Dear Imamku

Dear Imamku
Masa Lalu



💜


Allah tidak membebani seseorang itu sesuai dengan kesanggupannya-QS. Al-Baqarah : 286.


●_●


     Sore ini, aku harus meninggalkan rumah sakit ini, bersama dengan Zahra, ya Zahra dia yang membuatku harus meninggal semuanya, bukan tanpa alasan aku meninggal Farzan, hanya saja aku harus bisa merelakan kebahagiaanku demi kebahagiaan anak mereka.


     Flashback


    Kepalaku terasa begitu sakit, aku menatap sekitar yang begitu gelas. “Kak Farzan?” teriakku dengan penuh ketakutan.


     Apa seseorang sengaja mematikan lampunya?


     Tanpa kuduga suara aneh mulai terdengar dari arah kananku, semacam suara seorang wanita menangis, aku memalingkan wajahku ke sumber suara. “Adibah,” ucap seseorang tersebut.


     Alisku berhasil saling tertarik. “Kamu siapa? “ tanyaku. Jujur, aku tidak mengenali suara ini, bahkan aku tidak pernah mendengarkan jenis suara seperti ini sebelumnya.


     “Aku... Aku Zahra! “ ucapnya. Aku terdiam. Dadaku rasanya begitu sesak, kenapa dia ke sini? Seribu pertanyaan, seakan ingin kulontarkan, tapi lidahku terasa kaku, aku tidak sanggup untuk berbicara. “Maafkan aku, Adibah. Aku ke sini ingin memohon kamu untuk menjauh dari Farzan! Isam demam, anak kami. Dia sakit mencari ayahnya. Aku sudah meminta Farzan agar segera kembali, tapi tetap saja tidak bisa, dia tidak mau kalau kamu tidak setuju. Demi Allah, aku tidak akan memohon seperti ini kalau bukan karena anakku. “


     Aku tidak tahu lagi kenapa tiba-tiba kepalaku begitu terasa sakit. “Apa lampunya sedang mati? Tolong beri penerangan agar aku bisa melihat kamu, Zahra. “


     “Kamu kehilangan penglihatan, Adibah. “ Rasanya persediaan oksigen menipis di ruangan ini, aku tidak bisa bernafas, dadaku terasa sesak. Kenapa ini? Aku kehilangan penglihatan? Kenapa harus aku? Aku menangis sejadi-jadinya, tiba-tiba tangan lembut menyentuh pundakku, aku tahu siapa itu, dia pasti Zahra.


     “Adibah. Sebelum kamu sadar, aku selalu melihat Farzan menangis setelah mengetahui kabar kalau kamu tidak bisa melihat lagi, aku kasihan dengan dia, tapi aku tidak bisa apa-apa anakku juga sedang sakit sekarang.”


      Aku masih seperti pertama, saat mendengar kabar kalau aku kehilangan penglihatan, aku selalu saja menangis.


     Aku ingin bertanya ya Allah! Kenapa harus penglihatanku saja? Kenapa tidak nyawaku juga? Kenapa?


     “Adibah. Maaf kalau aku lancang, tapi aku punya saran untukmu. Kamu tidak maukan kalau Farzan menderita? Karena itu tinggalkan dia," ucapnya terus terang. Apa pun yang di ucapkan Zahra, selalu kudengar dengan baik-baik, kurasa perkataanya kali ini betul. Semenjak aku datang di hidupnya, dia selalu mendapatkan ujian seperti ini, wallahi, aku tidak sanggup melihatnya seperti itu, melihatnya menderita karena aku.


     “Bantu aku Zahra. Aku mau pergi dari kehidupan bodoh ini! Aku mau pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini! Beritahu aku cara terbaik agar kak Farzan menjauhiku,” ucapku dengan nada terisak.


     “Aku akan bantu. Kamu cukup berpura-pura kalau kau sedang mencintai seseorang dalam hidupmu. Terserah siapa"


     “Mungkin Fauzi,” jawabku.


     Entah bagaimana mimik wajah Zahra, tapi kurasa dia sama terpukulnya denganku, apalagi saat kondisi anaknya yang juga sedang sakit, dia tidak memiliki cara lain kecuali ini.


     Ya Allah, apapun yang aku lakukan setelah ini, kumohon maafkan aku, dan kumohon pula, apapun yang kak Farzan katakan nanti, maafkan dia juga.


     “Ya sudah, “ katanya dengan suara ingus yang juga ikut terdegar. “Katakan ke Farzan nanti...?


     “Adibah.” Tiba-tiba bayangan kejadian tadi langsung menghilang. Aku balik mengarahkan kepalaku ke sumber suara. “Kamu sudah siap? “ tanyanya, yang kubalas anggukan.


     Saat ini, kita mau ke suatu tempat, aku tidak tahu ke mana Zahra akan membawaku, kalau tidak salah, di sebuah apartemen tapi aku tidak tahu apartemen yang mana.


     Entah bagaimana kehidupanku kedepannya, bagaimana aku bisa berinteraksi dengan seseorang di sekitarku kedepannya dengan keadaan seperti ini, maksudnya dengan keadaan buta.


     Dear imamku.


     Allah teteskan kepedihan di qolbumu, agar air matamu mengalir mengingat-Nya. Allah letakkan kesempitan di hatimu agar Engkau mengingat-Nya, melapangkan hati semua karena Allah mencintai do'a dan sujudmu, memohon pada-Nya. Imamku, Bukankah mereka yang beriman pasti Allah uji? Bersabarlah, mungkin kita bukanlah jodoh sesungguhnya di mata Allah,  kalau pun kita jodoh, kita akan tetap di pertemukan, walau mungkin bukan di dunia, tapi di akhirat kelak, in shaa Allah.


     ''Allah tidak membebani seseorang itu sesuai dengan kesanggupannya-QS. Al-Baqarah : 286.


●_●


     “Kalau kamu butuh sesuatu, katakan kepadaku, “ ucap Zahra, sembari mengandeng tanganku untuk duduk di sopa.


     “Bagaimana caranya aku menghubungi kamu? “


     “Kamu tidak tinggal sendiri, ada paman Anto yang akan bersamamu.” Aku terkaget mendengar nama yang disebutkan Zahra. Bukannya nama itu terdengar nama laki-laki?


     “Dia pamanku, dia akan bersamamu di sini, dia orang baik-baik. Iyakan paman? “ Astagfirullah, aku kira dari tadi cuma kita berdua yang ada di ruangan ini, ternyata pamannya juga, sumpah, aku sangat takut, kalau boleh jujur aku mau kembali ke rumah sakit saja. “Ya sudah, kamu mau makan kan?  Nanti paman Anto yang sediakan. Paman Anto aku keluar dulu ya, Adibah jaga diri baik-baik.” Terdengar dari langkah kakinya, dia sudah menjauh.


     “Tapi, Zahra. Aku ikut saja sama kamu, gak baik perempuan dan laki-laki yang bukan mahram berduaan. Aku ikut ya.” Zahra menepis tanganku, dari tanganya.


     “Adibah, kamu ini! Aturan agama membuatmu terlalu berlebihan, katanya jangan berburuk sangka dengan orang, eh alasan masalah ini kok harus di pertimbangkan! Jangan berburuk sangkah dulu, dia sudah punya istri Adibah. “ Terdengar dari nada suaranya, kalau di sedang kesal.


     “Tap-“


     “Stop ya Adibah, jangan terlalu berlebihan. Aku mau arisan dulu, Paman Anto, jaga Adibah baik-baik ya.”


     Aku berusaha menahan langkah Zahra, tapi gagal, mana mungkin aku bisa melakukannya kalau aku sedang tidak bisa melihat keberadaannya.


     “Mau makan apa? “ tanya seseorang dengan suara beratnya. Astagfirullah, bunyi detak jantungku semakin tidak beraturan.


     Aku berusaha tersenyum. “Bis... bisa. bisa bantu aku keluar. Dulu paman? “ izin dengan nada terbata-bata.


     “Oiya, tunggu. “ Paman itu menyentuh tanganku, tapi segera kutepis. Iya melakukannya berulang kali, ya Allah, kenapa seperti ini?


     “Paman gak usah pegang tangaku, bukan mahram. Lebih baik, hari ini paman pulang dulu biar Adibah tinggal sendiri di rumah ini, “ pintahku, tapi tidak mendapatkan jawaban.


     Pemikiranku, mungkin dia sudah pergi. Aku kembali mengingat arah mana yang aku lalui dan berapa langkah yang aku lewati untuk ke sofa. Sepuluh menit lamanya aku duduk disana, tanpa melakukan apapun, pandangan fokus ke depan dan pemikiranku selalu tentang, kak Farzan.


     Maafkan aku kak Farzan. Aku baru sadar, akulah pemisah antara kamu dengan anak dan istrimu. Aku terlalu egois, aku terlalu bersifat kekanak-kanakan, hanya mementingkan diri sendiri. Dan sekarang, aku baru sadar akan sifatku itu, untuk kak Farzan, aku akan selalu mencintaimu, walau aku tidak lagi hidup di dunia ini.


     Andai kamu tahu, kamu sudah aku tempatkan di tempat yang paling istimewa dihidupku, cuma kamu satu-satunya pria yang dapat mengubah dukaku menjadi sukaku dalam sekejap, cuma kamu pria yang bisa kuanggap suami sekaligus ayah. Tapi aku kembali sadar, mungkin kita tidak berjodoh di dunia ini, namun aku berharap diakhirat kelat, semoga kita dapat di persatukan di surganya.


     “Mau diberi makan apa non? “ Astagfirullah, aku kira dia sudah pulang.


     “Kenapa kamu tidak pulang? “ tanyaku yang tidak menghiraukan pertanyaannya.


     “Mana mungkin saya mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, “ ucapnya kemudian tertawa lantang. Wallahi, suaranya terdengar begitu menakutkan.


     “Apa maksudmu dengan kesempatan emas?” Aku menjauh beberapa senti darinya. “Demi Allah, kalau kamu menyentuhku, akan kupastikan kau tidak akan hidup! “ ancamku.


     Dia tertawa dengan lantang kembali. “Lucu sekali, melihat saja kau tidak bisa, apalagi mau membunuhku? Punya mata batin? “


     Paman itu kembali menyentuh wajahku dan kembali ku tepis, demi Allah, aku sangat jijik seperti ini. Tanpa kuduga, dengan kasar, sebuah tangan berhasil menarik jilbabku dan rambutku. “Kau berani menolak permintaan saya? Huh!”


     Aku menangis sejadi-jadinya, sambil berteriak  “Kak Farzan, tolongi Dibah!” isakku.


     Pria itu mulai menarikku, aku tidak tahu mau di bawah ke mana aku, hingga terasa badanku terlempar di suatu tempat yang terasa empuk, aku tahu itu pasti kasur. Pemikiranku tiba-tiba mengarah ke sesuatu yang buruk.


اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً


     Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa.


     “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”


     Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit.  Terdengar samar seseorang berkata, “Akan kubunuh kau!! “ setelahnya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, apa aku sedang pingsan atau mungkin meninggal dunia.


     Kak Farzan, maafkan aku karena durhaka kepadamu, maafkan aku. Dan aku juga berterima kasih, atas kesabaranmu menghadapi sifatku yang seperti ini, aku sangat berterima kasih kepada Allah, telah mempertemukan aku dengan seorang pria yang seperti dirimu, sabar dengan segala hal menyangkut diriku.


●_●


     وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ


     “Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran : 146]


💜