
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
-
-
-
-
-
💜
“Jangan membenci seseorang yang tidak bersalah hanya karena dia bersama orang yang salah. “
●_●
Saat jam tiga tadi, Aqilah menghubungiku kalau keadaan umi sedang memburuk, penyakit jantungnya kembali. Ini semua karena abi, abi yang harus bertanggung jawab atas semua ini! Abi diam-diam sudah menikah kembali.
Betapa sakitnya aku, saat mengetahui kenyataan ini. Aku tahu seorang suami dapat menikah, satu, dua, atau empat kali, seperti dalam hadis QS. An-nisa 3 ‘Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim.’ Demi Allah, aku belum bisa menerima itu seutuhnya.
Dan Adibah? Aku belum sempat memberitahukan nya tentang kejadian ini, aku masih marah dengan dia, kenapa dia masih dekat dengan laki-laki itu! Kenapa duniaku harus seperti ini?
“Akah, Adibah meneleponku,” panggil Aqilah.
Aku diam, sambil menatap wajah umi yang sedang terbaring di atas kasur rumah sakit. Tangannya terasa sangat dingin. Pria yang kuanggap pahlawan ternyata begitu pengecut sekarang! Aku tidak pernah marah kalau abi akan menikah, hanya saja dia tidak pernah memberi tahukan ke umi sebelumnya, dan sekarang abi datang dengan membawa anaknya yang berusia lima belas tahun. Kata abi, istri keduanya telah meninggal dunia di negara Malaysia-abi menikah dengan wanita malaysia.
“Akah. Tadi aku panggil-panggil tidak nyaut-nyaut kenapa? Akah sudah makan? “ tanya Adibah mengagetkan aku.
“Mana Mahesa? “ tanyaku, tidak mempedulikan pertanyaannya.
“Dia sedang membawa Ainun Jalan-jalan, kan ada aturannya anak balita dilarang masuk ruangan pasien. “ aku mengganggu paham. “Akah, Adibah mau ke sini. Katanya akah pergi tidak bilang-bilang. Memangnya benar? Gak baik lo kak kalau pergi ngak bilang istri dulu“ ucapnya.
“Aku lupa,” ucapku. “Mana Syahila? “ Syahila adalah nama adik tiriku. Aku bisa menerima kehadiran dia, toh bukan dia penyebab masalah ini, dia juga tidak pernah menginginkan terlahir di posisi seperti ini.
“Ada dia luar, “ katus Aqilah. Dia terdengar sangat membenci kehadiran wanita itu.
“Jangan membenci seseorang yang tidak bersalah hanya karena dia bersama orang yang salah. “
Aqilah terlihat diam. Bimbang dengan ucapanku tadi. “Tapi dia bukan saudara kandung aku, Akah! Aku tidak bakalan bisa menerima kehadiran dia! “
“Dia tidak salah Aqilah. “
“Dia salah! Dia salah karena hadir di hidup kami Akah! “ bentak Aqilah. Tiba-tiba dia memelukku dan menangis. Aku menenggelamkan wajahnya di dadaku. Aku tahu bagaimana keadaannya sekarang, Aqilah lebih menyayangi abi daripada umi, dan sekarang dia pasti sangat terpukul saat ini. “Aku benci abi akah! Aku benci! “ isaknya.
“Percayalah, dia juga pasti tidak mau terlahir di dunia ini dengan keadaan seperti ini,” ucapku.
Dia diam. Di sela pembicaraan kami, Syahila masuk. Aku menatapnya dari kaki sampai kepala, kira-kira usianya lima belas tahun, wajahnya hampir mirip dengan Aqilah. Dengan takut, dia melangkah masuk mendekati kami. Aku berusaha melepaskan pelukan Aqilah dariku, kemudian mendekati adikku yang satunya lagi.
“Sudah makan? “ tanyaku.
Syahila tiba-tiba menatapku. Ada rasa takut di matanya, saat mata kami saling bertemu. Tanpa kuduga dia memelukku, rasanya begitu nyaman saat dia memelukku, kenapa? Dia cuma adik tiriku, ahh tidak ada yang membedakan antara adik tiri dan adik kandung, aku harus dewasa menyikapi hal ini!
Aku mengusap punggung dan kepalanya. Mulutku rasanya kaku untuk berbicara dengannya, tapi aku selalu berusaha untuk memulai pembicaraan. “Allah lebih sayang ke ibumu. “ Itulah yang kupilih untuk kuucapkan.
Dia cuma mengangguk saja. Aku tidak sadar kalau ternyata dia sedang menangis, andai saja air matanya tidak menyerap masuk ke kulitku. “Ada apa? “
“Dia bisu Nak!” tegas abi. Aku berbalik menatapnya. Sumpah, aku tidak dapat mendefinisikan perasaanku sekarang saat melihat keberadaan Abi, begitu pun dengan Aqilah, aku kira dia sedang keluar ataukah ke suatu tempat untuk menjauh sementara. “Sewaktu dia berusia satu tahun, dia diagnosis menderita tuli dan kami berusaha agar dia bisa mendengar kembali, akhirnya Allah mengabulkan itu, tapi ujian-Nya kembali datang di usia dua belas tahun, setelah sembuh dari tuli dia tidak bisa berbicara kembali.” Abi terlihat sangat sedih dengan apa yang dia ceritakan.
“Abi, Syahila mungkin lapar. Aku bawa dia makan dulu, “ ucapku. Sebenarnya aku tidak suka dengan ini semua, tapi saatnya aku harus bisa bersikap dewasa.
“Adibah ada di luar, “ ucap Abi kemudian. Aku baru beberapa langkah saja untuk menjauh. “Dia menunggu di luar sambil menahan dingin, bajunya terlihat begitu tipis. Tadi aku suruh masuk, tapi dia tidak mau, katanya tidak mau menganggu. Abi udah cerita kejadian ini ke dia, “ jelas Abi.
Kenapa Adibah datang? Bukannya sekarang masih jam empat? Apa dia ke sini jalan kaki? Allahu akbar Adibah! Dia terlalu ceroboh! “Aku pergi dulu Abi, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. “ ucapku, kemudian menjauhi abi.
Dan benar Adibah sedang duduk di kursi tunggu sambil menahan dinginnya suhu di waktu subuh kali ini, apalagi hujan baru saja selesai. “Kenapa ke sini? “ tanyaku.
Dia mengangkat kepalanya untuk melihatku, ralat, bukan aku tapi Syahila. Dia menatap Syahila seakan ada yang aneh dengan diri Syahila. Adibah memang seperti ini, dia lebih sering meneliti seseorang yang baru dia kenal.
“Syali... Sihaa... “
“Syahila! “Adibah terdengar sangat sulit menyebut nama Syahila.
“Nahh. Baru inget namanya, “ ucapnya sambil tertawa lebar. Bukan lupa tapi memang sulit menyebutkan! Dasar wanita satu ini! “Kalian mau ke mana? “ tanya Adibah kembali. Dia masih berusaha menahan dingin.
Aku membuka jaket yang aku gunakan kemudian memberikannya ke Adibah. “Pakai ini. “
“Pakai’in. Biar kaya di sinetron-sinetron gitu,” ucapnya sambil tersenyum, apa dia sedang menghayal?
“Aku masih marah ke kamu ya! “ kesalku.
Tanpa kuduga Adibah kembali duduk di kursi dan tidak menatapku. “Kalau begitu biar Dibah kedinginan,” kesalnya. Ya Allah, kenapa Adibah mendadak manja seperti ini?
Ujung bajuku rasanya di tarik. Aku menatap sang pelakunya, dia ternyata Syahila. Anak itu tersenyum melihatku, memberikan isyarat agar aku segera mendekati Adibah. Tunggu! Apa Adibah sedang ingin mengujiku di depan anak-anak? Allahu akbar!
Daripada membuang waktu, aku segera memasangkan jaket ke badan Adibah, tidak lama setelah itu dia berdiri dan hendak memelukku. Adibah baru akan memelukku, tiba-tiba badannya ambruk.
“Astagfirullah! “ teriakku. Aku segera menggendong tubuh Adibah, dan membawanya ke ruanganku. Bersama Syahila.
●_●
-
-
-
-
-
💜
"Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim."
-QS. An-nisa 3
●_●
Syukron katsiraan
Jazzakumullah ya Khair
Salam hangat
Riskaafriani💜