
Hari itu anak itu sudah di bolehkan pulang oleh dokter, Naufal menghampiri Aisha yang tengah menggendong bayi itu
"Aish, ayo kita antar dia ke panti asuhan," ucap Naufal sontak membuat Aisha menoleh
"Ke panti asuhan?" beo Aisha membuat Naufal mengangguk
"Kenapa ke panti asuhan?" tanya Aisha lagi
"Kita nggak tau siapa ibunya, kita nggak tau dia tinggal di mana jadi kita titipkan saja di panti asuhan," jelas Naufal
Namun Aisha malah menggeleng, "Nggak boleh mas, aku sayang sama anak ini," kata Aisha
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Naufal lagi
"Boleh kita rawat dia? Angkat dia jadi anak ya mas," kata Aisha dengan pupy eyes nya
Naufal menggeleng tegas, "Nggak. Nggak boleh!" kata Naufal
"Mas ayolah, mas nggak kasihan sama dia?" tanya Aisha lagi
"Aisha dengerin aku, aku tau kamu memang penyayang sama anak kecil tapi bukan berarti kamu harus merawat anak-anak yang terlantar juga," kata Naufal memberi penjelasan
"Iya aku tahu mas, tapi aku udah terlanjur sayang sama anak ini lihatlah dia cantik, lucu dan menggemaskan." kata Aisha lagi sambil menatap anak itu penuh sayang
Naufal menatap kesal Aisha, kenapa istrinya itu sulit sekali di beri tahu
"Mas, boleh ya?" pinta Aisha dengan nada memelas
Naufal menghela napas, ia mengusap rambutnya frustasi berbicara dengan Aisha
"Memangnya kamu sanggup ngurusnya?" tanya Naufal, nada bicaranya menyiratkan kekesalan dengan Aisha
Bagaimana tidak? Aisha ingin merawat anak itu layaknya anak sendiri, mereka bahkan tidak tahu asal usul anak itu, bahkan ibunya saja membuang anak ini
"Aku sanggup," ucap Aisha mantap
"Tapi kamu lagi hamil Aisha, bentar lagi kamu lahiran cuma tinggal hiung hari kamu lahiran," kata Naufal lagi berusaha memberi penjelasan
"Iya aku tahu bentar lagi aku lahiran, tapi apa salahnya kita rawat dia mas? Dia anak kecil yang nggak berdosa, Allah mempertemukan kita dengan anak ini, artinya kita dia suruh buat ngejaga dia," kata Aisha lagi
"Tapi Aisha, kamu ini kenapa keras kepala sekali?!" kali ini Naufal benar-benar kesal
"Aku nggak akan keras kepala kalau mas ngizinin." ucap Aisha lagi, kali ini ia benar-benar akan memaksa Naufal
"Mas, ya ya? Pliss," Aisha terus meminta izin pada Naufal
Naufal menghela napas lelah, apapun itu jika Aisha sudah keukeuh maka keras kepalanya tidak akan kenal tempat dan waktu
"Terserah kamu saja." kata Naufal akhirnya membuat pupil mata Aisha melebar
"Mas serius ngizinin?" tanya Aisha antusias
"Iya, tapi!" kata Naufal membuat Aisha kembali menoleh
"Kamu harus bisa jaga kesehatan dan bayi kamu, juga jangan terlalu capek." kata Naufal lagi
Sejujurnya Naufal tak tega melihat Aisha terus memohon padanya agar di beri izin merawat anak itu, mengangkatnya menjadi anak
Naufal pun tak tega membiarkan anak itu di telantarkan di panti asuhan, tapi sebentar lagi ia juga akan punya dua anak jadi Naufal juga memikirkan Aisha yang akan mengurus anak-anaknya
"Makasih mas!!" pekik Aisha senang ia bahkan sudah memeluk Naufal dengan bayi yang masih di gendongnya
"Sama-sama, tapi ingat kata aku ya," Naufal memberi peringatan
"Iya mas, Aish janji bakal jaga kesehatan dan juga anak-anak," kata Aisha dengan wajah yang di penuhi rasa bahagia
Naufal ikut tersenyum dan bahagia ia mengusap kepala Aisha dengan sayang
"Yaudah ayo pulang," kata Naufal mengajak Aisha
Aisha mengangguk, mereka pun segera berjalan menuju mobil agar bisa segera pulang ke rumah
Namun saat Naufal akan masuk ke mobil, matanya tak sengaja melihat seorang perempuan yang tengah menatap jalanan posisinya membelakangi Naufal namun Naufal sepertinya tahu postur tubuh itu milik siapa
Tapi Naufal tak memperdulikannya, ia memilih masuk ke mobil tapi lagi-lagi ia menghentikan gerakannya
Tunggu? Apa ia salah lihat? Kenapa dia bisa ada di sini?
Matanya kembali menatap ke tempat yang sama untuk memastikan satu hal, tapi ternyata tidak ada apakah itu hanya ilusi?
Ah, Naufal kembali di buat bingung ia melamun hingga suara Aisha membuyarkan lamunannya
"Mas, ayo keburu malam banget," kata Aisha
***
Keesokan harinya Aisha memberitahu keluarganya bahwa Aisha dan Naufal mengadopsi anak, keluarga Qurtuby dan Alfarizi tidak keberatan justru mereka senang dengan pilihan Aisha yang mau menolong dan mengangkat anak itu
Rumah Aisha sedang kedatangan tamu, lebih tepatnya ada keluarga Aisha dan juga Naufal
"Keadaan kamu gimana sayang?" tanya Layla pada putrinya
"Baik Bun, aku jauh lebih baik dari sebelumnya." kata Aisha tersenyum
"Syukurlah kamu baik-baik saja," kali ini Rifa menyahut
"Mah, Gita kapan pulang ke Indonesia?" tanya Aisha pada Rifa
"Kemungkinan pas kamu lahiran, atau nunggu dia libur dua bulan lagi," jawab Rifa
"Oh ya mana anak kamu?" tanya Layla, ia sudah tahu kabar tentang anak angkat Aisha pun dengan Rifa di mulai dari menemukannya dan membiyai operasinya
"Oh dia ada di kamar sama kak Azmi," kata Aisha "Bunda sama Mamah tunggu bentar, biar Aisha panggil dulu kak Azminya,"
Aisha bergerak ke kamar tamu yang sudah di sulap menjadi kamar bayi, ia menyuruh Azmi menemui Bunda dan Mamah sekali membawa Debia
"Aduhh, lucunya cucu Oma," kata Layla sudah mengambil alih si kecil
"Lah kalau Layla di sebut Oma, lantas aku di sebut apa dong sama cucuku nanti," tanya Rifa pada Layla
"Eyang," tidak itu bukan Layla yang menjawab melainkan Naufal
"Lah Naufal, kok Mamah di sebut Eyang nggak cocok ah," kata Rifa membuat Naufal tertawa
"Terus mamah maunya di sebut apa?" tanya Naufal
"Yang modern dikit kek," kata Rifa lagi
Naufal terlihat berfikir sejenak, "Aku tahu, di panggil Abuelaw aja, dari bahasa spanyol abuela artinya nenek tambahin aja huruf w, aesthetic kan?" tanya Naufal, sedangkan Aisha menganga
"Mas kamu ada-ada aja deh," kata Aisha sambil tertawa
"Iya nih, nggak ada keren-kerennya sama sekali," kata Rifa membela Aisha membuat Naufal cemberut
"Mamah ah, nggak seru malah belain Aisha," kata Naufal
Aisha tertawa melihat wajah cemberut Naufal
"Eh iya namanya siapa Aish?" tanya Reza yang sedang menggendong cucunya itu, sedangkan Radit tengah sibuk berbincang dengan Azma dan Naufal
"Nyamanya Asbiazel Qurtubyza Alfarizi," ucap Aisha, sebelumnya Aisha sudah meminta izin untuk menggunakan marga kedua keluarga itu dan mereka mengizinkannya
"Di panggilnya Debia," sambung Aisha lagi
"Halo Debia," sapa Reza dengan senang hati
Anak itu tertawa menanggapi sapaan kakeknya, lucu sekali dia
"Ayah," panggil Aisha
"Iya sayang, kenapa?" tanya Radit menatap putrinya
"Ayah itu udah tua, bentar lagi punya cucu dari aku jangan sering-sering keluar kota," nasehat Aisha tapi itu terdengar buka seperti nasehat itu terdengar seperti omelan
"Kan Ayah harus kerja keras suapaya bisa beliin apapun yang cucu Ayah mau," kata Radit lagi
"Ihh ayah," tegur Aisha "Ayah itu udah tua, udah waktunya diam di rumah main sama cucu bukan main sama tumpukan kertas yang bikin pusing itu," kata Aisha lagi
Radit tergelak mendengarnya "Iya-iya, nanti Ayah pensiun," katanya sambil tertawa
Malam pun tiba, semua orang sudah kembali rumah terasa sepi lagi untuk Aisha
Ia tengah duduk santai di depan tv, ini maiah jam 8 malam namun Debia sudah tidur jadi Aisha bisa leluasa bersantai
Sedangkan Naufal? Dia baru pulang entah dari mana, Aisha sendiri tidak tahu
"Mas kamu mau kemana lagi? Kamu baru pulang," kata Aisha melihat suaminya itu akan pergi lagi
"Bukan urusan kamu." ucap Naufal kemudian berlalu begitu saja
Meninggalkan Aisha dengan segala kebingungannya, sebenarnya Naufal kenapa? Kenapa tiba-tiba dia seperti itu? Aisha tak merasa punya salah apapun
Sejak pulang dari rumah sakit kemarin Aisha dan Naufal baik-baik saja bahkan tak ada masalah apapun
"Mungkin masalah di perusahaannya kali," gumam Aisha berusha positif thinking