Dear Imamku

Dear Imamku
Perceraian



●_●


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


💜


"Di setiap hubungan itu harusnya selalu ada yang bisa mengalah walau sekalipun bukan kau yang salah. Dan hubungan juga harusnya ada kata Sipakatau¹, Sipakalebbi.², dan Sipakainge."


●_●


     Sudah beberapa kali aku membanting setir, rasanya aku ingin menghancurkan segala hal yang ada di depan mataku. Duniaku terasa begitu hancur saat ini. Aku tahu hukum seorang istri yang minta di talak, Shahi dari Rasulullah  sallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, " wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya maka haram baginya bau surga." HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan. Dan saat aku sadar dengan apa yang terjadi saat itu, benar-benar membuat hidupku begitu tidak berarti sekarang. Aku tidak mau Adibah harus terlempar ke neraka hanya karena masalah ini.


     Adibah, aku tidak tahu ada apa dengannya sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana keinginan dia tentang hubungan ini. Dia terlalu mengedepankan egonya ketimbang menghargai aku. Demi Allah, bayang-bayang kronologis kejadian tadi kembali datang begitu saja.


     Saat aku sampai di panti asuhan, aku segera turun. Semoga saja aku bisa lebih dewasa lagi untuk bisa menghadapi masalah ini. Demi Allah, aku tidak mau kehilangan Adibah di hidupku, bahkan sangat tidak mau.


     Tanpa sengaja, seseorang sudah memulai acara amal tersebut, dan saat bersamaan aku bisa mendengar kata demi kata yang bisa ku definisikan kalau akulah yang dia sebut dalam kalimatnya itu. “Tellu ronna sitinro’,Cinna-e udaani-e , napassengereng.” (Tidak dapat dipisahkan antara Cinta, rasa rindu dan kenangan indah.)


     “Baru sampai? “ tanya Riska dengan senyum khasnya.


     Aku cuma tersenyum menanggapi perkataan Riska. Moodku benar-benar hancur hari ini dan kuharap tidak ada yang tahu tentang ini.


      “Adibah ke mana? Katanya mau ikut? “ Dia masih bertanya.


     Aku diam sejenak,  “Ada di rumah, lagi tidak enak badan, “ dalihku.


    Riska hanya mengangguk iyakan perkataanku, kemudian menyuruhku untuk segera ikut memeriahkan acara itu.


     Sesampainya di sana, aku bisa melihat beberapa anak yang tersenyum bahagia, seakan tidak memiliki masalah di hidupnya. Aku pernah berada di posisinya, bahkan aku bisa juga bahagia walau beberapa tahun hidup tanpa kasih sayang dari ayah, dan ibu.


     Berada di sana, membuatku melupakan kejadian di rumah tadi. Canda tawa anak-anak bisa membuatku sedikit lebih tenang. Mereka sangat beruntung, di masa kecilnya, dia bisa merasakan kehidupan Rasulullah, dan begitupun denganku dahulu. Kita tidak seberuntung orang lain, dan orang lain juga tidak seberuntung kita.


     “Kenapa senyum-senyum seperti itu, Zan? “ tanya Sultan, saat aku sudah duduk di belakang dengannya.


     “Kalau lihat anak seperti ini, bawaanya pengeng bahagia ya, Sultan. “


     Sultan menepuk-nepuk bahuku, kemudian tertawa kecil. “Aku rasa ini pertanda positif deh, Zan. “ Seketika saat itu aku kembali teringat dengan Adibah.


     “Apa maksudmu?”


     “Apa Adibah hamil? “


     “Doakan saja. “


     “Lah, bukan cuma doa, Zan, tapi juga usaha dari kau,” ucapnya sambil terkekeh.


     Aku mencoba untuk membalas perkataannya dengan berusaha tersenyum. “Kamu juga harusnya bisa usaha mendapatkan dia. “ Dia yang kumaksud adalah Qamariah, wanita yang sempat kuceritakan dulu.


     “Ya, alhamdulillah sudah dapat respons positif, ya tinggal dipositif saja, “ ujarnya. Aku tahu dia pasti bercanda sekarang, karena di akhir perkataannya dia tertawa.


    “Halalin dulu lah.”


     Sebelum melanjutkan perkataannya, Sultan tertawa hingga suara tawanya menghilang. “Perempuan bugis susah buat di nikahi, uang panai-nya mahal. Apalagi Qamariah dokter, pasti panai-nya mahal. “


     “Astagfirullah, kemarin kamu hadiakan dia mobil kamu tidak perhitungkan.” Sewaktu Qamariah ulang tahu, dia sempat memberikan hadiah ke gadis itu, bahkan sebelumnya dia juga pernah memberikan sebuah kalung berlian. Sultan memang seperti ini, kalau sudah perihal cinta, dia sudah tidak mempedulikan dengan logikan lagi.


     “Yah siapa tahu ambo-nya (atau bisa diartikan dengan sebutan ayah dalam bahasa Indonesia baku) minta sampai lima ratus juta, kan bahaya,” keluh Sultan. Kalau dipikir-pikir dengan uang segitu, dia bahkan bisa mendapatkan dengan sehari saja, kebetulan ayahnya seorang pemilik perusahaan ternama di Indonesia.


     “Ya sudah kalau begitu, kamu tunggu saja di dahului dari orang lain. Aku sih tidak yakin kalau setelah ini semua akan berjalan lancar.”


     “Kok jadi merinding ya, “ katanya sambil tertawa. “Yasudah nanti aku minta tolong sama bapakku buat melamar dia.”


     Aku bisa melihat dengan jelas, mimik wajah terkejut dari Sultan. “Kenapa begitu? “


      “Tadi kamu bilang, Yasudah nanti aku minta tolong sama bapakku buat melamar dia, ucapanmu seakan-akan bapakmu yang mau melamar bukan kamu, “ kataku, dengan pandangan fokus menatap ke depan, menatap Riska yang sedang berbicara di depan anak-anak.


     “Yaelah, kau itu Zan. Kaukan tahu saya bagaimana? Bicara kadang kelebihan kadang juga kekurangan.” Aku hampir saja tertawa mendengar perkataannya.


     Saat asyik berbicara dengan Sultan. Seseorang memanggilku untuk duduk di dekatnya, siapa lagi kalau bukan ustaz Andi, ustaz yang pernah membiayai segala kebutuhan pesantrenku, ustaz yang sudah menganggapku sebagai anaknya.


     Sebelum mendekati ustaz Andi, aku terlebih dahulu berpamitan dengan Sultan. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz,” kataku saat sudah mendekat dengannya.


     “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah baik, kau sendiri? “


     “Alhamdulillah baik juga ustaz “


     “Alhamdulillah kalau begitu. “


     “Ada apa ustaz sampai memanggilku? “ tanyaku langsung ke intinya.


    “Memangnya tidak boleh kalau ustaz memanggilmu? “ tanya ustaz Andi terheran.


     Aku tersenyum kaku. “Bukan seperti itu Ustaz, hanya saja tadi saya lihat ustaz sibuk dengan istri Ustaz.”


     “Tidak masalah. Aku hanya rindu denganmu saja,” ucapnya kemudian memukul-mukul bahuku.


     Kalau dulu tinggiku sampai di sikunya, sekarang aku lebih tinggi beberapa senti darinya. Hanya saja saya sedikit risih berada di dekatnya, dia sudah tidak mudah lagi tapi wajahnya masih terlihat begitu mudah dariku, seakan-akan akulah yang tua disini.


     “Bagaimana masalahmu? “ tanya ustaz Andi. Dia masih ingat curhatanku sewaktu itu, ustaz Andi memang tipikal orang yang tidak pelupa, jauh berbeda denganku.


     “Alhamdulillah baik ustaz. “


     “Tapi kok kalau ustaz lihat dari wajahmu kehilangan apa gitu. Kayak seseorang yang gelisah. “ Astagfirullah, jangan bilang kalau aku dari tadi terlihat kikuk di depan orang-orang. “Tapi ustaz rasa cuma ustaz saja yang bisa melihat kecanggungan pada dirimu saat ini. Kecil tinggal bersamaku bisa membantuku untuk menebak-nebak keadaanmu, Farzan, “ ucapnya seakan tahu isi pikiranku tadi.


     “Begitulah ustaz, tidak ada pernikahan yang mulus, pasti ada saja masalah di dalamnya, entah itu karena materi, fisik, ataupun ekonomi, dan atau yang lainnya. Kurasa saat ini untuk mencapai, sakinah, mawahddah, wa-rahmah sangat sulit.”


     Ustaz Andi kembali tertawa mendengar perkataanku. “Kau itu bertingkah laku seakan baru mengenal cinta saja, “ ucapnya dengan suara tawa yang masih tersisa. “Sakinah, atau bisa di artikan kedamaian, ketenteraman, atau kebahagiaan. Sedangkan mawaddah wa rahmah, adalah kasih sayang. Bisa di simpulkan kalau untuk mencapai hubungan yang sakinah, mawahddah, wa-rahmah, itu tidak harus tanpa pertengkaran, tapi di setiap pertengkaran selalu ada kata sakinah, mawahddah, wa-rahmah, kedamaian, dan kasih sayang,” jelas ustaz Andi. “Kamu paham apa yang ustaz bicarakan? “


     Aku mengangguk paham. “Selalu ada saja hal yang bisa membuat emosi kita meluap, entah itu karena ego atau yang lainnya.”


    “Itulah sebabnya, di setiap hubungan itu harusnya selalu ada yang bisa mengalah walau sekalipun bukan kau yang salah. Dan hubungan juga harunya ada kata Sipakatau¹, Sipakalebbi.², dan Sipakainge. Maksudnya hubungan dalam suami, istri.


     Aku terdiam, sambil kembali mengangguk-angguk paham. Semoga saja masalah antara aku dan Adibah segera berhenti, walau setelahnya membuatku tidak ada lagi hubungan dengannya.


     Shahi dari Rasulullah  sallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, " wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya maka haram baginya bau surga." HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan. Aku tidak mau kalau Adibah sampai mengucapkan hal itu kembali, mungkin ini saatnya aku yang mengakhiri semuanya. Biarlah ini menjadi urusanku dengan sang Pencipta.


     ●_●


Sipakatau¹. Saling memanusiakan , menghormati / menghargai harkat dan martabat kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan ALLAH tanpa membeda – bedakan, siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku.


Sipakalebbi². Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat.


Sipakainge³. Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain.


●_●


Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia. " (Ali bin Abi Thalib)


💜