
..."Intinya terlanjur sayang tapi ada hati yang tengah terluka dan harus segera di perjuangkan."...
***
"Aisha kamu nggak masuk kerja?" tanya Naufal ketika menyadari Aisha masih di rumah pagi ini
"Aku sift siang kak, tukeran sama yang lain biar bisa ngerawat kakak dulu," jawab Aisha seadanya membuat Naufal tertegun
Sejak tadi Aisha sibuk membereskan kamar itu bahkan ia harus bolak balik ke kamar dan ke dapur ketika masak takut-takut jika Naufal memerlukan bantuannya karena jika berteriak tidak akan mungkin terdengar mengingat kamarnya yang kedap suara
"Kak bentar ya aku ke dapur dulu," kata Aisha lalu keluar dari kamar itu
Naufal menatap kepergian Aisha ia sempat teringat dengan mimpi yang menghampirinya tadi malam ia menggelengkan kepalanya pelan
Aisha kembali dari dapur dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Naufal
"Kak, makan dulu ya," kata Aisha pada Naufal yang sedang berbaring di atas kasur
"Iya." jawab Naufal lalu Aisha membantu Naufal untuk duduk
Aisha mulai menyuapi Naufal dan makanan itu di terima dengan baik olehnya
"Kak, boleh nggak aku pergi nanti sama Kak Fauzan?" tanya Aisha sembari menyuapi nasi itu pada Naufal
"Uhuk... uhuk..." Dengan cekatan Aisha memberikan gelas yang berisi air pada Naufal dan segera meminumnya
Ia terbatuk saat mendengar nama Fauzan lantas Naufal menatapnya penuh selidik, "Nggak sendiri kok ada Kak Anna juga di nanti, soalnya mau ngambil mobil ke rumah Bunda juga kan nggak bisa," jelas Aisha sebelum Naufal mengamuk
"Nggak." tolak Naufal
"Tapi kan-"
"Nggak. Aku bilang nggak." Kata Naufal "Kamu aku yang antar." saambungnya
"Tapi kan, kakak masih sakit," kata Aisha khawatir meski ada rasa senang ketika Naufal mau mengantarnya
"Kamu istri siapa?" tanya Naufal lagi membuat Aisha meneguk ludahnya
"Istri kakak." jawabnya
"Yaudah berarti berangkatnya sama aku," kali ini suara Naufal tak terdengar marah
Aisha baru saja hendak bersuara namun Naufal segera membungkamnya dengan kata-kata yang membuat Aisha benar benar harus diam
"Gue nggak terima penolakan." kata Naufal
Aisha mendengus pasrah ia kembali melanjutkan kegiatannya menyuapi Naufal hingga selesai setelah itu ia akan membereskan dapur karena belum sempat tadi
"Aku merasa nyaman saat kamu ada di dekatku tapi,"
Naufal menghembuskan napas kasar kala Aisha sudah keluar dari kamar tersebut entahlah ia sendiri bingung dengan perasaannya
Aisha yang baru selesai membereskan apartemen mewah itu duduk di sofa ia mengelap keringat yang ada di pelipisnya
Apartemennya terlalu besar dan ia harus membereskan tempat itu sendirian di tambah ia harus pergi ke rumah sakit dengan waktu yang kadang tak menentu. Lelah.
Sekarang Aisha yang kebingungan karena pekerjaan rumahnya sudah beres sedangkan jam masih menunjukkan pukul 11.05
Tiba tiba saja bel pintu apartemennya berbunyi hal itu membuat Aisha mengkerutkan dahinya lalu berdiri untuk membukakan pintunya
"Lah kok udah pada datang aja sih?" tanya Aisha ketika mendapati Fauzan dan Anna yang datang
"Sengaja sekalian main aja, aku belum pernahkan ke rumah kamu," kata Anna dengan tersenyum manis
"Yaudah deh masuk, mau gimana lagi udah ke sini juga," ucap Aisha
"Apartemen kamu luas banget," kata Anna kagum ketika ia memasuki bangunan mewah itu
"Kalian duduk aja, Aku buatin minum dulu ya," kata Aisha lalu ia pergi ke dapur tak lama ia kembali dengan membawa dua gelas minuman untuk mereka berdua
"Eh iya ngomong-ngomong kalian berdua cocok tau," ceplos Aisha namun Fauzan hanya tersenyum manis menanggapinya sedangkan Anna melotot pada Aisha yang membuatnya terlihat lucu hal itu malah membuat Aisha terkekeh pelan
"Oiya Naufal mana? Kerja? Kok aku nggak liat dari tadi?" tanya Anna karena tak melihat Naufal sejak tadi di rumah padahal niatnya hanya mengalihkan pembicaraan saja
"Lagi sakit, ada di kamarnya." jawab Aisha
"Aku ke atas dulu ya ketemu Naufal," izin Fauzan pada Aisha dan di angguki oleh perempuan itu
Fauzan pun pergi menaiki tangga menuju ke kamar atas meninggalkan dua wanita itu di sana
Ia tersenyum miring, "Andai dia tau yang sebenarnya." gumam Fauzan
***
Naufal membuka matanya kala pintu terbuka, "Aisha." panggilnya dengan tatapan teduh namun seketika berubah jadi tatapan tajam saat Fauzan lah yang datang ke kamarnya dan dengan tampang watadosnya duduk di sofa yang ada di kamar itu
"Masuk kamar orang ketuk pintu." kata Naufal dingin
"Lah emang salah gue masuk kamar adek gue sendiri," ujar Fauzan
"Ini bukan kamar gue." kata Naufal "Tapi juga kamar Aisha." lanjutnya membuat Fauzan kembali tersenyum miring sedangkan Naufal membuang muka kesal
"Ya terus kalau Aisha izinin emang gue ngizinin?" tanya Naufal
"Kan Lo adek gue lagian juga gue sering kan masuk ke kamar ini sebelum beralih ke tangan Lo," kata Fauzan, Naufal berdecak pelan
"Ngapain Lo ke sini?!" tanya Naufal dengan tak bersahabat
"Jenguk Lo lah, kan Lo sakit." kata Fauzan
"Peduli apa Lo?"
"Peduli lah, kan Lo masih adek gue jadi gue harusnya menjenguk adek gue ketika dia lagi sakit." jawab Fauzan sesantai mungkin
"Nggak perlu. Gue nggak mau di jengukin sama Lo." sarkas Naufal
"O iya sekalian gue mau bilang kalau Aisha nanti berangkat sama gue," kata Fauzan
"Nggak usah. Gue yang nganter dia, Lo punya hak apa sampai nganterin istri orang?" tanya Naufal lagi
"Dia adek ipar gue. Lagian bukannya dulu Lo yang bilang kalau nggak akan nganterin Aisha kemanapun," tukas Fauzan masih dengan nada yang santai berbeda dengan Naufal yang sudah mulai emosi bukan lebih tepatnya sejak Fauzan menampakkan wajahnya di hadapan Naufal ia sudah emosi
Naufal terdiam dengan perkataan Fauzan bukan karena dia tak mau membalasnya melainkan karena ia kehabisan kata-kata dengan semua pernyataan benar yang di lontarkan Fauzan padanya
"Sikap Lo terlalu dingin dan gue udah biasa, tapi kalau dia gue nggak yakin bakal bertahan sama Lo, secara dia hidup di keluarga yang penuh kehangatan di lingkungan orang-orang yang sayang sama dia. " kata Fauzan
Terdengar seperti merendahkan seorang Naufal namun cowok itu tak lagi menyahut perkataan Fauzan lebih baik ia diam saja sebelum bogema mentah mendarat di wajah saudaranya itu
Fauzan bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Naufal dan membisikkan sesuatu di sana
"Perjuangan Lo akan sia-sia."
***
"Kak Naufal, seriusan nggak papa? Aku takut kakak kenapa-napa," kata Aisha cemas karena Naufal begitu keras kepala ingin mengantarnya ke rumah sakit dengan kondisinya seperti itu
"Ck. Bisa diam nggak?" tanya Naufal kesal karena sejak tadi ia hanya mendengarkan Aisha mengatakan kalimat itu terhitung mungkin sudah ada sepuluh kali istrinya menanyakan hal itu padanya
"Aku cuma khawatir aja," cicit Aisha
Naufal menatap sekilas Aisha lalu kembali memperhatikan jalan, ia sempat emosi ketika Fauzan mengatakan hal itu padanya tapi anehnya kenapa ia harus marah bukankah yang di katakan Fauzan ada benarnya
Begitu sampai di rumah sakit Aisha segera turun dari mobil, "Kak Naufal pulangnya hati-hati ya jangan ngebut nanti kenapa-kenapa," peringat Aisha
"Iya." sahut Naufal dan Aisha pun segera pergi memasuki kawasan rumah sakit tersebut dan Naufal pulang ke apartemen
Aisha berjalan di koridor kampus dengan perasaan cemas dan senang. Senang karena Naufal mengantarnya dan cemas karena kondisi suaminya yang sedang sakit
Tapi tiba tiba ia malah teringat dengan Elang, anak itu sudah keluar dari rumah sakit sejak satu Minggu yang lalu bersama pengasuhnya ah Aisha jadi rindu dengannya
Tanpa sadar Aisha melamun membuatnya hampir terbentur tiang penyangga di depannya jika tak di tahan oleh seseorang
Aisha menoleh ke samping untuk melihat siapa yang menolongnya, "Makasih." ucap Aisha dengan tersenyum
"Sama-sama." sahut orang itu membalas senyuman Aisha dengan manis
***
Begitu jam kerja Aisha usai sesuai janji Naufal ia sudah berada di parkiran rumah sakit untuk menjemput Aisha pulang
Dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang meski sempat berdebat tadi
Sesampainya di rumah Naufal dan Aisha segera masuk ke kamar, Aisha membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur
Lima belas menit kemudian Aisha keluar dari kamar mandi dan melihat Naufal sedang tiduran di atas kasur
"Kak, obatnya udah di minum?" tanya Aisha
"Udah." jawab Naufal
Aisha berjalan menuju tempat tidur dan segera tidur dengan membelakangi Naufal, cowok itu menatap punggung Aisha sendu
"Maaf. Gue cowok pengecut yang nggak bisa minta maaf secara langsung." gumam Naufal pelan
***
Aisha terbangun karena tenggorokannya terasa kering, mungkin karena sejak siang tadi ia belum ada minum lantas ia pun segera pergi ke dapur dan mengambil air Aisha meneguk segelas air lalu ia kembali lagi ke kamarnya
"Jangan pergi."
"Aku rindu kamu."
Aisha di kejutkan dengan gigauan Naufal, akhir akhir ini Naufal sering menggigau seperti itu entah siapa yang tengah di rindukannya itu namun satu nama terlintas di pikiran Aisha
"Azizah." tebak Aisha dalam hatinya
"Mungkin Kak Naufal memang belum sepenuhnya melupakan Azizah. nggak papa." monolog Aisha
Tanpa sadar ternyata Naufal terbangun akibat mimpi buruknya hanya saja ia sedang berpura pura tidur saat mendengar suara Aisha
"Maaf, hanya saja aku terlanjur sayang tapi aku sedang mencoba untuk berusaha." batin Naufal