
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
-Apapun yang berstatus milikku tidak akan pernah bisa dimiliki oleh orang lain.
-Tenang saja, sesuatu yang sudah di takdirkan untukmu tidak akan menjadi milik orang lain
●_●
Kayu yang di pakai memukul pria itu, Farzan buat begitu saja, pandangannya beralih menatap istrinya dengan jilbab yang sudah tidak beraturan, dan tentunya juga tidak sadarkan diri.
Untunglah, saat Zahra membawa Adibah keluar, Farzan bisa melihatnya, sehingga dia tahu di mana Adibah dibawa. Farzan sengaja diam, saat Zahra membawa Adibah keluar dari rumah sakit itu, dia mengikuti di mana mereka akan pergi, sampai akhirnya Farzan melihat Zahra keluar dari mobil miliknya dan di sambut oleh seorang pria.
Ada satu lagi yang dia tahu dari Zahra, setelah dari pesantren dia menemukan kebohongan yang telah Zahra dan ibunya lakukan.
“Adiba, bangun Adibah!” Farzan menggoyang-goyankan pipi istrinya.
Tidak mendapatkan respons, dia akhirnya menggendong tubuh Adibah untuk keluar dari gudang tersebut, bukan apartemen yang seperti Zahra katakan.
Sedangkan tubuh pria yang hampir saja menyakiti istrinya itu, sudah tergeletak tak berdaya, Farzan juga sudah menghubungi Mahesa untuk agar segera ke tempat itu bersama dengan polisi tentunya. Sebenarnya dia ingin menghabisi nyawa pria itu, tapi itu tidak mungkin dia lakukan.
Lima belas menit di mobil, dia akhirnya sampai di rumah sakit sebelumnya dia tempati. Semua orang melihat ke arah mereka, beberapa di antaranya melihat iri kejadian ini, seorang dokter bernama Farzan bisa menggendong seorang wanita pertama kalinya di depan umum, seorang dokter yang mungkin bisa dikatakan memiliki banyak pengangum di rumah sakit ini, bukan hanya suster suster tapi juga beberapa dokter wanita. Ini terdengar terlalu berlebihan, terlalu mengagumi seseorang manusia, mungkin ke cintanya belum sempurna terhadap rasulnya.
Setelah sampai si ruangan UGD, Farzan segera memeriksa keadaan istrinya dengan di bantu dengan beberapa rekan suster yang bertugas saat ini. Dia melihat, terdapat luka di kepala istrinya, ini semua pasti ulah pria tadi! Batin Farzan. Dia kembali menemukan luka di bagian belakang kepala istrinya, ini pasti sangat sakit. Dengan tangan gemetar dengan terus beristigfar Farzan melakukan apapun semampunya, bukan cuma satu luka tapi ada beberapa luka yang karena kecelakaan kembali parah karena peristiwa tadi.
Untunglah, Farzan tidak melanjutkan cutinya, kalau sampai mungkin dia tidak tahu bagaimana keadaan istrinya saat ini.
Setengah jam berlangsung, akhirnya semuanya selesai, Adibah segera akan dibawa ke ruangan inap. Dengan pikiran yang sudah tidak tahu ke mana, Farzan tetap diam sambil terus beristigfar dengan kedua tangannya memegang tangan kanan Adibah.
Farzan mengusap punggung tangan istrinya, sambil sesekali menciumnya dan berharap setelah mencium tangannya Adibah bisa segera bangun dan dia bisa melihat senyum manis istrinya kembali.
Dan tidak lupa, buku berwarna ungu itu juga ada di sampingnya. Farzan ingin membacanya, tapi mungkin terdengar tidak sopan jika hal itu dilakukannya. Mana mungkin Farzan kan sekarang suami Adibah,bukannya istri harus bisa jujur dengan suaminya?
Tapi, tidak! Farzan kembali mengurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Tangannya berali mengambil Alquran yang ada di atas meja pasien. Barang siapa membaca satu huruf dari al-Qur'an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat. H. R Tirmidzi.
Bacaan demi bacaan telah dia lalui, tanpa sadar air matanya kembali menampakkan dirinya, ah! Kenapa Farzan terlihat sangat rapuh? Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir'. QS. Yusuf : 12.
Drttt. Drttt.
Suara terdengar dari tas Adibah, mungkin ponselnya. Tangan Farzan meraih tas tersebut tanpa sengaja mendapatkan pesan dari,
Pika ucup 💕💜
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Adibah.
Kata Fauzi kamu lagi masuk rumah sakit ya? Aku dan anak anak yang lain mau ke situ, tiga puluh menit lagi kita akan sampai, soalnya harus kumpul dulu dan harus beli makan dulu. Sehat terus sayang.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bersamaan dengan itu, jari Adibah tiba-tiba bergerak Farzan segera bangkit dan mencoba untuk memeriksa keadaannya, dia terdengar meringis kesakitan, sambil memegang kepalanya yang mungkin terasa sakit karena benturan keras.
"Allahu akbar," ucapnya. Dia bangkit dari tidurnya dengan sedikit bantuan dari Farzan. "Kak Farzan? "
"Kak Farzan. Di sini? Adibah takut! " teriak Adibah sambil berusaha mencari badan Farzan dan kemudian memeluknya.
“Jangan takut, sayang. Aku akan selalu ada di dekatmu Adibah,” ucapnya sambil mengusap-usap punggung Adibah.
“Kenapa Kak Farzan tidak tinggalkan Aku? Aku kehilangan penglihatan sekarang.”
Setelah diperiksa CT scan, Otak Adibah tidak dapat menerjemahkan informasi yang dikirim oleh mata. bagian otak yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi berada dibagian belakang, dan bila bagian ini tidak bisa menerjemahkan ini dapat menyebabkan kebutaan ini semua karena kecelakaan yang dialami Adibah.
Farzan mendekati Adibah dan memeluknya. "Ini cuma benturan kecil di otak kamu, setelah operasi pasti bakalan sembuh, lihat saja."
"Bagaimana kalau sebaliknya? Aku tidak bisa melihat lagi?"
"Jangan bicara seperti itu, Pemali! Agar resepsi pernikahan kita diadakan secepatnya," rayu Farzan, sambil memeluk tubuh kecil istrinya. "Berdoalah agar kamu segera sembuh! Tadi Pika kirim pesan, katanya dia mau kesini dengan teman temanmu yang lainnya. "
"Fauzi ikut?" Farzan diam. Dia berpikir, Kenapa dia mempertanyakan ini? Dan kembali teringat dengan pernyataan Fauzi beberapa hari yang lalu. Sebenarnya dia masih belum yaking seluruhnya tentang hal itu. Tidak mungkin juga kalau harus mempertanyakan sekarang. "Kak Farzan! Apa Fauzi akan datang? "
Aku tersentak sadar dari lamunanku. "Dia tidak akan datang! " tegasku.
Dia menaruh kepalanya di dada Farzan, sambil mengusap-usapnya. "Aku jujur dengan kak Farzan. Dulu aku pernah suka dengan Fauzi dan setelah kejadian kemarin a-"
"Adibah. Tidurlah, istirahatkan badanmu untuk operasian besok. Jangan terlalu banyak bicara, lihat bibirmu sangat pucat. Kamu mau makan? " tanya Farzan. Dia berpikir, Adibah ingin mengatakan kalau dia tidak menginginkan resepsi pernikahan mereka di adakan, sama seperti yang Fauzi katakan.
"Tapi kak Farzan ini penting! "
"Kesehatan kamu lebih penting saat ini. Tunggu di situ aku ambilkan bubur untukmu," ucapnya, kemudian bangkit dan menuju meja dan mengambil bubur untuk Adibah. Sebenarnya ini alasan agar Farzan untuk menghindar dari kenyataan itu. Lucu!!!
Farzan membereskan ruangan yang sedikit agar berantakan itu, dengan agak suasana hati yang berantakan Farzan tetap bisa terlihat tegar di hadapan Adibah. Dia kemudian memberikan makanan untuk Adibah.
Adibah mengangguk. “Kak Farzan, kapan aku bisa melihat kembali? “
Farzan diam. Sebenarnya dia juga tidak tahu kapan dan apa risiko ketika operasi berlangsung. “Cepatnya.” Itulah kata yang berhasil dikeluarkannya.
Merasa mendapatkan jawaban yang baik, Adibah tersenyum. “Yeahhh, Adibah bisa melihat kembali. Kalau Adibah bisa melihat kembali, Adibah mau- eh! Aduhh Adibah harus dewasa! “ Farzan tersenyum melihat tingkah Adibah, ternyata alasan cara biaranya berubah itu karena dia ingin terlihat dewasa. Dia terlalu mengemaskan.
"Adibah, " panggil Farzan sambil menyuapi bubur ke Adibah.
"Ada apa? "
"Kamu tahu, Apapun yang berstatus milikku tidak akan pernah bisa dimiliki oleh orang lain." Entah kenapa Farzan tiba-tiba mengatakan hal seperti ini, mungkin dia terlalu mencintai wanita yang sedang berada di dekatnya.
"Tenang saja, sesuatu yang sudah di takdirkan untukmu tidak akan menjadi milik orang lain," ucap Adibah sambil tersenyum dengan tangan yang meraba wajah Farzan.
'Jika kamu tidak bisa mencintaiku, biarkan aku sendiri yang mencintaimu seumur hidupku. Biarkan ini menjadi urusanku dan tanggung jawabku kelak bersama Allah.' -Farzan.
●_●
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat Dear Imamku, kita harus senantiasa berfikir atau berprasangka baik kepada orang lain dalam kehidupan sosial. Cara ini dapat ditunjukan dengan saling menghormati dan bekerja sama dalam hal kebaikan, tidak ada rasa curiga, iri, dengki, atau prasangka prasangka buruk lainnya.
Allah Subhaanahu Wata'ala telah berfirman.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيم
"Hai orang orang beriman jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka itu dosa. Dann janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang." (Q.S Al-Hujarat[49] 12)
Jazakillahu Hhayran Katsiran
Semoga bermanfaat..
●_●