Dear Imamku

Dear Imamku
Jangan Marah



..."Maaf jika aku membuatmu cemburu, sungguh sayang hanya kamu yang ada di sini." ...


***


Cup.


Naufal mengecup bibir itu sekilas lalu ia menatap Aisha yang pipinya sudah memerah sejak tatapan teduh itu di lemparkan padanya


"Percaya sama aku, cuma kamu yang ada di hatiku By," bisik Naufal


"By, By, By ngomongnya iya di depan By pas di belakang pasti di jelek-jelekin apalagi sama perempuan lain," kesal Aisha


"Diem atau gue cium." kata Naufal seketika berubah jadi dingin dan datar


Aisha yang melihat perubahan raut wajah Naufal spontan langsung memalingkan wajahnya menatap jendela tanpa berani melirik suaminya yang tengah fokus menyetir mobil


Naufal melirik Aisha dari ekor matanya kemudian kembali menatap ke depan dan fokus menyetir


Dalam hatinya Aisha merutuki bibirnya yang dengan lancangnya berbicara, ia takut jika Naufal marah padanya tapi ia kan juga marah pada Naufal


Sekitar dua puluh menit mereka tiba di depan apartemen, Aisha jadi berpikir bahwa Naufal benar benar marah padahal mereka berdua berniat ke rumah Bunda Layla


"Turun." titah Naufal datar dan dingin ketika Aisha tak kunjung turun dari mobil


Aisha menatap Naufal lalu kembali mengalihkan pandangannya dan keluar dari mobil itu begitupun dengan Naufal


Naufal langsung saja berjalan masuk ke rumah tanpa memperdulikan Aisha yang tengah menatapnya sendu


"Kak Naufal benarkan marah ya?" gumam Aisha ketika Naufal sudah sepenuhnya masuk ke rumah


Tanpa banyak berfikir lagi ia segera ikut masuk ke rumah dan berjalan menuju kamarnya dan tak mendapati Naufal di sana


Terdengar suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi, "Mungkin lagi mandi kali ya? Yaudahlah nanti aja." kata Aisha ia segera meletakkan tasnya dan pergi ke dapur guna menyiapkan teh hangat untuk Naufal


Aisha kembali ke kamar dengan segelas teh yang ia letakkan di atas nakas barangkali Naufal ingin bersantai di balkon kamarnya sembari menyesap teh hangat


Tak lama kemudian Naufal keluar dengan pakaian santainya, "Kak." panggil Aisha namun tak ada jawaban


Naufal hanya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah tanpa menghiraukan Aisha yang terus saja memanggilnya


"Kak, teh hangat kakak udah aku siapin di atas nakas." ujar Aisha akhirnya lalu ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya usai lelah bekerja


Sepuluh menit kemudian ia sudah selesai mandi, Aisha melihat Naufal tengah duduk di sofa sembari membaca beberapa buku dan di temani teh hangat buatan Aisha


Aisha pun menghampiri Naufal dan duduk di sebelahnya, "Kak Naufal." panggil Aisha


"Apa?" sahut Naufal datar


"Kak Naufal marah?" tanya Aisha menatap Naufal


"Hm." jawab Naufal singkat


"Kak, maaf ya aku nggak maksud bikin kakak marah." ujar Aisha


Tapi Naufal tetap cuek dan sibuk dengan kegiatannya sendiri, sedangkan Aisha hanya menatap Naufal penuh sendu


"Hm."


"Jangan marah ya," kata Aisha namun cowok itu tetap cuek


"Kak ihh," kata Aisha


"Please jangan marah," Aisha menggoyang goyangkan lengan Naufal karena dia tidak mendengarkan Aisha


"Kak ihh aku beneran nggak maksud gitu," kata Aisha matanya mulai berkaca kaca dan Naufal sadar itu tapi ia tetap berada pada pendiriannya


"Kak hiks, jangan diemin aku hiks." kata Aisha sambil menangis "Aku hiks cuma cemburu doang hiks makanya aku marah sama kakak," akunya namun tetap tak ada balasan


Aisha benar benar menangis sekarang ia menundukkan kepalanya, isakan tangisnya terdengar di telinga Naufal yang berada di sampingnya


Naufal yang tak tega melihat Aisha menangis seperti itu akhirnya mengalah ia menatap istrinya itu


Naufal menghembuskan napas panjang ia mengubah posisinya menghadap Aisha lalu memutar badan Aisha agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya itu


Tangannya mengangkat kepala yang tertunduk itu agar bisa melihatnya, kedua manik mata itu basah karena air mata dan Naufal pun segera menghapusnya dengan kedua ibu jarinya


Mata itu terlalu indah untuk menangis ia tak akan tega melihat istrinya menangis seperti ini


"Udah ya jangan nangis, aku nggak marah kok," kata Naufal sambil tersenyum kecil


Aisha hanya sesegukan tanpa membalas, "Maaf ya kalau aku bikin kamu cemburu, tapi percayalah di hati aku cuma ada kamu Aisha."


"Queen itu cuma nanya tentang rumah sakit itu dan setiap pertanyaan dia aku jawab pasti selalu ada nama kamu." jelas Naufal


"Maaf." kata Aisha pelan


"Sekarang jangan nangis lagi ya, ntar kalau kamu nangis cantiknya hilang loh," kata Naufal sambil tersenyum manis


Aisha yang melihat senyuman itu hanya bisa baper, senyuman Naufal terlalu manis untuk dilihat dan terlalu menular buat Aisha hingga ia ikut tersenyum


"Oh ya aku mau ngasih tau, ngomong ngomong Queen cantik juga ya," kata Naufal membuat Aisha melotot seketika


"Tapi aku nggak tertarik karena udah punya yang lebih cantik yaitu si cerewet Aisha." sambung Naufal sambil terkekeh


"Ihh aku nggak cerewet tau!" kesal Aisha sambil cemberut hal itu membuat Naufal mencubit kedua pipinya


"Gemesin banget sih anak kucing aku." kata Naufal


"Ihh tadi cerewet sekarang anak kucing nanti apa?" tanya Aisha kesal


"Nanti? Nanti malam? Kamu mau?" tanya Naufal ambigu membuat Aisha tak paham


Namun beberapa detik setelah berfikir ia tau jalan pikiran Naufal kemana seketika ia melotot tajam pada Naufal


"Apa?" tanya Naufal yang di tatap seperti itu


"Jangan macem macem." peringat Aisha membuat Naufal terkekeh


"Akhirnya ngerti juga." kata Naufal "Bikin baby yuk," ajak Naufal membuat Aisha melotot pipinya memerah karena malu


"Kamu itu kalau lagi blushing cantik banget sih sayang," kata Naufal menatap Aisha


Gadis itu tak tahan lagi ia ingin menyembunyikan wajahnya dengan bantal namun tak mendapati bantal sofa akhirnya memilih menabrak dada bidang suaminya dan menyembunyikan wajah merahnya di sana


"Kak Naufal ih malu." cicit Aisha pelan suaranya tertahan oleh dada bidang Naufal namun masih terdengar jelas


Hal itu membuat Naufal tertawa kecil, "Nggak papa sama suami sendiri kok," kata Naufal


"Tetap aja aku malu ihh." kata Aisha


"Tumben malu biasanya juga malu maluin." kata Naufal membuat Aisha segera menjauhkan dirinya dari Naufal dan menatap tajam cowok tersebut


"Habis di bawa tinggi ke awan eh di hempaskan tanpa punya hati!" kesal Aisha dengan wajah masam


Lagi lagi tingkah Aisha membuatnya tertawa, Aisha memang menggemaskan ketika cemberut dan kesal tapi hanya bagi Naufal. Entah yang lainnya


Tapi tetap bagi Naufal Aisha selalu terlihat lucu kapan pun itu.


"Iya deh maaf," kata Naufal terkekeh lalu menarik pinggang ramping Aisha agar lebih dekat padanya


Aisha pun tanpa segan menyandarkan kepalanya di bahu Naufal tangannya memainkan jari jari Naufal


"Oh ya katanya tadi mau ke rumah Bunda?" tanya Naufal pada Aisha


"Iya, tapi kan kakak yang bawa aku ke sini." ungkap Aisha


"Aku lupa. Yaudah besok aja gimana?" tanya Naufal


"Iya terserah kakak ajalah, aku manut aja dah." kata Aisha tak ingin berdebat lagi


"Sha berdiri dulu bentar." kata Naufal dan Aisha pun langsung berdiri


Naufal mengubah posisinya menjadi tiduran dengan bantal sebagai penyangga kepalanya, "Sini tiduran." titah Naufal


"Nggak ah." tolak Aisha


"Sini."


"Nggak mau."


Akhirnya Naufal menarik tangan Aisha agar tiduran tapi Aisha memberontak hingga terjatuh, namun bukannya tiduran Aisha malah jatuh dengan posisi tengkurap di atas tubuh Naufal


Aisha yang masih belum terbiasa hanya bisa menahan malu, cepat cepat ia berdiri dan memalingkan wajahnya hingga membuat Naufal kembali terkekeh


"Sini aku pengen meluk kamu tau." kata Naufal kembali menarik tangan Aisha dan kali ini gadis itu tak melawan


Aisha menurut dan merebahkan dirinya diatas Naufal keduanya melihat senja langit yang sebentar lagi akan memudar, sofa itu memang menghadap ke balkon kamar yang terbuat dari kaca hingga mereka bisa melihat langit di luar dan menikmati langit yang berwarna jingga itu


kedua tangan Naufal pun melingkar di badannya, Aisha hanya bisa menahan degupan jantungnya yang semakin kencang, Naufal semakin mengeratkan pelukannya pada Aisha


"Jangan pernah tinggalin aku ya." lirih Naufal yang dapat di dengar oleh Aisha


Aisha tersenyum mendengarnya ia meletakkan tangannya di atas tangan Naufal, "Aku nggak pernah ninggalin kakak, sebaliknya kakak juga janji jangan pernah tinggalin Aish."


Naufal tersenyum kecil meski ia tahu Aisha tak akan melihatnya, "Aku janji." kata Naufal


"Kamu adalah satu satunya yang akan menemani hidup aku sampai maut memisahkan." ucap Naufal sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang


"Semoga itu benar." batin Aisha menghangat