
-Adibah
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
"Untuk mendapatkan anak juga, caranya bagaimana ya?"
●_●
Setelah memeriksakan ke dokter bersama Jihan, ya Jihan aku yang menghubungi dia dan menceritakan masalah ini dengannya, dan akhirnya aku pun menemukan solusi, Jihan menyuruhku untuk memeriksa ke dokter kandungan dan benar sekarang aku positif hamil.
Ternyata selama ini saat moodku mudah berubah, ternyata itu semua karena hormon dari calon bayiku. Demi Allah aku sangat bahagia sekali, tidak lama lagi keinginanku untuk memiliki anak akan segera tergapai, dan tidak lama pula kak Farzan akan di panggil ayah.
Aku terus saja mengelus-elus perutku yang rata, tidak nyangkah saja kalau dalam perutku ini ada manusia. Sekali lagi terima kasih ya Allah, karena telah memberiku kebahagiaan seperti ini, aku tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini, bagaimana mimik wajah kak Farzan saat dia tahu hal ini.
“Saking bahagianya sampai-sampai lupa kalau ada saya di sini, “ sindir Jihan yang duduk di sampingku, dia sedang berpura-pura marah, aku tahu itu.
Aku tersenyum, dengan mata berkaca-kaca. Kulihat Jihan menghapus air mataku. “Aku sangat bahagia Jihan, “ ucapku kembali memeluknya.
“Memang ya, kalau sudah menikah, kabar yang paling membahagiakan selanjutnya adalah hamil.”
“Semoga kamu segera menyusul,” ucapku. Aku tahu, dia pasti sangat mengingatkan seorang anak juga seperti diriku.
“Doakan saja terus. Abdul terus saja keluar tugas, kemarin saja setelah resepsi pernikahan kami, dia harus keluar kota. Menyebalkan sekali kan? “ tanya Jihan.
“Jadi ceritanya kalau kamu sudah menerima dia? “
“Jauh sebelum resepsi pernikahan kita. Aku kira dia kasar, ternyata tidak, dia sangat baik pengertian pula. Rajin ibadah, hafalannya juga lebih banyak dari hafalanmu Adibah. Dan kurasa, aku telah menemukan cinta sejatiku, “ katanya, dengan tangan yang memegang tanganku juga.
“Syukurlah kalau begitu,” kataku. “Bagaimana ya, mimik wajah kak Farzan kalau dia sudah tahu tentang kabar ini, kalau aku hamil. Pernikahan kita sudah lama dan sekarang aku sudah mendapatkan hasilnya. “
“Saya yakin, dia akan menggendongmu sambil melompat-lompat kegirangan. “
“Jangan sampailah, bisa-bisa bahaya untuk calon bayi kita. “
“Tapi Adibah. Untuk mendapatkan anak juga, caranya bagaimana ya? “ ucapan Jihan berhasil membuatku untuk mencubit pinggangnya. Dia meringis kesakitan. Aku tidak tahu seberapa polosnya perempuan yang ada di depanku ini. Mana mungkin aku menceritakan hal itu, awalnya aku pun tidak tahu tapi setelahnya aku sudah tahu dengan jelas. “Aduhh, Adibah sakit tahu! “ kesal Jihan, sambil mengusap-usap bekas cubitanku tadi.
“Kamu akan mengerti sendiri kok, “ bisikku sambil tertawa.
“Apanya yang lucu coba? Cubitanmu sakit sekali, ih! “
“Maaf-maaf. Kamu sih tanyanya aneh-aneh, seharusnya kamu pertanyakan hal ini ke suamimu,” kataku yang masih tertawa.
“Tapi tidak harus cubit kali. “
“Aku yakin setelah menanyakan ini, kamu akan tahu alasanku mencubit pinggangmu.”
Aku cuma tertawa mendengar perkataan Jihan. “Gak usah di bahas."
Di saat kehasikan bercanda dengan Jihan, aku menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 20:23 dan kak Farzan belum juga pulang, sedangkan Jihan sudah mendapatkan telepon dari mertuanya, jelas saja sekarang sudah larut.
Aku menemani Jihan hingga ke parkiran bawah, kurasa dia tidak pulang sendiri, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil mendekati Jihan yang sudah menjatuhi aku.
Dengan perasaan bercampur aduk, aku kembali ke apartemenku. Apa kak Farzan marah denganku? Bukankah tadi aku mengakatan kalimat yang paling Allah benci? Meminta cerai ke suami sendiri? Aku tidak tahu sedosa apakah aku saat ini, sehina apakah aku.
Setelah sampai di apartemen, aku menjatuhkan bongkok di sofa. Tiba-tiba aku kelaparan, dan kak Farzan belum juga pulang. Dan lagi, aku kembali merasakan mual, dengan berusaha menahan mual, aku berlari ke wc. Perutku rasanya kosong saat ini, ingin mual tapi aku begitu kekurangan makanan dalam tubuhku.
Aku tidak bisa lagi untuk bergerak, daya tahan tubuhku mungkin sudah melemah. Samar-samar terdengar pintu terketuk. Aku berusaha untuk bangkit, mungkin itu kak Farzan.
Ya Allah, aku sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik ini ke kak Farzan, rasanya aku menjadi semangat. Kembali, pintu itu berbunyi.
“Tunggu, “ ucapku kemudian membuka pintu. Aku terus saja tersenyum hingga aku bisa melihat jelas wajah kak Farzan, kenapa aku sebahagia ini? “Kak Farzan aku h-“
Himpir saja aku menyelesaikan perkataanku kak Farzan terlebih dahulu memotongnya, memberiku syarat menggunakan jari telunjuknya.
“Aku minta cerai!”
Entah sadar atau tidak kak Farzan mengucapkannya, tapi hal itu mampu membuat senyum di wajahku seketika menghilang. Dadaku terasa begitu sesak. Sejak kapang persediaan oksigen menjadi kurang seperti ini?
Aku mencoba kembali tersenyum. "Kak Farzan masuk dulu, " kataku.
"Aku akan mengurusi semuanya, kamu berdoa saja semoga perceraian ini berjalan lancar. "
Perkataan kak Farzan membuatku sesak. Aku bagaikan tertusuk seribu anak panah, dan setelah itu ragaku menjadi hilang seketika. Aku yang salah di sini, aku yang meminta dia menceraikan aku bukan? Bukankah apa yang kita tanam akan kita tuai di kemudian hari? Bahkan perkataanku baru beberapa jam yang lalu tapi aku sudah mendapatkan semuanya!
Entah sadar atau tidak, air mataku tiba-tiba mengalir bersamaan dengan kepergian kak Farzan. Ya dia meninggalkan aku sendiri. Sungguh berat menanggung ini sendirian.
Andai aku tahu kalau kedatangan kak Farzan hanya untuk menyampaikan hal ini, sendari tadi aku akan berdoa kepada-Nya agar menunda lebih lama lagi kedatangannya.
Aku menutup pintu. Kakiku rasanya tidak bertulang lagi, aku terasa begitu rapu saat ini, badanku terjatuh begitu saja ke lantai.
“Arghh!!” teriakku frustrasi.
Mata elang yang kurindukan, lesung pipi di pipi kirinya terpancar saat iya tersenyum, sekarang hanya akan menjadi khayalan semu.
Sungguh, aku tidak menyangka kalau kak Farzan akan mengucapkan kalimat itu, aku pun tidak pernah membayangkan hal itu, bahkan menginginkan kata itu terucap demi Allah aku sangat tidak menginginkannya.
Dengan sekuat hati aku menahan semuanya. Air mataku sendari tadi mengalir. Aku tidak tahu kalau hormon kehamilanku bisa sefatal ini, aku hilang kendali saat itu ya Allah.
Mungkin saat orang lain pergi, aku tidak akan seperti ini, aku masih memiliki tempat untuk bercerita, tapi saat ini kak Farzan yang pergi, lalu ke siapa aku menceritakan masalah ini? Kapan hubungan kita berjalan dengan mulus?
Impianku untuk menjadi keluarga yang sempurna kini hilang, dan hancur begitu saja, hanya karena tiga kata yang keluar dari mulut kak Farzan waktu itu.
Tiba-tiba aku kembali teringat pepata bugis yang sempat ayah katakan kepadaku, 'Pada lao, Teppada upe' (Takdir setiap orang berbeda-beda.) Dulu mungkin aku pernah menginginkan takdir yang seindah dengan Rasulullah dan Aisyah dan kurasa itu mustahil dan aku teringat dengan kisah Habibie dan Ainun dan sekali lagi hal itu juga mustahil, takdir setiap orang berbeda-beda.
''Jangan kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." QS. Al-imran; 139
●_●
"Dan jika kamu khawatir ada perseteruan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam [juru damai] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam [juru damai] dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada pasutri itu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. " (An Nisa' : 35)"
●_●