Dear Imamku

Dear Imamku
Ending



Naufal tiba di rumah sakit dengan perasaan gelisah. Ia melihat kondisi Mamahnya terlebih dahulu baru melihat kondisi Layla


Di depan ruang IGD sudah ada suami dan anak-anak Layla minus Aisha. Mereka semua terlihat cemas dengan kondisi Bunda mereka termasuk Anna


Kepergian Aisha belum genap sebulan. Namun mereka sudah mendapat kabar buruk lagi. Bisa di katakan keluarga Qurtuby sedang dalam masa terpuruk mereka dibanding keluarga Alfarizi


Naufal menghela napas, seminggu berlalu membuatnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Ia mendatangi ruang UGD. Azmi terlihat mendekat lalu melayangkan satu tamparan keras untuk Naufal


Sudut bibirnya sobek dan pipinya memerah karena tamparan keras Azmi, anggaplah itu hukuman dari Aisha untuknya melalui Azmi. Tapi ia rasa itu belum sebanding dengan rasa sakit yang diberikan pada Aisha


Azma yang melihatnya berusaha menghentikan aksi Azmi.


"Lepasih gue Azma! Gara-gara dia bunda jadi drop, dia yang bikin Aisha pergi! Dan bunda jadi drop gara-gara mikirin Aisha! Lihat sekarang Bunda kritis!" Azmi mengamuk di rumah sakit


Naufal membiarkan dirinya di pukul dan di tampar Azmi. Memang sudah seharusnya ia mendapatkan itu semua. Dia yang salah maka di yang akan menanggungnya


"Puas Lo hah?! Puas Lo bikin keluarga gue hancur?! Puas Lo?! Puas Lo liat Aisha udah nggak ada?!! Jawab Lo!! Jangan diam layaknya pengecut!!" teriak Azmi lagi


Anna dan Radit yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa bungkam. Hatinya ikut sakit melihat Azmi seperti itu. Radit tak ingin memperkeruh keadaan, keluarganya memang sedang dilanda badai. Tapi keluarga Naufal juga sedang terpuruk dengan dropnya Rifa, kehilangan menantu dan juga belum ada kabar dari Fauzan hingga sekarang


Azma terus berusaha menghentikan Azmi, ia memeluk Azmi agar tak semakin mengamuk. Azmi memeluk saudara kembarnya dengan erat menumpahkan segala kesesakan hatinya


"Ma, gue nggak becus jadi kakak buat Aisha dan juga anak buat Bunda." lirih Azmi sembari menangis


"Syutt! Lo nggak boleh ngomong begitu, Lo udah jadi kakak yang baik juga anak yang baik buat bunda." kata Azma. Ia menenangkan Azmi yang masih terisak


Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan Layla, "Ada keluarga pasien yang bernama Naufal?" tanya dokter itu


"Saya dok." ucap Naufal


"Pasien ingin bertemu anda. " ucap dokter tersebut disambut anggukan lemah dari Naufal


Ia masuk ke ruangan itu. Di brankar ada Layla yang terbaring lemah dengan alat-alat medis yang menempel. Hatinya sakit melihat Bundanya seperti itu


"Naufal," lirih Layla pelan nyaris tak terdengar


"Iya Bunda," sahut Naufal menahan tangis


"Kamu laki-laki yang baik itu yang Aisha bilang," ucap Layla dengan suara yang sangat pelan


"Aisha bilang, dia ba-hagia bisa menikah den-ngan ka-mu," napas Layla mulai terbata-bata


"Di-ha ni-thip peshan sam-ma Bundha,"


"Kattanya tol-long kamu menikah dengan Azizah."


Deg!


Jantung Naufal serasa kembali di pacu dengan cepat, mendengar nama Azizah kembali di sebut membuat rasa bersalah Naufal pada Aisha kian menumpuk


"Kal-au ka-mu menikah, di-ha akan bahagia n-nak,"


"D-an Bun-da j-juga akan ba-hagia. Karna puttri Bunnda ikkut bahagia."


Naufal menggeleng, ia tidak bisa setelah apa yang ia lakukan ia tak mau menumpuk rasa bersalahnya lagi


"Janjhi sama bundha,"


Napas Layla semakin tak beraturan, denyut jantungnya semakinmelemah matanya semakin menyayup


"Tol-long pen-nuhi ya." Layla berusaha tersenyum


Namun tak lama senyuman itu kian memudar. Napasnya berhenti. Denyut jantungnya juga berhenti berdetak


Naufal menggelengkan kepalanya. Ia tak mengharapkan Layla pergi setelah Aisha pergi. Tapi sepertinya kedua ibu dan anak itu sepakat untuk menciptakan sendu semakin larut di keluarga Qurtuby


"Bundaa!" teriak Naufal ketika Layla benar-benar tak bisa di selamatkan lagi


Naufal menangis di ruangan itu, kenapa hukumannya seberat ini. Kenapa Layla ikut pergi? Meski hanya ibu mertua Naufal sudah menganggapnya sebagai ibu kedua setelah Rifa dan Naufal menyayangi mereka berdua


"Bundaa tolong jangan pergi juga," lirih Naufal ia tak bisa menahan tangisannya


Orang di luar yang mendengar tangisan Naufal membuat hati mereka tak karuan, mereka berdesakan ingin masuk. Namun dokter melarang


"Mohon maaf pak. Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi sepertinya takdir berkata lain," ucap dokter tersebut


Azmi sudah maju menghadap dmter tersebut, "Maksud dokter apa ya?!" tanya Azmi


"Mohon maaf, Ibu Layla sudah menghembuskan napas terakhirnya." ucap dokter tersebut


"Dokter bohong kan?! Bilang itu bohong dok!!" Azmi sudah meninggikan suaranya. Air matanya sudah kering karena menangisi kepergian Aisha sekarang Layla ikut meninggalkannya


Radit yang mendengarnya tak kuasa menahan tangisnya. Kehilangan putri dan istri tercinta bukanlah hal yang mudah baginya


Hari itu seluruh keluarga Qurtuby kembali berkabung atas meninggalnya Layla, Bunda terlembut penuh perhatian dan juga penyayang itu meninggalkan anak-anak mereka yang bahkan belum sempat meminta maaf dan berterima kasih


Naufal keluar dari ruangan itu. Azmi kembali menghampirinya dan memberinya tamparan kedua yang membuat luka sobeknya semakin melebar


"Apa yang udah Lo perbuat hah?! Sampai bunda meninggal?! Lo penyebab semua masalah!! Lo itu brengsek!!"


Hati Naufal berdenyut nyeri. Ketimbang bibirnya Naufal lebih merasa sakit di hatinya. Jika Azmi berfikir hanya ia yang merasa sangat sedih maka Naufal yang akan merasa sangat-sangat sedih


Ia sedih atas kepergian Bunda dan Istri tercinta. Lalu sekarang di wasiatkan untuk menikahi perempuan yang notabennya akan segera menikah dengan laki-laki lain. Naufal tak ingin menumpuk kesalahannya lebih banyak lagi


"LO BRENGSEK NAUFAL!!"


Azma menghentikan Azmi. Ia juga sedih atas kepergian Bundanya. Sangat. Tapi ia tak bisa menunjukkannya di depan semua orang. Jika menangis itu akan memberatkan kepergian Bundanya. Biarkan Layla pergi dengan tenang


***


Pemusaraan sudah selesai pukul 10 pagi. Naufal berdiri di sana menatap nisan yang bertuliskan


Layla Qolilah Qurtuby


Lahir : 13-04-70


Wafat : 18-01-19


Hati Naufal kembali sesak. Dua orang yang sangat berarti di hidupnya sudah meninggalkannya satu persatu


Azmi menatapnya penuh permusuhan, "Puas Lo lihat keluarga gue hancur? Lo yang buat Aisha pergi dan juga Bunda."


"Lo yang buat Aisha kecelakaan hari itu karena rasa sakit hatinya terhadap Lo." kali ini Azmi tidak berteriak, namun nada bicaranya menyiratkan dendam yang amat sangat


Azma menatap Azmi, ia menyuruh Anna untuk kembali duluan. Ia akan mengurus Azmi terlebih dahulu jika tidak maka adik kembarnya itu akan membuat keributan di pemakaman Bundanya


Setelah seluruh keluarga pergi, Naufal kembali menatap kuburan itu. Hanya rasa sakit yang bisa ia rasakan saat ini. Perasaan sedih itu menggunung.


Naufal mengusap nisan mertuanya,  pertahannya akhirnya runtuh juga setelah berjam-jam ia tahan sejak pengurusan jenazah Layla


"Bunda," panggil Naufal


"Maaf. Aku tahu Bunda menginginkan yang terbaik untuk Aisha." ucap Naufal


"Dulu aku memang menginginkan Azizah sebagai pendamping aku, tapi juga tidak mau meninggalkan Aisha. Aku egois bunda. Maaf telah menyakiti hati putri Bunda."


"Tapi sekarang aku sadar, bahwa itu semua salah dan aku berniat memperbaikinya, tapi dengan bunda dan Aisha ngasih wasiat seperti itu membuat aku semakin di landa rasa bersalah yang menggunung."


"Maaf. Aku nggak bisa menjalani wasiat Bunda. Azizah akan menikah."


Naufal menghela napasnya pelan. Ia bangkit kemudian meninggalkan tempat itu


Ia mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dan di sinilah ia berdiri di tepi jalan tepatnya di dekat bukit dan jurang. Dimana Aisha mengalami kecelakaan dan dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu


Naufal tersenyum pedih. Tangannya menggenggam sebuah mawar merah.


Ia meletakkan mawar itu di sana, bayangan kecelakan hati itu berputar di memeorinya


"Maaf karena aku tak bisa memenuhi permintaan mu Sha, jika aku menepatinya aku akan semakin bersalah karena menikah dengan wanita lain yang sangat aku harapkan kehadirannya, terlebih wanita itu sudah menemukan pendampingnya yang lebih pantas ketimbang aku."


"Aku tak bisa menikahinya, Sha. Maaf."


Naufal beranjak pergi dari sana. Ia menghela napas panjang seharusnya kisahnya sudah selesai dengan berakhirnya peran utama Aisha dalam kehidupan Naufal


Tapi kenyataannya Aisha masih berperan penting dalam kehidupannya sekalipun ia sudah tiada, dengan Aisha menyuruh Naufal menikahi wanita yang di cintainya itu sama saja Aisha menciptakan suasana baru yang membuat Naufal berfikir bahwa sebenarnya Aisha masih memiliki peran penting itu


Naufal menatap hamparan kendaraan di hadapannya, tangannya sibuk menyetir sesekali ia bergumam pelan entah apa


"Kamu memang menempati tahta tertinggi Aisha, hanya saja tahta itu dulunya pernah kamu lepas hingga seseorang sempat mengisinya membuat aku berhasil melupakanmu."


"Tapi dengan kembalinya kamu kembali merebut tahta itu, sekarang kamu melepasnya lagi. Seolah kedudukan kamu itu hanya permainan bagimu."


"Kamu adalah peran utama di game itu, dan kamu sudah hilang. Tapi dengan kamu menyuruh aku menikahi Azizah sama saja kamu masih ada di sini. Kamu kembali bermain. Meninggalkanku lalu memberiku celah untuk bersamanya. Lalu apa kamu akan balik lagi setelah aku bersamanya?"


"Hanya kamu yang tahu Sha, kamu peran utamanya di sini. Kamu yang memegang kuasa atas game itu, aku hanya bonekanya."