Dear Imamku

Dear Imamku
Hampir Saja



Hari ini Naufal tak pergi kemana mana dan kebetulan jadwal nya sedang kosong alias libur, karena Aisha minta untuk di temani maka Naufal menemani perempuannya itu


"Kamu nggak capek apa?"


Naufal bertanya heran saat melihat Aisha yang sibuk mondar mandir di depannya


Sudah terhitung setengah jam Aisha seperti itu, tepatnya ketika mereka duduk di kursi taman


Dan yang membuat Naufal meringis adalah perut Aisha yang semakin membesar dan Aisha yang semakin aktif maka Naufal harus semakin protektif


Aisha nyengir kemudian ikut duduk di sebelah Naufal, "Nggak, kan biar baby kita sehat,"


"Iya tapi aku ngilu liat kamu mondar mandir mana perutnya gede lagi," Naufal menggerutu 


Aisha terkekeh, ekor matanya menangkap penjual es potong lalu ia beralih menatap suaminya kemudian kembali menatap pedagang tersebut


Seolah mengerti arah pandang Aisha Naufal langsung menggeleng, "Nggak boleh."


Hal itu mampu membuat Aisha cemberut, kesal? Jelas. Ia hanya ingin makan es potong apa itu tak boleh?


"Cuma sekali kok, please ya," pinta Aisha


"Nggak, aku nggak mau baby kita kenapa napa ya," kata Naufal


Aisha semakin menekuk bibirnya, "Yaudah, aku marah."


Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari membelakangi Naufal


Laki laki itu menghela nafas sebelum akhirnya beranjak dari sana tak lama kemudian ia kembali dengan dua tangkai es potong yang di selimuti coklat


"Nih aku beliin," kata Naufal


"Nggak mau, aku kesal sama Mas," jawab Aisha masih dengan membelakangi Naufal


Cowok itu mendudukkan dirinya di kursi lalu memutar badan Aisha agar menghadap ke arahnya


Aisha menurut namun tampang wajahnya masih cemberut


Naufal memberikan es itu ke hadapan Aisha, namun sepertinya Aisha memang sudah terlanjur kesal


"Makan nggak?" kata Naufal


"Nggak."


"Kamu tega mau ngebuang es ini?"


"Iya."


"Serius?"


"Iya."


"Yaudah."


"Biar aku aja yang makan," sambung Naufal lalu mulai memakan es itu


Aisha malah di buat menganga karena Naufal membujuknya sesingkat itu sekaligus di buat ngiler dengan es yang di makan Naufal


"Mau nggak?" tawar Naufal sekali lagi


Ingin menjawab mau namun Aisha terlalu gengsi jadilah ia menjawab tidak


Dan Naufal kembali memakan es itu hingga tinggal sedikit, sambil melirik Aisha


Ia tahu sebenarnya bumil itu menginginkan es ini, namun karena gengsi sudah menolak es lezat ini


Aisha meneguk ludahnya sendiri saat Naufal benar benar menghabiskan dua es potong itu


Baru saja Aisha ingin protes Naufal sudah lebih dulu membungkam mulut Aisha dengan mulutnya


Aisha terkejut namun beberapa detik kemudian ia memejamkan matanya


Cowok itu tersenyum melihat Aisha yang terpejam, satu kata yang menggambarkan Aisha saat ini adalah cantik


Tanpa sadar Aisha membuka mulutnya dengan senang hati Naufal memberikan es yang ternyata memang untuk Aisha


Sensasi dingin memenuhi rongga mulut Aisha, perempuan itu sedikit tersentak saat hawa dingin es masuk tiba tiba


Namun setelah itu ia baru sadar kalau ternyata Naufal sedang mencari kesempatan


Aisha menjauhkan bibirnya dari bibir Naufal, lalu sedikit membenarkan posisi duduknya


Naufal tersenyum miring melihat kegugupan Aisha


Perempuan itu berdehem pelan untuk menghilangkan kegugupannya namun saat melihat ke Naufal ia malah semakin gugup


"Gimana enak nggak es nya?" tanya Naufal dengan nada jahilnya


"Pasti enak dong, kan double dapat es sekaligus ciuman." cetus Naufal membuat pipi Aisha merona


Astaga, bisa bisanya ia blushing di saat seperti ini


"Ya nggak?" tanya Naufal dengan jenaka


"Mass ihh!" Aisha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Naufal


Naufal tertawa melihat Aisha yang merona, perempuan itu mengangkat kepalanya "Malu ihh, banyak orang."


Naufal melirik kiri kanan, "Nggak tuh sepi malah cuma ada tukang es potong yang tadi,"


"Itu juga jaraknya jauh di sana." lanjut Naufal


Aisha mencubit perut Naufal, "Ihh ngeselinn!"


"Berarti kalo di tempat sepi boleh? Kamar contohnya?" tanya pria itu dengan alis yang sudah naik turun


Aisha menganga, pertanyaannya menjadi boomerang buat dirinya, Aisha kembali mendaratkan wajahnya di dada Naufal


"Sekalian buat anak kan sayang," kata Naufal lagi


"Masss!" geram Aisha


"Anak kamu yang pertama aja belum lahir," kata Aisha


"Ohh berarti kalau udah lahir, boleh dong?"


Aisha menutup mulutnya lagi lagi ia salah ngomong


Laki laki tak berhenti menggodanya, "Mass kamu Diem!"


"Iya sayang aku tutup mulut kok, asal cium dulu."


Aisha melotot tajam ke arah Naufal, pipinya tak bisa berhenti memerah akibat ulah Naufal


Saat mereka sibuk bercanda ria, mata Aisha tak sengaja melihat siluet seorang perempuan yang sangat ia kenal


Namun kali ini perempuan itu menggunakan masker, membuat Aisha tidak bisa melihatnya dengan jelas


Namun Aisha merasa familiar dengan sorot mata itu


Naufal yang menyadari istrinya terdiam menggoyangkan tangannya di depan Aisha


"Kamu kenapa?"


"Hah, oh nggak papa cuma lagi mikirin aja."


"Mikirin apa?"


"Mikirin apa nanti aku masih bisa ketemu sama kamu mas,"


"Maksudnya?"


"Iya maksudnya setelah aku ngelahirin baby twin, apa aku masih ada di dunia?"


"Nggak boleh ngomong gitu," cecar Naufal tak suka dengan perkataan Aisha barusan


"Aku hanya takut mas,"


"Mas lebih takut,"


"Makin hari perut kamu makin buncit," kata Naufal "Itu artinya bentar lagi dua anak kita bakal lahir,"


Aisha masih setia mendengarkan perkataan Naufal, "Aku takut. Takut belum bisa jadi ayah yang baik."


"Aku percaya, kamu bisa jadi ayah yang baik buat anak anak nanti,"


"Pulang yuk mas, udah sore mana mendung tuh," Aisha menatap langit yang berwarna kelabu itu "Takutnya hujan,"


Naufal tersenyum kemudian merangkul Aisha, "Ayo, es potongnya masih mau?" tanya Naufal


"Nggak mas, udah puas tadi." kata Aisha membuat Naufal cekikikan


"Kita langsung pulang aja."


Pasutri itu melangkah dengan lebar menuju mobil namun karena sedang hamil besar membuat Aisha sedikit kesulitan bergerak


Jadilah Naufal menuntunnya hingga ke mobil, setelah itu mereka pulang ke rumah


"Mas, kamu ngerasa nggak?" tanya Aisha


"Apa?"


"Pernikahan kita udah hampir satu tahun, dan sikap kamu makin hari semakin baik, juga posesif." ujar Aisha


Ingin rasanya Naufal mengelak bahwa dirinya posesif namun tak jadi karena Aisha kembali melanjutkan kalimatnya


"Dan sekarang anak kita udah mau lahir, jujur Aish bahagia banget," kata Aisha dengan tangan yang mengelus perutnya


"Aku harap, kebahagiaan ini terus berlanjut sampai ke depannya," Naufal mengangguk sembari tersenyum manis


"Semoga."


Naufal tak bisa fokus menyetir saat melihat wajah Aisha, tiba tiba saja sebuah mobil melesat dengan cepat dari arah berlawanan


"Mas awas!" pekik Aisha membuat Naufal buru buru membanting stir dan menginjak rem mobilnya


Yang membuat kepala Aisha terbentur dashboard mobil, beruntungnya Naufal bisa mengatur keseimbangan mobilnya jika tidak maka mobilnya akan terhempas dan terbalik


Naufal memeriksa kondisi Aisha, ia sangat terkejut. beberapa pengguna jalan terlihat mendekat ke arah mobilnya


Naufal keluar dari mobil dan berusaha mengeluarkan Aisha yang terlihat syok dengan kejadian barusan, napasnya sedikit terengah engah


"Mbak sama mas nya nggak papa?" tanya seorang pengguna jalan


"Tadi kita sempat liat mobil kalian hampir ketabrak,"


"Kita nggak papa pak Bu,"


"Ini mbaknya di kasih dulu air minum, keliatan syok banget," ujar seorang wanita paruh baya


Naufal menerimanya dan segera memberikannya pada Aisha "Terimakasih Bu,"


Ia membantu Aisha untuk minum, "Mas, a-aku takut."