Dear Imamku

Dear Imamku
Aku mencintai mu!



"Buat apa malu? Aku ini suamimu, dan sudah sah menyentuh kamu, apa pun tanggapan orang terhadap kita, itu tidak perlu yang penting itu tanggapan Allah ke kita."


●●●●●_●


     Kak Farzan terkekeh sambil menggenggam tanganku menuju mobil yang ada di depanku. Menyebalkan!


     “Kamu tahu, ini pertama kalinya aku ke sini. Biasanya aku cuma lewat saja saat mau ke rumah sakit Sumatri atau Fatimah. Dan aku tidak pernah menghayalkan akan bisa ke sini, apalagi bersama seorang wanita cantik seperti kamu,” ucapnya sambil mengayun mobil itu. “Rasanya aku seperti kembali ke masa lalu, cenderung menggombal.”


     “Orang pernah bilang, cinta adalah kekuatan hidup, kuharap kak Farzan tidak pernah menghilangkan kekuatan hidupku.” Aku kembali mengayun mobil juga. Sambil melihat wajah kak Farzan yang sedang menyetir mobil itu.


     “Bagaimana bisa aku melakukan itu, menghilangkan kekuatan hidupku. Saat ini, posisimu sangat berarti di hidupku, Adibah. Mencintaimu karena-Nya adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. “


     “Dibah pun juga mencintai kak Farzan karena-Nya. “


     Kak Farzan tersenyum. Mempercepat laju mobil hingga aku sedikit kewalahan saat mencapai tempat mulai tadi. Aku tertawa melihat kak Farzan turun dari mobil itu dengan keadaan sedikit kewalahan.


     “Kenapa melihatku seperti itu? “ tanya kak Farzan.


     Aku tertawa, “Kak Farzan lucu kayak aya-“


    Astagfirullah. Tiba-tiba aku rindu Ayah. Ya Allah, bagaimana keadaan ayah sekarang? Memang benar, hal yang paling sulit itu melupakan. Waktu bersama ayah selama tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan dalam sekejap, apalagi kepergian baru beberapa hari.


     Katanya, cinta pertama seorang wanita di dunia ini Ayahnya, itu benar. Saat usiaku baru menginjak sehari di dunia ini, aku belum mengenal cintai tapi sudah bisa merasakan cinta. Cinta seorang ayah, yang membesarkan aku hingga saat ini, hingga dia sudah pergi, dan tidak akan kembali lagi. Untuk ayah, aku rindu, rindu sangat.


    Kak Farzan menyentuh bahuku. “Tidak ada yang abadi di dunia ini. Lepaskan, lupakan akan ada hal indah menanti kamu di luar sana. Allah bersama orang yang sabar. “


    Aku cuma tersenyum kaku membalasnya. Entah di mana posisiku saat ini. Aku percaya, Allah memiliki alur yang indah untukku kedepannya.


     Kak Farzan bangkit dari duduknya. “Mau makan nasi goreng kan? “ tanyanya saat posisi kita sudah sejajar.


     “Iya, tapi Dibah capek,” keluhku.


      “Mau saya gendong? “tawarnya, sambil mengerlipkan kedua matanya. Dia menggodaku.


     “Dibah berat lo, kak. “


     “Beratmu cuma empat puluh sembilang, aku pernah mengangkat beban  jauh dari berat badanmu. “ Dia mengejekku!


     Aku langsung melemaskan badanku dan duduk di aspal. Ini sebenarnya tips agar kak Farzan menggendongku tanpa aku minta langsung. “Kaki Dibah sakit.” Ini cuma akting ya. Bagaimana bisa sakit, saat kita mengayun tadi, aku cuma sesekali saja, sedangkan kak Farzan selalu.


     “Yaudah, aku gendong mau? “ tawarnya tapi tidak kuhiraukan. Huh! Kapan dia peka! “Yaudah”


     Kulihat dia membungkukkan badannya, dan menggendongku. Sumpah, kenapa aku tiba-tiba maluuuuuuuuuu!!


     “Kak Farzan lepasin! “ tegasku. Tidak sampai teriak sih, kalau sampai aku teriak, bisa-bisa semua orang mengira kak Farzan akan menculikku.


     Tidak ada respons, kak Farzan malah semakin mempercepat langkahnya. Entah bagaimana tanggapan orang-orang saat melihatku di gendong.


    “Kak Farzan lepasin! Kalau enggak Dibah teriak! “ ancamku.


    “Mau aku bantu teriak? “


     Aku tidak menghiraukan perkataan kak Farzan. Sendari tadi aku selalu menutup mataku. Aku malu melihat orang sekitar yang mungkin berpikiran aneh kepada kami berdua.


     Hingga, langkah kak Farzan tidak lagi terasa. Aku membuka mataku menatap sekeliling, dan kak Farzan menurunkan badanku dari gendongannya. Di depanku sudah ada penjual kaki lima, yang sudah siap melayani kami.


     Aku menatap kak Farzan yang juga sama menatapku. “Kamu lapar kan? “ tanyanya.


     Aku mengangguk.“Kak Farzan, Dibah malu. “


     Dia menarik pipiku gemas. “Buat apa malu? Aku ini suamimu, dan sudah sah menyentuh kamu, apa pun tanggapan orang terhadap kita, itu tidak perlu yang penting itu tanggapan Allah ke kita. “


     “Kak Farzan sih gendong Dibah. Jadi malu kan sekarang. “ Aku tidak menatap wajah kak Farzan lagi. Rasanya pipiku memanas sekarang, mungkin sudah berubah warna menjadi merah padam, ahhhhh tidak!!!!


     “Dengar. “ Kak Farzan mengangkat daguku agar aku bisa melihat wajah, tampannya. “Aku Suamimu. Di saat kamu sakit, aku yang akan bertanggung jawab atas sakitmu itu, di saat kamu bahagia, aku pun yang harus bertanggung jawab atas hal itu. Jadi saat aku menggendong kamu tadi itu sebuah tanggung jawabku karena membuatmu mengayun tadi. Sekarang itu kamu adalah tanggung jawabku Adibah Sakhila Atmarini. Mana bisa aku melihatmu kesakitan seperti tadi. “


     Aku kehabisan kata-kata lagi sekarang. Padahal tadi cuma akting saja, tapi kenapa malah ngepaberin seperti ini? Aduhhh, kak Farzan. “Tapi tadi. Tadi... Dibah cuma bohong kalau Dibah capek,” ucapku. Aku tidak lagi menatap wajahnya. Bisa dibilang kak Farzan akan marah.


     Seseorang memegang tanganku. “Mungkin ini rezekiku bisa mengangkat tubuh istriku yang pertama kalinya.”


     Hening menyelimuti kami berdua. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memulai berbicara. “Kapan makannya? “ tanyaku membuat kak Farzan berhenti menatap layar teleponnya.


     Dia tersenyum. “Ayo.”


    Saat sesi makan, aku sudah menghabiskan dua piring setengah. Padahal niatku mau jaim di depan kak Farzan, tapi makanannya terlalu enak melebihi enaknya masakanku, jelas saja. Lihat saja kalau aku sudah kenyang nanti, akan kuminta resep ke mas penjual berkumis tebal kiri itu.


     Kulihat kak Farzan yang sibuk dengan ponselnya, dari tadi dia sudah kenyang padahal makannya cuma beberapa sendok daripada mubazir lebih baik aku makan saja, tidak apa kan, khadijah juga sering memakan sisah suaminya. Terlihat aneh juga sih kelakuan kak Farzan, lihat wajahnya begitu tegang, apa kebelet BAB? Mungkin.


     “Kak, Dibah, udah kenyang. “ Makanku sudah habis yah, jadi tidak mubazir lagi.


     Sebenarnya, aku belum kenyang, tapi kalau aku tetap makan bisa-bisa kak Farzan BAB di celana, ihh!


     Dia kembali tersenyum. “Oke, ayo. “


     Saat di mobil, hening kembali menyelimuti kami kembali. Kak Farzan sibuk dengan pikirannya. Sesekali memerhatikan ponselnya, terus akunya kapan? Menatapku saja tidak! Aku mengambil ponselku yang ada di tasku. “Seorang suami mendadak tuli karena tidak pernah memerhatikan istrinya dan malah sibuk dengan ponselnya,” kataku dengan pura-pura membaca berita di ponselku, sebenarnya tidak ada yah. “Dan lebih parahnya lagi, suaminya itu bisu karena tidak pernah peka!” Naudzubillahimindzalik. Tadi aku cuma bercanda ya Allah.


     Tanpa sengaja pandanganku menangkap senyum di bibir kak Farzan. “Wahh, nama beritanya apa? Kasihan ya suaminya,” ucapnya. Sok sedih! “Adibah.”  Aku menatap wajah kak Farzan yang tersenyum menampilkan lesung pipinya. “Tolong jangan kutuk suamimu ini karena tidak peka. Tapi lain kali, kalau kamu punya masalah dengan aku jelaskan jangan ngasih kode, mana paham kode-kodean seperti itu, apalagi kode wanita. “ Kak Farzan menarik pipiku, dengan pandangan fokus ke depan.


     Aku merintis kesakitan. Mengusap-usap pipiku yang di cubit tadi. “Kak Farzan sakit tahu! “


     “Badan kurus pipi tembem. Mungkin ini anugerah untukku.” Aku menatap wajah kak Farzan. “Untuk kucubit, “ tambahnya.


     “Dibah kesal sama kak Farzan! “


     “Padahal boneka beruang udah aku pesan, tapi hari ini mungkin harus aku cancel deh. “


     Aku menatap wajah kak Farzan. “Kenapa harus di batalkan? Bonekanya buat Dibah saja, daripada di batalkan, kan kasihan penjualannya kalau seperti itu. “


     “Kamu mau? “


     “Iya Dibah mau. Boneka beruangnya yang warna coklat yah, Dibah gak suka yang warna putih hitam. “


     “Kumat lagi. Kalau warna hitam, putih itu namanya panda bukan beruang, Adibah sayang. “


     Aku tersenyum. Tadi niatnya bukan untuk melawak ya. Tunggu. “Memangnya apa bedanya beruang sama panda? Kan sama-sama besar, sama sama lucu. “


      “Astagfirullah, Adibah. Apa waktu sekolah dasar kamu sering bolos? “


     Aku menggeleng. “tapi Dibah lupa. “


     Dada kak Farzan kembang kempis. “Astagfirullah,” gumannya.


●●●●●_●


   Sesampainya di depan apartemen, Adibah harus sendiri lagi. Saat hendak sampai tadi, Farzan harus mengisi bensi dulu, ini semua karena mobilnya katanya perlu diisi.


     Adibah melangkahkan kakinya dengan malas. Sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana juga terlihat sepi sangat. Mulutnya tidak hentinya mengucapkan nama-nama Allah, itu yang Adibah lakukan saat ketakutan. Saat sudah sampai di depan apartemennya. Adibah memutar perlahan knop pintu itu.


     Kenapa tiba-tiba lampunya padam, apa sedang mati lampu? Adibah mundur beberapa langkah, dia menatap sekeliling yang begitu terang. Sesuatu mengganjal di rasakan sekarang.


     Saat tubuhnya sudah masuk seluruhnya, seseorang di rasakannya berlarian. “Siapa disana? “ teriak Adibah.


     Adibah meneteskan air mata terharu. “Bagaimana kalian datang ke sini? “


     “Kamu tahu kan kalau Abdi dan Andi itu rajanya maling, sandi wifi saja bisa dibobol apalagi cuma kunci apartemen mu ini,” ucap Dani sambil tertawa. Sedangkan yang ditunjuk malah senyum tidak bersalah -Andi dan Abdi tidak kembar ya, mereka saudara tapi tidak kembar begitu pun dengan Aldi dan Ardi.


     “Astagfirullah. Besok-besok jangan lupa ajarkan saya ya,” ucap Adibah bercanda.


     Sesaat kemudian, Farzan tiba-tiba masuk, saat itu pula teman Adibah melongo. Yang dipikirkan saat ini adalah dokter Farzan itu paman Adibah bukan suami, biarlah setidaknya dia tidak tahu rahasia Adibah.


     “Subhanallah. Dibah  dia pamanmu? “ tanya Sriwahyuni. “Sebentar lagi, kamu bakalan jadi keponakan saya nih. “


     Adibah tersenyum kaku, begitu pun Farzan. Farzan tadi sempat heran dengan semua ini, saat masuk pun tadi dia melihat Fauzi, dia tidak suka itu.


     Fauzi melangkah mendekati Adibah, kemudian memberikan boneka beruang itu ke Adibah. “Boneka ke 13 yang aku berikan, menandakan kalau persahabatan kita sudah ke tiga belas tahun. Dan saat ini aku ingin menyatakan perasaanku ke kamu Adibah,” ucap Fauzi. “Kamu mau gak jadi pacarku? “


     Adibah menatap Farzan yang mulai melangkah menjauh meninggalkan segerombolan remaja yang sedang merayakan ulang tahun Istrinya. Sial, pasti saat ini Farzan kembali kecewa ke Adibah lagi. “kamu tahu kan tentang Al-Isra ayat 32. Kamu tahu juga kan kalau aku sangat sayang ke ayahku, mana mungkin aku membuat ayah terjebak di dosa ini hanya karena aku. Aku tidak boleh egois. Bukannya aku mau mempermalukanmu karena menolak kamu, tapi aku mengingatkan kamu atas dosa yang mungkin kamu anggap sepele ini, “ jelas Adibah.


     “Bagaimana kalau kamu terima ini. “ Fauzi memberikan boneka beruang itu ke Adibah.


     Tunggu ini bukan beruang tapi panda. “Kata kak. Eh maksudnya paman aku, ini bukan beruang, tapi panda yang hitam campur putih.”


     “Dulu aku juga pernah bilang kalau ini panda bukan beruang. Tapi kamu bilang apa, panggilan sayang untuk si panda.” Fauzi hendak menarik pipi Adibah.


     “Fauzikan tukang bo’ong.”


     Sriwahyuni berdeham kemudian berkata, “Hey tayooooooooooooooo! “


     “Apaan sih! Berisik bodoh!” kesal Dani.


     “Suara juga cempreng!” tambah Nurpika.


     “Bodoh amat! “ ketus Sriwahyuni. “Tapi ngomong-ngomong, kamu lupa bawa obat nyamuk!  Jadi, sekarang kita yang jadi obat nyamuknya.“ Mereka semua terkekeh.


     Sedangkan di dalam kamar, Farzan sudah tidak tahan atas hal yang terjadi saat di ruang tamunya. Bagaimana anak-anak itu bisa masuk? Dan sebenarnya dia juga memiliki kejutan untuk Adibah tapi mungkin saat ini harus di batalkan. Dia sudah bahagia dengan kejutan dari temannya.


     “Kamu tahu, di pita boneka beruang itu ada cincin, sekarang aku ingin melamarmu, Adibah. Aku tidak meminta jawabmu sekarang, tapi nanti, setelah kamu benar-benar yakin dengan jawabanmu. “ Fauzi tersenyum.


     “Ya Allah. Romantisnya adegan yang ada di depanku ini, “ teriak Dani, Sri dan Nurpika. Mungkin mereka sudah janjian untuk berteriak seperti ini!


     “Berisik lo! “ kesal Aldi.


     “Siapa sih! “ balas Sriwahyuni.


     Adibah kembali tersenyum kaku. Dia kembali teringat dengan Farzan. Dia harus menghentikan segala acara ini. “Kamu tahu, paman aku galak lo, bisa-bisa kalian dimakan hidup-hidup sama dia. “


     “Astagfirullah. Ganteng-ganteng galak? Untung ganteng, bagaimana kalau sudah jelek terus hidup, terus galak, entah itu kutukan atau apa! “ ucap Dani.


     “Iya, jadi kalian pulang saja dulu. Besok lanjut di sekolah. Ok. “


     Tanpa basa-basi seluruh teman Adibah meninggalkan apartemen itu. Keadaan kembali sunyi. Apa kak Farzan sekarang marah ke Dibah? Batin Adibah.


     Fauzi kembali mendekati Adibah. “Jangan lupa jawabannya ya. “ Fauzi mengerlipkan matanya.


    “Fauzi udah malam, pulang sana. Kalian semua pulang saja duluan sana besok lanjut ya. “


     “Awas kalau besok kamu gak ke sekolah! “ ancam Nurpika sambil memperlihatkan tangannya yang terkepal itu.


     “Iya, aku janji bakalan datang. Cepat sana pulang! “


     Ruangan itu mendadak sunyi. Adibah harus menyelesaikan masalah ini, apa pun risikonya.


     Ia menutup pintu apartemen itu kemudian, perlahan langkahnya menuju kamar Farzan. “Assalamualaikum, kak Farzan.”


     Tidak ada jawaban. Adibah berpikir, Farzan pastinya marah. Suami mana yang tidak marah saat istrinya dilamar pria lain? Suami mana yang tidak cemburu saat istrinya mendapatkan cincin dari pria lain?


     Rasanya kepala Adibah terasa pusing karena ini. Biasanya teman sekelasnya selalu merayakan ulang tahunnya di sekolah, tapi kenapa tahun ini harus di rumah Adibah? Ralat, apartemen Farzan. Mungkin setelah ini peran dunia ke dua bakalan terjadi lagi.


     “Kak Farzan jangan marah ke Dibah ya. Dibah janji bakalan buang boneka beruang ini, eh salah boneka panda maksudnya, kan kak Farzan bilang kalau warnanya hitam putih itu panda. Atau kak Farzan mau sama boneka ini? Ambil saja kak, Dibah ikhlas, asal kak Farzan beliin Dibah boneka beruang yang sangat besar ya,” jelasnya.


     Tiba-tiba pintu itu terbuka. Farzan pastinya marah saat ini, lihat saja, lampu kamarnya sudah dimatikan.


     “Kenapa? Mau tidur sama aku? “ tawar Farzan.


     Adibah mengangguk. Lagian dia juga sudah halal untuk Farzan. “Tapi, kak Farzan harus tutup mata Adibah pake tangan kak Farzan ya? “ Farzan mengangguki perkataan istrinya. “Terus lampunya harus nyala, tapi kalau mau dimatikan kak Farzan harus peluk Dibah! “ tegasnya.


     “Iya bawel,” ucap Farzan, sambil menarik hidung istrinya. “Jangan berdiri di situ terus. Udah kayak mau minta sumbangan saja. “


     Adibah melangkah masuk, mendahului suaminya. Farzan menyentuh bahu Adibah yang berjalan membelakanginya, kemudian menyalahkan lampu kamarnya.  Perlahan Adibah berbalik, dan lagi, kejutan kembali mendatangi dia. Farzan memberikan boneka beruang yang sesungguhnya, bukan beruang yang berwarna hitam dan putih ya, itu bukan beruang tapi panda.


     “Selamat ulang tahun Istriku. Maaf, aku tidak seromantis teman kelasmu, aku hanya berusaha agar kamu senang karena pemberianku ini. Boneka ini, tidak ada cincin seperti yang dia berikan, tunggu, buat apa, kamu juga sudah ada cincin dan itu pun juga pemberianku. Dan bonekanya juga besar, seperti yang kamu mau.”


     Adibah meraih boneka itu. “Kak Farzan tahu, Dibah lebih senang menerima hadiah dari kak Farzan sekarang. Kak Farzan mau boneka beruang ini? Eh salah, panda maksudnya,” ucap Adibah sambil cengar-cengir.


    Kembali Farzan menarik hidung Adibah. “Maafkan aku Adibah.”


     Adibah mengerutkan dahinya. “Kenapa? “


     “Karena tadi aku bohong kalau bensiku habis. Padahal tadi aku ke toko boneka. “


     Adibah berjinjik ingin menarik hidung Farzan, walaupun agak sulit tapi dia akhirnya bisa menariknya. “Adibah, maklumi kak Farzanku. “


    Farzan mensejajarkan badannya dengan Adibah, kemudian mencium kening istrinya itu. “Semoga Allah Azza Wajallah, selalu meridhoi hubungan kita hingga ke jannanya nanti,” gumam Farzan.


     “Aamiin. Semoga cinta kita abadi seperti Adam dan Hawa. Tiba-tiba Adibah ingat salah satu kisah nabi Allah, Rasulullah SAW dengan Aisyah, umur mereka sangat berbeda jauh tapi cinta mereka sangat abadi, in shaa Allah, seperti kita” gumam Adibah.


     “Aamiin. Maafkan aku Adibah, mungkin besok-besok waktuku untuk kamu terbilang singkat, karena pekerjaanku. “


     Adibah memegang kedua tangan suaminya. “Adibah mengerti. “


     “Terus malam ini jadi tidur bareng? “ tanya Farzan yang akhirnya diangguki oleh Adibah. “terus bonekanya di taruh di mana? “


     “Di tengah,” ucapnya enteng.


     “Astagfirullah. Dua boneka besar itu di tengah? Bagaimana aku bisa peluk kamu? “ keluh Farzan.


     “Kan bonekanya kasihan kalau gak dekat Adibah. “


     Farzan mengambil kedua boneka itu dan menaruh di atasnya. “Dia di sini saja. Katanya biar bapak dokter bisa tidur bareng istrinya.”


     Adibah menatap boneka dan Farzan secara bergantian. “Panda dan beruang. Adibah sama Kak Farzan kan? “ tanyanya dibalas anggukan oleh Farzan. “Yaudah, paluk Dibah sekarang. “


     Farzan tidak menyangka bahwa dia akan menikah dengan gadis yang sangat mudah seperti Adibah bahkan perilaku Adibah juga masih terbilang terlalu labil, tapi entah kenapa Farzan menyukai hal itu, semisal Adibah selalu memasak untuk Farzan, walau terkadang masakan Adibah sebenarnya tidak enak, tapi kalau Farzan berkata makanan istrinya tidak enak, itu sama saja kalau dia memberi talak pertama ke istrinya, itu tidak akan pernah terjadi.


     “Setiap orang pasti berhak mencintai, walau cinta itu hanyalah mimpi. Tapi setiap mimpi berhak untuk di wujudkan.” Adibah kembali mengigau.


     Farzan mengerutkan keningnya. Kemudian tersenyum melihat mimik wajah istrinya.


●●●●●_●


Setiap orang pasti berhak mencintai, walau cinta itu hanyalah mimpi, tapi setiap mimpi berhak untuk di wujudkan.