali mendongak. "yang ada perasaanku itu ke Farzan bukan Fauzi." Diakhir perkataanku aku tersenyum. Dan apa yang aku dapatkan? Kak Farzan kembali menarik hidungku, menyebalkan. Seharusnya dia menciumku!


"Semoga kamu adalah orang yang dipilih oleh Allah yang akan melengkapi dan menyempurnakan agamaku serta menjadi wanita baik diantara yang terbaik."


●_●


"Mau ke mana?" tanyaku yang masih berdiam diri di sofa. Padahal aku baru saja mengistirahatkan badanku dari kegiatan yang menguras tenanga.


"Ke toko buku, " tanya jak Farzan yang masih setia menarik tanganku agar segera bangkit dari dudukku. Dasar suami tidak pengertian.


"Buat apa kak Farzan? "


"Beli onde-onde. " Lah apa dia sedang bercanda?


"Kak Farzan, beli onde-onde harus ke toko buku ya? Ke ibu Fatimah di luar juga ada. Gak usah jauh-jauh. " Mataku menjadi tertutup.


"Ayolah Adibah, jangan bercanda. " Astagfirullah, ada apa dengan suamiku ya Allah? Jelas-jelas tadi dia yang bercanda! "Kita mau beli buku untuk acara amal. " Mendengar acara amal, aku langsung bangkit. Sumpah, aku paling suka jika menyangkut dengan acara amal seperti ini.


"Serius? " tanyaku, yang langsung di balas anggukan olehnya. "Ayo pergi sekarang. " Kak Farzan langsung menarik tanganku, sesaat kemudian aku sudah berada di dekatnya.


"Ayo, " katanya.


Kemudian tanganku di pegang oleh kak Farzan. Kak Farzan memang seperti ini, saat hendak bepergian dia selalu memegang tanganku, mungkin ini sudah menjadi hobi barunya.


"Biasanya anak-anak sukanya dengan buku apa? " tanya kak Farzan.


"Buku fiksi mungkin, apalagi kalau sudah menyangkut tentang agama. Semisal kisah nabi Ayyub yang sangat penyabar," usulku.


"Yasudah, kamu yang akan menentukan judul bukunya nanti. " Aku menyetujui permintaan kak Farzan. "Dan aku nanti duduk menunggu sambil kenalan dengan pegawainya di sana. "


"Sebelum kak Farzan melakukannya, aku tidak akan pernah melepaskan tangan kak Farzan! " ancamku.


"Bagaimana bisa? Kamu pasti akan lupa Adibah, " kata kak Farzan.


Aku diam. Ceritanya di sini, aku sedang marah jadi biarlah tidak ada topik pembicaraan di antara kita. Tidak lama setelah itu, kak Farzan terkekeh, sambil berbisik di telingaku. "Aku tidak akan melakukan hal itu di sana. "


Aku mendongak. "Wallahi? "


Kak Farzan mengangguk. "Tapi gak tahu kalau besok-besok. " Aku segera mencubit pinggangnya.


"Kak Farzan jahat! " kesalku.


Suara tawa kak Farzan semakin menjadi-jadi. "Maaf-maaf. Aku tadi bercanda Adibah," ucapnya dengan suara tawa yang masih tersisa.


Berjalan dengannya sungguh tidak enak. Kak Farzan terlalu tinggi, tinggiku saja masih sampai bahunya, jadi kalau mau berbicara dengan dia aku harus selalu mendongak untuk melihat wajahnya. Dan dia seenaknya saja mencubit pipiku, menarik hidungku, menaruh lengannya di leherku, padahal lengannya sangat berat.


Pernah suatu hari, orang mengira kalau kami adalah adik, kakak bukan suami istri. Padahal tidak ada kemiripan di wajah kita, atau mungkin ada sedikit? Aku tidak tahu, cuma orang yang bisa menilai cover kita.


Setelah sampai di toko buku. Kak Farzan selalu saja memegang tanganku, padahal tadi aku yang bilang kalau aku yang akan menggenggam erat tangannya agar tidak menggoda orang lain, atau dia lupa? Mungkin.


Aku tidak marah saat kak Farzan memegang tanganku seperti ini, setidaknya orang bisa percaya kalau kita ada pasangan suami istri, bukan adik kakak.


"Kira-kira buku yang harus kita beli itu berapa? Aku juga lupa bertanya dengan dokter Riska soal jumlahnya. Sebenarnya acara amalnya itu beberapa bulan yang lalu, hanya saja ada saja kendala yang datang, " jelas kak Farzan.


"Beli saja banyak-banyak kak Farzan. Kan lagi ada promo, jadi kak kita bisa beli banyak dengan harga murah dan juga ceritanya yang menarik, bagaimana? " tanyaku.


"Boleh. Kamu mau ikutkan kalau acara amal nanti? "


"Dibah boleh ikut? " tanyaku yang langsung di anggukan olehnya. "Mau. Mau. Mau. Di sana pasti banyak anak kecil kan kak Farzan? "


"Banyak sekali. Bahkan ada yang masih berusia beberapa hari. " Di akhir perkataan kak Farzan, ada nada sedih di sana. Aku tahu, kak Farzan pasti sangat sedih, soalnya kak Farzan juga pernah berada di posisi seperti mereka.


"Kok bisa ya ada orang tua sejahat itu! " kesalku.


"Kita juga tidak boleh menyalahkan segalanya ke orang tuanya, mungkin ada beberapa orang tua bayi yang terpaksa menyimpan anaknya di sana hanya karena biasa ekonomi yang menipis, ataukah karena hal lainnya. Ini lebih baik dia lakukan daripada dia membunuh anaknya." Senyum terukir di bibirku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, kak Farzan lebih paham dengan ini di bandingkan diriku.


Terima kasih ya Allah, karena telah memberikan untukku suami yang pengertian seperti kak Farzan.


●_●


Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ


"Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka'bah." (HR. ad-Darimi 3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami', 6471)


Dalam riwayat lain, beliau bersabda,


مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ


"Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat." (HR. Hakim 6169, Baihaqi 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami', no. 6470)


●_●