
Sudah seminggu berlalu, hari ini Aisha akan kembali ke rumah Layla karena katanya akan ada acara sebelum Azma menikah dimana seluruh keluarga besar akan datang ke rumah Layla
Karena Layla adalah anak tertua maka adik-adiknya yang akan ke rumah sang kakak
Itu berarti Zilia dan Farah juga akan ke Indonesia, menyenangkan sekali akhirnya Aisha bisa bertemu mereka
"Mas," panggil Aisha
"Iya kenapa Sha?" tanya Naufal, ia tengah berkurat dengan laptopnya di kamar sejak tadi Aisha hanya menemani saja sambil mengerjakan pekerjaan rumahnya
"Kamu nggak ke medical Qurtuby?" tanya Aisha, pasalnya suaminya itu masih duduk anteng di rumah
"Bentar lagi Sha, lagian aku kebagian shift siang," jelas Naufal
Aisha hanya ber-oh-ria tak menanggapi lebih lanjut ia sibuk menyusun pakaian ke dalam lemari
"Mas, kamu nanti ke rumah Bunda kan?" tanya Aisha lagi
"Hm, iya insya Allah."
Naufal berangkat ke medical Qurtuby sedangkan Aisha mengurus rumah dengan kandungan yang besar
Terkadang Naufal merasa khawatir dengan kondisi Aisha, sayangnya keras kepala Aisha sudah akut parah jadi setegas apapun Naufal melarang tetap saja tidak bisa
"Hati-hati ya mas," ucap Aisha sembari mencium punggung tangan suaminya
"Iya, kamu baik-baik di rumah," Naufal mengusap kepala Aisha dengan lembut
Ia berjalan menuju mobilnya, tak lama mobil itu pun menghilang dari pekarangan rumah
Aisha kembali masuk dan membereskan kamarnya, saat Aisha membereskan laptop milik Naufal ia melihat berkas Naufal tertinggal
"Dasar, kebiasaan deh mas Naufal," gerutu Aisha heran
"Ini berkas penting, buat operasi." Aiha membaca lembaran kertas itu "Aku anterin aja kali ya," kata Aisha
"Yaudah deh anterin aja, sekalian main ke medical Qurtuby,"
Lantas Aisha bersiap-siap, ia akan naik go-car ke sana karena untuk mengendarai mobil sendirian tak memungkinkan jadi Aisha mencari aman saja
Tak lupa juga menitipkan Debia sebentar pada tetangganya, dengan senang hati mereka menjaganya
Dua puluh menit ia baru tiba di sana, Aisha menatap takjub bangunannya yang sedikit di renovasi ulang
Ia melangkah memasuki gedung itu, banyak tatapan yang menatapnya heran ada juga yang memberi senyuman ada juga yang menatap sinis
Tanpa membuang waktu Aisha langsung saja ke ruangan Naufal, namun sampai di sana ia tak mendapati Naufal sepertinya suaminya itu baru saja memulai jadwal operasi
Semoga saja Aisha tidak telat menyerahkan berkas pasien yang satu ini
Saat Aisha akan keluar dari ruangan Naufal, tanpa sengaja matanya menangkap objek buku yang pernah Naufal pegang
"Maaf ya mas, tapi Aish kepo." gumam Aisha sambil meraih buku itu
Buku bersampul biru persis seperti milik seseorang, lantas Aisha membukanya
Hal 1 :
Berjuang ya? Saya lupa caranya berjuang setelah dia memutuskan untuk menjauh.
Aisha kembali membuka halaman berikutnya, namun kosong hingga halaman 4
Hal 4 :
Saya mengenal kamu rasanya nyaman sekali
Hal 5 :
Boleh saya mengkhitbahmu? Ah, rasanya saya sudah tidak percaya diri lagi
Hal 10 :
Ternyata kamu juga mencintai saya
Hal 15 :
Kenapa kamu menjauh?
Hal 17 :
Saya hanya tempat pelarian? Saya tidak percaya
Hal 20 :
Apakah karena saya akan menikah? Dia jahat, menjodohkan saya dengan orang lain
Hal 25 :
Haha, takdir itu lucu ya setelah saya melupakannya ternyata dia akan menjadi istri saya
Aisha terdiam kala membaca tulisan itu, ini adalah tulisan tangan Naufal yang di tulis dengan sangat rapi
Hal 26 :
Sorry.
Hal 28 :
Saya akan menjadi ayah
Hal 30 :
Kita bertemu lagi
Deg!
Jantung Aisha berpacu dengan cepat, jadi mereka pernah bertemu lagi? Aisha dengan cepat membaca tanggal antara halaman 30 dan 32 itu tanggal yang sama saat mereka mendapat hasil USG anak mereka
Hal 35 :
Apa saya salah? Mencintai dua makhluk mu?
Aisha kembali membekap mulutnya sendiri, kala membaca tulisan itu apa Naufal memang sednag mencintai dua orang?
Hal 33 :
Kamu bertanya perihal senja
Hal 34 :
Siang dan malam tidak akan pernah bersatu
Kalimat itu, adalah kalimat yang sama. Kalimat yang pernah Naufal ucapkan padanya saat ia sednag bertanya tentang senja
Hal 36 :
Ya ternyata saya salah.
Saya sudah berjanji membuatnya tersenyum
Hal 38 :
Dia satu-satunya di hati saya
Tulisan Naufal sangat ambigu, membuatnya bingung sebenarnya Naufal sedang menceritakan siapa
Hal 40 :
Saya ingkar janji
Hal 42 :
Saya menemukanmu kembali
Hal 43 :
Saya salah lagi
Hal 44 :
Saya pengecut, tidak berani minta maaf langsung padanya
Hal 45 :
Akhirnya saya tahu
Hal 46 :
Tapi kamu memilih orang lain lagi
Hal 47 :
Hati saya tidak bisa di ajak kerja sama
Hal 48 :
Kemarin kamu terlihat seperti ilusi
Hal 49 :
Tapi ternyata kamu sungguh memang hadir saat itu
Hal 50 :
Masih kosong.
Aisha membaca halaman terakhir yang di tulis Naufal tepat tiga Minggu yang lalu, matanya sudah tak bisa membendung air mata lagi
Maka saat iu juga air matanya turun lagi, menyesakkan rasanya terlebih setelah mengetahui tulisan di dalam buku ini
Sejak dulu Aishabsudha curiga dengan buku ini hanya saja ia tak terlalu peduli dengan buku itu toh biasanya Naufal emmang suka membaca buku, jadi ia pikir hanya buku biasa
Namun Aisha menjadi curiga saat Naufal berbicara sendiri waktu Aisha mengajaknya lunch tempo hari
Tulisan terakhir Naufal sungguh menggantung, saat Aisha akan menutup kembali bukunya ia tanpa sengaja melihat ada foto lantas Aisha mengambilnya
"Foto ini-" Aisha menatap lamat-lamat foto itu, matanya basah akibat menangis
Aisha membali foto itu, "Terimakasih sudah pernah hadir." Aisha membaca tulisan itu
Aisha tak bisa berlama-lama di sini semakin lama hatinya semakin sakit, dan air matanya semakin deras jadi ia memutuskan untuk pulang saja ke rumah
Aisha menatap keluar kaca mobil, "Kamu jahat kak." lirih Aisha pelan
"Brengsek." lirihnya lagi, ia memejamkan matanya sekejap berharap ini semua hanya mimpi
Tidak. Ini bukan mimpi ini nyata, seharusnya sejak dulu Aisha sadar bahwa Naufal memang tidak akan pernah mencintainya lagi
Harusnya ia sadar kalau perlakuan Naufal hanya untuk membuatnya bahagia dan tidak menangis harusnya Aisha sadar sejak dulu
"Kamu benar benar brengsek." Aisha terus bergumam pelan
"Dan begonya aku yang percaya saja dengan sikap manis kamu." kata Aisha lagi
"Terbuai dengan seluruh perlakuannya dan meski sudah di sakiti tetap menaruh rasa padanya."
Ia menatap keluar kemudian mengelus perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan anak dari Naufal
"Maafin Bunda nak," gumam Aisha lagi
Ia kembali menatap keluar, matanya memanas lagi dan Aisha menangis lagi, bahkan supir go-car itu kebingungan dengan sikap Aisha
Aisha hanya perlu waktu untuk berfikir jernih, kemudian mengambil keputusan hanya itu