
💜
-
-
-
-
-
Kamu tahu, cinta dapat mengubah segalanya
●●●●●_●
From : Bapak Dokter 💜 :
- Bismillahirohmanirohim
- Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
- Rindu.
- Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Anda :
- Bismillahirohmanirohim
Wa'alaikumsalamwarahmatullahi wabarakatuh
- Rindu
- Juga
- Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bacaan Al-quran yang tadinya tertunda akhirnya kulanjutkan kembali. Dia merindukanku padahal kita baru berpisah. Setelah pemotretan tadi, Farzan harus mengurus gaum pernikahan kita lagi, serasa baru akan menikah dengannya. Dan kalau mengingat tentang pertengkaran kita yang kemarin serasa begitu lucu, aku tidak bisa marah lama-lama dengannya.
Sesungguhnya Al-Quran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi yang membacanya. -HR. Muslim.
Setelah selesai membaca surat al-hakkah, aku melanjutkan kembali memasak untuk suamiku. Kalau ingat tentang al-hakkah, artinya sangat menakutkan, aku berharap semoga saja aku, suami dan orang tercinta tidak sampai bertemu dengan hari kiamat langsung, sungguh itu artinya aku tidak memiliki banyak peluang lagi untuk menjadi bidadari surga.
Setiap hari, menu makan harus ada wartelnya, Farzan yang bilang seperti itu, dia memang sangat menyukai jenis sayuran satu itu. Kata Farzan, bagus untuk mata, biar selalu lihat Adibah yang cantik terus setiap hari, itu kata Farzan ya, aku tidak memuji diriku sendiri, tapi kalau boleh jujur, setiap perempuan memang cantik kan, mana mungkin makhluk seperti Beti juga cantik, mustahil, lelaki lima puluh persen seperti itu memiliki keistimewaan seperti perempuan lainnya.
Masakanku kemarin itu sudah enak bahkan tambah enak kata Farzan, jelaslah, sudah kukatakan kalau aku sudah belajar masak dengan Aqilah. Ternyata belajar memasak bukanlah hal yang mudah bagiku, harus bisa memprediksikan berapa garam, micin, dan lain-lainnya yang diperlukan. Harus bisa menerima kalau minyak mengenai kulit kita, harus siap sewaktu-waktu ikan yang digoreng hancur, dan masih banyak hal lagi.
Aku belajar seperti itu karena aku mengerti, untuk menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia aku harus memperbaiki diri dan belajar. Ah kenapa menyangkut hal ini lagi?
Astagfirullah, Ya Allah, aku baru ingat tentang Fauzi, sekarang sudah pukul empat padahal janji untuk ketemu pukul sepuluh tadi. Kuharap dia sibuk karena kuliahnya hari ini, atau sibuk karena hal lainnya. Kapan aku berubah? Sifat pelupa ini tetap ada! Menyebalkan.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Istriku,” Bisik Farzan sambil memelukku dari belakang. Ini pertama kalinya dia seperti ini hingga membuatku sedikit malu. Aku menundukkan kepalaku, sambil tersenyum. “Masak sayur wartel lagi? “ Tanyanya yang kubalas anggukan.
"Kamu sudah pulang? " tanyaku.
"Iya. Besok kita ke sana lagi, aku tidak tahu ukuran badanmu." Farzan menjauhkan tubuhnya dariku, kemudian mengambil alih untuk memasak, semacam menggantikan posisiku aku. Dari dulu dia memang pintar memasak, bahkan aku sangat memuji masakannya.
“Kak Farzan, aku boleh minta sesuatu tidak? “
“Apa?” Tanya Farzan, yang masih sibuk memasak sayur wortel. Dia terlihat sangat lucu, dengan pakaian yang terlihat kekecilan itu.
“Boneka beruang. “
Farzan berbalik dan menatapku. “Bisa, tapi Adibah harus bantu aku.”
“Apa? “
“Sempurnakan agamaku,” ucapnya kemudian tertawa renyah. Dia berbicara seperti itu, seakan-akan kita belum menikah. “Bagaimana? Mau? “ tanyanya lagi.
Aku cuma megiyakan pertanyaan Farzan. “Dari mana kamu pandai menggombal? Huh? “ tanyaku, membuatnya tertawa.
“Kamu tahu, cinta dapat mengubah segalanya ,” bisik Farzan pas di telingaku. Rasanya geli, tapi aku suka mendengar perkataannya. “Aku mencintaimu, Adibah Sakhila Atmarini binti Abdul Halik. Ana Uhibbuka Fillah Adibah Shakila Atmarini binti Abdul Halik. I Love You Adibah Shakila Atmarini binti Abdul Halik.”
“Aku juga mencintaimu kak Farzan Rayhaan Syakeil...I love you to.”
“Aku tak tahu artinya cinta, tapi aku tahu rasa nyaman saat dekat denganmu,” bisik Farzan kembali, kenapa dia sangat hobi membisik? Padahal cuma ada aku dan dia di sini. “Masakannya sudah matang, aku ganti baju dulu ya, “ ucapnya, kemudian mencium keningku dan berlalu pergi.
Kalian tahu, kisah seperti ini, belum pernah terlintas dipikiran-ku sebelumnya, tapi Allah maha pengertian, Dia mengerti dengan apa yang hatiku inginkan, dan apa yang terbaik untukku. Untuk Allah, aku mensyukuri atas apa yang Engkau takdirkan untukku.
Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. HR. Ahmad.
Memang benar, tidak ada yang paling mengerti tentang apa yang dibutuhkan ketimbang diri-Nya, mungkin dulu aku menginginkan Fauzi tanpa sadar bahwa aku membutuhkan Farzan dan Allah telah menjawabnya melalui ini, menikahkan aku dengan Farzan.
Siapa yang sangka bahwa ini akan menjadi cinta? Pertemuan yang penuh duka berakhir denga suka? Bertemu dalam keadaan tidak mencintai dan akhirnya mencintai? Allah maha membolak-balikkan hati manusia, Dialah yang paling mengerti diantara yang mengerti.
●_●
Pemilihan gaun pengantin kemarin harus di tunda menjadi hari ini, karena Farzan tidak tahu ukuran tubuhku. Dan tiga jam lagi Farzan akan kembali, dia ke rumah umi-soalnya umi sedang sendiri di rumah katanya abi ke luar kota lagi untuk mengurus sesuatu.
Ponselku kini menghentikan kesunyian yang kurasakan, andai saja aku ikut ke rumah umi dan membatalkan janji dengan Fauzi lagi. Lihat dia menelponku, mungkin dia sudah menunggu di bawah.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kamu di mana? “ tanyaku, setelah teleponnya tersambung.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Di depan pintu,” ucap Fauzi di seberang sana. Aku salah, ternyata dia sudah di depan pintu.
“Ya sudah, tunggu aku buka pintunya. “ Aku mematikan telepon sepihak kemudian menaruh ponsel itu di atas sofa tempatku tadi duduk kemudian melangkah mendekati pintu, setelah itu membukakan pintu untuk Fauzi. Aku tersenyum menatapnya. “Tunggu di situ, aku tulis surat izin dulu. “ Selama Fauzi tahu tentang pernikahanku dengan Farzan, aku tidak pernah lagi menyuruhnya untuk masuk tanpa seizin Farzan langsung. Soal surat izin, aku baru mau menulisnya, aku takut kalau Farzan tidak memberiku izin, kalau aku minta izin duluan.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kak Farzan. Maaf ya, aku keluar rumah dulu. Ada janji bareng Fauzi soalnya, maaf ya tidak minta izin dulu, soalnya kalau minta izin dulu takutnya kalau kak Farzan tidak beri aku izin, padahal aku sudah menyetujui ajakan Fauzi kemarin dulu, sebelum kak Farzan pulang. Maaf ya kak, jangan marah, nanti lesung pipinya hilang, bahaya entar.
Aku ke sana cuma sebentar, palingan sebelum kak Farzan pulang, ah salah rumah aku dari sini kan jauh jadi mungkin kak Farzan yang sampai duluan beberapa menit kemudian baru aku, beda dikitlah.
Dan kalau kak Farzan bertanya, ke sana naik apa? Naik mobil kak, aku tidak duduk dekat Fauzi lagi, jaga jaraklah ceritanya.
Sudah yah, cape menulisnya. Semoga kak Farzan tidak marah. Aamiin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Istri tercinta
Adibah Sakhila Atmarini
Kembali kelanjutakan langkahku menuju Fauzi berada hingga kami berdua meninggalkan apartemen ini.
Bagaimana keadaan pemakaman ayah? Beberapa bulan yang lalu, aku sempat ke sana dengan Jihan. Ah aku hampir lupa tentang pernikahan Jihan, dia sudah tidak di Parepare, Jihan ke kampung ibunya, Toraja, setelah ke sana baru deh, pernikahan mereka diadakan. Aku rindu dengannya.
“Adibah, “ panggil Fauzi menghentikan kesunyian.
Aku menatap wajahnya melalui cermin mobilnya yang mulai bergerak.“Kenapa? “ tanyaku sambil tersenyum. Dia sahabatku, aku memang selalu seperti ini di depannya.
“Kamu terlihat bahagia semenjak suamimu kembali," ucapnya.
“Jangan coba menebakku, sebab kau tak pernah tahu di mana letak sedih dan tangisku ketika sedang tertawa.”
“Maksudnya? Kamu seharusnya bahagia karena dia sudah pulang setelah pergi dengan waktu yang sangat lama. Atau dia su-“
“Kami baik-baik saja. Minggu ini, resepsi pernikahan kita akan diadakan. “
Fauzi diam sejenak tidak lama kemudian, kembali berbicara, “Semoga sukses acarannya. “
“Aamiin. “
Mobil yang kita kendarai tiba-tiba berhenti di sebuah tempat. Ini bukan tempat pemakaman ayah, kenapa dia berhenti di tempat yang sepi seperti ini? Aku menatap wajah Fauzi yang mulai membuka pintu mobil. “Kenapa berhenti di sini? “ tanyaku saat Fauzi membukakan pintu itu untukku.
“Turun saja! “ tegasnya. Wajahnya terlihat sangat sulit di definisikan.
Aku enggan untuk turun. Sumpah ini pertama kalinya aku melihat Fauzi seperti ini. Tiba-tiba hal yang tak pernah kubayangkan terjadi, Fauzi menarik pengelagan tanganku dengan kasar, sehingga mau tak mau aku memeluk tubuh Fauzi langsung.
“Kamu kenapa? “ Aku berusaha menjauhkan badanku darinya, dan setelah berhasil tapi tanganku kembali di pengangnya. “Fauzi. Kamu menyakitiku! “ ucapku. Bukannya melepaskannya, dia malah mempererat pegangannya.
Perlahan Fauzi mendekatiku. Aku menundukkan pandanganku, kenapa dia? “Adibah, bertahun-tahun aku menunggu hal ini, menunggu waktu yang tepat untuk melakukan hal ini. “
Darahku rasanya mendidih. “Apa maksudmu? Huh? Jangan mendekat! “ tegasku, saat Fauzi sudah berada beberapa senti di depanku. Aku tidak bisa lari, di belakangku ada jurang, kalau aku mundur selangkah saja, mungkin aku akan mati.
“Kenapa kamu menikah dengannya? Bukan denganku? Aku sudah lama denganmu Adibah! Aku sudah lama menunggumu, dan kenapa kamu pilih dia? Dia yang baru kau temui Huh? “ Wajahnya menjadi merah padam, akibat amarahnya.
“Bukan tentang siapa yang paling lama, tapi siapa yang paling mengerti,” gumamku.
“Apa? Yang paling mengerti? Selama ini aku bagaimana? Kamu mau rumah pohon aku buatkan, kamu mau bunga matahari aku carikan, kamu mau aku satu sekolah denganmu aku lakukan! Kurang pengertian apa lagi aku? Aku berusaha agar selalu ada untukmu, walau aku tahu kamu sudah menikah, kamu tahu bagaimana aku saat tahu kabar tentang pernikahanmu?
Rasanya aku kehilangan jiwaku saat itu. Ingin meninggalkan kamu tapi tidak bisa. Untuk apa aku berjuang selama ini kalau akhirnya tidak jadi memiliki kamu juga! Aku mencari cara agar bisa memilikimu dan akhirnya aku menemukan cara ini untuk mendapatkan kamu-“
“Kamu salah. Caramu salah Fauzi, aku sudah menikah dan mustahil untuk bersama kamu lagi, aku sudah milik orang lain. Kamu harusnya menyerah saja, aku tidak mungkin lagi bisa bersama kamu lagi. “
“Kalau aku ingin menyerah, ingatlah untuk apa aku berjuang selama ini?”
“Aku tidak pernah meminta kamu untuk berjuang! Aku tidak berharap akan seperti ini! Kamu harus tahu batasanmu, Fauzi. Dan kamu haru tahu, Bukan seberapa lama suka tapi seberapa cepat dia melamar. Mungkin kamu sudah menyukaiku sejak dulu, tapi kak Farzan terlebih dulu memilikiku,” ucapku, dengan ketakutan.
Fauzi memegang tanganku secara kasar. Rasanya begitu sakit. “Kalau kamu, bilang seperti itu lagi. Jangan harap kamu masih hidup hingga besok. Kau tidak akan melihat keberadaan suamimu lagi, kamu tidak bisa melihat resepsi pernikahan kamu lagi,dan kamu kehilangan segalanya di dunia ini. “
“Sadar Fauzi, istigfar. Aku tidak takut kalau kamu membunuhku sekarang, aku juga tidak takut kalau aku kehilangan segalanya. Yang aku takutkan, kamu menanggung dosa atas kematianku, Fauzi,” teriakku. Detak jantungku, mulai berbunyi. Aku tidak tahu apakah aku akan mati saat ini.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka dia pun tidak akan bisa memilikimu juga. Bukannya di dunia harus impas? Mungkin setelah kematian kita nanti Allah akan mempersatukan kita di akhirat,” ucapnya, dengan air mata mengalir bebas di pipinya.
Aku memegang kedua tangan Fauzi. Andai saja dia melepaskan tangannya yang kupegang, mungkin aku sudah meluncurkan bebas ke bawa sana. “Mencintai tidak harus sebodoh ini! Kamu harus tahu, siapa yang berhak kau cintai dan yang tidak boleh kau cintai! “
“Oke kalau kamu tidak mau menikah denganku, aku-“ sebelum ucapan Fauzi selesai, aku menarik tangan Fauzi sehingga aku bisa menjauh dari jurang tersebut, dan alhamdulillah atas berkat Allah, aku bisa menjauh dari jurang itu sekaligus terlepas dari pegangan tangan Fauzi, mungkin karena kaget jadi dia melepas tanganku.
Aku berlari menuju jalan raya, padanganku menatap Fauzi di belakang yang mulai mengejarku. Aku menangis selama berlari, rasanya kakiku gemetar saat berlari. Ya Allah apa yang sedang Engkau rencanakan ya Allah? Kenapa semuanya begitu rumit? Semakin banyak yang ingin kumengerti malah semakin sedikit yang aku tahu.
Bagaimana dengan suamiku kalau hari ini aku benar-benar mati? Aku pergi meninggalkan surat tanpa meminta izin langsung kedia! Ini salahku, terlalu mempercayai dia.
Aku terus berlari, dengan padangan menatap wajah Fauzi yang sudah hampir mendekatiku. Tiba-tiba dia berteriak, “Berhenti! “ teriaknya. Aku menatap kedepanku, tanpa kusadari sebuah truk melaju ke arahku dengan cepatnya tinggi. Dan akhirnya aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, semuanya terlihat begitu gelap.
Dear Allah. Kalau umurku sampai sini saja, kuharap tidak ada yang merasa bersalah karena kematianku, dan tidak ada yang merasa kehilangan karena kematianku.
Dear imamku. Andai saja aku pergi hari ini, kuharap kamu dengan ikhlasnya menerima keadaan. Aku mencintaimu wahai imamku. Semoga kelak kita dipersatukan di janna-Nya kelak.
Rasulullah SAW. Bersabda : sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya untuk Allah dan rasulnya maka hijrahnya itu untuk Allah dan rasul-nya.
Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku. - Ali Bin Abi Thalib.
●_●
Aku melihat sekeliling dengan cahaya putih yang sangat indah dan ruangan yang tidak memiliki ujung tapi terlihat begitu indah bercampur aneh. Pandanganku menangkap sosok pria dengan gadis, mereka berdua berpakaian berwarna putih.
“ Enak ya, ayah sekarang, bisa ketemu ibu, lah aku, balum juga ketemu ibu, foto pun belum pernah lihat,” ucap gadis itu, “Aku mau ikut ayah, boleh? “
Pria paru baya itu mengusap lembut jilbab anaknya kemudian berkata, “Masih banyak yang membutuhkan kehidupanmu nak, bertahanlah sebentar, bahagiakan mereka yang membutuhkan ragamu. “
Gadis itu menggeleng. “Terlalu banyak yang membuatku tertipu ayah, aku takut suatu saat kalau aku mengikuti hawa nafsuku dan akhirnya celakalah aku. Aku takut kalau nantinya aku tidak bisa bersama ayah dan ibu lagi. “
“Percayalah, Allah pasti menjagamu dari hal yang salah seperti itu nak. Pergilah nak, mereka masih membutuhkan dirimu. “
“Tapi ayah, semuanya akan indah kan? “ tanya gadis itu dengan polosnya.
“Iya nak. Percayalah.”
Tiba-tiba cahaya itu hilang, dan entah bagaimana, aku pun rasanya hilang.
●_●
-
-
-
-
-
-
-
Bukan seberapa lama suka, tapi seberapa cepat dia melamar. -Adibah
●_●