Dear Imamku

Dear Imamku
Sebuah Keajaiban (2)



بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


●_●


-


-


-


-


-


💜


"Memang cemburu tandanya cinta. Tapi kalau cemburu berlebihan itu tandanya kamu tidak percaya"


●_●


     Hari ini, kita akan kembali pulang ke rumah. Kalian tahu aku sangat bahagia, bagiku selama di rumah sakit, hal yang selalu kutunggu adalah pulang dan akhirnya bisa terwujudkan.


     Aku menyandarkan badanku di sofa sambil menatap Farzan yang sedang mengemas barang-barangku, dia terlihat lucu mengerjakan pekerjaan seperti itu. “Ponsel sudah ada, buku harian juga, boneka beruang kecil juga sudah ada, dan apa ini? Dalaman dan sof-“ aku segera ku raih tas itu dari tangan kak Farzan.


     Sebenarnya aku lagi tidak dapat, hanya saja aku selalu menyimpan benda itu sebagai persediaan, tapi sekarang benda itu membuatku malu! Ahhhhhh, Ayaaaaaaaaaaaaaah!


     “Kenapa? “ tanya Farzan kemudian. Apa dia pura-pura tidak tahu? “Kamu malu? “ ucap kak Farzan sambil tersenyum melihatku. Kutahu kalau sekarang dia mengejekku! Dasar suami tidak sopan!


     “Kak Farzan jahat ih! Kenapa harus ambil benda itu! Dibah malu. “


      Dia bangkit dari duduknya dan mendekatiku. “Buat apa malu? Bahkan aku memiliki hak untuk dirimu termasuk hal intim sekaligus, tidak akan ada yang perlu dibuat malu sekarang. Aku mengerti apa yang kamu inginkan dan kamu mengerti dengan apa yang aku inginkan. “


     “Tapi. Dibah malu!” ucapku sambil menundukkan kepalaku.


     Farzan mengambil tas yang ada ditanganku, dan tidak menghiraukan ucapanku. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. “Kemarin aku buka ponselmu karena ada dua pesan yang masuk, pertama dari Jiji, katanya dia sudah mau nikah lusa. Dan yang kedua Fauzi, katanya,” dia menjeda perkataannya. Aku mengerti, ini salahku kenapa dulu aku menaruh rasa untuk Fauzi dulu! Aku benci masa lalu itu! “Katanya, dia mau mengajak kamu ke pernikahan Jiji dan melupakan kejadian itu. “


      Aku kembali teringat dengan kejadian sebelumnya, dan aku belum menceritakan kejadian itu ke kak Farzan. “Kak Farzan dengerin Dibah yah, jangan di potong kayak marta.”


     “Marta siapa? “


     “Martabak kak Farzan. “


     “Saya kira masa lalu-mu. “ Ya Allah, kenapa kak Farzan terlalu cemburuan!


     “Kak Farzan cemburu? “


     “Aku suamimu, jelas saja aku cemburu, cemburu tandanya cinta dan aku juga memiliki hak untuk cemburu.” Terdengar dari nada suaranya kalau dia sedang kesal, dasar suami jam now.


     “Kak Farzan, memang cemburu tandanya cinta. Tapi kalau cemburu berlebihan itu tandanya kamu tidak percaya.”


     “Ini gak berlebihan Adibah, tapi ini memang hakikatnya sebagai seorang suami. Kalau istri yang salah, yang tanggung jawab siapa? Suamikan? " aku menganggukkan perkataan kak Farzan.


     Kenapa harus bahas soal cemburu-cemburu? Astagfirullah, aku terlalu larut dalam pembicaraan tadi. “Kal Farzan, kembali ke topik pertama,” kataku, yang di sambut tatapan tajam oleh kak Farzan, mimik wajahnya itu lo. “Gak usah ditatap seperti itu, Dibah juga udah suka. Mau muka kak Farzan sejelek apapun kalau Dibah udah sayang mah, itu tidak penting lagi.”


     “Jadi maksudnya aku jelek? “ Sumpah aku tidak bermaksud untuk berbicara seperti ini.


     Aku senyum bersalah. “Enggak. Maksudnya kan kak Farzan seringgg, emhh apa ya? Ehh sering masang muka ganteng, jadi sekarang kak Farzan malah buat seperti tadi, enggak jelek sumpah tapi kegantengannya kurang satu persen,” jelasku diakhiri dengan nyengir.


     “Aku mengerti, semua wanita di sini juga bilang kalau aku ganteng,” ucapnya dengan sombong. Apa karena kupuji tadi jadi dia berlebihan seperti ini?


     Dasar suami berlebihan. “Aku mau tanya.”


      “Apa? “


      “Kak Farzan suka cewek yang cemburuan gak? “


     “Sesuai juga sih, kalau cemburu gak berlebihan ya ga apa-apa. Seperti yang kamu bilang tadi, memang cemburu tandanya cinta. Tapi kalau cemburu berlebihan itu tandanya kamu tidak percaya,” ucapnya mengulangi perkataanku tadi.


     Aku tersenyum menanggapi. Semuanya sudah selesai, tinggal mengangkat barang-barangku dan pulang. Aku rindu Bubu, maksudnya boneka beruangku, aku akan memeluk salah satunya, kalau tidak ya semuanya akan aku peluk. “Kak Farzan. Bonekaku ada berapa semuanya? “


     Kak Farzan mengangkat koperku. Dia diam, mungkin memikirkan perkataan aku tadi. “Mungkin ada dua puluh, “ ucapnya. “Sudah siap? “ Aku mengangguk, kemudian bangkit dari dudukku, tentunya dengan bantuan kak Farzan.


     “Kenapa boneka beruangku bertambah banyak kak Farzan? “


     “Setiap hari aku tembahi. Kamu di rumah sakit sepuluh harikan? Setiap harinya aku kembali ke apartemen dan membawa satu boneka setiap kesana.”


     Alhamdulillah, saat kecelakaan itu, badanku semisal tangan dan kaki tidak ada yang cacat, cuma ada luka di beberapa tempat jadi aku bisa jalan beriringan dengan kak Farzan. Hampir semua orang menatap kearah kami, termasuk beberapa suster dan dokter. Kata kak Farzan, cuma ada beberapa dari mereka yang tahu kalau kita sudah menikah.


    “Kak Farzan,” panggil aku akhirnya berani membuka suara. “Bagaimana dengan Zahra? “


     Kak Farzan tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia diam dulu seakan ada yang mengganjal dari pertanyaan aku, dan akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Itu bukan urusanmu, itu sudah menjadi urusan pihak berwajib sekarang.”


    “Pihak berwajib? “ tanyaku memastikan.


     Kak farzan mengangguk. “Iya, setelah kejadian itu Mahesa sudah melaporkan dia ke kantor polisi.”


     “Kenapa Mahesa bisa tahu?”


     “Masuklah dulu, “pinta kak Farzan saat kita sudah sampai di depan mobil. Aku menuruti permintaannya untuk masuk dan kembali mempertanyakan pertanyaan tadi. “Aku yang menghubungi dia. Andai saja aku terlambat datang waktu itu, aku tidak tahu bagaimana keadaan kamu sekarang.”


     Tiba-tiba aku merinding mendengar perkataan kak Farzan. Merasa jijik sendiri dengan peristiwa itu, andai saja aku tidak mudah percaya dengan Zahra! Ahh aku kira saat aku berbuat baik ke orang lain, maka dia juga akan berbuat baik ke aku tapi nyatanya tidak, dunia tidak sebaik itu.


     “Aku akan mencoba menghubungi dokter psikiater untuk membuat kamu melupakan kejadian waktu itu.”


     “Tidak perlu. Saat aku salat nanti dan aku akan meminta ke Allah untuk membantuku melupakan kejadian waktu itu, in shaa Allah secara perlahan nanti semuanya akan kulupakan."


     “Ta-“


     “Tidak ada yang hal yang manjur kecuali doa kak Farzan. “


     Dan lagi-lagi dia tersenyum menampilkan lesung pipinya itu, terima kasih ya Allah, aku kembali bisa melihatnya.


●_●


      Jam alarm kembali bunyi, apa kak Farzan tidak bisa bangun tanpa alarm ini? Aku segera melepaskan pelukan kak Farzan dari tidurku. Kenapa tangannya berat sekali? Atau memang aku yang terlalu lemah? Aku kembali teringat kejadian semalam, memalukan! Tapi bukankah kita sudah halal? Bahkan itu sudah termasuk pahala untukku dan kak Farzan.


     “Sudah jam berapa? “ tanyanya, dengan suara serak khasnya.


     “Hemn! “


    “Kak Farzan bangun! “ kesalku.


     “Nanti Adibah. “


     “Kak Farzan, setan itu bahagia sama orang yang menunda-nunda waktu salatnya. Bagaimana kalau kak Farzan terlelap dan bangunnya jadi kesiangan? “


     “Atur ulang alarmnya, “


      “Astagfirullah. Kak Farzan harusnya bisa tanggung jawab sama keputusan kak Farzan yang pertama? Kak Farzan sendiri kan yang buat alarm itu berbunyi? “


     “Iya, tapi itu sudah lama aku atur Adibah.”


     “Tapi kak Farzan sendiri yang pasang.”


     “Iya bawel. “ Kulihat dia bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih tertutup. “Kenapa aku lupa mengatur jam itu agar bunyinya sejam lagi dari sekarang? “ kesalnya.


     Dan hal aneh kembali terjadi. Tiba-tiba kak Farzan menabrak pintu kamar mandi. “Makanya kak Farzan kalau bangun tidur itu baca doa, bukan ngomel,” ucapku sambil tertawa.


     Salahkah kalau aku menertawakan suamiku? Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa tahan untuk tidak tertawa sekarang.


     Untuk pertama kalinya aku keluar dari kamar tidak menggunakan jilbab, bahkan saat aku dalam kamar pun, jilbab sering aku pakai.


     Kata ayah, saat suami pergi mandi, istri harus segera mengambil tugas untuk membersihkan kasurnya kalau masih banyak waktu ya ke dapur untuk masak. Ayah, Adibah akan melakukan semua itu, karena sekarang Adibah sudah dewasa.


     Saat aku sibuk dengan urusan memasak, tiba-tiba kak Farzan memanggilku. "Adibah! Bantu aku! "


     Aku segera naik ke kamar dengan perasaan khawatir, sumpah tiba-tiba jantungku tidak berfungsi dengan normal.


     "Ada apa? " tanyaku saat aku sudah naik.


     Kak Farzan berdiri membelakangiku, kemudian duduk di tepi kasur. Tidak lama itu, dia kembali balik dan menatap wajahku. "Kemarilah, " pintanya. Aku segera memenuhi permintaan kak Farzan untuk mendekatinya. "Ini. " tanpa kuduga, dia memberiku sebuah cincin.


     "Terima kasih kak Farzan, " ucapku.


     Dia cuma tersenyum sambil memasangkan cincin itu di jariku. "Salah satu keromatisan Rasulullah yang lain adalah memberikan hadiah kepada istrinya. Dan kamu tahu dia memberikan apa? Dia memberikan istrinya sebuah cincin. "


      "Terima Kasih kak Farzan. " Untuk kesekian kalinya aku mengucap kalimat itu. Tidak lama itu kak Farzan mencium keningku.


     "Aisyah Ra berkata, 'Bahwa Nabi Saw mencium sebagian istrinya, kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudu dahulu,' "(HR Ahmad).


     "Kak Farzan. Dibah malu," ucapku.


     "Aku tahu." Aku mendongak menatap wajah kak Farzan. Rasanya ingin bertanya, Dari mana kak Farzan tahu? Tapi dia terlebih dulu menjawab. "Pipimu memerah, kalau sudah malu."


      "Kak Farzan!" aku mencubit pinggang kak Farzan.


      Kak Farzan terlihat meringis kesakitan tidak lama itu dia memelukku dan tertawa. "Maafkan aku karena mengganggu acara memasakmu. "


     Ya Allah, aku baru ingat dengan masakanku! "Tumis kangkung ku!" Aku segera berlari untuk ke dapur. Kenapa sifat pelupaku kembali lagi?


●_●


   "Adibah! Dasihku di mana? " teriak kak Farzan.


     Aku yang tadi melipat pakaian kini harus turun kembali kebawah. Dengan dasi dan juga sisir untuknya, aku tahu dia akan meminta aku untuk menyisirkan rambutnya kemudian memasangkan dasi untuknya, padahal dia sudah sangat hafal cara memasang dasi bahkan aku pun belajar dari dia.


     "Kenapa lama sekali Adibah? " kesalnya. Padahal perjalanku cuma tiga menit, kenapa dia sangat sensitif hari ini? "Cepat pakaikan aku. Mahesa menghubungi aku, katanya aku harus segera sampai disana, ada operasi mendadak. "


     "Ya sudah duduk," perintahku. Dia kemudian duduk di depanku. Seperti yang kukatakan tadi, dia akan memintaku untuk menyisir dan memasangkannya dasi. "Kak Farzan jangan pulang larut malam ya. Jam tujuh kita ke rumah Jihan, " kataku. Sambil memasangkan dasi untuknya, dan akhirnya selesai juga.


     "In shaa Allah." Aku mencium punggung tangan kak Farzan, setelah itu dia mencium keningku.


     "Bekalnya sudah ada? "


     "Aku lupa kamu taruh di mana?"


     "Tunggu aku ambilkan. "


     "Tidak usah, aku cepat-cepat Adibah. "


     Aku berlari masuk untuk mengambilkan kotak yang berwarna ungu itu. Dia memang selalu lupa untuk sarapan jadi aku selalu menyediakan bekal sebelum dia pergi, tapi selalu saja seperti ini, dia selalu lupa di mana aku menaruh benda itu, padahal letaknya cuma di atas meja.


     "Ini." ucapku setelah kembali. Aku menyerahkan kotak itu ke kak Farzan.


     "Terima Kasih, " ucapnya. Dia kembali mencium keningku, kemudian berlalu pergi.


●_●


-


-


-


-


-


💜


Aisyah Ra berkata, “Bahwa Nabi Saw mencium sebagian istrinya, kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudu dahulu,” (HR Ahmad).


●_●


Syukron katsiraan


Jazzakumullah ya Khair


Salam hangat


Riskaafriani💜