Dear Imamku

Dear Imamku
Hanya Mimpi



"Kalau tidak niat membalas pesan Dibah, setidaknya read saja, agar Dibah tahu kalau pesan yang Dibah kirim, sudah kak Farzan baca. Percayalah Dibah sudah senang sekali."


●●●●●_●


Adibah meraba tempat tidur di samping kanannya. Mengecek apakah Farzan masih ada di sana. Tapi tunggu! Ke mana dia? Kenapa menjadi kosong seperti ini?


Sekeliling Adibah, begitu sepi. Di mana adegan romantis semalam? Kenapa menjadi seperti ini? Atau semalam cuma mimpi? Adibah memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.


Mata Adibah membulat melihat sekeliling, dia sedang bukan di kamarnya, ini di kamar Farzan. Apa ini benar mimpi? Kemarin sebelumnya, dia tidur di kamarnya bukan di kamar Farzan, tapi kenapa saat bangun dia tidur di sini?


Tunggu. Adibah mengingat kembali. Ya Allah, ini benar mimpi. Kak Farzan belum pernah kembali setelah mengantar Aqilah. Ke mana dia? Pikir Adibah dalam hatinya seolah semua begitu nyata.


Kalau mimpi kenapa semuanya terasa nyata? Kenapa seolah itu begitu indah. Andai saja bisa, Adibah akan memiliki agar tetap bermimpi seumur hidupnya agar bisa bersama Farzan selamanya.


Dia berjalan sempoyongan. Sudah beberapa hari semenjak pertengkaran itu, Adibah belum pernah mengisi perutnya dengan makanan, cuma air, itu pun sesekali saja. Selera makannya mendadak hilang.


"Salatlah agar hatimu tenang. Istigfarlah agar kecewamu hilang dan berdoalah agar bahagiamu segera datang." Adibah kembali mengingat ucapan ayahnya.


Setetes air kembali terjatuh di pelupuk mata Adibah. Semuanya tidaklah semudah yang dibayangkan gadis ini. Mencintai ternyata tidaklah mudah. Dia pernah mencintai pria sebelumnya tapi tidak pernah seperti ini!


Setelah sampai di kamarnya, Adibah mengambil telepon yang ada di atas nakas. Mengirim pesan whatsapp ke Farzan, seperti hari lainnya, berdoa agar pesannya kali ini mendapatkan balasan tidak seperti hari kemarin.


Tapi sayang, sekali batu tetaplah batu. Farzan tetap tidak membalas pesan yang dikirim Adibah, bahkan membacanya saja enggan. Bagaimana semuanya bisa seperti dahulu, kalau Farzan tidak pernah memberi satu pun kesempatan untuk Adibah.


Pagi ini Adibah harus bangkit, masih banyak kehidupan lainnya yang menunggu. Walau keadaannya sekarang bisa dibilang memprihatinkan. Wajah pucat sangat, jalan sempoyongan, semangat hidup mungkin juga bisa dikatakan sudah hilang.


Adibah menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong setelah sampai di kamarnya. Tiba-tiba muncul notib pesan dari teleponnya. "Kak Farzan," ucapnya kegirangan.


-Bapak dokter 💕


Jam 10 nanti, saya baru pulang.


tangannya gemetar mulai menekan huruf per huruf untuk mengirim balasan pesan dari Farzan. Dia sangat bahagia, walau Farzan cuma membalas sekali dari puluhan pesan yang dikirimnya.


-Anda


Bapak dokter kemana?


Sesekali, Adibah menatap teleponnya untuk memastikan balasan kembali diterimanya. Walau hanya ada satu kata, semisal, rumah.


-Bapak dokter 💕


Umi dan Abi, baru pulang dari Mesir. Sekarang saya lagi di hotel, saya harap kamu bisa berpura-pura cinta sama saya selama Umi dan Abi ada. Selebihnya, itu urasanmu.


Bulir kecil itu kembali mengalir. Bisa di kata, belakangan ini Adibah lebih sering menangis.


●●●●●_●


Air mataku mengalir begitu saja. Entah apa yang di dipikirkan kak Farzan selama ini! Ya Allah, aku mencintainya kenapa dia tidak merasakan ini? Kenapa dia malah semakin membenciku?


Kamu harus kuat Adibah buktikan kalau kamu benar-benar mencintai kak Farzan! Usaha tidak akan pernah mengkhianat hasil bukan?


"Kenapa harus aku ya Allah? Kenapa? Apa aku cukup kuat untuk melewati ini? Bantu aku ya Allah! " gumamku yang diiringi isak tangis. "Kenapa saat aku sudah sangat mencintainya, dia malah pergi begitu saja?"


Seseorang memegang kedua pundakku. Aku mengusap air mataku segera mungkin kemudian menatapnya, dia Aqilah. Kenapa dia kesini? Bukannya dia membenciku? Aku menatap Aqilah dengan pilu.


"Maafkan, aku, Dibah. " Aqilah mensejajarkan badannya kemudian memelukku. Aku membalas pelukannya.


Aku tidak lagi menangis, air mataku rasanya enggan untuk menampakkan dirinya lagi.


"Kenapa Aqilah kesini? " tanyaku, dengan suara lirih. "Ke mana kak Farzan? "


Dia tersenyum menatapku. Kemudian memelukku, mengusap punggungku dengan lembut. "Jangan kalian lemah hati, dan jangan pula bersedih. Padahal sebenarnya kalian itu memiliki derajat yang paling tinggi, jika kalian orang yang beriman. -QS. Ali Imran: 139"


Aqilah masih memelukku. Aku menatap sekeliling dengan pandangan kosong. Entah kemana sebenarnya tujuan hidupku ini.


Ayah, aku ingin ikut bersama ayah. Semenjak ayah pergi, aku tidak pernah lagi se-bahagia dulu, ayah tahu saat ini aku berada di titik di mana ingin hidup tapi tidak ada tujuan pasti dan ingin mati ajal belum juga datang.


Aqilah melepaskan pelukannya dari tubuhku. "Maafkan aku Dibah, waktu itu, aku khilaf. Sumpah sa-"


Aku memegang kedua tangan Adibah sambil mengelus-elusnya. "Apa pun yang sudah terjadi tidak perlu di sesali, fokuslah untuk masa depan. Kita akan menemukan cinta Allah disana," ucapku berusaha untuk tersenyum dan tegar.


"Wajamu pucat, Dibah," ucap Aqilah sambil meraba wajahku. "Lihat, ini wajahmu sudah kayak patung tahu gak! Kamu sudah makan seharian ini? "


Ingin rasanya aku mengatakan 'Selama kepergian kak Farzan selera makanku mendadak hilang' tapi yang keluar malah "Dibah kenyang kok Qilah. Tadi sudah makan. "


Aqilah menatap aku dengan pandangan lirih. "Kamu bohong kan? "


Aku segera menggeleng. "Dedek bayi bagaimana keadaannya?" tanyaku mengganti topik pembicaraan.


"Alhamdulillah dedek bayinya sehat. "


"Mas Esa udah tahu? "


Dia menggeleng. "Anniversary aku sebulan lagi. Kita ke sofa duduk yah. Enggak enak duduk melantai begini. " memang sendari tadi kami berdua duduk melantai.


Aku dan Aqilah berjalan keluar dari kamar dan duduk di sofa. Aku menghirup nafas panjang Bismillah.


"Lanjut cerita yang tadi deh," katanya yang kubalas anggukan. "Tahu gak, kehamilanku hampir saja terbongkar di depan mas Esa. " Dia terkekeh sambil memegang hidungnya. Sewaktu pertama bertemu, aku memang selalu melihat kebiasaan Aqilah yang satu ini.


Aku terkekeh. "Bagaimana ceritanya? "


"Iya waktu itu akukan mual terus malamnya mau makan bubur, padahal kalau malam itu bubur susah sangat dicari, mas Esa sibuk ke sana ke sini bahkan sampai hubungi mertua aku dan akhirnya di buatkan dan setelah jadi malah dimakan cuma tiga sendok. " Lihat dia tertawa sambil memegang hidungnya kembali. "Trus ibu mertua aku bilang, kamu hamil ya sayang? Aku segera menggeleng terus bilang Lagi datang bulan saja bu. "


Kami tertawa kembali. Aku baru sadar, sewaktu dia marah kemarin itu mungkin hormon dari bayi Aqilah.


"Terus dia percaya? "


"Suami dan mertua aku ya tipe orang yang percaya-percaya saja."


"Ngomong-ngomong kak Farzan mana ya? Ini sudah pukul 10 : 26. Apa mereka masih sibuk? "


"Adibah," panggil Aqilah dengan suara lirih.


"Ada apa? "


"Tadi... Akah... Hem. " Kenapa Aqilah menjadi gugup seperti ini? "Akah ke rumah Zahra bareng Umi dan Abi. "


Dahiku mengernyit dalam. Memikirkan siapa sang pemilik nama itu. "Dia siapa? Maksudnya Zahra itu siapa? "


Aqilah diam. Sesaat kemudian menundukkan kepalanya tidak lama itu dia kembali menatapku. "Mantan istri kak Farzan."


Aku meneguk ludahku dengan susah paya. "Kak Farzan duda? "


Aqilah mengangguk.


Dadaku sesak berusaha menahan tagis agar tidak meluncur bebas. Astagfirullah ada apa ini ya Allah? Kak Farzan ke rumah mantan istrinya?


"Kenapa dia bisa bercerai? "


"Ibu Zahra tidak merestui hubungan mereka. Sewaktu itu akah belum memiliki pekerjaan umur akah waktu itu dua puluh tahun, jelaslah aku saja umur dua puluh satu tahun masih kuliah bagaimana dengan akah. Jadi waktu itu ibu Zahra tidak mau anaknya kelaparan padahal saat itu keluarga kami tidak pernah merasakan kekurangan sedikit pun, pekerjaan ayah dan ibu juga bagus, dia terlalu sombong!" ucap Aqilah geram. "Terus mereka harus terpaksa cerai. Padahal seharusnya Zahra bangga menikahi berondong, umur mereka terpaut lima tahun."


"Kenapa mereka ke rumah Zahra kembali? "


"Sewaktu mereka cerai beberapa bulan ke depannya Zahra malah hamil. "


Aku mengerutkan dahiku. Jujur aku tidak mengerti apa perkataan Aqilah. "Ah. kamu pasti bohong kan Qilah? "


"Katanya, Zahra hamil anak kak Farzan. "


Hening menyelimuti kami. Aku kesulitan bernafas, dadaku rasanya sesak, jantungku rasanya berhenti melakukan kebiasaannya. Rasanya aku ditembak seribu peluru secara bersamaan. Kurasa ragaku telah hilang sekarang, bersama dengan akhir perkataan Aqilah tadi.


Kenapa penderitaan ini datang secara bersamaaan? Kenapa harus saat ini juga?


Hidupku begitu hancur sekarang. Ibu sudah tidak ada sewaktu aku di lahirkan, ayahku baru saja meninggal beberapa hari yang lalu, aku tidak memiliki keluarga lagi sehingga aku harus menikah dengan orang yang baru kukanal, dan sekarang aku sedang bertengkar dengan suamiku mungkin setelah ini, kita akan pisah.


Kapan akhir dari semua ini? Aku selalu berharap agar bisa melewati ini semua tapi aku terlalu lemah, aku harus mengatakan gagal hari ini.


"Aku yakin, itu bukan anak akah. Bagaimana bisa dia baru mempermasalahkan ini padahal perceraian dia sudah hampir sepuluh tahun! Dia pasti tahu kalau akah sudah memiliki pekerjaan dan sekarang dia seorang dokter terkenal jadi dia dengan liciknya mengakui mempunyai anak dari akah! "


Aku diam. Bersandar di sofa. Tidak ada yang bisa lagi aku ucapkan, aku selalu berharap semuanya ini hanya mimpi tapi di hidupku selalu saja terbalik, dimana yang indah kadang menjadi mimpi dan yang buruk malah menjadi kenyataan.


Sesaat kemudian, Aqilah memeluk tubuhku, menepuk-nepuk pundakku.


"Percaya sama aku Dibah, itu bukan anak akah."


Air mataku mendadak keluar begitu saja. Aku merebahkan kepalaku ke pundak Qilah. Memeluknya erat. "Rasanya aku ingin pergi meninggalkan semuanya ini, Qilah! Bagaimana aku agar bisa bersabar untuk melewati ini? Aku tidak punya siapa-siapa sekarang! Jihan sahabatku? Dia sebentar lagi akan menikah! Keluargaku? Ibu dan ayah sudah pergi sekarang, " ucapku terisak.


Aqilah mengusap air mataku. "Aku sekarang keluarga kamu Aqilah, kamu tidak sendiri. In sha Allah aku akan selalu bersama kamu." Aqilah mengusap pundakku penuh kelembutan. "Kamu mau makan? " tanya Aqilah.


"Enggak. Adibah ngantuk sekarang," ucapku.


Rasanya aku ingin mengistirahatkan badan, dan pikiranku sekarang. Mencari cara untuk melupakan semua masalah ini sesaat.


"Yaudah, ayo." Aqilah membawaku menjauh dari sofa itu hingga kita sampai di dalam kamar. "Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini Adibah. Kamu tahu, sebenarnya aku juga sedih saat akah di fitnah tapi aku tidak boleh egois ada manusia di dalam tubuhku yang harus kujaga kesehatannya. "


Kurebahkan badanku diatas ranjang berdua dengan Aqilah. Mungkin suaminya sedang tidak ada. Aku membalikkan badanku agar Aqilah tidak melihat wajahku dan merasa iba karena itu.


Dear kak Farzan. Aku tidak pernah tahu bagaimana aku dimatamu, seberartinya aku untukmu. Yang aku tahu hanyalah aku akan tetap mencintaimu semampuku


●●●●●_●


Perlahan aku kembali sadar. Kutatap jam dinding yang ada di samping kanan kamar itu yang sudah menunjukkan pukul 18 : 53. Senja sudah memperlihatkan kembali dirinya.


Kadang aku ingin menjadi senja. Sesuatu yang bisa ke pandangi sampai takjub dan terpesona, lalu jatuh cinta, yang selalu kau rindukan, meski aku pergi tanpa permisi, meski hilang tanpa bilang.


Sangat banyak hal yang menyangkut tentang senja, seseorang bisa jatuh hati saat melihatnya, seseorang yang bisa terpukau dan banyak lagi. Bahkan ayah selalu membacakan ayat yang menyangkut tentang senja kalau tidak salah.


Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Al-Kahf: 28


Kemana Aqilah? Aku baru teringat dengan dia! Aku bangkit dari tidurku dan melihat dari kejauhan selembar kertas diatas nakas. Kulangkahkan kakiku untuk melihatnya. "Aqilah? "


Maaf ya, aku pulang tidak pamit ke kamu langsung, tadi mas Esa datang aku tidak membangunkan kamu takut menganggu, tidurmu cukup nyenyak sampai-sampai aku tidak tega untuk membangunkan kamu. Aku juga sempat masak tadi, jangan lupa dimakan ya, awas kalau enggak!


-Aqilah💜.


Kutatap di luar kamar, memang benar dia memasak dulu. Tapi tetap sama, selera makanku tetap tidak ada. Jika memang orang bisa mati kelaparan, kenapa aku tidak? Semenjak pertengkaran kita, aku belum pernah makan.


Kuambil ponselku yang ada di dekat kertas itu tadi. Kembali mengirim pesan ke kak Farzan sesekali menghubungi dia juga, tapi tetap tidak ada jawaban.


Dengan enggan aku berjalan menuju meja makan. Duduk diatas kursi, mengecek ponselku apakah sudah ada balasan pesan dari kak Farzan tapi tetap sama hasilnya kosong. Cuma ada pesan dari Jihan dan, Fauzi.


Lupakan dia Adibah! Batinku. Kemudian membuka pesan dari Jihan.


Jibol💕


Kenapa tidak ke sekolah? Pak Dandy mencari kamu.


Aku tersenyum, astagfirullah bisa-bisanya dia menyebut nama mantannya dengan sebutan bapak.


Anda.


Lagi malas 😂


Tidak lama itu suara ponselku berbunyi menampilkan nama Jibol disana. Kutekan tombol berwarna hijau tersebut.


"Assalamualaikum, ada apa? "


"Kenapa tidak ke sekolah? Tadi ulangan Matematika susahnya yah, sampai-sampai kepalaku hampir pecah karena soalnya. "


Aku tertawa. "Capcipcup kan bisa."


"Kamu tahu, Dani tadi sempat membaca hadis saat ulangan dimulai, soalnya tidak ada yang mau kasih contekan, yang katanya, 'Apabila seseorang ditanya tentang ilmu lalu dia menyembunyikan maka kelak ia akan dicambuk dengan cambuk api neraka saat kiamat nanti. " (H.R Abu Dawud).


Aku tertawa. Dani memang selalu seperti ini. "Terus apa lagi kejadian lucu tadi? "


"Oh iya, Abdi. Abdi kan cari jawaban di google, terus volume suara ponselnya tidak diundur dulu jadi seluru penjuru kelas mendadak rame karena tertawa, bahkan ibu Suarni sampai tertawa."


"Terus ponselnya ditahan? " tanyaku dengan suara tawa yang masih tersisa.


"Jelaslah, tapi waktu pulang di kembalikan lagi. Kata Ibu, jangan di ulang lagi yah. " Dia tertawa. "Kamu tahu curhatan Abdi? "


"Iya Dibah tahu. Ibu, kenapa cewek ya kalau di chat sok ngartis, padahal membalas chat tidak akan membuat kalian hamil."


"Terus mimik wajah ibu bagaimana? "


"Ibu ketawa terus kuping Abdi ditarik keras."


Saat aku asik berbicara dengan Jihan melalui telepon, tiba-tiba kak Farzan lewat. Dia tidak pernah menatapku. Andai saja dia mau melihatku, mungkin dia akan merasa iba denganku.


"Adibah!! " panggil Jihan di seberang sana membuatku sadar kembali.


"Sudah dulu yah, Dibah mau makan. " Aku mematikan telepon itu sepihak, kemudian mengikuti kak Farzan.


Aku mengikuti kak Farzan yang ingin masuk kekamarnya. "Kak Farzan!" panggilku.


Dia berbalik, menatapku dengan pandangan kosong. "Ada apa lagi? " tanyanya, sambil menatapku tidak suka.


"Bagaimana keadaan kak Farzan? " tanyaku berusaha tegar di depannya.


"Saya baik-baik saja. "


"Kenapa tidak balas pesan Dibah? "


Dia diam, enggan untuk menatapku. "Menjauhku bukan karena membencimu. Aku hanya ingin belajar sepertimu. Mampu menjalankan hari tanpa-mu"


Tiba-tiba air mataku mengalir. "Dibah tahu kak Farzan masih marah ke Dibah. Tapi kalau tidak niat membalas pesan Dibah, setidaknya read saja, agar Dibah tahu kalau pesan yang Dibah kirim sudah kak Farzan baca. Percayalah Dibah sudah senang sekali.


"Seandainya aku bisa membaca pikiranmu. Mungkin sekarang aku sudah tahu harus lanjut mencintaimu, atau berhenti mencintaimu. Dan Dibah juga udah tahu tentang wanita itu. " Kak Farzan menatapku lekat. "Dibah siap di madu asalkan kak Farzan tidak tinggalkan Dibah! Dibah tidak masalah, mau kak Farzan sayang ke wanita itu sekali pun Dibah tidak akan marah." Tanpa membalas ucapanku, Kak Farzan langsung menutup pintu kamarnya kemudian meninggalkan aku yang diam menatapnya di sana.


Aku menyentuh perutku, rasanya begitu sakit. Kepalaku juga menjadi pusing. Mungkin ini efek karena belum makan sejak beberapa hari ini.


Dengan rasa sakit aku berbalik berniat meningkatkan kamar kak Farzan. Pandanganku mendadak buram tiba-tiba menjadi hitam. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan diriku. Mungkin sekarang aku sudah tidak sadarkan diri lagi saat ini.


Ya Allah, seadainya ini sudah ajalku, aku berharap agar Allah membuat kak Farzan memaafkan aku dan aku bisa pergi dengan tenang bersama ayah dan ibu di surga.


●●●●●_●


"Arggrhh!! " aku membanting jam alarm yang ada di atas nakas.


Hari ini mood-ku benar-benar sangat kacau. Wanita itu, wanita itu kembali lagi! Dia datang lagi setelah semuanya telah berakhir sesungguhnya! Dia datang setelah aku sudah melupakan dia!


Dan gadis kecil itu, gadis yang harus tersiksa karenaku. Adibah, aku sangat mencintainya tapi kenapa Zahra kembali datang di saat saya sudah melupakan dia! Kepalaku harus pusing hanya karena Zahra.


Tunggu! Istriku, Adibah! Bagaimana keadaan dia? Astagfirullah bagaimana keadaan dia?


Setelah keluar kamar, aku melihat istriku tergeletak tak sadarkan diri didepan kamarku. Dia pingsan, ya Allah! Aku mengangkat kepala istriku membawanya ke pahaku, berusaha memeriksa denyut nadinya, kemudian mengangkat tubuhnya membawan ke kamarku dengan secepatnya.


Aku menyandarkan kepala Adibah dibantal, kutatap wajahnya yang begitu pucat, badannya juga sangat terasa panas dan perutnya yang rata karena belum pernah makan seharian ini, bahkan aku sempat melihat makanan yang dibuat Aqilah untuk Adibah masih utuh tak tersentuh di sana.


Sungguh aku tidak sanggup melihat keadaannya sekarang. Aku meninggalkan kamar itu dan mengambil kompres untuk Adibah. Setelah selesai, aku duduk di sebelahnya kemudian menempelkan kompres itu di jidat Adibah. Suhu badannya terasa sangat panas.


Tiba-tiba kelopak mata Adibah terbuka lebar, tatapan kami saling bertemu. Dia menatapku heran.


Sumpah, air mataku rasanya ingin keluar saat dia menatapku sendu seperti itu. Antara percaya atau tidak.


Di saat aku sibuk dengan masalahku, aku malah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang suami, sampai-sampai keadaan Adibah sekacau seperti ini. Dia pasti sangat merasa bersalah karena hal kemarin dulu itu, sebenarnya aku sudah tidak mempermasalahkan itu, hanya saja aku ingin sendiri kemarin-kemarin saat pesan dari Zahra tiba-tiba menghantui pemikiranku.


Tiba-tiba Adibah meraba wajahku. "Apa ini kak Farzan nyata? " ucap Adibah mengedipkan matanya berulang kali. "Apa Dibah mimpi lagi saat ini?"


Aku menggeleng sambil tersenyum getir. "Kamu tidak mimpi Adibah. Aku suamimu. "


"Astagfirullah. Apa dia iblis yang menyerupai suamiku? Ya Allah, sadarkan Dibah dari mimpi ini segera," ucap Adibah sambil menutup rapatkan matanya.


Rasanya aku ingin tertawa melihat kelakuab polosnya sekarang. Aku memeluk tubuh Adibah kemudian membisik, "Kamu tidak mimpi Adibah, aku suamimu. Coba perhatikan wajahku. " Aku menjauhkan badanku dari Adibah.


Dia menatapku antara percaya dan tidak percaya, kemudian mencubit pipiku keras. Aku meringis kesakitan. "Ya Allah, apa Dibah benar-benar tidak mimpi?"


Aku mengangguk. "Wajahmu pucat. "


Dia mendekatiku kemudian memelukku erat seakan tidak mau melepaskan pelukannya dan menangis di dadaku. "Kak Farzan maafkan Adibah! Adibah nyesel, Adibah sudah berusaha untuk melupakan Fauzi. Dan Dibah sadar, Dibah tidak bisa hidup tanpa kak Farzan sekarang. Cuma kak Farzan yang Dibah miliki sekarang. " Dia terisak. Bahunya bergetar.


Aku mengusap punggung istriku lembut. "Jangan terlalu memikirkan hal ini, lagipula semuanya sudah berlalu. Aku tidak marah ke kamu, jangan membuat dirimu tersiksa karena hal ini, Adibah."


Adibah menarik badannya menjauh dariku. "Dan wanita itu. Dibah ikhlas kalau kak Farzan nikah lagi asal kak Farzan tetap bersama Adibah dan tidak meninggalkan Adibah sendiri lagi," ucapnya antusias. "Dibah, Dibah bisa terima semua keputusan kak Farzan. Asal kak Farzan tidak pergi lagi. Dibah tidak terbiasa seperti ini. " Dia kembali memelukku.


"Maafkan aku Adibah, aku tidak sempat membicarakan ini ke kamu dulu. Aku sudah melupakan Zahra bahkan aku tidak berniat untuk rujuk ke dia kembali." Aku mengangkat dagu Adibah agar bisa menatapku. Masih ada bekas air mata disana. "Yang aku cintai sekarang itu kamu, Adibah Sakhila Atmarini. Bukan Zahra."


"Jadi cincin yang kak Farzan gunakan saat itu cincin? " ucapnya sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Aku tahu di mana arah bicara selanjutnya.


Aku mengangguk.


"Kenapa kak Farzan masih memakainya kalau kak Farzan tidak suka? "


"Cincin ini pemberian ustad Andi. Ustad yang pernah merawatku hingga bertemu dengan abi dan umi, dia memberikan dua cincin yang satunya aku kasih ke Zahra tidak tahu apakah cincin itu masih ada atau tidak. Aku tidak bisa membuang cincin pemberian dia," ucapku. "Adibah. Kamu ikhlas menikahi seorang duda? "


Dia mengangguk. "Ana uhibbuka fillah, pak Dokter. Aku ingin mencintaimu karena agamamu. Aku ingin menyayangimu karena Akhlakmu. Aku ingin bersamamu karena Allah. Maka terimalah aku karena-Nya. Kakuranganku adalah pelengkapmu."


Aku tersenyum penuh haru. "Ana uhibbuki fillah juga, Adibah. Apa pun yang kamu inginkan akan aku usahakan."


"Kak Farzan tahu, hal ini juga yang terjadi di mimpi Adibah." Dia memelukku. "Semoga ini bukan mimpi."


"Aamiin. "


"Kak Farzan hebat yah, bisa jadi dokter secepat ini, masih mudah lagi."


Aku terkekeh. "Mudah apanya, umurku sudah dua pulu tujuh."


Adibah menjauhkan badannya dariku kemudian menghitung menggunakan jarinya, aku tidak tahu kenapa. Dia menatapku, dengan bibir yang masih bergerak.


Aku suka melihat dia seperti ini, dia sangat bahagia tidak seperti kemarin.


"Jadi beda sepuluh tahun kak Farzan dan Dibah yah."Ucapnya yang kubalas anggukan. "Dibah kira masih dua puluh tahun. "


"Apa nilai matematika kamu renda? "


Dia tersenyum kaku. "Dibah tidak paham perhitungan, seharusnya itu ngak usah mempersulit kalau pelajaran seperti itu. "


"Emang dari dasarnya seperti itu. "


"Ngomong-ngomong pak Dokter tahu tanggal lahir Adibah? " aku mengangguk. "Berapa? "


"26 April 2001, lahir di Parepare. Kan? "


"Wah kak Farzan hebat. Dibah saja kadang lupa tanggal lahir Dibah."


Astagfirullah. Batinku. "Sejak kapan kamu memiliki penyakit ini? "


Adibah memanyunkan bibirnya. "Dibah gak tahu, soalnya lupa juga. "


"Aku harap, semoga kamu tidak pernah melupakan kalau saya ini suamimu. "


"Kak Farzan yang harus selalu ingat ini. "


●●●●●_●


"Aku ingin menyayangimu karena Akhlakmu. Aku ingin bersamamu karena Allah. Maka terimalah aku karena-Nya. Kakuranganku adalah pelengkapmu."