Dear Imamku

Dear Imamku
Lunch



Naufal menghempaskan tubuhnya di atas kasur, saat ini ia lelah seketika perbincangan tadi kembali melintas di pikirannya


Sungguh Naufal tak berniat membohongi Rifa, ia tak bisa membayangkan Mamahnya sedih karena hal ini


Naufal menghembuskan napas kasar, entahlah ia tak bisa membayangkan nasib Fauzan sekarang


Tadi saat Naufal tengah menemani Aisha di taman, Rifa memintanya untuk berbicara sebentar


"Naufal, jawab jujur nak, sebenarnya Fauzan kemana?" tanya Rifa masih dengan tenang


"Kemana Fauzan, Fal?" tanya Rifa


"Kenapa belum pulang sampai sekarang?" tanya Rifa lagi


Naufal tak kunjung menjawab, matanya malah berkaca kaca dan hal itu membuat Rifa semakin tak karuan


"Fal, Jawab Mamah," desak Rifa


"Mah, sebenarnya Fauzan-" belum sempat menjawab Naufal sudah tak kuasa menahan tangisnya


Sungguh, ia merasa bersalah pada Rifa karena membiarkan Fauzan ikut bersama Queen


"Mah, janji sama Naufal jangan syok," kata Naufal menatap Rifa yang kini sudah tak bisa tenang lagi, ia cemas dengan Fauzan


Sejak semalam perasaan Rifa tak enak, firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu pada Fauzan yang membuat nya tak bisa ikut pulang


"Sebenarnya Fauzan yang nyelamatin kita semua, dia yang udah ngorbanin dirinya buat nikah sama wanita itu," kata Naufal akhirnya ia memalingkan wajahnya dari Rifa, ia tak bisa melihat keterkejutan Mamahnya


"Nikah? Wanita? Siapa Naufal? Bicara yang jelas," Rifa semakin mendesak Naufal


"Queen, dia yang pernah neror Aisha dan dia juga yang udah culik Aisha," kata Naufal


Naufal menceritakan seluruh kejadiannya sampai akhir


Tubuh Rifa mendadak lemas, ia hampir terjatuh jika saja Naufal tak sigap menahannya


Air matanya jatuh tanpa di minta, ia kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa memberi kebahagiaan pada anaknya sendiri


Naufal tak bisa melihat Bundanya seperti ini, lantas ia memeluk Rifa dengan erat


"Maafin Naufal Mah, Naufal nggak bisa jagain saudara Naufal sendiri,"


Naufal sungguh menyesal karena tak bisa membantu kakaknya itu


"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin hah?!" tanya Rifa sudah berlinang air mata


"Aku nggak tau harus bilang apa sama Mamah, Naufal paling nggak bisa lihat Mamah sedih," ujar Naufal merasa bersalah pada Rifa


"Kejadian itu, kejadian itu terulang lagi." lirih Rifa sangat pelan hingga Naufal pun tak bisa mendengarnya


"Fauzan!" teriak Rifa histeris


"Mah, sadar Mah," kata Naufal yang terkejut ketika Rifa tiba-tiba berteriak


Mendengar Rifa menjerit histeris memangil nama Fauzan membuat hatinya sedikit sakit


Naufal tahu bahwa Rifa sangat menyayangi Fauzan dan dirinya


"Fauzan, maafin Mamah nak," kata Rifa


Suaranya sungguh menyayat hati siapapun yang mendengarnya termasuk Naufal


Jelas Rifa tak terima anaknya menikah dengan wanita yang sudah jelas jelas salah


Ibu manapun pasti menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya


"Fauzan maafin mamah,"


Rifa yang terus saja menangis dalam pelukan Naufal, sampai akhirnya pingsan akibat kelelahan mennagis


Naufal yang panik akhirnya meminta bantuan orang rumah


Setelahnya Naufal benar benar menceritakan semua kejadian itu pada keluarganya


***


Waktu berlalu begitu saja dan keadaan sudah kembali tenang meski Rifa yang terkadang masih terus memikirkan keberadaan Fauzan yang belum kembali sampai saat ini


Mereka semua sudah berusaha mencari keberadaan Fauzan namun tak kunjung menemukan petunjuk


Dan Naufal serta Azma sudah kembali melaksanakan tugasnya sebagai dokter


Padahal baru beberapa hari ia cuti untuk menjaga dan merawat Aisha yang masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu


Ia tengah berada di ruangannya yang sangat rapi dan tersusun


Naufal berjalan menuju rak buku, ia mengambil salah satu buku yang tebal lalu membukanya


Selembar foto jatuh saat Naufal membuka buku itu, lantas ia mengambilnya dan melihatnya


"Sudah lama rasanya," gumam Naufal pelan nyaris tak terdengar


Ia kembali menyelipkan foto itu di dalam buku dan meletakkan kembali bukunya ke posisi semula


Tanpa sadar seseorang datang ke ruangannya dengan tatapan heran menatap Naufal


"Mas," panggil Aisha


Sontak Naufal terkejut dan berbalik melihat Aisha yang sudah berdiri di depan pintu


"Aisha? Dari tadi?" tanya Naufal


"Nggak, aku baru sampai tadinya mau bawain makanan tapi mending Aisha ngajak mas lunch di luar aja," ujar Aisha dengan nyengir


"Ngajak kencan ceritanya?" tanya Naufal terkekeh


"Ih siapa juga yang ngajak kencan," kata Aisha


Naufal gemas melihat Aisha yang cemberut menurutnya itu adalah hal yang paling lucu di hidup Naufal


"Yaudah yok," ajak Aisha


"Ayo,"


Naufal berjalan mendahului Aisha keluar dari ruangan itu


Aisha pun mengekori Naufal tapi sebelum itu Aisha menatap satu titik yang sejak tadi menjadi beban pikirannya setelahnya ia benar-benar keluar dari sana


"Mas coba tebak," kata Aisha, Naufal mengerutkan dahinya, "Apa?"


"Tau nggak kenapa laut dan langit nggak pernah bisa nyatu?" tanya Aisha


"Mudah. Ya karena langit di atas, laut di bawah," kata Naufal dengan tersenyum bangga


Aisha menatapnya malas, kemudian ia kembali berfikir, "Tapi mas,"


"Meski begitu angin dan hujan jadi perantara rindu mereka, ketika laut merindukan langit maka ombak akan berdebur kencang lantas angin membawa suaranya hingga ke langit," kata Aisha


"Begitu juga sebaliknya, ketika langit merindukan laut maka hujan perantaranya," Aisha menerawang jauh ke depan


Naufal terhenyak beberapa menit lantas ia tertawa pelan, "Kamu kalau lagi bosan tiba-tiba bisa jadi bijak ya," kekeh Naufal membuat Aisha mengerucutkan bibirnya sebal


"Terserah ah, lagian aku serius ngomong juga," Aisha mendahului langkah Naufal hal itu membuat Naufal refleks mengikuti istrinya itu


"Eh, Sya tunggu, jangan cepat-cepat," Naufal berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Aisha


Aisha akhirnya mendengus pelan, "Kamu tahu mas? Aku kadang berfikir seseorang akan dengan mudah mengambil posisi ku," kata Aisha


"Posisi apa Aisha?"


"Posisi penting di hidup aku," Naufal tak paham dengan arah pembicaraan Aisha, entah dia benar-benar tidak paham atau pura-pura tidak paham


"Iya posisi apa? Kalau perlu biar mas bantu supaya kamu nggak kehilangan posisi itu," kata Naufal, Aisha tak menjawab ia memilih masuk ke mobil tanpa berkata apapun lagi


Naufal segera mengekor, ia menghidupkan kemudi mobil menuju restoran seperti yang Aisha mau mereka akan lunch hari ini


"Mas aku mau ini," kata Aisha menunjuk makanan dengan gizi tinggi untuk si bayi


Naufal membolehkan Aisha memesannya, "Asal itu nggak mengganggu kesehatan kamu dan juga si kembar," kata Naufal sambil tersenyum, Aisha mengangguk paham


"Mas, aku udah lama nggak ketemu Zilia, Farhah, sama temen-temen aku yang lain," kata Aisha tiba-tiba


Semenjak teman-temannya memiliki kehidupan masing-masing, mereka jadi jarang bertukar kabar hal itu membuat Aisha rindu pada masa lalunya


"Mereka udah sibuk sama dunianya, apalagi Zilia yang kabarnya di jodohkan, ya kan?" kata Naufal membuat Aisha mengangguk membenarkan hal itu, wajahnya terlihat sedih


"Tapi nggak papa, kita bakal kunjungi mereka kalau ada waktu," kata Naufal berusaha membujuk Aisha


Sepertinya mood Aisha akan kembali membaik saat melihat hidangan di mejanya, "Aku laper," gumam Aisha dengan wajah yang dibuat mengenaskan


Naufal terkekeh, setidaknya hanya dengan makanan mood Aisha bisa kembali seperti semula


"Eh iya, kan yang ngajak lunch kamu, berarti yang bayar kamu ya Sha, mas nggak bawa uang," kata Naufal membuat Aisha melotot, enak saja dia yang bayar


Meski dia yang ajak bukan berarti Aisha yang bayar, perempuan itu menatap garang suaminya membuat Naufal terkekeh pelan


"Nggak kok, mas yang bayar kan uang suami uang istri juga," kata Naufal kembali tertawa kecil


Sedangkan Aisha yang berada di hadapannya mendengus pelan, "Untung suamiku kaya," gerutu Aisha


"Ohh kalau nggak kaya, mau di tinggalin gitu?" tanya Naufal yang mendengar jelas gerutuan Aisha, namun bukannya marah Naufal hanya tertawa


"Aku maunya sama sugar daddy," celetuk Aisha membuat Naufal tertawa ngakak


Astaga Aisha, perempuan itu random sekali, entahlah hari ini Aisha banyak bercerita hal-hal kemudian menggerutu tak jelas lalu menyeletuk aneh


Tapi meski begitu Naufal tetaplah menyayanginya, ia bahkan selalu tersenyum apapun yang Aisha ceritakan