
"Dear kak Farzan. Haruskah aku menjadi Fatimah, mencintai dalam diam atau, Khadijah datang dan mengatakan rasa cintanya? Semoga waktu segera menjawab semua ini."
●●●●●_●
Sore harinya, aku membaringkan tubuhku di kasur empuk ini. Sejak tadi aku tidak melihat keberadaan kak Farzan. Dia pergi bersama Aqilah. Aku kembali sendiri sekarang.
Kutatap langit senja yang begitu indah. Kuharap kak Farzan seperti senja, dia tidak pernah berlama-lama untuk bersembunyi karena dia tahu ada orang yang benar-benar membutuhkan cahaya indahnya.
Air mataku kembali mengalir. Aku terlalu lama bersahabat dengan luka hingga aku lupa bagaimana rasanya bahagia. Aku tidak tahu bagaimana sesungguhnya alur cerita hidupku saat ini. Aku tidak tahu apa yang di janjikan Allah untukku kedepannya. Aku tahu apa yang telah aku lakukan kepada kak Farzan, tapi aku sudah menyesal. Kenapa dia tidak merasakan ini? Bukannya dia akan memaafkan kalau kita sudah menyesal akan perbuatan kita?
Apa aku begitu rapuh saat ini?
"Ya Allah. Jadikanlah aku wanita kuat. Wanita yang mampu menahan marah dengan Istigfar, wanita yang mampu menghapus dendam dengan memaafkan, wanita yang pandai bersyukur atas segala nikmat, wanita yang selalu bersabar akan masalah yang ada."
Rasanya, aku merindukan kak Farzan. Aku ingin menghubungi, ingin berbicara tapi merasa seperti mengganggu jika melakukan hal itu. Dari tadi teleponku tidak pernah diangkat. Mungkin saat ini kehadiranku tidak begitu penting lagi di kehidupannya, dia mungkin sudah membenciku sekarang. Di sini, aku belajar. Mencintai memerlukan rasa sabar yang besar.
Baru aku sadari kalau aku mencintaimu di saat aku sudah kehilangan dirimu. Sekarang kamu pergi, entah kemana! Rasanya, sekarang aku terabaikan. Entah berapa lama keadaan ini terjadi, ku harap besok sudah membaik, bukan cuma besok kalau bisa hari, jam, menit, datik dan saat ini juga.
Tunggu! Aku ingat sesuatu.
Kalau merindukan seseorang baca al-fatihah sambil tangan di dada dan ber-dzikir kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan niat semoga dia merasakan rindu kita padanya. - Al Habib Hasan B.
Semoga, kak Farzan merasakan rinduku sekarang. Merasakan betapa hancurnya aku saat dia tidak ada.
Perlahan mataku mulai tertutup, pikiranku entah kemana. Ya Allah, apa engkau sengaja membuatku seperti ini? Aku benar-benar benci ke hidupanku saat ini, Ya Allah.
Dear kak Farzan. Haruskah aku menjadi Fatimah, mencintai dalam diam atau, Khadijah datang dan mengatakan rasa cintanya? Semoga waktu segera menjawab semua ini.
Mataku terbelalak saat suara pintu terdengar jelas di telingaku. Aku segera bangkit dari tidurku, berniat mengecek siapa yang datang. Harapanku sih semoga kak Farzan.
Langkahku terhenti saat yang kuharapkan datang benar-benar datang. Senyum terukir di wajahku. "Kak Farzan? "
Kak Farzan hampir saja masuk ke dalam kamarnya. Berbalik menatapku, tanpa sepatah kata pun. Pandangannya kosong.
"Kak Farzan mau makan? Dibah masakin yah? Mau apa? Mau sayur wartel yang pernah Dibah buatin? Atau wartel bakar saja? Atau jus wortel? Kak Farzan kan sukanya wortel." Aku tertawa sok tegar di depannya.
Bukannya menjawab, kak Farzan malah menatapku lekat. Dia mengerutkan dahinya. Lalu kembali seperti awal. Aku meneguk ludah susah paya. Apa aku salah bicara?
"Terserah," ucap kak Farzan berusaha mengeluarkan suaranya, kemudian melanjutkan langkahnya untuk ke kamar.
Satu kata yang hampir membuatku lompat-lompat kegirangan. Hatiku berbunga-bunga sekarang. Rasanya aku terenyuh mendengarnya.
Aku berlari menuju dapur untuk memasak makanan yang menurutku disukai oleh kak Farzan. Senyum di wajahku tidak pernah hilang. Aku sangat bahagia, ya Allah.
Setelah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sayur wortel, aku segera memasaknya, seperti yang pernah aku coba sebelumnya. Hingga kecerobohan kembali kulakukan, aku menjatuhkan sayur yang hampir mendidih itu dilantai sehingga beberapa percikan air sayur yang panas itu mengenai kakiku.
Aku merigis kesakitan "Astagfirullah."
"Kamu kenapa? " kak Farzan me-sejaharkan badan kami. Sejak kapan dia ada di dekatku?
Kak Farzan menyentuh kakiku yang kesakitan tadi kemudian bangkit mengambil wadah dan mengisinya dengan air di kerang dia kembali ke depanku menaruh wadah itu kemudian memasukkan kaki kananku didalam sana.
Bibirku bergetar, berusaha menahan haru. Dasar kau Adibah. Lihatlah, pria di depanmu ini, begitu perhatiannya terhadap dirimu, tapi apa? Kamu tidak pernah peka akan hal itu.
"Kalau tidak bisa masak jangan sok pintar. " ketus kak Farzan.
"Dibah mau kalau kak Farzan makan masakan Dibah. "
"Tidak usah. Saya bisa pesan makanan siap saji, Adibah! " tegas kak Farzan, dengan tangan dan mata masih fokus berusaha menyembuhkan luka di kakiku.
Aku tersenyum. "Kak Farzan, khawatir sama Dibah? Kak Farzan tidak marah lagi sama Dibah? Alhamdulillah. "
"Memar di kakimu akan sembuh segera. Apa hobimu melukai dirimu sendiri? Terkadang kamu memiliki hobi yang aneh juga ya."
"Kak Farzan," panggilku.
"Hem? "
"Dibah boleh tanya gak? "
"Jangan dulu Dibah. "
"Sekarang sudah jam berapa?" tanyaku tidak mempedulikan penolakan kak Farzan.
"Jam 19:42."
"Dibah boleh tanya lagi gak? "
"Gak! " tolaknya lagi.
"Sekarang hari dan tanggal berapa? "
"Tanggal 29 november. Kenapa? "
"Jadi pada jam 19:42 tanggal 29 november, Adibah sudah cinta ke kak Farzan. "
Kak Farzan tersenyum kaku. "Kenapa jadi seperti ini Dibah? Kamu lebih keseringan menggombal ya?"
Aku mengangguk sambil tertawa. Tidak seperti tadi, dia juga tertawa. Rasanya, masalahku hilang semua saat ini.
Kak Farzan menggendong tubuhku seperti anak kecil dan membawanya ke sofa untuk duduk disana. "Luka di kakimu itu harus sembuh secepatnya."
Aku mengangguk. Dia duduk agak jauh dari tempatku. Aku menggeser tubuhku mendekat, hingga tidak ada lagi jarak diantara kita. "Kak Farzan."
"Ada apa lagi? "
Kak Farzan diam. Hanya deru nafas yang kudengar. Apa dia masih marah? Perlahan, aku menjauhkan badanku dari kak Farzan, kemudian menatap manik wajahnya. Mencari apa amarahnya masih ada.
"Untuk mengatakan rindu diriku malu, tapi rindu ini membuatku meneteskan air mata." Setitik air jatuh dari pelupuk mata kak Farzan. "Hanya karena aku diam, bukan berarti aku tak rindu." Dia kembali memelukku.
"Ihh. Kak Farzan jangan nangis, Dibah juga mau nangis ini."
Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan melepaskanmu bahkan jika ada ratusan alasan untuk menyerah dia punya satu alasan untuk bertahan.
Tiba-tiba kak Farzan mengambil sesuatu di belakangku. "Buku harian? " tanyanya setelah membaca sampul buku itu.
Aku segera meraih buku itu sebelum dia membaca isi buku itu tapi dia sudah bangkit dan menjauhkan diary itu ke atas, walau agak mustahil aku tetap berusaha untuk mengambil buku itu, tinggiku saja sampai bahunya. Semuanya sia-sia aku sudah berusaha melompat pun tidak bisa kuraih, bahkan kakiku yang lebam sampai tidak terasa sakit lagi saat aku lompat.
Aku kembali melompat. Dia tidak boleh membaca diary-ku, jangan sampai dia mengetahui semua masa lalu aku. "Kak Farzan, Dibah capek lompat-lompat, kembalikan buku harian, Dibah. " kesalku yang masih melompat seperti kelinci.
Bukannya merespon dia malah mulai membuka lembaran utama buku harianku. Dan... Cup. Satu kecupan mendarat dipipi kiri kak Farzan. Aku mencium pipi kiri kak Farzan? Entah apakah ini rencana atau kebetulan karena kak Farzan juga ikut diam. Ah, memalukan.
Aku diam. Kaku berada di posisi ini. Aku tidak lagi melompat seperti tadi. "Adibah, jarak kita sangat dekat," ucap kak Farzan, aku kemudian mundur beberapa langkah.
"Ah? " Aku mengambil diary itu kemudian berlari menjauh untuk ke kamarku kemudian menutupi badanku dengan selimut. Bisa-bisa aku mati rasa kalau terus berada di dekatnya. Aku tidak tahu bagaimana kak Farzan sekarang, mungkin dia menertawakan aku.
Aku memeluk erat diary itu, merasa lega atas usahaku tadi untuk lompat-lompat mendapatkan ini, walau sempat mencium pipi kak Farzan.
" Dear pak dokter, aku cemburu ke pasien mu sekarang! Apa dia lebih penting dari Dibah? Ah bodoh! Ini menyangkut nyawa tapi kenapa pak dokter tidak mengabari Dibah dulu? Langsung pergi emang Dibah gak penting! Ah entah Dibah malas mikirin ini. Dibah marah sama pak dokter!" Kak Farzan membaca diary-ku. Bagaimana bisa? Buku itu ada di tangaku? "Maafkan pak doktermu ini, lain kali akan minta izin ke kamu sebelum pergi."
Selimut yang melekat di tubuhku kemudian kuturunkan perlahan, kulihat kak Farzan sedang duduk membaca novel ALENA tanpa meliritku.
"Dear kak Farzan. Haruskah aku menjadi Fatimah, mencintai dalam diam atau, Khadijah datang dan mengatakan rasa cintanya? Semoga waktu segera menjawab semua ini." Kak Farzan membaca kembali buku harianku. "Ini kalau tidak salah ada di halaman 208 deh. " katanya seakan membaca buku novel itu. Di setiap buku harianku memang selalu kusertai dengan halaman.
"Kak Farzan! Jangan baca lagi, ihh! " kayaku dengan kesal.
Kak Farzan menjauhkan novel itu dan mulai mendekatiku. Dia berkata tepat di telingaku, "Ana uhibbika fillah, Adibah."
Aku mematung mendengar ucapan kak Farzan tadi. Ana uhibbuka fillah Adibah? Aku mencintaimu karena Allah, Adibah? Kak Farzan mencintai Adibah karena Allah?
Aku menoleh ke arah wajah kak Farzan. Kami sangat dekat. Ini pertama kalinya aku sedekat ini dengan kak Farzan.
"Kak Farzan cinta Adibah? Kak Farzan serius? Demi Allah? Lillahi ta'ala? Kak Farzan gak bohong kan? "
Dia menyentuh daguku. "Aku sudah mengatakan sebelumnya kalau aku mencintaimu kan? " tanyanya yang kubalas anggukan. "Jauh sebelum kamu mencintaiku, aku sudah terlebih dahulu mencintaimu. Sebelum pertengkaran hebat itu terjadi, aku sudah mencintaimu. Aku tidak bisa marah terlalu lama ke kamu, Adibah. Kamu tahu, saat kamu tidak ada di dekatku, aku rasanya kehilangan arah hidupku. "
"Dibah pun kak. Dibah punya satu permintaan. "
"Apa? "
"Jadilah daftar nama pria kedua yang tidak pernah menyakiti Dibah setelah ayah."
"Bukan jalan kita, tapi jalan Allah. Bukan pilihan kita, tapi pilihan Allah. Bukan keputusan kita, tapi keputusan Allah. Bukan ketetapan kita, tapi ketetapan Allah," ucap kak Farzan. "Adibah, " panggil kak Farzan.
Aku menoleh padanya.
"Jika nanti aku terlihat baik-baik saja tanpamu, percayalah itu sandiwara terbaikku." Kak Farzan menyentuh wajahku, mengusapnya lembut kemudian menciumnya singkat. "Aku mencintaimu, Dibah. Aku sangat mencintaimu. "
"Kak Farzan. " Kak Farzan menunduk untuk melihatku. "Bagaimana jika ada wanita yang jauh lebih cantik dan lebih menarik dari Dibah? Apa pak dokter masih mau bertahan untuk tetap dengan Dibah? "
"Cuma satu hal yang dapat membuatku meninggalkanmu."
"Kapan itu?"
"Disaat kematian datang menghampiriku. Disitulah, aku benar-benar meninggalkanmu dan tidak kembali lagi. Tapi percayalah, Allah akan kembali mempertemukan kita di surganya. Tapi saat kamu tidak melihat keberadaanku di sana, tanyakan ke Allah, dimana aku. Agar kita bisa selalu bersama hingga seterusnya."
Air mataku terjatuh. Aku terharu mendengarnya. Aku memeluk tubuh kak Farzan erat, aku tidak mau kehilangan dia lagi, penderitaan terbesarku saat ini, ketika dia pergi di kehidupanku. Ya Allah, aku mencintai kak Farzan karena-Mu.
"Bisa menjauh sedikit? Bagaimana kalau aku khilaf? " ucap kak Farzan terkekeh.
Aku mengerti apa yang dimaksud kak Farzan, walau kita sudah sah dalam agama tapi aku belum bisa melakukan itu, sekolahku saja masih satu bulan lagi, bagaimana kalau aku harus hamil mudah? Dan bagaimana kalau semua orang tahu? Tamatlah riwayatku.
Akhirnya aku mundur beberapa senti darinya. kuharap wajahku tidak merona sekarang. "Kak Farzan, Ih! "
Kak Farzan mendekatkan tubuh kita kembali dan memelukku. Membenamkan wajahku di dada bidangnya. "Jadilah wanita yang setulus khadijah, yang sepintar Aisyah, yang sebijak Fatimah, sesabar Asiyah, dan seberani Asma binti Abu Bakar. Jadilah wanita yang kelak bebas masuk surga memalui pintu mana saja."
"In shaa Allah, Kak Farzan. Doakan Adibah terus. "
"Tidurlah, sangat banyak hal yang menantimu besok. Maafkan semua kesalahanku, Adibah. "
"Buat apa kak? "
"Saya tidak menjamin masih bisa hidup hingga besok, saya takut saya melewati hal ini. Dan membuatku terjebak di dosa yang sangat besar. "
"Kak Farzan, Dibah gak bisa nafas ini. "
Dari tadi kak Farzan tidak berhentinya menanamkan kepalaku di dadanya.
Dia tertawa, dan melonggarkan pelukannya. "Tidurlah, " pintanya.
Aku menutup mataku sesuai permintaan kak Farzan tadi, serasa jadi Adibah kecil kembali, di saat ayah memerintahkan aku untuk tidur aku akan segera menutup mataku dengan tangan ayah, begitu pun yang kulakukan sekarang, aku menutup mataku dengan tangan kak Farzan. Padahal lampunya sudah mati.
Ternyata benar, Allah memiliki alur yang indah untuk hambanya. Kuharap kak Farzan selalu seperti ini.
Dear Allah. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan orang yang merasakan beruntung karena memilikiku. Terima kasih telah membuatku mencintai dia dengan sepenuhnya. Terima kasih telah membuatnya mencintaiku juga.
●●●●●_●
"Untuk mengatakan rindu diriku malu, tapi rindu ini membuatku meneteskan air mata."