Dear Imamku

Dear Imamku
Jangan Bersedih



-


-


-


-


-


💜


Aku tidak tahu, seberapa beruntungnya aku saat Allah menakdirkan aku untuk bersama dengannya.


●_●


     Suara azan subuh kembali membangunkanku dari tidur. Dengan mata sendu sambil memegang tangan Adibah, ini sudah minggu pertama Adibah tidak sadarkan diri. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi mungkin saat ini resepsi pernikahan kita sudah dilaksanakan.


     Dengan pikiran entah ke mana, aku melangkah menjauh dari ruangan itu, dan menuju ke musollah. Aku kembali berpikir, kalau Adibah sadarkan diri, apa dia akan menerima cobaan ini? Ya, cobaan, Adibah mengalami kebutaan karena benturan keras di kepalanya. Setelah diperiksa CT scan, Otak Adibah tidak dapat menerjemahkan informasi yang dikirim oleh mata.  bagian otak yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi berada dibagian belakang, dan bila bagian ini tidak bisa menerjemahkan ini dapat menyebabkan kebutaan ini semua  karena kecelakaan yang dialami Adibah.


   Dan mintalah pertolongan (Kepada Allah) Dengan jalan sabar dan mengerjakan salat, dan sesungguhnya salat itu amatlah berat, kecuali kepada orang-orang yang khusuk. QS.Al-Baqarah ; 45.


     Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata. Cinta yang pernah Allah letakkan pada Nabi Ibrahim saat mengujinya dengan api, cinta yang pernah Allah lukiskan di hati nabi Ayyub dengan ujian penyakit, cinta yang pernah Allah hujamkan pada Rasulullah Muhammad Saw .dengan ujian dari kaum kafir, cinta yang sama yang pernah Allah tanamkan di hati para Nabi melalui ujian. Meski kadarnya tak sama, tapi itu adalah bagian dari cinta Allah.


     Setelah salat subuh, aku kembali ke ruangan Adibah. Selama Adibah sakit, kebiasaan melanjutkan hafalan sudah tidak aku lakukan lagi, ya Allah maafkan aku jika cintaku terhadap ciptaanmu terlalu berlebihan.


     Saat melihat wajahnya, rasanya aku sangat rindu senyumnya. Bawelnya, yang kadang meminta aku untuk tersenyum setiap saat karena ingin melihat lesung pipiku, aneh, tapi aku merindukan sifat anehnya itu. Ya Allah, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa rinduku terhadapnya sekarang, intinya aku sangat merindukan dia.


     Aku menarik kursi untuk duduk di dekat tempat tidurnya, kemudian memegang tangannya yang terasa sangat hangat itu. Kapan tangan ini menggenggam tanganku, seperti aku menggenggam tanganya? Kapan aku melihat senyum diwajahnya kembali? Yah Robbi, berilah aku jalan yang terbaik.


     Tanpa bisa kutahan, setetes air mata mengalir di pipiku, kupegang erat-erat tangan Adibah sambil mencium punggung tangannya. Kutempelkan tanganya di pipi kiriku, dan berdoa tangan itu segera bergerak. Doaku setiap hari tidak pernah berbeda, hanya ingin keadaan Adibah menjadi lebih baik.


     “Jika esok atau lusa, kau sudah sadarkan diri, kuharap akulah manusia pertama yang ada di dekatmu, selalu menyemangati kamu. Adibah, kamu tahu, saat aku menghindar beberapa bulan darimu, percayalah itu hal terbodoh yang pernah aku lakukan, di saat banyak waktu yang aku buat percuma-cuma hanya karena egoku!


     “Dan sekarang, aku sangat merindukan kehadiranmu. Bangunlah, Adibah! Aku rindu! Jangan membuatku, merasa bersalah karena ini! Adibah ayolah, jangan seperti ini, aku janji, kalau kamu bangun, aku akan memberi mu boneka beruang, aku janji, berapa pun yang kamu minta.


     “Bahkan sepuluh pun akan aku belikan, atau dua puluh? Tiga puluh? Empat puluh? Seratus? Ayo Adibah katakan! Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini! “ ucapku sambil terisak.


     Wajahnya terlihat sangat pucat, biasanya aku selalu melihat pipi yang seperti kepiting rebus dan sekarang? Ahh, aku tidak sanggup untuk menjelaskan hal itu!


    Tanpa kusadari, umi dan abi datang.


     “Makan dulu nak, “ pintah umi, sembari meletakkan rantang makanan itu ke atas meja.


     Aku cuma tersenyum menanggapi ucapan dari umi. Sumpah, suasana hatiku tidak mendukung saat ini untuk berbicara.


     “Bagaimana dengan cutimu nak? Saran abi, kamu lebih baik kerja saja dulu, kalau seperti ini terus, bisa-bisa yang sakit malah kamu juga,” saran abi.


     “Kalau aku kerja, Abi. Bagaimana dengan Adibah? Siapa yang jaga dia? Umi kan juga sibuk dengan pekerjaan rumah, dan Aqilah juga sibuk dengan kuliahnya. Bagaimana aku bisa melanjutkan kerja Abi? "


    “Tidak apa nak, umi siap ke sini tiap hari setelah memasak untuk abimu. Umi kasihan dengan keadaan kamu, lihat wajahmu terlihat begitu pucat tidak beda jauh dengan istrimu. Bisa bisa kamu stres osmotik,” ucap umi yang sudah mengusap rambutku. Stres osmotik adalah stres yang terjadi di otak karena tubuh kekurangan asupan cairan.


     “In shaa Allah tidak umi. Aku lebih tenang memandang wajah Adibah daripada pergi, umi. “


     “Yaudah kalau itu keputusanmu. Dari tadi malam kamu belum makan kan? Umi bawakan makanan ini, “ kata umi.


     “Seperti yang Adibah buatkan setiap hari kan Umi? “ tanyaku dan di balas anggukan olehnya.


     “Abi tidak makan Umi? “


     Umi menatap abi yang masih sibuk dengan laptopnya. “Abi, makan bareng dulu, setelah makan baru ke laptop kembali. “


     Aku berusaha tersenyum melihat Abi yang selalu menurut dengan apa yang dikatakan Abi. Tunggu, buat kalian wanita, saat kalian tidak ingin sakit hati karena pasanganmu, jangan pernah selalu meminta agar pasanganmu melakukan apa yang kamu inginkan karena, sekali mereka tidak melakukan hal yang kau inginkan tersebut, percayalah itu teramat menyakitkan.


●_●


     Keesekon harinya! Kemarin hasilnya tetap sama, Adibah belum juga sadarkan diri. Tiba-tiba aku teringat dengan Q. S. Al-Baqarah 153, Wahai mereka yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang yang sabar.


    Aku kini kembali melangkahkan kaki menuju musollah rumah sakit ini. Ya Allah aku berharap semoga Adibah sadarkan diri setelah ini. Adibah pernah bilang seperti ini, “Kak Farzan suaranya bagus, suatu saat Adibah akan rindu dengan suara kak Farzan. Lain kali kalau mau pergi, kak Farzan rekam dulu ya suaranya, biar Adibah gak rindu berat. Hehehe”


     Senyum terusir saat mengingat hal itu, Aku merindukan kamu Adibah.


     Setelah sampai di musollah, aku segera mengikuti gerakan salat, hingga rakaat terakhir salat subuh aku lakukan.


     “Ya Allah, doaku tetap sama. Buatlah istriku sadar dalam keadaan apa pun, aku sangat merindukan dirinya ya Allah. Betapa berharganya dia di hidupku. Entah setelah bertemu dengannya, rasanya aku kembali ke kisah cinta pertamaku. Rasanya aku baru mengenal cinta saat bersamanya.


     “Aku tidak tahu, seberapa beruntungnya aku saat Allah menakdirkan aku untuk bersama dengannya, entah berapa manusia yang akan iri melihat aku karena memilikinya, seorang wanita yang manis dan lugu,


     “Seorang wanita yang aku cinta i, walau aku tidak tahu apakah dia sama jiga mencintaiku, ah! Aku tidak peduli dengan hal itu! Biarlah kalau memang dia tidak memiliki perasaan terhadap aku, yang terpenting aku yang mencintainya, dan aku yang memiliki perasaan terhadap dia.


     “Sumpah, itu sudah sangat cukup untuk seorang manusia sepertiku. Ya Allah, kali ini saja, kabulkanlah permintaanku itu.


     Robbana aatiina fiddunya khasanah, waa fil'a khiroti khasanah, waa qiinaa adzaabannar, "


     Setelah salat, aku tidak langsung meninggalkan musollah. Mungkin ini saatnya aku melanjutkan hafalanku, di usiaku yang hampir menginjak kepala tiga ini baru akan menghafal? Ah, itu tidak masalah, bukankah, tidak ada kata terlambat untuk mereka yang benar-benar ingin berilmu? Sewaktu kuliah, aku tidak memiliki banyak waktu untuk menghafal, karena cukup banyak hal tentang pengobatan penyakit yang harus aku tahu.


     Hafalanku masih belum seberapa, masih dua puluh satu juz, tidak seperti Adibah, hafalannya sudah sampai di juz ke dua puluh tiga, perbedaan yang sangat jauh. Andai sewaktu pesantren dulu, aku tidak pernah nakal, mungkin hafalanku seperti yang lain, hanya saja waktu itu usiaku masih tiga belas tahun jadi wajarlah anak seusia itu masih nakal-nakalnya, ada penyesalan sedikit sih.


     Ayat demi ayat telah aku baca, hingga waktunya aku untuk kembali keruangan Adibah. Bismillah.


     Entah kenapa, langka kakiku rasanya, seiramah dengan debaran jantungku. Tidak pernah terlupakan untuk berzikir selama perjalananku, hingga akhirnya aku sampai di depan ruangan Adibah.


     "Ma shaa Allah!!"


●_●


-


-


-


-


-


💜


 Dan mintalah pertolongan (Kepada Allah) Dengan jalan sabar dan mengerjakan salat, dan sesungguhnya salat itu amatlah berat, kecuali kepada orang-orang yang khusuk. QS.Al-Baqarah ; 45.


●_●