
Bismillahirahmanirahim
Jika kamu merasa beban mu lebih berat dari orang lain, itu karena Allah melihat mu lebih kuat dari orang lain.
●●●●●_●
"Assalamualaikum, Adibah! Adibah kamu di mana? " Saya mulai berteriak saat pintu sudah terbuka.
Sunyi. Apartemen seakan tidak berpenghuni. Apa saya terlambat? Biasanya kalau Parepare ke Makassar memerlukan empat jam untuk sampai, tapi tadi saya berhasil sampai dua setengah jam saja. Dan saat sampai, saya malah tidak mendapatkan satu orang pun di sini.
Atau mereka sudah ada di rumah sakit?
Saya mendekati telepon rumah untuk menghubungi umi atau Aqilah. Tapi tunggu, siapa yang menghubungi Riska kalau Adibah sakit? Masa iya Adibah yang menghubungi Riska langsung?
Setelah panggilan tersambung dengan umi. Jawaban yang saya dapatkan malah membuat saya semakin pusing.
"Bagaimana ceritanya Adibah bisa sendiri Umi? Saya kan pernah bilang kalau Adibah gak boleh sendiri! Apalagi sekarang keadaan Adibah yang sangat posesif terhadap saya, Umi. "
Umi hanya diam, beberapa saat setelah pertanyaan saya baru mendapatkan jawaban. "Abi baru pulang dan umi harus segera ke sana Nak. Terus Aqilah juga hari ini sedang sidang. Kita juga sudah minta izin ke Adibah sebelumnya."
"Jadi sekarang Adibah di mana? " tanya saya sedikit nada kesal ikut keluar. "Soalnya ponsel saya ada di Makassar dan saya tidak tahu apakah Adibah sempat menghubungi saya atau tidak. "
"Tadi sempat ada telepon masuk. Kalau dia sudah di bawa ke rumah sakit Sumantri. Coba kamu ke sana. Umi juga sudah di jalan ini, bareng abi kamu. Terus Aqilah juga sudah mau berangkat ke rumah sakit. "
"Ya sudah. Saya akan tiba ke sana lima menit lagi. Umi pasti yang akan sampai duluan. Jadi Umi harus hubungi saya bagaimana keadaan Adibah. "
"InsyaaAllah keadaan Adibah akan baik-baik saja. "Aamiin Umi, semoga Allah mengabulkan ucapanmu.
Saya menaruh telepon itu dan mulai berlarian turun dari apartemen. Di mobil malah membuat saya semakin khawatir. Saat ini saya tidak memikirkan keadaan saya, karena Adibah telah membuat saya semakin khawatir dengan keadaan dirinya.
Detak jantung saya semakin memburu, beberapa bulir keringan mulai bermunculan di pelipis saya. Saya hampir saja menabrak motor yang berlawanan jalur dengan saya. Rasanya konsentrasi saya benar-benar hilang kalau seperti ini.
"Maaf," kata saya ke pada pria bermotor itu tadi. Padahal jelas-jelas dia yang salah jalur.
Pria itu tiba-tiba mengetuk kaca pintu mobil saya. Mimik wajahnya terlihat kesal. Beberapa kata keluar dari mulutnya tapi saya tidak bisa mendengarnya dari dalam.
"Kalau berkendara lihat-lihat pak! Mobil sebagus ini gak bisa lihat orang bermotor, percuma! " Pria itu mulai berteriak saat saya membuka pintu mobil saya.
"Iya. Iya maaf Pak. Saya harus ke rumah sakit segelas, istri saya melahirkan," jelas saya.
"Alah. Bilang saja mau lari dari tanggung jawab kan, lo? "Seharusnya yang minta maaf itu dia bukan saya tapi dia, bukannya seperti ini! Lama-lama saya ikut kesal kalau begini.
"Yang salah di sini siapa? Bapak kan? Bapak yang melawan jalur kan? Kok marah ke saya? " Saya mulai terlihat sangat kesal, siapa yang tidak kesal coba?
"Ah! Pokoknya bapak harus ganti rugi! Lihat, motor saya harus ancur begitu. " Pria itu menunjuk motornya yang sedikit lecet itu.
"Iya nanti saya ganti! Istri saya sedang di rumah sakit! "
"Alah. Alasan. Ujung-ujungnya pasti hilang! " ucapnya berapi-api.
"Mobil saya juga rusak Bapak! Oke di sini saya ada uang lima ratus ribu untuk perbaikan motor Bapak! Saya harus ke rumah sakit! " Saya memberikan beberapa lembar uang ke bapak tadi, kemudian melanjutkan perjalanan saya kembali.
Entah ini hanya rencana atau apa. Bagaimana bisa terjadi kecelakaan di tempat sesepih ini.
Perjalanan saya harus terhambat!
Saya kembali melanjutkan perjalanan. Kecepatan saya mengemudi sudah melebihi batas rata-rata saya mengemudi. Pemikiran saya tentang anak dan istri saya membuat konsentrasi saya benar-benar hilang.
Sampai di rumah sakit, saya terus berlarian untuk mencari ruangan bersalin. Rasanya jalan semakin jauh padahal dari tadi sudah berlarian.
Saat tepat di depan pintu. Nafas saya semakin memburu, beberapa bulir keringat hinggap di pelipis saya dan jantung saya seakan ikut merespons semuanya.
"Assalamualaikum, "kata saya.
Tidak ada yang menjawab salam saya. Umi dari tadi hanya diam, menatap kaca yang menampilkan Adibah begitu pun dengan Aqilah. Dan tunggu, Jihan ada di sana? Berarti yang menghubungi Riska bukan Adibah tapi Jihan.
"Umi, ada apa? " Saya mendekati mereka. Seakan ada yang mereka sembunyikan.
Perut Adibah juga sudah mengecil. Saya bisa melihatnya dari kejauhan. Apa anak saya dan Adibah lahir prematur? Tidak masalah, Allah memiliki rencana untuk ini semua.
"Akak. Sejak kapan di sini? " Oh, dari tadi tidak ada yang menyadari kehadiran saya? Dasar mereka! "Akak sudah makan? Mau aku pesankan makanan dulu akak? Kebetulan aku juga mau makan ini. " Aqilah menawari saya. Dia berlagak!
"Iya Nak. Abi juga ada di luar," lanjut umi sambil memegang tangan saya.
Saya tersenyum. "Umi, Aqilah. Saya jauh-jauh dari Makassar ke Parepare hanya untuk ketemu Adibah dan anak saya. Masa iya saya langsung makan dulu? "
"Kebetulan Adibah sedang tidur dulu, Nak. Kamu makan aja dulu. " Umi kembali memaksa saya.
Saya paham sekali dengan keadaan umi.
"Ada apa Umi? " tanya saya menginterogasi.
"Tidak ada apa-apa Nak. Keadaan Adibah juga baik-baik, kok. "
"Kamu makan dulu, nanti Umi beritahu. " Nada suara umi terdengar begitu lembut.
"Jihan. Ada apa sebenarnya? " Saya pernah mendengar cerita Adibah kalau Jihan orangnya susah berbohong, kalau bohong pandangannya ke mana-mana.
"Sa... saya... tidak... tahu Kak! " Dan benar, pandangan Jihan entah ke mana.
"Adibah keguguran! " Aqilah akhirnya membuka semuanya.
Hati saya seakan mencelis ketika kata terakhir itu terdengar begitu mantap di telinga saya. Saya seakan kehilangan keseimbangan untuk berdiri.
Allah benar-benar melakukan ini lagi kepada saya.
"Dan keadaan Adibah juga krisis. Dia hampir kehilangan tekanan darahnya. Sebelumnya dokter memberikan pilihan, antara keselamatan ibunya atau anaknya tapi umi meminta agar Adibah yang di selamatkan! "
Tidak! Anak saya. Mereka pasti bohong.
Ya Robb. Ini sudah kedua kalinya, kenapa?! Bahkan saya telah kehilangan anak saya sebelum melihat wujudnya langsung.
Keluarga 'Imran ('Āli 'Imrān):200 - Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
"Kenapa kalian seceroboh ini? Kenapa tidak menunggu jawaban dari saya langsung? Huh! "
Terlihat sangat jelas kalau umi menangis. Menyesali perbuatannya. Amarah telah membuat saya seperti ini.
Saya memeluk umi. "Maafkan saya Umi. " Walau tangis saya tidak terlihat tapi rasanya benar-benar begitu menyakitkan. Sedihnya lelak lebih mendalam, itu benar.
Tidak ada jawaban dari umi. Tapi respons dari pelukannya sangat terasa. Dunia saya seakan ikut hanyut dengan tangisan umi. Beberapa khayalan yang telah kami susun mendadak langsung hancur.
"Terus di mana anak saya Umi? " tanya saya setelah menjauhkan badan umi. "Saya masih bisa melihat wajahnya kan Umi? Saya masih bisa menggendongnya kan Umi? " Harapan saya sangat besar untuk hal ini.
"Nak. Jika kamu merasa beban mu lebih berat dari orang lain, itu karena Allah melihat mu lebih kuat dari orang lain. "
Saya mengangguk menatap wajah umi. Saya bisa melihat wajah orang yang juga ikut berduka di dekat saya. Tidak ada air mata, tapi mata bengkak menunjukkan kalau dia tidak kalah sedihnya dengan saya.
●_●
Saya bisa melihat tubuh gadis kecil kami, dia seakan hanya tertidur saja dan tak ingin pergi meninggalkan kami. Kesedihan tidak bisa saya jelaskan saat ini, wajahnya, lebih mendominasikan wajah saya daripada Adibah. Hanya mata Adibah yang sama dengannya.
Ruangan ini tertutup, saya tidak melihat Ac, kipas angin atau saluran angin. Tetapi kenapa tubuh saya mendadak menggigil? Tangan saya seakan bergetar entah kenapa.
Matanya masih tertutup, dia masih hidup. Satahun lagi dia akan berjalan bersama kami! Kita akan ke taman, atau ke monumen cinta sejati Habibie dan Ainun. Kalau tidak bisa, ya kita di dalam mobil saja menikmati keindahan kota kecil ini.
Anak gadis saya pasti tidak kalah cerewet dengan ibunya, tidak kalah pemalunya seperti ibunya dan, saya tidak sanggup lagi memikirkan ini!
"Assalamualaikum! " Seseorang masuk memecahkan keheningan. Suara lemah lembut itu menyadarkan saya. Adibah nampak ngos-ngosan habis lari. "Kak Farzan," panggil Adibah.
Berselang beberapa detik, beberapa orang juga datang. Saya tahu kenapa Adibah bisa ke sini.
"Kak Farzan. Anak kita sudah lahir. " Adibah memeluk saya.
Saya tidak tahu harus apa saat ini. Apa mereka belum memberitahukan ke Adibah?
"Kak Farzan. Kenapa mereka bilang kalau anak kita pergi? Itu anak kita, kan? " Adibah menunjuk bayi kami. Saya hanya mengangguk saja. "Anak kita hanya tidur saja. Dia akan bangun dan sebentar lagi di-"
"Adibah! " Saya membentak Adibah.
"Anak kita sudah tiada! Anak kita bahkan belum melihat dunia ini tapi Allah sudah mengambilnya." Saya memandang umi yang hanya berdiri di luar, memeluk abi.
Adibah tampak mulai terisak.
"Enggak! Anak kita harus kembali lagi," kata Adibah. Segera mungkin Adibah langsung berlarian. "Suster! Dokter! Sus-" Saya menarik tangan Adibah, membuat langkahnya terhenti.
"Dia sudah tidak ada Adibah."Mungkin suara saya terdengar parau saat ini.
"Tidak, Kak Farzan. Anak kita itu masih ada, aku yakin. San-"
"Stop Adibah! Kau harus sadar, kalau dia sudah pergi! " Saya berusaha menyadarkan Adibah.
"Anak saya masih bisa hidup, kan? " katanya dengan nada lirih.
Saya hanya bisa memeluknya, perlahan air matanya menyentuh kulit dadaku. Tidak lama saat itu, tiba-tiba tubuhnya ambruk.
Saya mulai panik. Dan membawa Adibah ke ruangannya. Mereka yang tadi hanya diam berdiri, mulai mengejar saya.
Ada cairan kental berwarna merah pas di perut Adibah. Darah itu pasti karena bekas jahitan operasi sesar Adibah. Saya semakin mempercepat langkah, rasa takut seakan memenuhi pemikiran saya.
Tidak peduli dengan tatapan mereka yang melihat ke arah kami. Jangan sampai hal buruk terjadi dengan Adibah, jangan sampai!
●_●
Senin 26 Agustus