
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
"
Ini sudah di peluk sayang."
●_●
“Ya sudah. Ceritakan syarat yang umi bilang. “
“Hem, “Adibah diam terlalu lama dia untuk berpikir.
“Adibah, jangan membuatku semakin penasaran!” tegasku.
Lihat, dia menertawakan perkataanku tadi, kemudian berkata, “Kak Farzan kepo. Ini sebenarnya gak penting sih. Tapi Dibah udah janji akan menepati perkataan umi tadi. “
“Iya. Umi tadi bilang apa? “ Demi Allah, seandainya dia bukan istriku, mungkin sudah kutinggalkan dia sendiri di sini.
“Tadi umi cuma bilang, lakukan semua sunnah yang biasa di lakukan seorang istri sebelumnya nak. Cuma itu saja kak. Edd, masih ada, dia juga bilang Adibah harus sering terbuka dengan kak Farzan.”
Sedetik kemudian aku akhirnya mengerti dengan perkataan dari Adibah. Apa umi meminta Adibah melakukan tugasnya sebagai seorang istri? Termasuk hal intim tersebut? Apa umi mengira aku bukan pria normal? Kenapa bukan langsung aku yang di tanyakan? Kenapa harus Adibah? Yakin dan percaya Adibah pasti tidak mengerti apa makna dari perkataan umi.
“Kamu mengerti maksudnya? “
Sambil menjilat es krim, Adibah menjawab pertanyaanku. “Umi suruh Adibah agar melakukan tugas sebagaimana seorang istri lakukan. “
“Contohnya? “
“Gak tahu. Mungkin memasak, mencuci, menyapu, mengepel, mencuci piring, dan terakhir tidur. Kalau gak tidur kan bahaya,” jelasnya, sampai-sampai es krimnya sedikit melele.
Kan, sudah kuduga. Dia melupakan kalau melayani seorang suami juga kewajiban seorang istri, tapi dia tidak menyebutkan hal itu. Dan untuk umi, anakmu ini sudah pernah sukses melakukannya, tinggal tunggu rezeki Allah datang, dan kami akhirnya dikaruniai sebuah bayi, aamiin ya Allah.
“Cuma itu? “ tanyaku kembali memastikan. Mungkin dia tadi lupa.
“Oiya, hampir lupa. Bangunin kak Farzan untuk salat subuh kan? “ aku mengangguki perkataan Adibah. Memang semenjak datang di hidupku, aku lebih tergantung kepadanya. “Tapi kak Farzan, dari tadi kok bahas tugas seorang istri? Bukan suami? Aku mau ajukan tugas seorang suami itu apa, semisal membelikan es krim untuk istrinya,” ucapnya, sesaat kemudian. menampilkan deretan gigi ratanya.
Aku diam. Fokus untuk mengemudim. Aku masih tidak percaya kalau wanita yang duduk di sampingku sambil menjilat es krimnya itu sangat lugu! Ya Allah kapan istriku berubah menjadi dewasa? Setiap kali aku menyuruhnya untuk bersifat dewasa dia selalu berkata seperti ini, “Seorang wanita akan manja saat bersama dengan orang yang dia cintai, dan saat itu juga aku memohon kepada Allah, agar meminta malaikatnya mengaminkan perkataanmu waktu itu.
Hingga akhirnya kita sampai di rumah tepat pukul 22:22, pukul yang sungguh cantik. Dan es krim yang Adibah pegang tadi sudah habis, dia juga sudah tertidur dalam posisi seperti itu, maksudnya duduk. Aku keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Adibah, setelah itu menggendongnya. Dugaanku kalau dia sudah tidur ternyata salah, ini ternyata caranya agar aku menggendongnya.
Adibah tersenyum menatapku kemudian menenggelamkan wajahnya di dadaku, dengan tangan yang sedang memegang leherku. Tapi dia terlihat sangat ngantuk sekarang. Tunggu tangannya terasa hangat saat menyentuh kulit leherku.
Aku segera mempercepat langkahku untuk segera sampai di kamar. Inilah alasan aku tidak mau memberi Adibah es, apalagi tadi dia sempat pingsan. Setelah sampai, aku membaringkan tubuh Adibah di kasur, kemudian memeriksa suhu badannya.
Adibah membuatku panik hari Ini! Aku segera menuju ke dapur untuk mengambil air hangat kemudian mengopres jidad Adibah.
Suhu badannya semakin panas. Demi Allah, Adibah membuatku sangat panik hari ini. “Kita ke rumah sakit sekarang ya? “ pintahku dibalas gelengan oleh Adibah. Dia terus saja memelukku sambil memperdalam pelukannya.
“Kak Farzan, peluk! “ tegasnya.
“Ini sudah di peluk sayang.”
“Masih dingin, “ ucapnya. Entah bagaimana lagi caranya aku memeluk Adibab.
Aku mencium puncak kepala Adibah. “Tadi aku sudah bilang jangan makan es krim, tapi kamu tetap saja keras kepala.”
Dia diam. Mungkin tidak sanggup lagi untuk berbicara. Tanpa segaja tanganku menyentuh area yang basa di bajunya, kenapa aku seperti ini? Harusnya aku sadar kalau tadi itu hujan!
Aku bangkit untuk mengambilkan baju Adibah, setelah dapat aku kembali. Dengan hati-hati aku membuka kancing baju Adibah, untunglah dia sudah tertidur pulas. Godaan iman lagi ini! Setelah selesai menggantikan bajunya, aku kembali tidur di sampingnya. Untunglah aku tidak sampai khilaf, wajarlah kalau aku khilaf aku ini pria normal dan sekarang aku juga berstatus sebagai suaminya. Tapi harapanku sekarang, semoga aku bisa tahan dengan posisi seperti ini sampai esok hari, bantu aku ya Allah.
●_●
Hampir saja aku bertemu raja Salman, tapi semua itu harus gagal hanya karena suara tangis dari Adibah. Aku segera bangun dan memastikan keadaannya, ternyata dia sedang mengigau.
Jantungku hampir saja copot karena suara tangis Adibah. Selama aku menikah dengan dia, aku baru tahu kalau sedang sakit dia sangat kekanak-kanakan. Aku segera membangunkan Adibah. Aku baru ingat kalau Aqilah sering seperti ini, maksudnya sebelum menikah dia juga biasa demam dan syukurlah, Sultan menitipkan obat demamnya waktu itu kepadaku.
Saat Adibah bangun, aku segera menyandarkan badannya kemudian mengambil air dan obat. “Makan obat dulu ya, “ perintahku.
Mungkin karena tidak sanggup lagi untuk berbicara, Adibah cuma mengangguki perkataanku. Sebelum meminumkan obat, aku menatap wajah Adibah yang begitu pucat, apa dia alergi air hujan?
Setelah meminum obatnya, Adibah kembali membaringkan tubuhnya. “Kamu alergi hujan ya? “ tanyaku pelan-pelan. Rasa ngantukku mendadak hilang saat ini.
“Turunan dari ibu. Ibu juga sering sakit kalau kena air hujan.” Aku mengangguk perkataan dari Adibah.
“Kata ayah, ibu akan sembuh saat ayah menghangatkan tangan ibu, dengan cara menggosok-gosokkan tangannya dengan tangan ibu, “ jelas Adibah. Aku baru mendengar metode penyembuhan yang disebut Adibah, atau karena beda spesialis? Mungkin. “Kak Farzan, Dibah mau kak Farzan lakukan yang seperti ayah lakukan, “ pintahnya yang langsung kuturuti.
“Apa kepalamu sakit? “ tanyaku ke Adibah.
“Lumayan, tapi setelah ini pasti akan sembuh sendiri, “ katanya.
“Kenapa kamu begitu yakin? “
“Rasulullah saat sakit kepala beliau cuma tidur untuk menyembuhkan sakit tersebut. “ (Aku pernah dengar seperti ini keknya)
Aku cuma tersenyum sambil mengusap-ucap rambutnya. Semenjak kejadian itu... Adibah sudah berani untuk melepaskan jilbabnya di depanku. Dibalik balutan jilbabnya, ternyata terdapat mahkota yang begitu indah dan mengkilap, bagaimana kilauan berlian di dasar laut. Aku merasa beruntung karena berkesempatan bisa memiliki berlian tersebut, dan dapat melihatnya kapan pun.
“Kak Farzan! “
“Hem. “
“Peluk. “ Sumpah, dari tadi aku sudah memeluknya, dan dia masih meminta kepadaku untuk memeluknya. Allahu Akbar, kamu harus terbiasa dengan sifatnya ini m Farzan!
●_●
Rasulullah bersabda : "ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik, seluruh tubuh akan baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati. " (HR. Bukhari-Muslim)
Ibnu Taimiyyah berkata :
"Hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila sang raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajurit. " (Majmu'Fatawa 11/208)
●_●