Dear Imamku

Dear Imamku
Farzan dan Zahra



●_●


"Kumohon, jangan melibatkan Allah dalam kebohongan yang kamu buat! "


●●●●●_●


Mataku terfokus menatap ponsel yang kuletakkan di atas meja. Aku enggan menatap wanita yang ada di depanku, dia Zahra, wanita yang sempat mengisi hatiku, wanita yang kuanggap malaikat, tapi wanita baik yang menurutku sempurna itu, terlalu licik untuk dikatakan sempurna. Di saat aku memutuskan untuk menikahi dia tapi hal yang tidak pernah kubayangkan harus terjadi, aku harus berpisah dan entah apa cerita selanjutnya.


Sebenarnya aku ke Jakarta tidak hanya ingin bekerja tapi juga menyelesaikan masalah antara aku dan dirinya, maksudnya Zahra. Kalau boleh jujur, aku sudah tidak sudi untuk menginjakkan kaki ke tempat ini lagi, tempat yang membuat aku harus pergi meninggalkan Zahra. Percuma kusesali semua, semuanya sudah terjadi dan aku sudah memiliki takdir yang indah dengan wanita lain.


"Mas, "Panggil Zahra. Seperti pertama aku tidak pernah menatap wajahnya. "Nisam lagi ke sekolah, kenapa mas ke sini? " Nisam adalah nama anak Zahra, aku tidak tahu, apakah anak itu adalah anakku.


"Aku mau tes DNA dengan anak itu."


Kali ini, aku langsung menatap wajah Zahra. Tiba-tiba wajahnya menegang, sudah pasti dia berbohong. "Katanya, mas, sudah menikah lagi ya? " omong kosong! Dia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kamu butuh berapa untuk semua drama ini? " Sindirku, yang mungkin dapat membuatnya sakit hati, itu tidak penting.


"Apa maksudmu mas? Aku tidak perlu itu, kalau Nisam bukan anakmu, Demi Allah-"


"Kumohon, jangan melibatkan Allah dalam kebohongan yang kamu buat! Kamu sekarang banyak berubah, itu yang membuat aku tidak pernah yakin denganmu lagi. Lihat, ke mana jilbab yang sering kamu pakai dulu? " ucapku dengan geram.


"Mas, aku seperti ini, itu semua karena kamu mas. Semenjak mas pergi tinggalkan aku, aku melepaskan semuanya."


"Apa? Aku yang pergi? Kamu salah Zahra, kamu lupa saat kamu pergi tanpa seizinku? Padahal saat itu, aku masih sah menjadi suamimu!."


Astagfirullah. Kenapa aku seperti ini! Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat berbicara dengannya.


Tunggu, Zahra menangis. "Mas. Gak ngerti saat itu aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya mas, tapi-" ucapan Zahra tiba-tiba terhenti dengan suara dari ponselnya. Setelah menatap nama yang terpampang di ponselnya, entah mimik wajahnya sulit di definisikan. Dia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya untuk berbicara dengan si penelpon tadi.


Aku bangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan rumah itu. Kalian tahu, setelah kejadian antara aku dan Zahra terjadi, aku tidak pernah lagi ingin menjatuhkan hati ke wanita lain tapi entah kenapa setelah bertemu dengan Adibah, istriku, ada yang berbeda dengan diriku, aku terlalu terburu-buru memutuskan untuk menikahi dia dan aku rasa, aku tidak salah pilih sekarang. Dengan sifat kekanak-kanakan dia, dengan sifat pelupanya, dan dengan sifat rendah hatinya yang membuatku tidak ingin melepaskan dia.


Tiba-tiba aku merindukan Adibah, bagaimana keadaan dia ya? Kuharap saat memasak, sifat cerobohnya tidak datang lagi, bisa-bisa dia kembali luka. Lusa, aku baru pulang, kuharap masalah ini segera selesai.


Satu lagi tentang Adibah, dia terlalu mempedulikan boneka beruang daripada aku. Saat pulang nanti, aku harus membawakan boneka beruang untuk dia, padahal boneka beruang miliknya sudah sangat banyak. Semoga saja, saat pulang nanti aku bisa tidur dekat dengannya, bukan dengan bonekanya.


Jam menunjukkan pukul 13.24 jadi sejam lebih lagi, aku harus menghubungi dia-Adibah.


●●●●●_●


Kak Farzaaaaaaaaaaaaaan, aku rindu! Katanya mau pulang kemarin kenapa sampai sekarang belum! Telpon aku juga ngak pernah di angkat! Kak Farzan di Jakarta udah empat hari, aku takut, tiap hari selalu ada yang ketuk pintu, kira mas Esa ternyata bukan untung belum terbuka lebar kalau sampai, ngak tahu apa aku masih hidup sampai besok atau tidak.


Aku juga mau bilang kalau tanganku kenal air panas tadi waktu memasak mi terus tanganku juga bintik-bintik ngak tahu apa namanya, tapi kemarin periksa ke dokter katanya alergi sama mi, kak Farzan aku juga mau bilang kalau tadi yang antar Dibah itu Fauzi, maaf soalnya tadi Dibah lemas banget karena bintik-bintik ini, kak Farzan gak usah khawatir dokter udah kasih obat buat aku minum, rasanya pahit banget kak Farzan, seumur-umur aku belum pernah minum obat sepahit itu.


Kemarin umi datang, bawa nasi goreng sama buah-buahan, kak Farzan tahu, makanan umi gak enak. Kak Fazan pernah bilang masakan aku ter-enak kedua setelah ibu, aku baru mengerti! Tapi tadi umi bilang ke aku, katanya 'Dibah kapan nyusul seperti Aqilah? ' masa masih sekolah harus hamil sih? Ada-ada saja umi. Terus kemarin aku dan umi ke pemakaman ayah, kapan-kapan berdua ya sama Kak Farzan.


Aku baru ingat, Fauzi tadi bilang seperti ini ke aku 'Kisahku seperti ini, aku sedang mencintai seseorang yang tak tahu hatinya untuk siapa, aku tetap menunggunya, meski tak tahu siapa sebenarnya yang ingin ia temui, dan aku masih saja melangitkan namanya, meski aku tak tahu nama siapa yang selama ini selalu ia langitkan, aku ingin menyerah tapi sudah terlanjur cinta' apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti.


Terus Jihan, dia mau nikah sama tentara, kalau jujur Jihan ngak mau, tapi karena ini kemauan dari ayahnya, ya tidak boleh di batalkan. Padahal menikah dengan tentara adalah cita-cita Jihan dari dulu tapi keadaan sekarang itu berbeda. Tapi aku harap, semoga kisah mereka seperti kisah kita ya, awalnya tidak memiliki perasaan sama sekali dan sekarang, aku sangat sayang sama kak Farzan. Semoga kamulah jodoh sesungguhnya yang Allah titipkan untukku. Ana Uhibbuka Fillah pak dokter.


Sudah dulu ya kak Farzan, Dibah mau masak mi dulu. Dibah sayang kak Farzan


Cinta itu bersemi bukan karena keelokan, akan tetapi dua hati yang saling bertautan. -Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah


●●●●●_●


Kamu bukan yang pertama, sebelum kamu aku pernah jatuh cinta pada yang lain, sebelum bertemu kamu aku pernah merasakan bagaimana memiliki kemudian kehilangan, semua itu aku bisa melewatinya dengan cukup baik, namun untuk pertama kalinya, padamulah aku benar-benar tidak bisa bersikap biasa saja, jatuh cinta padamu ini hanya ada rasa ingin bersama tanpa pernah menginginkan perpisahan, membayangkan saja aku tidak bisa dan kamu orang pertama yang mampu membuat aku merasa di cintai tanpa harus aku menjadi orang lain, kamu dapat menerima burukku dan memperbaikinya, kamu dapat menerima lebihku tanpa menuntut yang tak bisa aku beri.


Semoga akulah cinta terakhirmu di dunia maupun di akhirat. Kelak di surga nanti semoga kita dapat dipertemukan oleh-Nya. Dan karena itu aku mencintai kak Farzan karena-Nya.


Kebahagiaan seorang wanita, saat dipertemukan dengan seorang pria yang menghargainya, mencintai wanitanya dengan sangat indah, dan merasa beruntung karena memiliki wanita seperti wanitanya sekarang. Dan aku percaya kak Farzan ada di ciri-ciri tersebut. Aku sayang kak Farzan.


Kak Farzan di Jakarta sudah seminggu, kak Farzan tidak rindu? Kalau aku Rindu sangat dengan kak Farzan, soalnya kak Farzan tidak pernah menghubungi aku lagi, tidak pernah membalas pesan aku. Kepala aku akhir-akhir ini sering kesakitan, mungkin karena sering menangis, soalnya aku selalu sendiri kak Farzan ke mana sih? Tahu gak aku takut kalau kak Farzan pergi saat aku sudah sangat mencintai kak Farzan, di saat kehadiran kak Farzan sangat berarti, seperti sekarang. Please balas pesan aku kali ini saja, setidaknya bilang 'Iya' saja, aku sudah sangat bahagia.


Aku sangat mencintai kak Farzan. Sudah dulu, aku ngantuk. Kak Farzan balas ya.


●●●●●_●


Aku sangat senang memandang langit sore. Walau sedang hujan, walau sedang tak berwarna kuning, aku selalu membayangkan senja macam apa yang kau lihat di kejauhan.


●●●●●_●


Kenapa kak Farzan belum pulang? Apa karena boneka beruang itu ya? Gak apa-apa kalau bonekanya tidak ada, asal kak Farzan pulang. Kak Farzan di sana sudah sebulan dan gak ada kabar sedikit pun, aku rindu dan semoga saja kak Farzan juga rindu sama aku.


Kak Farzan tahu, hari ini aku demam, demam tinggi. Cuma Aqilah dan Jihan yang kadang datang. Tunggu, Aqilah juga sering tanya kabar kak Farzan. Cepat pulang ya.


●●●●●_●


Kak Farzaaaaaaaaaaaaaaan! Dibah lulus, yeahhhhh. Alhamdulillah akhirnya lulus juga dengan nilai yang memuaskan, kak Farzan kapan ke sini? Syukuran karena Kelulusan aku. Cepat ya 😘😘😘😘


●●●●●_●


Rasanya sekarang aku meragukan kak Farzan. Setiap pesan yang aku kirim cuma di read saja, kenapa? Kak Farzan sudah tidak suka sama aku? Huh! Kalau iya, katakan iya! Sekarang aku tahu kalau sekarang kak Farzan sudah tidak seperti dulu lagi! Aku benci kak Farzan!!!!


●●●●●_●


Hal yang paling dan paling menyakitkan itu, ketika seseorang membuatmu teramat istimewa kemarin, kemudian membuatmu begitu tak diinginkan sekarang.


●●●●●_●


Kak Farzan kenapa sih? Kak Farzan hampir tiga bulan di Jakarta! Kak Farzan kenapa tidak pulang? Hah! Kak Farzan tahu, Aku pernah meminta ke Allah agar mengirim untuk aku lelaki yang mencintai aku seperti ayah menyayangi seorang putrinya, dan akhirnya Allah mengabulkan permintaanku, tapi sayang, ternyata itu semua sesaat! Kak Farzan ke mana? Setidaknya balas pesanku!


Kemarin orang itu datang lagi, aku hampir saja celaka kalau Fauzi saat itu tidak datang! Di saat aku butuh kak Farzan tetapi kamu tidak datang, aku benar-benar kecewa!


Jika dulu aku mengatakan aku mencintaimu, sekarang kutarik kembali kata-kataku. Aku tidak mencintaimu lagi! Sungguh, tidak usah datang lagi!


Aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan kak Farzan lagi, kamu bukanlah kak Farzan yang aku kenal, buat apa memanggilmu dengan sebutan ini! Pesan yang aku kirim setiap harinya tidak pernah ada balasan! Kali ini, aku tidak lagi mengatakan kenapa, aku sudah bosan dan mungkin kamu juga bosan membacanya. Lihat saja, ini pesan terakhir yang aku kirim!


Dan tunggu! Fauzi pernah bilang seperti ini 'Jika dia baik-baik saja dengan kehilanganmu, maka sebenarnya dari dulu dia tidak pernah benar-benar peduli padamu.' Kurasa itu betul!


●●●●●_●


Aku ingin mengatakan ke kamu, kalau aku sudah bekerja di pasar malam, gajinya cukup untuk biaya keseharianku, dan kamu tidak usah mengirim ke rekeningku lagi, aku tidak lagi membutuhkan hal itu. In shaa Allah, apartemen ini akan aku bayar seluruh sewanya! Terima kasih atas tempat ini, dan terima kasih atas kenyamanan sementara ini.


Aku belum mengatakan hal ini ke kamu, kalau aku tidak melanjutkan kuliahku lagi. Kamu pernah bilang aku akan tetap kuliah, itu tidak perlu.


Berdoalah, agar aku bisa melupakan kamu secepatnya.


●●●●●_●


Kamu sudah pergi selama sepuluh bulan, berapa biaya sewa kira-kira apartemenmu itu untuk aku pakai selama ini? Kalau tidak sudi membalasnya, tanya Aqilah saja! Aku akan mengirim uang itu ke rekening kamu. Kalau tidak cukup, katakan, biar aku mencari pekerjaan lagi, walau sekarang aku bekerja hampir dua puluh empat jam. Aku berterima kasih atas kepergian kamu, aku belajar banyak hal, semisal mengikhlaskan seseorang di hidup kita dengan cepat.


Aku menyerahkan segala keputusan ke kamu, apa maumu kedepannya untuk hubungan ini, in shaa Allah akan kuterima segalanya.


Ayah pernah bilang 'Dunia adalah perhiasan, dan Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Hr. Muslim' Semoga aku termasuk dalam hal itu.


Dan selamat juga atas kelahiran Aqilah, bayinya lucu.


●●●●●_●


Tangan pria ini mulai gemetar saat membaca pesan dari Adibah kembali. Bibirnya gemetar, "Maafkan aku, Adibah. " Itulah yang dipilih untuk dikatakannya.


Dia kembali menscroll layar ponselnya membaca pesan yang dikirim istrinya itu, hari ini. Rasanya begitu sulit saat dokter mengatakan bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Dia tidak bisa memihak diantara salah satunya, itulah sebabnya, Farzan memilih untuk pergi dari semua ini, meninggalkan kota Parepare dan juga Jakarta, pergi ke negara lain untuk berusaha menenangkan diri untuk sementara, ralat bukan sementara, dia sudah pergi selama sepuluh bulan dan dua bulan lagi setahun.


"Aku mencintaimu, Adibah. Tapi kenapa takdir ini terjadi di kita? Kamulah cinta yang dikirim Allah untukku, dan kuharap semoga semuanya segera lekas. Entah kenapa, rasanya aku tidak memiliki ikatan batin sedikit pun untuk anak itu," gumam Farzan.


"Berapa lama kamu akan meninggalkan istrimu? Aku dapat kabar dari Aqilah, kalau Adibah akan segera pindah dari apartemen itu, Zan," ucap Mahesa, sambil memegangi pundak Farzan.


Di ruangan bernuansa putih itu, terasa begitu sepih. Farzan duduk di sofa sambil sesekali memerhatikan ponselnya dan mendapatkan berita itu dari Adibah kembali, tapi sepertinya itu tidak akan bisa kembali, sebelumnya Adibah pernah mengirimi pesan ke Farzan yang isinya tidak akan tinggal lagi di apartemen Farzan.


"Kalau pulang nanti, aku tidak tahu harus bilang apa ke Adibah! Ini semua salahku, aku membuat wanita itu menderita, semenjak tinggal bersamaku, Adibah selalu saja menderita. Dan saat kita bersama kebahagiaan kita tidak pernah bertahan lama." Setetes air mengalir di pipi Farzan. "Aku menyerahkan segala tanggung jawab untuk menjaga Adibah di sana, Esa. Dan siapa laki-laki yang selalu mengganggu Adibah? Aku tidak mau kalau sampai ada yang melukai dia, Esa."


Mahesa mendekati sahabatnya, mengelus-elus pundak Farzan. "Jangan terlalu berlebihan seperti ini, Zan. Pikiran istrimu, maksudnya Adibah yang masih memiliki sifat kenak-kanakannya. Dan lelaki itu, dia sudah diamankan di kantor polisi."


"Terima kasih, "ucap Farzan singkat, tanpa memperhatikan wajah Mahesa langsung.


"Jangan berterima kasih dengan aku, tapi Fauzi. Lelaki itu hampir saja setiap hari datang ke apartemen mu, semenjak kamu memutuskan keputusan konyol ini, dan kurasa dia telah menggantikan posisimu sekarang. "


Farzan diam. Tidak sanggup lagi harus berbicara apa, di saat masalahnya tidak kunjung usai, jelas saja, masalah itu di hadapi bukan dinikmati, tidak seperti Farzan.


"Besok aku ke Indonesia, mungkin ini yang ke terakhir kalinya aku menawarkan untukmu ikut. Aku sudah sangat rindu dengan princes kecilku." seruh Mahesa. Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menjauh untuk mengganti pakaiannya. "Pesawat akan mendarat di jam 22:13 waktumu untuk berpikir tinggal dua jam lagi dari sekarang. Jaga dirimu baik-baik, aku keluar dulu untuk mencari udara segar di negara ini. "


Suasana hati Farzan nampak memburuk sekarang, ralat setiap hari selalu saja seperti ini. Air kembali berhasil meluncur bebas dari matanya.


Allah tidak akan menguji seorang hambanya kecuali di situ pula terdapat jalan keluarnya, yang harus kamu lakukan hanyalah sabar, bijaksana dan tabah dalam menghadapinya. Allah pasti memiliki alur yang indah untuk hambanya yang sabar. Dan jika sudah waktunya, Allah akan menghentikan masalah yang kamu hadapi, maka bersabarlah.


Lantunan ayat suci kini kembali terdengar dari mesjid yang ada di belakang hotel yang di tempati Farzan saat ini, menunjukkan waktu salat asar segera datang.


"Mungkin setiap langkahku di kutuk para malaikat saat ini, "gumamnya, dengan melangkahkan kakinya secara perlahan.


Jika seorang wanita menangis karena di sakiti oleh pria, maka setiap langkah pria tersebut dikutuk para malaikat. -Ali bin Abi Thalib RA.


●●●●●_●


"Jika dulu aku mengatakan aku mencintaimu, sekarang kutarik kembali kata-kataku."


Maaf ya kalau alur ceritanya semakin hari semakin menurun v_vv_v,.in shaa Allah kalau suasana hati membaik, semuanya akan aku perbaiki.