
Sesampainya di rumah Naufal menuntun Aisha masuk ke rumah, sejak tadi gadis itu terus sesegukkan kejadian itu kembali membuka trauma di hidup Aisha
Begitu ia masuk langsung disambut panik oleh seluruh anggota keluarga, terutama Layla dan Radit mereka menghampiri putri mereka dengan perasaan cemas
"Astaghfirullah! Aisha kamu kenapa nak?!" panik Layla terlwbih lagi saat melihat ada banyak luka sayatan di tubuh anak gadisnya
Aisha yang melihat Bundanya langsung memeluk Layla dengan erat sambil menangis, hati Layla sebagai seorang ibu ikut sakit saat melihat kondisi putinya
"Sebenarnya siapa yang menculik Aisha? Dan kenapa putri Ayah bisa sampai luka begini?!" tanya Radit penuh dengan amarah
"Fal, ini anak Bunda kenapa?!" tanya Layla dengan cemas
Ia dan Radit sungguh dikejutkan ketika melihat Aisha yang sudah di penuhi dengan luka bahkan wajahnya sudah di penuhi darah kering
Naufal tak sanggup menjelaskannya terlebih lagi Aisha terlihat trauma dengan semua ini
"Queen Aeratasya balik lagi Bun." ucap Azma kompak seluruh anggota keluarga di sana termasuk keluarga Alfarizi terkejut
"Astaghfirullah. Kamu serius Azma?" tanya Layla cemas
"Dimana wanita itu? Biar ayah bunuh sekalian! Nggak ada kapok-kapoknya dia!" Radit geram dengan kelakuan wanita itu
"Masih muda, tapi tingkahnya banyak," kali ini yang bersuara adalah Rifa, sontak saja hal itu mengundang perhatian Naufal
"Maksud mamah apa?" tanya Naufal bingung sekaligus penasaran
"Dia itu-" ucap Rifa terhenti, namun Naufal bisa membaca dengan jelas sekali sorot amarah di mata Mamahnya
"Takut..." lirih Aisha ia bahkan sampai menyembunyikan wajahnya di pelukan Layla
Laya berusaha menenangkan putrinya yang ketakutan, ia mengusap punggung Aisha dengan lembut
Jujur Aisha masih trauma dengan apa yang baru saja ia alami, lukanya masih terasa perih di tambah air mata yang terus mengalir membasahi pipinya lalu merembes masuk ke dalam lukanya yang menciptakan rasa perih
Semua keluarga turut menangis melihat keadaan Aisha seperti itu
Disaat semua orang sedang mengkhawatirkan keadaan Aisha, Rifa yang menyadari ada yang kurang di sini
"Fauzan mana Fal?" tanya Rifa bingung saat salah satu putranya tida ada
Seketika tubuh Naufal menegang, tak tahu harus menjawab apa pada Rifa, Ia takut akan membuat Rifa sakit jika mendengar kabar ini
"Fauzan mana Fal?" tanya Bunda Rifa sekali lagi namun ekspresinya masih tenang
Bertepatan dengan itu tangisan Aisha semakin menjadi, akhirnya Naufal terpaksa menghindari pertanyaan Rifa dengan alibi mengobati Aisha
"Mah, Naufal mau ngobatin Aisha dulu ya," kata Naufal meminta izin
Ia segera menuntun Aisha ke kamarnya dan membantu mengobati luka istrinya
"Maaf mah," batin Naufal
Naufal bergegas mengobati luka Aisha dengan telaten dan hati-hati
"Sakit ya? Ini bakalan perih, soalnya luka kamu lebar," ucap Naufal ia membersihkan luka di pipi Aisha dnegan alkohol
Melihat wajah mulus Aisha penuh dengan luka sayatan membuat hati kecil Naufal terasa sakit, ia sungguh merasa bersalah karena tak bisa melindungi Aisha
Aisah tak henti-hentinya menangis hal itu membuat hati Naufal ikut terluka, ia tahu Aisha tengah menangis karena apa
"Jangan sedih lagi ya, mas yakin Fauzan bakal baik-baik aja." kata Naufal
Aisha menatap Naufal, namun matanya masih menyorotkan kekhawatiran sekaligus ketakutan
"Mas, Aish takut," lirihnya pelan
"Jangan takut ya, aku ada di sini." tutur Naufal berusaha menenangkan Aisha
Usai mengobati luka luka Aisha, laki laki itu membantu menidurkan Aisha agar istrinya bisa tidur
"Kamu istirahat dulu ya, aku tahu kamu lelah," kata Naufal
Aisha menurut tak lama kemudian ia tertidur namun masih dengan gelisah
Naufal tak berhenti cemas memikirkan Aisha dan juga Fauzan yang sekarang ada di sana
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, Naufal refleks menoleh dan membukakan pintunya
"Mamah," kata Naufal
"Fal, jawab jujur kenapa Fauzan nggak pulang bareng kalian?" tanya Rifa yang masih penasaran kemana perginya Fauzan
Tak biasanya anaknya yang satu itu pergi tanpa memberitahu Rifa, dan kenapa pula Fauzan tidak pulang dulu ke rumah
"Dia nggak kenapa-napa kok Bun, emang tadinya sempat bareng tapi tiba-tiba bilangnya mau pergi dulu ada urusan urgent," jelas Naufal berbohong, dalam hati Naufal sungguh minta maaf karena telah berbohong pada Rifa
"Syukurlah kalau kayak gitu, mamah bisa tenang sekarang," kata Rifa tenang, ia bahkan menghembuskan napas lega
"Kalau gitu Mamah ke bawah dulu ya," kata Rifa lalu berlalu dari sana
Naufal menatap pintu yang kini sudah tertutup semula
"Mas..." lirih Aisha, ia tertidur namun terbangun lagi ketika mendengar suara Rifa
Ia mendengar semua pertanyaan Rifa hati Aisha ikut sedih saat mengingat Fauzan yang berkorban untuk menyelamatkan
Aisha merasa bersalah akan hal itu, bagaimana tidak? Jika saja laki laki itu tak ikut datang mungkin saja Azma atau bahkan Naufal yang menjadi sasarannya
Naufal menatap sendu Aisha, "Maaf," ucap Aisha lagi-lagi terisak
Naufal menggeleng, "Kamu nggak salah Aish,"
"Sekarang kamu tiduran dulu ya, aku mau buatin bubur dulu," kata Naufal
Aisha mengangguk lemah, dan membiarkan Naufal pergi dari sana
Tanpa di minta air matanya luruh begitu saja, entahlah hatinya sangat sesak saat ini
Aisha mengelus perutnya, "Sayang nanti kalau udah lahir kalian harus tegar ya," kata Aisha
***
Aisha menatap senja yang sebentar lagi akan menghilang, ia terus saja melihatnya sampai akhirnya Naufal mengejutkannya
"Hayo! Kamu ngelamun ya?" tanya Naufal
"Nggak, aku nggak ngelamun," jawab Aisha tanpa mengalihkan pandangannya
"Senjanya indah ya," kata Naufal
"Iya mas," jawab Aisha seadanya
"Mas, menurut kamu senja itu bagusnya di abadikan atau di tinggalkan?" tanya Aisha
"Di tinggalkan," jawab Naufal
"Kok gitu?"
"Karena senja sifatnya sementara, jadi jangan terlalu menyukai senja karena senja cuma singgah di antara siang dan malam," ujar Naufal
Aisha yang berada di sebelahnya menatap lama wajah Naufal yang kini ikut memandang senja
Tatapan sendu itu penuh dengan kerinduan.
"Siang dan malam tak akan pernah bisa bersatu," ucap Naufal lagi
Aisha tak mengalihkan pandangannya, sebelum akhirnya ia buka suara
"Kalau seandainya siang dan malam bisa bersatu?" tanya Aisha
"Nggak mungkin sha, semua sudah berjalan di garis takdirnya masing-masing," ujar Naufal lagi
"Tapi mas, kalau-" belum sempat Aisha menyelesaikan kalimatnya Naufal sudah memotong perkataannya
"Udahlah jangan aneh-aneh sha, jangan pikirin yang nggak mungkin," kata Naufal, ia tersenyum menatap Aisha dan mengusap puncak kepala istrinya
"Tapi itu semua bakal jadi mungkin mas, suatu hari nanti." batin Aisha
Baru saja Aisha akan turun dari kasurnya, Naufal berbalik dan melihat Aisha
"Semua akan indah pada waktunya." ucap Aisha dengan tersenyum
"Apaan ih, ayo kita jalan jalan di taman belakang," ajak Naufal
Ia tahu Aisha pasti merasa bosan berdiam diri di kamar,
"Mas tau kamu bosan di sini, sampai ngajak angin ngobrol," kata Naufal terkekeh
Hal itu membuat Aisha cemberut, "Nggak lucu mas,"
"Iyalah, kan yang lucu cuma Aisha seorang,"
Aisha tersipu, namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya kembali berubah
"Udah ah, ayo katanya mau ngajak aku jalan-jalan." kata Aisha
Naufal merangkul Aisha sambil berjalan-jalan mengitari taman belakang rumah, cukup luas.
"Oh iya mas, kita bikin couple-an yuk?" ajak Aisha
"Buat apa?" tanya Naufal
"Kan pernikahan kak Azma udah di tentuin awal bulan depan," kata Aisha
"Hah? Serius? Kok mas nggak tau?" tanya Naufal
"Ya mas nya sibuk ngerjain ini itu," kata Aisha
"Yaudah ayo, nanti biar mas yang urus semuanya," kata Naufal
"Nggak ah, biar aku aja yang urus semuanya," kata Aisha
"Tapi kan-"
"Aku lagi hamil. Iya aku tahu tapi aku nggak selemah itu mas," kesal Aisha
"Iya, iya terserah kamu aja Sha," kata Naufal akhirnya
Lebih baik ia mengalah daripada berurusan panjang dengan Aisha
"Liat tuh ada kupu-kupu," kata Naufal sembari menunjuk salah satu kupu-kupu yang berterbangan di anatar bunga-bunga
"Kupu-kupu itu cantik,"
"Kayak kamu," sambung Naufal
"Kayak aku?" tanya Aisha sekali lagi
"Iya, kamu cantik." kata Naufal
"Heleh, gombal mas?" tanya Aisha sembari ketawa
"Ish, mas serius juga udahlah ah," Naufal menatap malas Aisha
"Maaf mas, aku bercanda kok," kata Aisha menghentikan tawanya
"Tapi ngomong-ngomong, mas aku mau nanya," kata Aisha
"Apa?"
"Nanti kalo udah jadi kakek nenek, kita bisa tetap sedekat ini nggak ya?" tanya Aisha
"Ya bisalah, jangankan sampai kakek nenek sampai maut memisahkan kita juga akan tetap sedekat ini, karena hati kita sama," ujar Naufal
Aisha melongo menatal Naufal tak lama kemudian ia tertawa
"Kenapa malah ketawa?" tanya Naufal
"Itu ada kupu-kupu hinggap di kepala kamu, mas," kata Aisha sudah tertawa
Sederhana, tapi mampu membuat Aisha tertawa lepas
"Tetap seperti ini ya, jangan sampai hilang senyumnya," kata Naufal ikut tersenyum
Dan pada sore itu sepasang pasutri itu menghabiskan waktu senja mereka berdua di taman