Dear Imamku

Dear Imamku
Panggilan Baru



Setibanya di Rumah, Aisha mendapati Azma yang sudah bersedekap dada


"Bagus, pulang jam segini." kata Azma sembari melirik jam yang menunjukkan pukul 10 malam


Aisha mengerinyitkan dahinya heran, "Kenapa emangnya? Kalo aku pulang malam?" tanya Aisha


"Lagian aku bareng kak Naufal wlee!" cibir Aisha membuat Azma mendengus kesal


Aisha terkekeh melihat wajah kesal Azma begitu menyenangkan mengganggu Azma


"Apa tengok-tengok?!" kesal Azma


"Nggak papa, pengen aja."


"Oh ya kadang aku suka mikir, Kak Azma itu kakak aku apa bukan ya?" tanya Aisha sembari mengetikkan jarinya ke dagu


"Oh jadi kamu nggak mau punya Abang kek gue?!" kesal Azma


Aisha malah menggeleng, "Mau kok, kata siapa nggak buktinya kak Azma jadi kakak sekarang, dan aku fine-fine aja."


Naufal yang mendengar ucapan istrinya itu tertawa pelan, "Azma, Lo kalau mau debat sama istri gue mending jangan deh, di jamin Lo yang bakal kalah ntar."


Azma mendelik kesal. Menyebalkan. Lebih baik ia kembali ke kamarnya daripada berlama-lama disini yang bisa membuatnya naik darah


"Ke kamar yuk?" ajak Aisha


Naufal menoleh dengan tersenyum miring, "Jangan aneh-aneh." kata Aisha yang menyadari arti senyuman Naufal


Kemudian ia berlalu dari sana menuju kamarnya, "Eh kok di tinggal sih?!" panik Naufal lalu mengejar Aisha yang sudah duluan menaiki tangga menuju kamar


Saat sampai di kamar ia tak mendapati Aisha di kasur,


Hoek


Hoek


Naufal masuk ke kamar mandi "Kenapa?" tanya Naufal


"Mual." jawab Aisha singkat, wajahnya pucat


Naufal membantu mengurut tengkuk Aisha agar ia bisa mengeluarkan muntahnya, "Udah?"


"Udah. Ngantuk." kata Aisha. Naufal mengangguk lalu membantu Aisha untuk ke kasurnya


"Kak Naufal jangan kemana mana ya," kata Aisha yang tengah berbaring


"Nggak akan. Aku bakal disini temanin kamu tidur ya." kata Naufal mengusap-usap surai panjang Aisha


"Kak Naufal," panggil Aisha dengan mata terpejam


"Iya kenapa?" tanya Naufal lembut


"Jangan marah ya."


"Marah kenapa hm?"


"Aku takut Kak Naufal marah karena aku masih berharap sama Kak Nazeef." ucap Aisha tanpa berniat membuka matanya


"Aku nggak pernah marah Sha,"


Sesaat setelah Naufal mengatakan hal itu deru napas Aisha terdengar beraturan itu artinya dia sudah tidur


Naufal menatap lamat wajah perempuan yang kini sudah menjadi istrinya dan akan segera menjadi ibu dari anaknya


Entah kenapa setiap Naufal menatap wajah itu membuatnya semakin merasa bersalah


Sudahlah daripada ia memikirkan hal yang nggak seharusnya ia pikirkan lebih baik Naufal tidur karena besok harus bekerja


***


Pagi hari yang indah, bukan karena cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela melainkan indah karena saat Naufal terbangun yang pertama kali ia lihat adalah wajah seorang gadis yang cantik dan natural masih terlelap di sebelahnya


"Sha, bangun."


Naufal menoel-noel pipi tembem istrinya agar segera bangun dan sholat subuh


"Mas, jangan ganggu aku." erang Aisha dengan mata yang masih tertutup sempurna


Naufal mengerinyitkan dahinya heran tumben sekali panggilan Aisha pada dirinya berubah


Tiba-tiba kedua mata indah itu terbuka, "Hah?! Kak Naufal?!" panik Aisha yang langsung terduduk


Naufal ikut terkejut bahkan ia sampai mengusap dada karena Aisha


"Astaghfirullah, kamu ngapain? Habis mimpi apa sampai kaget gitu lihat aku?" tanya Naufal heran


Aisha malah terkekeh di tanya seperti itu, "Aku habis mimpi pas lahiran anak kita, aku manggil kakak itu mas,"


"Yaudah panggil mas aja," kata Naufal terkekeh


"Nggak ah, Aisha belum bisa." Aisha menyengir


"Di biasain."


"Nggak bisa."


"Kan bisa itu karena terbiasa."


"Udah ah kak, ayo sholat subuh ntar keburu habis waktunya."


Naufal mengangguk lalu keduanya pun segera bangkit dari kasur untuk melaksanakan sholat subuh


Usai sholat subuh Aisha membantu Bundanya di dapur sedangkan Naufal bersiap-siap untuk ke Rumah Sakit


"Mmm masak apa nih?" tanya Azma yang turun dari kamarnya dengan pakaian kerja


Pun dengan Naufal yang juga ikut turun, "Harum banget."


"Masak makanan kesukaan Kak Naufal."


"Wahh! Berarti kesukaan aku ada juga dong?" tanya Azma namun mendapat gelengan keras dari Aisha


"Nggak ada! Ini khusus buat mas Naufal!"


Naufal mengerinyitkan dahinya kala sebuah kalimat menyeruak ke dalam pendengarannya


Ia menatap Aisha yang kini menutup mulutnya sendiri, "Kelepasan."


Naufal terkekeh dengan tingkah Aisha, "Yaudah sini, makan dulu." Aisha mengangguk lalu mengambilkan nasi untuk Naufal


"Ah ayah kamu itu ada panggilan mendadak tadi subuh-subuh kali," ujar Layla


"Sibuk banget ya." Aisha mendesah pelan


Padahal tujuannya datang kemari itu ingin banyak waktu dengan sang Ayah tapi rupanya Radit yang tak memiliki waktu untuknya


"Nih kak, nasinya." kata Aisha lalu menyerahkannya pada Naufal


Mereka semua sarapan bersama tak terkecuali dengan Azmi yang baru bangun tidur


Aisha geleng-geleng kepala melihat Azmi, "Kebo banget!" cibir Aisha


Azmi mendelik pelan, "Kayak yang nggak pernah aja."


"Emang nggak pernah." kata Aisha membela diri


"Sha, aku berangkat dulu ya." kata Naufal


"Iya kak, jangan lupa makan siang, jangan lupa buat selalu konsentrasi apalagi pas operasi." kata Aisha saat sampai di depan pintu rumah


"Iya sayang,"


"Oh ya jangan lupa buat selalu rinduin aku ya." kata Aisha terkekeh


"Iya cantik."


"Tapi aku lagi nggak semangat nih, butuh vitamin." ucap Naufal


Aisha mengerinyitkan dahinya, "Eh emang iya ya? Kok aku nggak pernah liat Kak Naufal minum vitamin?"


"Vitaminnya kan kamu."


"Ihh Kak Naufal gombal!" Aisha mendengus malas "Udah sana gih berangkat, ntar telat."


"Cium dulu baru pergi." kata Naufal


"Ihh tadi gombal sekarang modus!"


"Aku serius loh, nggak akan berangkat sebelum di cium."


"Udah nggak usah macem-macem deh, ada Bunda sama Kak Azmi juga."


"Mereka kan di dalam."


"Ada tetangga."


"Kan nggak kelihatan."


"Ada setan."


"Nggak ada alasan lagi. Buruan." desak Naufal "Dari pada aku yang cium kamu di bibir."


Aisha melotot pada Naufal, bisa-bisanya dia mengancam Aisha


Aisha mendengus malas, lalu mendekatkan wajahnya pada Naufal kemudian melirik kiri kanan, kemudian mengecup pipi Naufal dengan cepat


"Udah kan, buruan pergi sana." kata Aisha


"Di bibir dong." goda Naufal


Aisha kembali melotot "udah sana berangkat, nggak usah macam-macam deh."


Naufal terkekeh, "Iya aku berangkat dulu ya," Aisha menyalimi tangan Naufal


Naufal berjongkok, "Anak ayah yang baik, ayah pergi dulu ya. Jangan bandel-bandel."


"Iya Ayah." Aisha menyahut dengan suara yang lucu


"Yaudah aku berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati ya."


Naufal tersenyum kemudian menjalankan mobil itu menuju Rumah sakit. Aisha kembali ke dalam ia akan membereskan rumah ini sebelum pulang ke apartemen


***


"Kak Azmi bagii ihh!" sebal Aisha saat Azmi membawa kabur cemilan


Meskipun itu punya Azmi, tetap saja ia tak terima prinsip Aisha jika sudah tergeletak di meja maka punya siapapun itu akan ia serbu


Karena siapa lagi yang suka cemilan selain dirinya, Azmi dan Layla.


"Enak banget, punya aku juga!"


"Ya bagi lah, nggak kasihan apa sama keponakan kakak? Dia juga pengen ngemil." ujar Aisha


"Kamu yang mau ngemil apa bayinya?!" tanya Azmi sebal


"Hehe, aku nya juga."


Azmi memutar mata malas ia meletakkan keripik kentang miliknya di meja, dengan gesit Aisha merampasnya begitu saja


Azmi menggeleng pelan, "Rakus."


Namun Aisha tak peduli, yang ia mau sekarang adalah cemilan dan ia sudah mendapatkannya


"Sha, aku mau nanya." tiba-tiba Azmi berkata dengan serius


"Nanya apa?" tanya Aisha


"Menurut kamu Naufal ganteng nggak?" tanya Azmi


Aisha mengerinyitkan dahinya heran, "Ganteng. Kenapa gitu kak?"


"Kalau ganteng, kemungkinan perempuan yang deketin dia banyak nggak?"


Aisha semakin dibuat penasaran, "Ya mungkin aja. Dia kan baik udah gitu ganteng."


"Emang ada apa sih kak? Jangan bikin penasaran deh."


"Nggak ada apa-apa, cuma nanya aja."


"Ih aneh tau!" Azmi mengedikkan bahunya acuh kemudian berlalu dari sana meninggalkan Aisha yang masih kebingungan dengan perkataan Azmi


Aisha merasa kalau Azmi tengah menyembunyikan sesuatu yang amat sangat penting buat Aisha namun memilih tak menceritakannya pada Aisha


Aisha pun tak tahu apa maksud Azmi tadi dan alasannya tak menjelaskannya