Dear Imamku

Dear Imamku
Jangan Bersedih (2)



-


-


-


-


-


💜


Aku baru tahu, risiko saat teramat mencintai dan mengagumi seseorang ternyata jauh berbeda dari sebuah indahnya harapan bersama.


●_●


     "MasyaaAllah! " Aku berlari mendekati Adibah yang sedang duduk sambil menatap kearah jendela rumah sakit, seakan dia bisa melihat keindahan alam di sana. “Adibah? Bagaimana keadaanmu? Coba kamu baring, aku periksa keadaan kamu, “ perintahku ke Adibah. Terdengar begitu antusias.


     Dia menggeleng kemudian mengarahkan kepalanya ke arahku berdiri. “Kenapa kamu ke sini? “ tiga kata yang berhasil lolos dari mulut Adibah yang membuatku tidak mengerti. “Kamu puas melihat keadaanku sekarang? Huh! Kamu puas? Andai saja aku tidak pernah menikah dengan kamu, mungkin ini tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan pernah buta seperti ini! “ isak Adibah.


     Siapa pun, tolong bantu jelaskan, kalau ini hanyalah mimpi!


     Aku coba menghela nafas, sambil mendekatinya kemudian menanamkan kepala Adibah di dadaku, aku tahu, mungkin setelah sadar, dia syok mengetahui kalau dia kehilangan penglihatan, aku sangat mengerti. Saat aku memeluknya, dia selalu berusaha mendorongku, tapi wanita tetap wanita, dan tidak mungkin dia bisa lepas dariku.


     “Katakan yang ingin kamu katakan, “ ucapku, diiringi suara tangisan Adibah. “Aku akan mendengar semua perkataan kamu, mau kamu bilang aku bodoh! Aku suami tidak baik! Terserah, aku tidak masalah. Karena aku tahu bagaimana dengan keadaan kamu sekarang, aku tahu kamu syok mendengar kabar tentang ini.


     Aku janji, setelah kamu sehat kita akan operasi, maksudnya kamu akan segera melihat lagi,” kataku sambil mengecup singkat rambutnya. “Kamu akan bisa melihat lesung pipiku kembali, kapan pun yang kamu mau, dan aku akan tetap menuruti setiap permintaan kamu, kamu mau apa? Boneka beruang? Berapa? Sepuluh? Dua puluh? Lima puluh? Seratus?”


     “Kamu janji menuruti apa pun permintaanku? “ tanyanya, yang kubalas anggukan, “Apa pun itu? “ tanyanya lagi memastikan.


     Aku kembali mengangguk. “Apa pun itu. “


     “Aku mau kita cerai! Aku mau hubungan kita berakhir! Aku tidak mau pernikahan ini terjadi hanya karena rasa kasihan-“


     “Tapi aku tidak kasihan ke kamu Adibah. Pernikahan ini bukan berdasarkan rasa kasihan! Buat apa aku membodohi diriku untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai! Untuk apa? Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu Adibah Sakhila Atmarini.”


     “Tapi aku tidak pernah mencintaimu Farzan Rayhaan Shakeil!” bagai sebuah hantaman keras menyentuh tubuhku. Sebuah kalimat yang membuatku tidak sanggup lagi untuk berbicara kembali.


     “Apa yang kau ucapkan Adibah? Coba ulang kembali perkataanmu,” pintahku. Sumpah, aku tidak yakin dengan apa yang kudengar barusan. Kuharap aku salah dengar.


     “Apa kau tuli? Huh? Aku ingin hubungan bodoh ini segera berakhir! Aku tidak sanggup untuk tinggal dengan orang yang tidak aku cinta! Aku tidak sanggap! Aku capek berpura-pura kalau aku sangat mencintai kau, padahal nyatanya itu tidaklah betul. Aku kira dengan berpura-pura mencintai kamu bisa membuatku untuk melupakan. “ Dia menjedah perkataannya. “Aku kira, aku bisa melupakan Fauzi dari hidupku, namun ternyata hal itu sama sekali tidak mampan, aku tetap mencintai Fauzi dan bukan Farzan. “


     Deg


     Bagai anak panah menembus dadaku. Saat dia berbicara seperti itu, ingin rasanya menghabiskan semua yang ada di dekatku! Menghancurkan semua yang kulihat. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu sekarang?


     "Kenapa tidak bilang dari dulu? Kenapa kamu tidak pergi saat aku tidak berada di dekatmu? Kenapa Adibah? Kenapa harus sekarang kamu katakan itu? " Aku memegang kedua pundak Adibah dengan begitu keras, mungkin sekarang dia kesakitan.


     "Karena aku hanya mengharapkan hartamu! " bentak Adibah. Kemudian melepas tanganku dari pundaknya.


     Aku tersenyum menatap wajahnya. "Aku kira, sekarang, wanita yang ada di dekatku adalah pilihan yang tidak pernah memandang. Arghhh! " Aku tidak sanggup lagi melanjutkan perkataanku.


     Sebagaimana dengan suami pada umumnya, yang akan murka saat mendengar perkataan seperti itu, aku pun seperti itu. Aku menarik taplak meja rumah sakit sehingga membuat barang yang ada di atas meja jatuh, salah satunya beberapa contoh undangan resepsi pernikahan kita nantinya, kurasa itu tidak akan terjadi.


      Aku tidak bisa mengontrol emosiku, aku menjauh sejauh-jauhnya dari ruangan itu untuk menenangkan diri.  Kalau terus di sana, aku bisa-bisa hilang kendali dan melakukan hal yang bisa membuatnya terluka, walau saat ini akulah yang sedang teramat terluka dengan perkataannya. Lelaki memang tidak pernah mengeluarkan air matanya untuk menangis, tetapi dia sering menangis dalam diamnya, dan itu teramat menyakitkan.


     Seandainya aku bisa memilih antara tetap hidup atau pergi meninggalkan kehidupan ini, maka aku akan memilih untuk pergi dari kehidupan ini. Aku baru tahu, risiko saat teramat mencintai dan mengagumi seseorang ternyata jauh berbeda dari sebuah indahnya harapan bersama.


     Hingga aku sampai di sebuah taman di belakang rumah sakit. Kakiku terasa lemas aku mengacak rambutku prustasi dan duduk di sebuah kursi berwarna putih kusam. Sangat lama aku duduk dengan pikiran entah kemana, akhirat aku memutuskan untuk pergi.


     Demi Allah, rasanya begitu sakit.


     Kapan pun, cinta pertama tidak akan pernah tergantikan. Bahkan saat Adibah tidak melihat pun, dia tetap tahu cara agar bisa menghubungi Fauzi, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berada di posisi teristimewa seperti itu. Mungkin dulu, khayalanku untuk memiliki Adibah terlalu tinggi.


     Aku segera mengambil kunci mobil dan meninggalkan Adibah. Mungkin pernikahan kita tidak akan pernah merasakan sakinah mawaddah war-rahmah.


     Lima belas menit berlalu, selama mengemudi, pikiranku kosong menatap jalan di kota Parepare yang selalu saja seperti dulu. Aku memukul stir, setiap kali mengingat detik-detik peristiwa tadi.


     Sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana, mungkin satu-satunya harus ke rumah ustaz Andi, sudah lama aku tidak ke sana. Semoga saja dia masih mengingatku.


●_●


     “Ingat nak, tidak ada hubungan pernikahan berjalan dengan lancar tanpa adanya sebuah pertengkaran. Sesungguhnya setan sangat menyukai sebuah perceraian. Cobalah untuk kembali ke padanya, dan bicarakan hal ini baik-baik, siapa tahu istrimu luluh dan hubungan kalian membaik. Dan lagi, jangan pernah mengatakan cerai, walau itu hanya bercanda, maka akan jatuh hukum cerai kepada istrinya.


     Mungkin kamu tidak beta lagi dengan istrimu yang sangat mencintai sahabatnya, kamu tahu kisah Yusuf dan Zulaikah? Saat Zulaikah mengejar cinta Yusuf, Allah jauhkan Yusuf darinya, dan saat Zulaikah mengejar cinta Allah, Allah dekatkan Yusuf untuknya. Jawabannya di sini, kamu cukup istiqomah dan mengharapkan cinta Allah, mungkin dulu, kamu terlalu mencintai ciptaannya ketimbang sang Pencipta.


     Coba deh, hari ini kamu belajar untuk mengurangi cintamu untuk istrimu jangan sampai melebihi cintamu terhadap Allah, bahaya kalau begitu, sangat berlebihan.”Senyum di bibir ustaz Andi mengembang. “Baru tahu, kalau preman pesantren bakalan jadi dokter, dan parahnya jadi korban cinta hawa, sampai-sampai lupa tengok kami di sini.”


     “Bukan seperti itu Ustaz, hanya saja saya keseringan keluar kota. Waktu untuk istriku pun sedikit.”


     Ustaz memukul-mukul pelan pundakku. “Cobalah, waktumu di perbanyak untuk istrimu, kalau bisa tugasnya gak usah di luar kota kasihan dia,” Saran ustaz Andi dengan senyuman khasnya.


     “Akan saya usahakan Ustaz, semoga saja dia akan mencintaiku. “


     Ustaz Andi kembali tersenyum. “Awal mula kamu menikah dengannya apa? “


     Aku mencoba diam, mengingat kejadian waktu itu, hingga semua ingatanku terkumpul. “Awal ketemu saya dengannya itu, sewaktu satu angkot, mau ke sekolahnya di Man 1. Saat itu saya dan beberapa perawat melakukan sosialisasi di sekolahnya, tapi kita belum saling kenal saat itu, bahkan saya tidak mengenal dia, saya cuma melihat dia tidur di pojok karena kecapean.Hingga akhirnya acara selesai, semua siswa keluar, saya asik berbincang-bincang dengan kepala sekolah hingga sampai di pagar, tanpa sengaja gadis itu,


     Datang dengan keadaan nangis, katanya keadaan ayahnya memburuk dia mau ke rumah sakit kebetulan rumah sakit yang ayahnya tempati sama akhirnya saya tawarkan untuk ikut dengan saya, selama di dalam mobil dia nangis, katanya keadaan ayahnya memburuk, dia tidak mau kehilangan orang di hidupnya lagi, karena cuma ayahnya satu-satunya di keluarganya, tidak lama itu ... Dan entah kenapa aku memutuskan untuk melamarnya, daripada zina pikiran kan lebih baik aku melamarnya, “ jelasku. Saat mengingat itu, rasanya begitu aneh, bagaimana bisa aku baru mengenalnya dan langsung ingin melamarnya.


     Dan lagi, ustaz Andi kembali tersenyum, dari dulu dia memang murah senyum bahkan dulu sangat banyak wanita yang suka dia, dan sekarang hanya Fatimah yang berhasil mendapatkan dia. “Ini namanya menghindar dari dosa zina atau memang suka? “


    Aku tertawa kecil mendengar ucapan ustaz Andi. “Mungkin dua-duanya ustaz, tapi Adibah tidak percaya kalau saya mencintai dia, dia cuma mengira kalau saya menikahi dia itu hanya karena rasa kasihan saja. “


     “Wahh, kenapa begitu? Seharusnya dia bahagia di saat ada kabar duka dia juga mendapatkan kabar suka. Tapi mungkin bagusnya, kamu jelaskan secara baik-baik mengenai perasaan kamu yang sebenarnya, ceritakan kalau kamu sangat mencintai dia, ceritakan ada berapa banyak hal yang kamu lakukan hanya untuk memiliki dia, andai saja kalau kamu tidak mencintai dia, mungkin kamu tidak akan terlalu mengambil pusing tentang masalah ini,” pintah ustaz Andi. Dari dulu, dialah guru yang paling mengerti dengan kehidupanku. "Dan jangan lupa salat sunnah, Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku." HR. Bukhori (5063) Dan Muslim (1401)


     Siang itu aku menghabiskan waktu sampai sore di rumah ustaz Andi, hanya ingin bernostalgia dengannya. Umurku terpaut limah belas tahun dengannya tapi usianya terlihat hampis seumuran denganku, dia terlalu awet mudah, hanya saja, ada beberapa rambutnya yang mulai memuti.


●_●


-


-


-


-


-


💜


    Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku. HR. Bukhori (5063) Dan Muslim (1401)


●_●