
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
💜
“Yahhh, kak Farzan gak mau tahu ya? Sudahlah percuma memaksa kemauan orang lain. “
●_●
“Adibah kenapa akah? “ Aqilah duduk di
sambingku yang sedang menyuapi Adibah bubur. Saat Adibah pingsan tadi, aku membawanya langsung ke ruanganku, dan beberapa menit setelah itu dia kembali sadar setelah aku menanganinya, alhamdulillah.
“Makan bubur,” ucapku. Adibah terlihat tertawa mendengar jawabku. “Astagfirullah, akah. Tadi Adibah kenapa? Kata mas Esa dia pingsan, kenapa emangnya? “
“Adibah tidak bisa tahan saat hujan.” Aqilah mengangguk paham perkataanku. “Syahila mana? “
“Makan di luar, di temani oleh mas Esa, akah.” Syukulah, Aqilah sudah tidak terlalu membenci kehadiran Syahila.
Saat bubur hampis habis, Adibah menarik daguku, agar kami saling bertatapan. “Kak Farzan. Dibah masih Lapar, “ rengeknya. Aku menatap tubuh kurus Adibah. Ya Allah, selama ini dia menampung makanannya di mana? Dia sudah menambah sebanyak tiga kali. “Kak Farzan! “
“Kamu tidak bohong kan kalau lagi lapar? “ tanyaku memastikan. Porsi makanku saja tidak seperti dia.
Adibah menggeleng.
“Akah. Waktu aku hamil, aku juga seperti ini. Mau makan banyak terus.” Sepersekian detik setelah ucapan Aqilah, Adibah tiba-tiba tersedak dengan bubur yang dia makan.
Aku segera mengambilkan air untuknya. “Minum dulu.” Aku kemudian menyerahkan air itu ke Adibah. “Aqilah. Jangan bicara seperti itu lagi.”
“Ih akah! Bukannya bilang aamiin kalau Adibah hamil, “ kesal Aqilah, sambil memanyungkan bibirnya. Ingin rasanya mejawab perkataannya seperti ini, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebahagiaan aku saat mendengar kabar kalau perkataanmu itu nyata.
“Kak Farzan, Dibah mendadak kenyang deh. “ Demi Allah, Adibah terlihat sangat lucu dengan pipinya yang sudah berubah warna menjadi merah padam. “Dibah, mau ke wc dulu. “ Tanpa menunggu persetujuan dariku Adibah langsung meninggalkan aku.
Ada apa dengan dia? Setiap kali malu dia pasti mencari cara agar menjauh dariku. Dan untuk perkataan Aqilah, kabulkanlah segera ya Allah, Aamiin. Mungkin saat kehadiran anak di hidup kami, hubungan kami akan menjadi sempurna.
●_●
“Kak Farzan, mau es krim! “ Dari tadi, Adibah selalu merengek meminta untuk diberi es krim, padahal keadaannya masih demam.
“Nanti aku beli kalau hidungmu sudah tidak merah lagi,” dalihku. Sesaat kemudian abi keluar bersama umi. Aku sangat bersyukur masalah ini selesai dengan cepat. Untungnya umi memiliki seribu sifat bidadari dihidupnya, aku juga tahu kalau umi pasti sangat kecewa walaupun dia tidak menyebutkan secara langsung.
Adibah mendekati umi kemudian memeluknya. Gadis itu sangat menyayangi umi, dia bilang umi sudah seperti orang tua kandungnya sendiri, dan aku berkata sekarang dia orang tua kandungmu. Kemudian memeluk umi, seakan anak yang baru saja ketemu dengan ibunya setelah beberapa tahun berpisah. Aqilah nampak tersenyum melihat kejadian itu. Ada kemajuan juga yang terjadi, Aqilah sudah bisa menerima seutuhnya tentang kehadiran Syahila, semenjak dia mengetahui kalau Syahila tidak bisa berbicara. Sekali lagi terima kasih ya Allah.
“Umi. Kak Farzan gak mau beliin Adibah es krim! “ Demi Allah, dia mengadu seperti itu, seakan aku adalah kakaknya. Kapan dia memanggilku dengan sebutan yang lebih romantis? Semisal Abi, seperti umi memanggil abi. Aku takut kalau suatu saat nanti kita memiliki anak dan Adibah masih memanggilku dengan sebutan kak Farzan, apa anak kita akan ikutan memanggil dengan sebutan itu?
Umi tersenyum mendengar aduan Adibah.”Kalau hal ini, mungkin umi lebih berpihak ke Farzan deh,” ucap umi, membuat adibah memanyungkan bibirnya.”Kamu masih demam nak. “
“Tapi umi, Adibah cuma minta es krim yang keciiiillll,” ucapnya, kembali merayu umi.
Dan aku tahu umi, dia akan tetap kepada pendiriannya. “Oke, tapi ada syaratnya,” ucap umi sambil tersenyum jahil.
Apa yang umi inginkan? Ah, mungkin umi sedang mengerjai Adibah.
“Iya Adibah janji. “ Sakin ngiler es krimnya dia, sampai-sampai menyetujui permintaan umi.
“Wallahi? “ Umi kembali memastikan.
Rasanya, aku mulai khawatir dengan syarat yang ingin umi ajukan ini!
“Wallahi, umi. “ Adibah dari tadi pasrah atas ucapan umi.
“Yasudah. Farzan, belikan Adibah es krim, “ pintah umi.
“Tapi umi. Adibahkan demam? Bagaimana kalau ke-“
“Adibah cuma mau es krim Farzan. Kan Adibah? “ tanya umi, yang di balas anggukan oleh Adibah. Ya Allah, ada apa dengan otak istriku? Apa dia sedang sakit?
Akhirnya aku menyetujui permintaan Adibah. Andai saja cuma kemauan Adibah, mungkin aku bisa menghalangi, tapi ini kemauan umi juga, kemauan dua wanita. Rasanya aku semakin penasaran dengan syarat umi.
“Farzan. Kamu pulang duluan, belikan Adibah es krim. Umi bisa pulang bareng yang lainnya. “ Lihat umi masih tersenyum jahil. Sumpah, aku semakin tidak enak sekarang.
“Tidak sayang. Tapi ingat, syarat yang tadi umi akan beritahu nanti yah. “ Umi kembali mengingatkan hal tadi.
“Ponsel Adibah ditahan sama kak Farzan umi, bagaimana? “
Umi diam, kemudian menatap Aqilah dan Abi secara bergantian. Apa yang mereka rencanakan ya Allah? Apa pun itu tolong jangan sampai menyesatkan keluargaku ya Allah. “Ya sudah. Umi tanya sekarang. Kemari.” Adibah kemudian mendekati umi.
Kulihat jelas, saat umi sedang membisikkan sesuatu kepada Adibah. Andai saja mata batin ada pada diriku saat ini! Tidak lama itu, Adibah menggeleng-geleng paham dengan perkataan umi. Kok seperti greget sendiri ya?
Umi terus berbisik ke Adibah, sampai akhirnya beberapa kata berhasil terdengar jelas di telingaku. “Kak Farzan gak akan tahu kok umi. “ Allahu akbar! Umi menyuruh istriku untuk menyembunyikan sesuatu dari suaminya sendiri? Allahu akbar umi! Ya Allah maafkan umi dan istriku andai saja saat ini dia sedang salah menuju jalan-Mu.
“Adibah! Ayo pulang,” kesalku.
Dengan senyuman percaya diri, Adibah beejalan mendekatiku. “Kak Farzan, janga lupa es krim ya.” Di akhir kalimat Adibah tertawa.
“Abi, umi, dan semuanya. Aku dan Adibah pulang duluan ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. “
“Hati-hati sayang, wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. “
Selama. Di perjalanan, aku terus saja diam. Kalian pasti tahu selain urusan pekerjaan aku selalu memikirkan apa? Setelah kedatangan Adibah pikiranku menjadi terbagi terbagi-bagi, untuk pekerjaan aku dan Adibah empat puluh persen, separuhnya untuk sang Pencipta.
“Kak. “ Adibah akhirnya angkat bicara. Aku harus belajar marah saat ini, jangan tertipu Farzan! “Kak Farzan! “
“Hem.”
“Kak Farzan mau tahu apa syarat umi tadi? “
“Hem. “ mungkin ini adalah jawaban yang tepat, agar dia tidak tahu kalau aku sedang sangat ingin tahu hal itu.
“Yahhh, kak Farzan gak mau tahu ya? Sudahlah percuma memaksa kemauan orang lain. “
Tolong katakan kalau aku sedang tidak terjebak di rencanaku sendiri barusan! Apa Adibah memaksaku agar memberi tahukan ke dia kalau aku samgat ingin tahu! “Tidak baik lo menyembunyikan sesuatu dari suami! “ akhirnya kalimat itu yang keluar untuk kuucapkan.
“Tapi syarat buat kak Farzan juga ada.” Adibah kembali tertawa. Jangan bilang dia mau es krim yang banyak?
“Apa? “
“Beli es krim yang besar ya. “
“Kecil atau tidak sama sekali? Cuma dua pilihan! “
“Memangnya gak boleh diganti salah satu pilihannya ya kak Farzan? “ rayunya.
“Keputusan terakhir tidak boleh di ganggu gugat! “
Dia tersentak mendengar perkataanku. “Ih kak Farzan bikin Adibah kaget! “ Jujur, kalau kamu masih cantik walau kau sekaget apa pun.
Setelah sadar, aku menghentikan laju mobilku kemudian singgah untuk membeli es krim untuk Adibah. Aku memilih yang kecil untuknya, bukannya aku kikir, tapi aku menjaga kesehatannya sekarang.
Setelah selesai membeli, aku kembali ke mobil. Menyerahkan es itu ke Adibah. Kalian mau tahu bagaimana mimik wajahnya? Seperti anak kecil yang baru di beri es krim, terlihat sangat lucu.
“Ya sudah. Ceritakan syarat yang umi bilang. “
●_●
QS.Al-Ankabut : 2-3
''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka di biarkan (saja) hanya dengan menyatakan kami telah beriman , sedang mereka tidak di uji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
●_●