Dear Imamku

Dear Imamku
Rahasia Naufal



"Ini serius?" tanya Aisha


Naufal mengangguk, Aisha kembali membekap mulutnya kalian tahu apa yang di bacanya barusan?


Naufal menghela napas panjang, terbongkar sudah apa yang di rahasiakannya selama ini


ALFAR GROUP


Bukannya Aisha tak tahu perusahaan itu, Alfarizi group adalah perusahaan terbesar yang menduduki peringkat ke lima di Asia


"Mas, kamu-"


"Iya, ini perusahaan aku. Aku CEO nya." jawab Naufal akhhirnya


Jadi selama ini selain jadi dokter Naufal juga seorang CEO? Bagaimana Aisha tidak tahu tentang ini?


"Kok kamu nggak pernah cerita?"


"Karena aku sengaja bikin perusahaan ini privat, selama ini aku diam-diam soal ini karena papah yang nggak ngijinin aku buat berbisnis." jelas Naufal


"Karena aku orangnya lebih suka berbisnis ketimbang dokter, tapi papah terus maksa aku buat jadi dokter bahkan sampai ngancam aku,"


Aisha masih setia mendengarkan cerita Naufal, ia tertarik dengan apa yang di ceritakan suaminya


Menurutnya ini sangat langka jarang yang ada seorang CEO merangkap jadi dokter bedah dan mungkin memang tidak ada


"Papah nggak suka anak-anaknya jadi pembisnis, karena dunia bisnis itu terlalu berbahaya terutama bagi reputasi papah sebagai dokter bedah terbaik di Asia."


"Karena aku orangnya egois dan keras kepala akhirnya aku membangun perusahaanku diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan mamah juga nggak tahu soal ini."


"Dan sekarang akhirnya kamu tahu, masalah ini juga yang bikin aku nggak suka sama papah, dia terlalu mengekang cita-cita aku, dan sering banding-bandingkan Fauzan sama Aku."


Perlahan Aisha tahu, apa yang menyebabkan Naufal tidak pernah akur dengan Fauzan bahkan keduanya terlihat tidak bersahabat


"Aku bangga sama suami aku. Masya Allah hebat bangettt."


Aisha kagum dengan Naufal menurutnya itu luar biasa, meski harus di privat


"Mas, aku nggak nyangka loh kamu beneran CEO?"


Naufal terkekeh dengan pertanyaan Aisha, ia merangkul Aisha lalu mengecup kepalanya yang tak tertutupi Khimar


"Menurut kamu aku cocok nggak jadi CEO?"


"Menurut Aish, mas lebih cocok jadi suaminya Aish,"


Naufal tergelak dengan jawaban yang di berikan Aisha, ia menghujani wajah Aisha dengan ciuman berkali kali


"Massss, ihh gelii." kata Aisha menggeliat berusaha lepas dari Naufal


Namun Naufal tak membiarkan itu ia semakin gencar menciumi wajah cantik Aisha


"Mass, lepasiin ihh aku kegelian," kata Aisha terus saja meronta ronta


Naufal tertawa akhirnya ia melepaskan Aisha darinya


"Sha," panggil Naufal


"Hm?"


"Makasih ya,"


"Makasih karena udah mau bertahan di samping aku sampai detik ini," ucap Naufal


Aisha menatap Naufal dalam, "Jangan pernah kecewain aku ya, kalau sampe itu terjadi aku bisa menghilamg saat itu juga." ucap Aisha penuh arti


Naufal terdiam sebelum akhrinya menatap kedua mata indah itu, ia mempertipis jarak keduanya


Lalu membawa Aisha ke pelukannya, Aisha membalas pelukan itu dengan erat ia tak ingin kehilangan Naufal apapun yang terjadi nantinya


"Sekarang kamu tidur ya, ini udah tengah malem,"


Naufal melepaskan pelukannya dan menatap Aisha


"Aku nggak bisa tidur," kata Aisha


"Mau aku buatin susu biar kamu bisa tidur?" tanya Naufal


"Eum boleh deh," kata Aisha


Naufal beranjak dari kasur kemudian keluar dari kamar, tak lama kemudian ia sudah kembali dengan segelas susu putih di tangannya


Ia menyerahkan susu itu pada Aisha yang kemudian di teguk hingga tandas, gelasnya Aisha letakkan di atas nakas


"Sekarang tidur ya," kata Naufal yang sudah berada disamping Aisha


Aisha membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke Naufal, bila di lihat dari dekat Naufal itu tampan


Naufal membuka matanya hal itu membuat Aisha langsung memejamkan matanya saat itu juga, malu karena ketahuan memperhatikan Naufal


Naufal tersenyum miring, ia mengecup bibir Aisha singkat yang membuat Aisha langsung membuka mata


"Tidur dah malem," kata Naufal


"Nggak bisa tidur,"


"Pejamin aja mata kamu, nanti bakal tidur."


Aisha menghela napas pelan kemudian mengangguk, Naufal mendekatkan wajahnya pada Aisha lalu mencium singkat bibir Aisha


"Good night."


Aisha memunggungi Naufal dan mulai memejamkan matanya, ia merasakan Naufal memeluknya dari belakang


Pelukannya begitu hangat dan nyaman membuat Aisha mampu terlelap dalam beberapa menit


***


Aisha mengerjapkan matanya beberapa kali hingga terbuka sempurna dan dia mendapati Naufal yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum manis


Cup.


Kecupan singkat itu Aisha dapatkan dari Naufal, "Kiss morning untuk istri tercinta."


Pipi Aisha memerah, "Ish apaan sih Mas," kata Aisha malu


"Buruan bangun bentar lagi adzan subuh, kita sholat berjamaah."


Aisha mengangguk dia mulai beranjak dari kasur dan beringsut ke kamar mandi


Sepuluh menit kemudian Aisha keluar, ia sudah selesai berwudhu kali ini gantian Naufal yang berwudhu dan Aisha menyiapkan keperluan sholatnya


Naufal keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk sholat subuh


"Allahu Akbar."


Naufal memulai sholatnya dengan Aisha sebagai makmumnya, mereka melaksanakan ibadah dua rakaat sebagai kewajibannya


"Assalamualaikum warahmatullah,"


Begitu selesai Aisha mencium tangan suaminya dengan ta'dim


Mereka berdoa memohon keselamatan rumah tangga dan juga kesehatan keluarga mereka terutama calon anak yang sebentar lagi akan lahir ke dunia


Naufal membalikkan tubuhnya menghadap Aisha sepenuhnya, ia merentangkan tangannya sebagai tanda ingin memeluk Aisha


Aisha dengan senang hati masuk ke dekapan Naufal, ia memeluk Aisha dari belakang lalu mencium puncak kepala Aisha


"Untuk imamku, terimakasih sudah membimbing Aisha dan juga selalu sabar dengan sikap kekanankan Aisha."


"Kamu adalah makmumku, dan sudah sepatutnya aku membimbingmu menuju Jannah-Nya."


Kedua sudut bibir Aisha terangkat menandakan bahwa ia tersenyum setelah mendengar jawaban dari Naufal


Singkat, namun sangat bermakna buat Aisha. Ia mengecup singkat tangan Naufal yang memeluknya


Naufal balas mengecup kepala Aisha denga penuh sayang


"Eh iya gimana bayinya?" tanya Naufal


"Dua makin hari makin lincah mas, kadang aktif banget nendang-nendang perut aku," Aisha bercerita dengan antusias


"Bagus dong, berarti anak kita aktif bergerak." kata Naufal tersenyum


Naufal membalikkan tubuh Aisha menghadap ke arahnya sepenuhnya, ia mengelus perut itu dengan penuh kasih sayang


"Assalamualaikum anak ayah."


"Waalaikumsalam ayah." Aisha mewakilkan jawaban salam


"Sehat-sehat terus ya, Ayah udah nggak sabar nunggu kalian lahir ke dunia," kata Naufal


Ia mengecup singkat perut buncit itu, kemudian menatap Aisha dengan penuh kasih sayang


Naufal kembali membawa Aisha ke dekapannya, ia tak henti-hentinya mengucap syukur atas nikmat-Nya


Bagi Naufal ini adalah nikmat yang luar biasa adanya, di berikan istri sabar seperti Aisha dan juga sebentar lagi akan di  karuniai anak


Dan tentu Naufal sangat bahagia, ia berjanji akan selalu menjaga istri dan anaknya sampai maut benar-benar memisahkan mereka