
Waktu berjalan tanpa meminta izin pada siapapun, terus berputar tanpa menunggu siapapun
Tak terasa ini sudah bulan ke delapan Aisha mengandung dan itu artinya Naufal harus semakin siaga mrnjaga calon buah hatinya
"Mass," rengek Aisha
"Kenapa sayang?" tanya Naufal yang tengah sibuk dengan beberapa berkas penting menyangkut operasi yang akan di lakukannya beberapa jam lagi
"Pengen ke Singapore," ucap Aisha tiba-tiba
Naufal melongo mendengar keinginan istrinya barusan, yang benar saja istrinya minta ke Singapore?
"Sha, kamu mau meras suami sendiri ya?" tanya Naufal heran
Pasalnya Dua Minggu yang lalu Aisha meminta untuk ke Malaysia hanya untuk menemui, lalu lima hari setelahnya minta ke London
Oke masih Naufal turutin, lalu dua hari setelahnya Aisha minta untuk ke Jogja dan beberapa waktu lalu Aisha meminta untuk ke Surabaya untuk menjenguk sang papa yang sedang sakit namun pada akhirnya berujung jalan-jalan juga
Lima hari yang lalu minta ke Bali, sudahlah Naufal serasa jadi ATM berjalan yang di peras tiap hari
"Ihh kan aku cuma mau refreshing." Aisha memanyunkan bibirnya
"Ya tapi kan kamu habis dari Bali lima hari yang lalu, nggak ingat?" tanya Naufal
"Eumm, nggak."
Naufal mengerjap pelan, ia menganga "Serius nggak ingat?"
"Mungkin."
"Pokoknya ya mas, aku pengen ke Singapore," Aisha kembali merengek
"Tapi kamu lagi hamil besar Sha," peringat Naufal
"Ihh, aku pengen ke Singapore."
Aisha merengek layaknya anak kecil yang sedang meminta sesuatu namun tak kunjung di turuti
Naufal menghela napas panjang, "Iya, iya nanti kita ke sana ya." kata Naufal
"Serius?!" mata Aisha berbinar
"Iya," jawab Naufal singkat
Senyum Aisha mengambang dengan lebar, "Makasih, suamiku yang tampan."
"Muji pas ada maunya doang," cetus Naufal
"Hiihhh nggak juga," elak Aisha
"Ya terserah kamulah." Naufal malas berdebat ia lebih memilih menyelesaikan tugasnya
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Naufal
"Iya kayaknya mas, tapi aku mau ke Rumah Bunda dulu," kata Aisha
"Tapi aku nggak bisa ngantar kamu, soalnya bentar lagi ada jadwal operasi." jelas Naufal
"Iya nggak papa mas, yang penting kamu izinin nanti aku naik taksi online aja," kata Aisha dengan tersenyum
"Yaudah kamu hati-hati ya, jangan lari-lari, jangan lompat-lompatan,"
"Ihh iya iya mas, kamu nggak bosen ngingetin itu mulu," kata Aisha
"Ya kamunya yang suka bandel," kata Naufal mempertegas
Aisha hanya menyengir, "Iya deh, aku bakal hati-hati."
"Jangan lupa ya mas, tiket pesawat ke Singapore." kata Aisha dengan terkekeh
"Iya nanti pas kamu udah lahiran," kata Naufal "Bentar lagi kamu mau lahiran."
"Ish nyebelin." gerutu Aisha namun tak memudarkan senyuman manisnya
"Yaudahlah aku mau ke rumah Bunda aja," kata Aisha sembari meraih tasnya
"Hati-hati, inget pesan aku." kata Naufal
"Iya mas, yaudah aku pergi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aisah melangkah keluar dari Medical Qurtuby menuju tempat di mana taksi onlinenya menunggu
***
Naufal melepas maskernya kemudian berbincang bersama dokter Lee, ya mereka baru saja menyelesaikan satu operasi
"Gimana keadaan istri kamu Fal?" tanya dokter Lee
"Ya gitulah makin gede perutnya makin aktif dia, mana bentar lagi udah mau lahiran," Naufal terkekeh saat mengingat tingkah lucu Aisha
Dokter Lee terlihat manggut manggut, "Jaga Aisha baik-baik ya, jangan sampai dia hilang." pesan dokter Lee
"Maksudnya?"
"Aisha itu baik, sekalinya sayang tulus banget, dan saking baiknya dulu pernah ngerelain perasaannya."
Namun sepertinya Naufal masih belum paham, ia berusaha mencerna perkataan Dokter Lee
Dokter Lee terlihat terkekeh pelan kemudian menepuk pundak Naufal, "Nggak usah di pikirin kalau nggak sampai."
Setelah itu ia pergi meninggalkan Naufal dengan berbagai persepsi sendiri
Tak mau berfikir lebih Naufal memilih pergi dari sana,
***
"Bundaa!!" teriak seseorang
Bukan anak kecil melainkan seorang Aisha yang berteriak saat sampai di depan Rumah Layla
"Masuk rumah baca saam bukannya teriak-teriak nggak jelas kayak orang gila." tutur Azma membuat Aisha mendadak berhenti di tempatnya sambil melongo
Melihat Aisha yang malah bengong di tempatnya mmebuat Azma heran "Kenapa muka Lo kayak gitu?"
"Ini seriusan kakak gue?" tanya Aisha
"Yaiyalah siapa lagi emangnya?"
"Waw! Marvelous!" girang Aisha sambil bertepuk tangan
Kemudian berlari menghampiri Azma dan memeluknya, Azma yang melihat itu meringis ngilu dengan kandungan Aisha
Ah, dasar Aisha lupa pasti dengan nasehat Naufal, sudah biarkan.
"Apaan sih, kayak orang gila aja tau, tiba-tiba tepuk tangan terus pakai acara peluk-pelukan lagi."
"Nyebut apa barusan?!" ulang Azma sekali lagi
"Es batu! Soalnya kak Azma dingin banget." ledek Aisha
Azma menjitak kepala Aisha pelan, namun mampu membuat si empu meringis sakit
"Kak Azma jahat ih," sebal Aisha
"Biarin! Siapa suruh ngeledek kakak sendiri." Aisha mendelik pelan
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dari arah dapur dengan seorang anak kecil di gendongannya yang sudah pasti itu adalah Faris
"Eh ada anak Bunda di sini," kata Bunda Layla sambil menurunkan Faris
Aisha mencium tangan Bundanya kemudian tersenyum manis
"Bunda baik-baik aja kan? Udah lama Aish, nggak kesini. Kangen banget sama Bunda." tutur Aisha
"Bunda sehat wal afiat, Bunda makin sehat pas lihat kamu ke sini," kata Bunda Layla sembari terkekeh
"Bunda bisa aja." Aisha ikut terkekeh
"Aaaa ada dek Faris juga!" pekik Aisha senang "Sini sama Aunty," Aisha merentangkan tangannya seolah meminta di peluk oleh Faris
Faris mendekat ke Aisha, "Aunty kok jarang ke sini?" tanya Faris
Jangan tanyakan kenapa Faris ada di sini, itu semua karena permintaan keras kepala anak kecil itu yang ingin sekolah di Indonesia
Alhasil Azki terpaksa meninggalkan satu anaknya di Indonesia bersama Bunda Layla
"Kan Aunty nya nggak boleh kecapekan, nanti kasian sama dedeknya dong," jelas Aisha dengan imutnya
"Dedek di perut Aunty kapan lahirnya? Faris nggak sabar pengen lihat dedek bayinya." ujar anak itu lagi
Bunda Layla tersenyum mendengarkan pemuturan Faris, ia mengusap kepala Faris
"Faris yang sabar ya, kalau Faris sabar pasti dedekna cepet lahir," ujar Bunda Layla
"Iya Oma, pasti Faris bakal sabar nungguin dedeknya lahir." kata anak itu sambil menunjukkan deretan giginya
"Yaudah sekarang Faris main sama Uncle Azma dulu ya, biar Aunty Aisha nya istirahat dulu," titah Bunda Layla
"Siap Oma," ucap anak itu lagi kemudian berlari ke arah Azma
"Aisha, kamu istirahat dulu gih, kasian." kata Bunda Layla "Nggak bareng sama Naufal?" tanya Bunda Layla
"Nggak Bun, Mas Azma lagi ada jadwal operasi jadi Aish sendirian kesini,"
"Yaudah istirahat gih di kamar bawah aja biar nggak sudah ke kamar atasnya," titah Bunda Layla
"Iya Bun, kalau gitu Aish, istirahat dulu." Bunda Layla mengangguk kemudian Aisha pergi ke kamar bawah kamar yang jarang sekali di tempati
"Iya Bun,"
***
Sepertinya Naufal belum menjemputnya, padahal hari sudah sore
Aisha hanya bisa mendengus bosan, karena Faris juga tidak ada di sini ia ikut dengan Opanya pergi jalan-jalan entah kemana
Padahal Aisha juga ingin ikut namun tidak di izinkan alasannya satu, karena Aisha sedang hamil besar
Terlintas satu ide, ia ingin menonton film sambil ngemil keripik kentang sembari menunggu Naufal menjemputnya
Aisha mencari keberadaan Bundanya untuk memberitahu bawa ia ingin pergi ke supermarket
"Bunda," panggil Aisha
"Iya nak?"
"Aisha mau ke supermarket beli cemilan,"
"Di anter sama Azma aja ya?"
"Nggak Bun, sekalian jalan-jalan sore sambil nunggu Mas Naufal datang," kata Aisha
"Tapi hati-hati ya kalau sampai kamu lecet sedikti pasti Naufal bisa ngamuk tuh," Bundanya terkekeh membuat Aisha ikut terkekeh
"Yaudah kalau gitu Aisha pergi Bun,"
Aisha menatap jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan, ia memutuskan untuk berjalan kaki ke supermarket
Karena jika menggunakan mobil atau di antar Azma akan cepat sampai dan ia akan merasa bosan
Meski sudah berdebat beberapa kali dengan Bundanya agar menggunakan mobil namun bukan Aisha kalau tidak keras kepala, dan berakhirlah ia jalan kaki
***
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun senyuman di wajah tampan nyantak kunjung luntur meski lelah menggerogoti tubuhnya
Naufal sudah menyelesaikan operasi terakhirnya, ia mengucap syukur karena tugasnya di rumah sakit hari ini sudah selesai
Ia ingin cepat-cepat menjemput Aisha dan menculiknya ek apartemen untuk di peluk
Membayangkan itu snedori membuat Naufal kehilangan akal, ia senyum-senyum sendiri
"Ah, apaan sih." gumam Naufal pelan nyaris tak terdengar
20 menit kemudian Naufal tiba di depan rumah mertuanya, ia mempercepat langkahnya menuju ke dalam sana
"Assalamualaikum Bunda," ucap Naufal
"Waalaikumsalam, eh Naufal kenapa ke sini?" tanya Bunda Layla
"Naufal mau jemput Aisha Bun,"
"Jemput Aisha? Bukannya dua udah pulang bareng kamu ya?" tanya Vidna Layla heran
"Belum Bun, Naufal aja baru pulang dari rumah sakit langsung ke sini," ujar Naufal
"Tapi tadi Aisha sempat kirim pesan ke Bunda, kalau dia udah pulang katanya," jelas Bunda Layla lagi
Mendengar hal itu membuat Naufal jadi semakin panik, begitupun dengan Bunda Layla
Putri perempuannya itu sedang mengandung, bagaimana kalau terjadi apa-apa?
Naufal mencoba menelpon nomor Aisha namun tak kunjung di angkat lebih parahnya nomornya tidak aktif
Ia mencoba melacak keberadaan Aisha, berharap ketemu namun hasilnya nihil
Hal ini semakin membuat Naufal gelisah dan panik, satu hal yang terpikir di benak Naufal, Aisha di culik.
"****!" umpatnya lalu pergi dari sana